0.1
Ada tiga Komunitas bertikai di Suriah pasca jatuhnya pemerintahan Bashar Assad dan penunjukkan sepihak mantan komandan ISIS Abd Jounali selaku Presiden Interm Suriah yang mengubah namanya menjadi Ahmad Hussein Asshara.
Mereka adalah Komunitas Druze yang berbenturan dengan Komunitas Badui Suriah yang bermadzhab Sunni di wilayah Suriah Selatan meliputi Dataran Tinggi Golan. Konflik kelompok minoritas Alawite dengan komunitas Sunni di Suriah tengah Damascus dan di wilayah utara pasukan Kurdi-Suriah bergerak mendekati perbatasan Turki-Suriah.

0.2
Posisi pemerintah interm Joulani yang dasarnya didukung oleh kelompok militan wahabi adalah membantu kelompok-kelompok Suni untuk menyerang komunitas Alawite, Druze, dan Kurdi. Joulani mengirimkan pasukannya ke Suwayda untuk menghentikan perlawanan kelompok Druze pada saat yang sama ia berpikir akan dapat menyelesaikan persoalan Suriah Utara dengan milisi Kurdi karena merasa bahwa pemerintahanya di dukung Ankara-Turki yang anti kemerdekaan Kurdi.

0.3
Sejak jatuhnya pemerintahan Assad dan struktur tentara Suriah Arab Army (SAA) melalui operasi militer cepat yang dikoordinasikan AS bersama Israel-Turki dan ISIS maka kekuatan penyatu di Suriah sebenarnya telah hancur. Suriah adalah negeri di wilayah Syam (Levan) dengan keberagaman etnis dan agama yang sudah mengalami perdamaian dan konflik ribuan tahun. Mereka memiliki satu titik temu bersama yaitu militer. Tentara Suriah sampai pemerintahan Bashir Al Assad dibentuk sebagai rendevouz bagi bermacam-macam etnis dan kepercayaan.
Ikatan ini rusak dengan masuknya naiknya Joulani sebagai Presiden interm dan pengikut-pengikutnya di ISISnya melakukan perombakan di tubuh militer.
Rontoknya perlawanan tentara SAA yang terlalu cepat melawan agresi AS-ISrael-Turki dan menghadapi ISIS di darat membuat Rusia dan Iran menahan diri untuk tidak terlibat langsung membela pemerintahan Assad. Rusia dan Iran menilai Assad dan SAA terlalu mudah menyerah melawan operasi militer.
Tujuan dari intervensi AS-Israel-Turki adalah memecah belah wilayah Suriah menjadi Wilayah Utara yang akan dikuasai Turki, Wilayah Selatan termasuk Dataran Golan dikuasai Israel, dan Wilayah Timur yang dikuasai AS karena ladang minyak.

0.4
Konflik di distrik Suwaydah menunjukkan bahwa koalisi AS-Israel-Turki dan ISIS rupanya kesulitan menemukan titik temunya.
Masuknya tentara pendukung Presiden Interm Suriah ke wilayah Suwaydah untuk mendukung komunitas Badui Sunni melawan komunitas Druze bagi Israel dianggap ancaman yang akan menggangu mereka mengokupansi total Dataran Tinggi Golan.
Sementara pergerakan milisi Kurdi ke wilayah Utara perbatasan dengan Turki sudah pasti untuk menghadapi kemungkinan intervensi tentara pendukung Joulani bekerja sama dengan Turki akan mengambil alih wilayah yang telah mereka kuasai sejak pecahnya konflik di Suriah. AS tentu saja ada di belakang mereka.
Jadi ketika kemarin kita melihat Presiden Turki Erdogan mengecam pemboman markas militer Suriah dan Gedung kepresidenan Suriah di Damaskus oleh Israel maka sebenarnya yang demikian adalah tanda dari pecahnya kongsi dari ketiga negara.
Sementara munculnya perlawanan-perlawanan sporadis di seluruh wilayah Suriah terhadap pemerintahan interm Joulani merupakan tanda-tanda dari kebangkitan perlawanan kelompok muda dan rasional Suriah sebagaimana diprediksikan oleh Pemimpin Iran Ali Khamenei.
Andi Hakim, Pemerhati Masalah Internasional