Analisa Strategi Playing Victim Cina pada Virus Corona Wuhan Mulai Terbukti

Bagikan artikel ini

Januari akhir lalu mungkin saya sedikit orang yang mengatakan bahwa Virus Corona Wuhan adalah ulah Cina sendiri dengan memainkan Strategi Playing Victim.

https://web.facebook.com/adi.ketu.3/posts/10213634500971379

Melihat perkembangan beberapa waktu terakhir alasannya justru lebih luas dari yang kuamati dan analisa terdahulu.

Dari hanya untuk mencegah Bubble Economy China, mengurangi tekanan negara dunia atas konflik yang terjadi di Hongkong, Taiwan dan Uyghur dan terutama meraih simpati, dukungan dan kepercayaan rakyat Cina terhadap pemerintahannya, lebih jauh untuk mencitrakan diri sebagai pahlawan dunia sekaligus membalikan keadaan dengan tiga cara:

1. Mencitrakan diri lebih jauh sebagai pahlawan dunia dengan memberikan bantuan ke beberapa negara terdampak dan lembaga internasional WHO. (bantuan ke negera terdampak tidak gratis pastinya, ada upaya ambil untung juga di tengah bencana yang Cina buat untuk dunia)

2. Menanamkan keragu-raguan bahwa virus rekayasa biologi Wuhan itu berasal dari Cina sendiri.

3. Menyingkirkan pesaingnya yaitu AS, dengan memfitnah bahwa Virus Corona Wuhan ini perang biologi yang sengaja dimainkan AS.

Memperhatikan perkembangan spin Coronavirus Wuhan, ternyata bangunan strategi playing victim mulai menampakan kejelasannya.

Ketika dunia tengah berjuang melawan Pandemic Coronavirus Wuhan, dampak dari virus baru yang berasal dari rekayasa biologi Laboratorium Wuhan, maka Cina menggambarkan dirinya sebagai negara yang sukses mengatasi penyakit ini. Saat penderita di Cina makin menurun, nampak mulai muncul upaya Cina meraih simpati internasional.

Mengutip kementerian luar negeri Cina yang mengatakan, “(China) akan menyumbangkan kekuatan dan kebijaksanaannya untuk mengamankan kemenangan akhir melawan pandemi dan membangun sebuah komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.”

Beijing juga telah mengirim para ahli dan pasokan medis yang sangat dibutuhkan ke negara-negara yang paling menderita akibat krisis, termasuk Italia dan Iran (walaupun tidak harus gratis). Cina juga telah memberikan kontribusi tambahan sekitar $20 juta kepada WHO dalam upaya memperkuat tanggapan global terhadap pandemi.

Upaya ini kemudian diaminkan oleh Keiji Fukuda, mantan penasihat khusus pandemi influenza kepada direktur jenderal WHO dan kepala Sekolah Kesehatan Masyarakat saat ini di Universitas Hong Kong. Ia mengatakan dalam sebuah wawancara dengan China Daily bahwa Cina dapat memainkan “peran pendampingan untuk membrikan informasi kepada orang lain .”

Secara terpisah, Dr. Bruce Aylward dari WHO, yang memimpin misi pencarian fakta ke Wuhan untuk belajar dan melaporkan kembali tentang tindakan Cina, dan mengatakan “dunia berutang sangat banyak kepada rakyat Wuhan.” Dia bahkan menambahkan, “Jika saya memiliki COVID-19 , saya ingin dirawat di Cina.”

Di sisi lain Cina menolak tuduhan asal virus adalah Wuhan. Memfitnah AS dengan menyalahkan kemungkinan penyelundupan virus oleh militer AS pada pertemuan 100 negara di Wuhan Oktober 2019.

Mengingat keamanan Cina yang demikian ketat, baik melalui intel aktif di lapangan, penyadapan rahasia dari kedatangan hingga ke ruang tidur, email, CCTV, handphone apalagi terhadap orang luar di dalam pertemuan penting, mungkinkah tamu orang luar bisa melakukan kebodohan dengan sabotase langsung di dalam negeri Cina sendiri?

Mungkinkah CIA atau dinas rahasia terkait AS sebodoh itu? Tutup saja semua dinas rahasia AS bila tidak mempertimbangkan kemungkinan kegagalan dengan melakukan operasi klandestein seperti itu yang berarti sangat memalukan dan berdampak luar biasa pada AS bila gagal atau terungkap?

Bukankah malahan yang terkenal di seluruh dunia mempunyai budaya mencuri dan menyadap dan mengcopy untuk kemajuan diri adalah Cina sendiri? (silakan lihat tulisan saya tentang China Copycat Culture.

Tuduhan balik Cina untuk mengaburkan sumber wabah nampak tak masuk akal.

Ke depan Cina kemungkinan akan terus mengekspose cerita besar besaran melalui berbagai saluran media bahwa Cina bertindak secara bertanggung jawab dengan ikut serta memainkan peran aktif, bahkan menjadi pemimpin, dalam tata kelola pandemi global ini, baik dalam upaya untuk mengaburkan upaya-upaya rahasianya maupun membangun kembali reputasi dalam negeri dan internasionalnya.

Apakah ini juga akan berdampak baik pada pertumbuhan ekonomi Cina yang jatuh (disengaja)? Pastinya Cina akan membanggakan diri kembali melalui pertumbuhan ekonomi yang pesat setelah masa kritis lewat di Cina. Ini dilakukan untuk:

1. Melancarkan ambisi global jalan sutra Cina, dengan menimbulkan persepsi bahwa Cina adalah negara besar sahabat yang siap membantu dan bekerjasama dengan negara dunia.

2. Menarik perhatian kalangan bisnis untuk berlomba berinvestasi di Cina yang ujungnya juga perusahaan-perusahaan internasional akan merugi karena disembelih setelah tidak dibutuhkan uang dan teknologinya oleh Cina seperti selama ini terjadi.

3. Menyingkirkan para pesaing globalnya terutama AS dan menuju Abad Kejayaan Cina 2045.

Akhirnya saya cuma bisa berharap akal sehat kita lebih baik diwujudkan dalam tindakan. Cina telah lakukan kejahatan kemanusiaan terhadap masyarakat dunia maka yang harus dilakukan adalah negara terdampak harus memberikan pelajaran menuntut penutupan laboratorium biologi Wuhan, dan ganti rugi melalui Mahkamah Internasional dan Arbitrase Internasional atas wabah yang dimulai Cina.

Sekian

Adi Ketu, Pengiat Sosial Media dan Peminat Isu Internasional 

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com