Bankir Van Hall Dalam Perlawanan Bawah Tanah Terhadap Kolonialisme Nazi Jerman di Belanda

Bagikan artikel ini

The resistance banker adalah sebuah film dokumenter yang menceritakan kisah perjuangan bankir dan aktivis keturunan Inggris yang bermukim di Belanda saat penjajahan Jerman 1940-1945. Keluarga Van Hall, Walraven (Wally) dan Gijsbert (Gijs) adalah bankir kelas menengah yang miris melihat pembantaian warga Yahudi oleh Jerman.

Wally dan Gijs pernah bekerja di Wallstreet untuk beberapa penugasan yang berhubungan dengan pasar keuangan. Wally sebelum bekerja di Amerika Serikat, bercita-cita sebagai perwira tentara angkatan laut namun kandas karena memiliki kelainan rabun pada matanya.

Jerman di tahun itu menguasai sistem birokrasi, ekonomi, dan militer Belanda sekaligus melakukan pengusiran terhadap warga Yahudi karena pemikiran kapitalis yang menurut Nazi saat itu adalah dalang dari kemiskinan buruh. Pembantaian dalam film tersebut ditampilkan, siapapun yang melindungi Yahudi tak segan di penjara.

The Resistance Banker, Kisah Nyata tentang Keberanian dan Pengorbanan, ini Dia Filmnya!

Wally dan Gijs merasa apa yang Nazi di Belanda tidak manusiawi. Sebagai bankir yang memiliki koneksi keuangan yang luas, keduanya bersepakat merencanakan pengusiran Jerman. Uang adalah sumber utama untuk melindungi warga Yahudi yang sengaja dibiarkan kelaparan bahkan dibunuh dan ditakuti hingga bunuh diri.

Yayasan nelayan milik keluarga Van Hall menjadi lembaga penampung dan pendistribusian dana pengusiran Jerman. Yayasan ini milik leluhur Van Hall yang merupakan seorang pelaut bahkan info lain menyebut mereka sebagai kumpulan perompak.

Sebagai bankir yang mengerti seluk beluk peredaran uang, Wally mengordinasikan beberapa orang bahkan internal lembaga untuk melakukan pencairan asuransi kematian warga yahudi yang masih hidup dengan bantuan internal perusahaan. Hal ini tidak berjalan mulus karena dana yang dicairkan tidak banyak.

Hal gila dilakukan Van Hall dengan menawarkan obligasi negara ke koneksi keuangan yang ia miliki dengan menerbitkan obligasi palsu. Serial nomor yang sama didapat dari pegawai bank sentral yang kontra dengan Nazi. Lewat pemalsuan obligasi ini dana yang diterima berkali-kali lipat hingga 40 juta gulden Belanda atau sekitar 1 miliar euro saat ini.

Image

Uang tersebut digunakan untuk perjuangan Van Hall dalam membebaskan Yahudi, seperti melindungi kebutuhan warga Yahudi, operasional kelompok bawah tanah, penyebaran flyer informasi, dan juga membiayai pemogokan buruh kereta api.

Gijs saat itu sempat dalam dilema karena ia memikirkan nasib keluarganya. Berbeda dengan Wally yang berusaha keras untuk mengusir Nazi dari Belanda kala itu.

Gijs tetap berhati-hati dan menjaga profesionalisme sebagai seorang bankir. Sedangkan Wally harus memindahkan istri dan anak-anaknya dari Zanndam ke daerah pedesaan terpencil agar selamat, tidak menjadi korban Jerman.

Nazi Jerman

Di tengah pasukan intel Jerman yang selalu mencari keberadaan tokoh sentral pemberontakan, Wally selalu selamat dari berbagai peristiwa. Namun, Februari 1945, hari sial itu tiba. Ia tertangkap oleh kelompok Nazi dan ditembak mati. Seluruh dana pasca perang disimpan di Bank Swiss.

Dua belas tahun kemudian, tahun 1957, Gijs saudara kandungnya terpilih menjadi Walikota Amsterdam dan tahun 2010 Monumen Perjuangan Wally Van Hall diresmikan Pemerintah Belanda dekat gedung De Nederlanndsche Bank (Bank Sentral Belanda) sebagai simbol pendanaan perlawanan lewat pemalsuan obligasi .

Murniatun Margono,  Direktur  Advokasi Hukum, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com