Balada Orang-Orang Yang Lengah

Bagikan artikel ini
Kajian Kecil Filsafat Kepemimpinan
Minggu ke dua di bulan Februari lalu, terdapat dua narasi kontroversi lagi mengagetkan publik, khususnya di kalangan dan/atau kelompok pergerakan (aktifis). Singkatnya begini, ada pernyataan Prabowo Subianto (PS) —Presiden RI ke-8— yang ‘mematahkan semangat’ beberapa kelompok pergerakan, sedang mereka mendukung program dan kebijakan PS pada satu sisi, terutama program pemberantasan korupsi. Namun, di sisi lain (mereka) juga mendukung gerakan “Adili Jokowi”. Nah, substansi atas fakta-fakta ini saling bertabrakan.
Lantas, mana narasi kontroversinya?
Antara lain:
1. ” .. ada yang ingin memisah-misahkan saya dengan Jokowi ..,” kata PS dalam Kongres Muslimat NU XVIII di Surabaya (10/ 2/25);
2. Teriakan “Hidup Jokowi!” lantang diteriakkan oleh PS dalam sambutan pada HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Sabtu (15/2) kemarin.
Tak pelak, pro kontra pun kian menyeruak atas dua pernyataan PS tersebut, dan sudah barang tentu semakin menambah kegaduhan jagat opini, diskusi publik, aneka perdebatan baik online maupun offline, dan lain-lain.
Kenapa?
Faktanya, berbagai mural alias coretan di dinding soal “Adili Jokowi” merebak dimana-mana, termasuk di Solo, kota pensiun Presiden RI ke-7; kemudian isu finalis OCCRP; belum lagi maraknya unjuk rasa dari beragam elemen masyarakat dengan topik sama. Ya, meski hal-hal dimuka sebenarnya hanya masalah hilir, tapi inilah aspirasi yang tengah deras di publik.
Apa poinnya?
Usai 100 hari program PS, justru disambut dengan unjuk rasa serentak kelompok mahasiswa bertema: “Indonesia Gelap”.
Sekarang membahas kepemimpinan sebagai clue catatan kecil ini. Tidak dapat dipungkiri, kepemimpinan sebagai ilmu, seni dan filsafat memang bertujuan sama. Apapun jenis kepemimpinan, intinya ialah: “Menggerakkan orang untuk mencapai tujuan”. Bila pada mekanisme terlihat tidak sama, misalnya, maka itu cuma faktor proses dalam koridor baik ilmu, seni maupun filsafat yang membedakan. Sebagai ilmu, contohnya, maka kepemimpinan berbasis teori-teori lazimnya; atau, sebagai seni, akan terlihat seperti tak berdasar teori namun mampu mencapai tujuan secara cemerlang (out of the box); dan kepemimpinan filsafat lebih menggunakan mata (untuk melihat), telinga (untuk mendengar aspirasi), dan hati guna memahami konteks dan substansi persoalan, bahkan secara komprehensif integral. Lalu, diambil keputusan!
Secara seni dan filsafat, kepemimpinan PS dianggap tengah memainkan “teori dipangku mati”-nya orang Jawa. Pada satu sisi, ia meneriakkan “Hidup Jokowi” di publik, sedang di sisi lain pencalonannya sebagai Capres 2029 dalam Kongres Luar Biasa Gerindra di Hambalang telah menutup pintu bagi Gibran Rakabuming —Wapres— maju menjadi Capres 2029. Kedua narasi inilah yang tengah liar berputar-putar di langit Jakarta.
Mana yang benar dan apa yang bakal terjadi kelak?
Tiba-tiba saya teringat QS Al A’raf Ayat 179 yang bunyinya:
“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
Demikian adanya.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com