Aksi gangster-gangsteran ala Presiden Donald Trump bisa dipastikan akan menuai kecaman dunia internasional. Bahkan yang berasal dari kalangan di di negeri Amerika Serikat itu sendiri. Tapi buat Venezuela, perkembangan menyusul penangkapan Presiden Nicholas Maduro bisa jadi malah akan menjadi batu ujian yang melampaui soal Nicholas Maduro semata. Namun jauh lebih fundamental karena ini menyangkut etos kejuangan rakyat Venezuela sendiri. Apakah sosok mendiang Presiden Hugo Chavez dan bapak bangsa Venezuela, Simon Bolivar, sejatinya masih tetap hidup dalam hati sanubari rakyat Venezuela?

Simon Bolivar, Bapak Bangsa Venezuela.
Semasa hidup, Hugo Chavez pernah punya sebuah buku yang sangat mempengaruhi jalan hidupnya kelak sebagai pejuang maupun negarawan. Entah saat sedang jaya apalagi saat sedang terpuruk.
Buku itu karya Lucas Estrella Schulz, penulis asal Agentina. Buku itu bertajuk Path of the Warrior. Apa yang bikin Chavez kesengsem.banget buku itu? Rupanya ada ungkapan Estrella yang buat Chavez seakan petuah yang secara langsung ditujukan kepada dirinya Chavez sendiri:
“Pejuang, ketika anda memenangkan sebuah pertempuran, jangan membuang waktu untuk menyarungkan pedang anda. Karena esok hari akan mengantarkan lebih banyak perang.”
Buat Chavez yang sudah banyak baca buku buku berat tentang sejarah, teori perang dan teori politik, sejak masih menempuh pendidikan di akademi militer, kalimat Esterrla seakan mengingatkan dirinya bahwa kalah dalam pertempuran belum tentu kalah dalam peperangan. Bahkan kalah tempur justru bisa membuka jalan menuju kemenangan dalam perang.
Buat Chavez buku itu mengilhami dirinya pada 1992 ketika upaya percobaan kudeta Letkol Hugi Chavez terhadap presiden Perez gagal. Chavez masuk bui dan dipecat sebagai tentara. Kalah dalam pertemluran. Namun 1998, Chavez setelah jadi orang bebas dan warga sipil, ikut pilpres dan menang 56 persen suara. Pada 1992 Chavez kalah dalam pertempuran. Namun pada 1998, Chavez memenangkan peperangan.
Apakah pengetahuan dan kebijaksanaan yang tertanam dalam jiwa Chavez seperti tersurat dalam buku Esterella itu masih hidup dalam jiwa kolektif rakyat Venezuela maupun para pemimpinnya? Kalau masih, berarti Chavez yang oleh rakyat klas bawah Venezuela dipandang sebagai personifikasi dan reinkarnasi Simon Bolivar, Bapak Bangsa Venezuela yang selain berhasil mengusir Spanyol, juga nyaris menyatukan negara-negara di kawasan Amerika Latin, tradisi perlawanan rakyat terhadap negara-negara asing, tak akan begitu cepat padam hanya gara-gara Nicholas Maduro ditangkap oleh pemerintah AS melalui “Operasi Absolute Resolve.
Kalau menyelisik kesejarahanya, Venezuela punya tradisi perlawanan yang gigih dan kuat terhadap kekuatan asing sejak era Simon Bolivar hingga Hugo Chavez. Pada 2008 Presiden George W. Bush pernah coba coba mengkudeta Chavez, namun dalam dua hari Chavez berhasil berkuasa kembali berkat kontra aksi yang dimotori Lingkaran Bolivarian yang jadi inti kekuatan akar rumput Chavez sejak memenangi Pemilu Presiden pada 1998.
Waktu yang akan menjawab, apakah penangkapan Maduro merupakan akhir atau justru awal dari kebangkitan rakyat Venezuela terhadap intervensi kekuatan asing ke bumi Venezuela. Dugaan terbaik saya, ini akan jadi permainan yang panjang. Mengingat Venezuela bukan Kolombia, Meksiko atau Costa Rica, yang begitu mudah tunduk pada tekanan pemerintah AS. Terlepas nasib sial Maduro Sabtu lalu, dan bukan tandingan Chavez dalam hal kharisma kepemimpinan, namun perlakuan yang hina dina terhadap pemimpin Venezuela ini, malah bisa memantik perlawanan massif rakyat Venezuela dan negara-negara Amerika Latin pada umumnya.
Inilah titik buta alias blind spot yang bisa jadi luput dari perhatian tim strategis Trump ketika menyusun skenario aksi gangstet-gangsteran ala Trump yang di bawah payung Operasi Absolute Resolve.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments