Bab El-Mandeb dan Ambisi Israel: Mengapa Somaliland menjadi Penting

Bagikan artikel ini

Pembelajaran Geopolitik bagi Indonesia

Di tengah eskalasi konflik Laut Merah dan meningkatnya ketegangan geopolitik global, nama Somaliland kembali mencuat. Wilayah di Tanduk Afrika ini memang bukan negara yang diakui secara internasional. Namun, justru karena status “abu-abu” itulah Somaliland menjadi aset strategis bagi kekuatan regional dan global, termasuk Israel menarik manfaatnya.

Sejak mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991, Somaliland berfungsi sebagai negara de facto. Ia memiliki pemerintahan, mata uang, pemilu reguler, dan stabilitas relatif, sesuatu yang kontras dengan Somalia, negeri induknya dulu yang hingga kini dilanda konflik internal. Meski demikian, sampai hari ini — tidak satu pun negara anggota PBB memberikan pengakuan resmi. Bahkan isu Israel telah mengakui Somaliland juga perlu diluruskan. Israel belum pernah memberikan pengakuan diplomatik resmi, meski wacana dan penjajakan strategis memang berlangsung di lingkaran elite keamanan Israel.

Lantas, mengapa Somaliland tetap menarik?

Jawabannya terletak pada geografi. Ulangi — karena faktor geografi. Somaliland berada di sepanjang Teluk Aden, berhadapan langsung dengan Bab el-Mandeb, salah satu geopolitical chokepoints (titik rawan/penyempitan) terpenting di dunia. Sekitar 10-12 persen perdagangan global —termasuk energi dari Teluk menuju Eropa— melewati jalur sempit ini. Gangguan kecil saja dapat berdampak sistemik terhadap ekonomi global.

Bagi Israel, Bab el-Mandeb bukan sekadar jalur dagang, melainkan kerentanan strategis nasional. Serangan Houthi di Yaman, misalnya, atau pengaruh Iran melalui perang proksi, serta ketidakstabilan Somalia menjadikan jalur ini berubah rawan. Dalam konteks ini, Somaliland dipandang sebagai “pintu belakang” Laut Merah menuju Samudra Hindia, lokasi ideal untuk pengawasan maritim, logistik, dan intelijen.

Inilah yang dapat disebut sebagai weaponization of geography (persenjataan geografi) dengan memanfaatkan posisi geografis sebagai instrumen kekuatan. Ketertarikan Israel terhadap Somaliland bukan dilandasi solidaritas politik atau ideologis, tapi kalkulasi (geo) strategis jangka panjang.

Faktor lain yang membuat Israel relatif percaya diri adalah konstelasi militer regional. Ya, di sekitar Bab el-Mandeb berdiri pangkalan militer Amerika Serikat (AS), Prancis, Cina, Jepang, Italia, dan Arab Saudi — terutama terpusat di Djibouti. Armada ke-5 AS secara rutin beroperasi di Teluk Aden dan Laut Merah. Uni Emirat Arab, sekutu dekat Israel pasca-Abraham Accords, bahkan mengelola pelabuhan strategis Berbera di Somaliland.

Dalam lanskap seperti ini, Israel tidak merasa sendirian. Namun Israel juga berhati-hati. Pengakuan resmi terhadap Somaliland berisiko memicu reaksi keras Uni Afrika, justru memperburuk hubungan dengan negara-negara Afrika pro-Somalia, serta membuka ruang eskalasi politik dengan Iran dan sekutunya. Karena itu, hubungan Israel – Somaliland tetap berada dalam “zona abu-abu.” Tanpa pengakuan formal, tetapi penuh kepentingan strategis.

Bagi Somaliland sendiri, dilemanya pun sama. Ia mengejar pengakuan internasional yang tak kunjung datang, atau memaksimalkan nilai strategisnya melalui kemitraan pragmatis dengan aktor-aktor global. Selama Bab el-Mandeb tetap menjadi urat nadi perdagangan dunia, Somaliland —diakui atau tidak— akan terus menjadi bagian penting dari permainan geopolitik global.

Kredo terbaru dalam geopolitik dengan adanya isu Somaliland adalah, bahwa di era persaingan kekuatan besar, geografi kerap kali lebih menentukan daripada pengakuan diplomatik. Somaliland adalah contoh paling nyata dari kenyataan tersebut.

Di akhir catatan kecil ini muncul pertanyaan gelisah sekaligus menggelitik, “Bagaimana dengan Indonesia yang merupakan lintasan pelayaran dunia yang tak kunjung sepi (Sealane of Communications/SLOC) karena faktor geoposisi di antara dua samudra dan dua benua, serta memiliki empat selat dari tujuh selat strategis yang dimiliki oleh dunia?”

Setidak-tidaknya dari geopolitik Somaliland di atas —negeri yang belum diakui PBB— kita mesti tak malu untuk belajar. Bahwa dalam dinamika geopolitik global, kredo terbaru — faktor geografis kerap kali lebih menentukan daripada pengakuan diplomatik.

Jadi, apa kabar Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar dan Selat Lombok — adakah takdir geopolitikmu masih ditelantarkan oleh “tuan”-mu?

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com