Penguduran diri Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional,Amerika Serikat, sangat mengejutkan di tengah sengitnya perang terbuka AS-Israel versus Iran. Dan alasan pengunduran dirinya itupun sangat politis dan tanpa-basa-basi pakai bahasa halus.
Tanpa bertele-tele Joe Kent berkata:
“Dengan hati nurani yang bersih, saya tidak dapat mendukung perang yang sedang berlangsung di Ira. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat.”
Pernyataan Joe Kent ini selain politis, sekaligus menegaskan dugaan kuat selama ini, bahwa dalam Gedung Putih sendiri tidak satu suara dalam mendukung serangan AS ke Iran akhir Februari lalu.
Selain itu, pengunduran diri Joe Kent ibarat ledakan bom berskala besar mengingat catatan karirnya sendiri yang cukup cemerlang di kemiliteran maupun intelijen. Kent pernah menjadi anggota Pasukan Khusus di Angkatan Darat (Green Beret), anggota pasukan Para Militer CIA, dan akhirnya pada Juli 2025 lalu, dilantik sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional.
Yang lebih menarik lagi, berbeda dengan para tokoh oposisi pengecam keras Presiden Donald Trump yang umumnya secara resmi atau tidak resmi merupakan para kader atau pendukung Partai Demokrat yang kalah dalam Pilpres melawan Trump, Joe Kent bersih dari pengaruh jejaring relasi Partai Demokrat.
Joe Kent, secara tradisional merupakan warga negara pendukung Partai Republik, sama sekali bukan orang yang berhaluan liberali, dan ini yang juga penting, sewaktu akhirnya Kongres menyetujui dirinya sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional, justru berkat dukungan dan lobi dari para politisi sayap kanan.
Inilah yang memberi bobot dan amunisi yang kuat bagi kalangan yang menentang kebijakan Trump menyerang Iran. Joe Kent, bukan tokoh partisan yang dari sononya sudah anti-Trump, dan lebih penting lagi, Joe Kent tidak bisa dianggap orang dari luar kekuasaan mengecam pemerintahan Gedung Putih.
Joe Kent justru berada di jantung kekuasaan pemerintahan Trump, bukan sosok partisan yang dianggap pro Demokrat, dan bukan sosok sayap kanan yang seringkali menyebar cerita-cerita fiksi Teori Konspirasi yang belum matang hasil investigasinya, sehingga ironisnya orang malah jadinya sinis alih-alih waspada, terhadap kemungkinan konspirasi dari dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri.
Bandingkan dengan Artikel Ramzy Baroud:
Yang mesti kita kritisi dan cek silang terhadap alasan di balik penguduran diri Joe Kent adalah, siapa yang sesungguhnya menjadi aktor intelektual dari adanya manipulasi, penipuan dan penguasaan kebijakan luar negeri yang jadi alasan utama pengunduran diri Joe Kent.
Sebab, menurut Joe Kent, Israel dan kelompok lobi Yahudi Israel lah biang keroknya. Yang luput dari perhatian Joe Kent sendiri adalah, lobi Zionis Israel memang satu hal, tapi Joe Kent mengabaikan atau paling tidak luput dari perhatiannya, bahwa Amerika Serikat itu sendiri, seperti halnya Inggris dulu, merupakan sebuah Imperium. Yang ambisi geopolitiknya melampaui sekadar peguasaan pasar global dan keuangan internasional. Ambisi besarnya adalah Menguasai Dunia.
Maka itu seturut pengunduran diri Joe Kent, ada berita pikiran yang mengharuskan kita mencari tahu lebih mendalam. Apa yang diketahui namun Joe Kent memilih untuk tidak mengatakannya, menurut saya sama pentingnya dengan berita mundurnya Kent. Perlu Berita Penjelasan apa yang tidak dikatakan tapi diketahui Kent sehingga ia mundur dari jabatan yang untuk ukuran Amerika sangat strategis itu.
Berita penjelasan seputar apa yang sebenarnya diketahui Kent namun ia memilih memberikan alasan lain yang mungkin lebih kecil resikonya, sangatlah beralasan.
Sebab, untuk jabatan sestrategis Kent, ia punya akses informasi intelijen untuk mengetahui apa pertimbagan-pertimbangan di internal Gedung Putih untuk sampai pada keputusan menyerang Iran, pola ancaman seperti apa yang kemudian jadi dasar keputusan menyerang Iran. Maupun serangkaian diskusi-diskusi strategis yang berlangsung di ruang-ruang tertutup Gedung Putih, Pentagon atau Langley. Yang tentunya berada di luar jangkauan pengetahuan orang-orang banyak.
Dengan begitu, betapapun besar simpati kita pada Kent, tak sesederhana dengan melemparkan semua biang keroknya kepada Zionisme Israel. Meskipun lobo-lobi Yahudi di Amerika memang sangat kuat sejak dekade 1940-1950an.
Jadi, apa penjelasan yang bisa diterima akal sehat seturut pengunduran diri Joe Kent namun yang ia pilih untuk tidak mengatakannya? Pilar-pilar arsitektur kekuasaan Gedung Putih mulai rapuh dan tidak sestabil dulu.
Pengunduran Kent akhirnya seperti membuka Kotak Pandora. Keputusan Gedung Putih menyerang Iran akibat tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat. Nah ini dia. Tekanan Israel dan Lobi Amerika, bisa dibaca bukan sekadar tekanan Israel sebagai negara-bangsa atau lobi Yahudi di Washington. Ada peran Deep State atau Negara Bayangan yang jauh lebih rumit daripada sekadar ulah Israel atau lobi Yahudi.
Dan Joe Kent entah ia menyari atau tidak, sebagai perwira militer yang punya kepekaan intelijen, bisa merasakannya. Meskipun Kent memang tidak memakai bahasa tersandi atau tedeng aling-aling dalam menyampaikan alasan pengunduran dirinya, namun frase kata yang ia gunakan : “karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat. Lobi Amerika yang kuat, terlalu sederhana dan dangkal kalau yang dimaksud cuma lobi Yahudi.
Karena itu, saya cenderung setuju dengan seorang jurnalis dari The Palestine Chronicle, Ramzy Baroud, bahwa begitu seorang informan mengatakan bahwa perang ini dibangun di atas kebohongan, yang lain dipaksa untuk memilih. Mereka dapat terus menunjukkan kesetiaan pada narasi yang runtuh, atau mereka dapat berbicara. Dan semakin lama perang ini berlarut-larut, semakin sulit untuk tetap diam.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments