Judul buku:Transisi Menuju Demokrasi: Kasus Amerika Latin
Penulis: Guillermo O’Donnell, Philippe C Schmitter dan Laurence Whitehead (Ed)
Penerbit: Pustaka LP3ES, Jakarta 1993
Tebal: xvi + 342 halaman termasuk indeks
Karena sejumlah alasan, kawasan Amerika Latin sejak lama telah menyita perhatian akademisi. Hadirnya Teori Dependesia di pertengahan dekade 60-an dan Teori Negara Otoriter Birokratik pada dekade 70-an yang bertolak dari kasus-kasus di wilayah itu, misalnya, membuktikan bahwa kawasan tersebut merupakan lahan potensial dalam memberikan kontribusi penting bagi perkembangan studi dan kajian akademis tentang dunia ketiga pada umumnya. Wilayah tersebut juga dianggap sebagai prototype dan contoh kasus tipikal dari negara-negara Dunia Ketiga yang berniat melaksanakan proses modernisasi.
Melalui buku yang merupakan kumpulan artikel dari para ahli Amerika Latin ini, kawasan tersebut kembali menjadi pusat perbincangan dan kali ini berada di bawah tema “transisi menuju demokrasi”. Tema ini menyiratkan bahwa perspektif sebelumnya tak lagi memadai untuk menerangkan perkembangan baru yang terjadi di wilayah tersebut. Trend demokratisasi di sebagian besar negara-negara Amerika Latin dipandang sebagai fenomena sosial-politik baru. Dan oleh karenanya, memerlukan perspektif yang lebih relevan dengan dinamika yang tengah berlangsung.
Proses demokratisasi di kawasan itu memiliki pararelitas dan korelasi dengan merosotnya kekuasaan rezim-rezim otoriter (terutama yang berhaluan kanan-konservatif). Tak satu pun terdapat alasan untuk mengatakan bahwa proses itu disebabkan oleh satu faktor tunggal. Terkikisnya peran politik para penguasa otoriter di kawasan itu pada umumnya disebabkan sejumlah faktor seperti krisis legitimasi, stagnasi ekonomi, serta bangkitnya kelompok-kelompok sosial baru. Pada titik ini rezim-rezim otoriter biasanya gagal memperoleh dukungan yang efektif dari masyarakat, dan oleh karena itu merupakan momen kondusif bagi berlangsungnya proses demokratisasi.
Sama halnya dengan penyebab terjadinya likuidasi rezim-rezim otoriter, kecenderungan yang mengarah pada proses dekokratisasi sebagal era transisi pra otoriter itu sering kali juga mengambil bentuk dan sarana yang tidak seragam. Faktor yang melatarbelakangi adalah karakteristik sejarah dan kondisi sosial politik yang khas dari masing-masing negara.
Di Chile proses tersebut berjalan agak lamban, sebab, Jenderal Pinochet – representasi otoriterisme negara itu – masih mengontrol angkatan bersenjata kendati ia sudah tak menduduki kursi kepresidenan yang diraihnya sejak tahun 1973; di Argentina kekalahan penguasa militer tampak agak drastis menyusul pemilu bebas yang secara telak dimenangkan oleh sipil pada 1983. Sementara itu kasus transisi di Brasil dekade 80-an memperlihatkan betapa proses tersebut masih terbatas pada “Gerakan Liberalisasi” yang dipelopori oleh kelas kapitalis domestik yang mulai mengambil jarak terhadap kekuasaan negara.
Selama ini rezim-rezim otoriter di kawasan itu dikenal sebagai kekuatan politik yang berkepentingan terhadap berlangsungnya pembangunan model kapitalis. Legitimasi ideologi mereka umumnya dibangun berdasarkan konsep kabur yang bernama “stabilitas nasional” serta semangat antikomunis yang fanatik. Dengan demikian, bukan suatu kebetulan jika negara (yang didominasi oleh para petinggi militer dan elit birokrat) berkolaborasi dengan komonitas bisnis lokal dan multi nasional. Namun, proses akumulasi kapital di negara pinggiran seperti itu seringkali mengalami krisis. Hal ini merupakan pelicin bagi berlangsungnya proses demokratisasi sejak pertengahan dekade 80-an meskipun metode transisi yang digunakan masing-masing negara berbeda satu sama lain. Ilustrasi beberapa kasus itu memberikan petunjuk bahwa transisi bukanlah proses satu garis lurus. Dan meskipun arah dan kecenderungan perubahan menuju demokrasi, masing-masing proses itu berlangsung secara unik. Bahkan seperti yang dikemukakan oleh O’Donnell, pakar Amerika Latin dalam kata pengantarnya di buku ini bahwa transisi menuju demokrasi belum merupakan jaminan bagi terlembaganya nilai dan perangkat politik yang demokratis. Sebab, bukan suatu hal yang mustahil jika gerak pendulum justru berbalik ke arah otoriterisme.
Skeptisme O’Donnell terhadap hasil dari proses itu mungkin bisa kita pahami sepenuhnya sehubungan dengan ketidakpastian era pasca transisi. Namun demikian, arti penting proses demokratisasi yang tengah terjadi di kawasan itu tak mungkin diingkari. Proses itu paling tidak memberikan gambaran belapa rezim-rezim otoriter sayap kanan di Amerika Latin akan selalu menghadapi ketegangan-ketegangan sosial yang akut sebagai akibat keterasingan masyarakat, baik dalam partisipasi politik maupun ekonomi yang lebih luas.
Hal ini berarti proses transisi menuju demokrasi sejati di kawasan tersebut tetap memiliki peluang dimasa mendatang. meskipun hasilnya merupakan puzzle dan jebakan berbahaya ketimbang kepastian dan konsolidasi kekuatan-kekuatan demokratik. Dalam jangka panjang, kawasan Amerika Latin tampaknya akan tetap diwarnai oleh tarik-tolak antara kekuatan pro dan anti demokrasi.
Rahadi Teguh Wiratama
(Staf peneliti CESDA-LP3ES)
Sumber: JAKARTA JAKARTA, Rubrik “Teraju Buku”, No. 371, 14-20 Agustus 1993
