Buku Lawas, Energi Baru

Bagikan artikel ini

Oleh: Cornelius Helmy
(Kompas, 7 Februari 2016)

Sebagian buku dan dokumen lawas itu jauh lebih tua dari pemiliknya. Lewat bumbu cinta dan kreativitas, para penikmatnya berusaha menjaga isi dan semangat buku agar selalu mempunyai makna dan memberikan energi baru.

Cat putih yang melabur ruangan berukuran 4 meter x 2,5 meter itu nyaris tak terlihat lagi. Rak-rak buku menempel hingga ke ujung atap perpustakaan setinggi 3,5 meter yang berada di kawasan Sumur Bandung, Kota Bandung, Januari lalu. Rampung setahun lalu, perpustakaan milik Ryzki Wiryawan (31) itu menjadi rumah bagi sedikitnya 3.000 buku lawas yang dikumpulkannya sejak 2006.

Tepat di muka pintu masuk, buku berwarna biru tua itu terlihat menonjol, judulnya Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederlandsch Oost Indie 1767-1917. Buku kenangan kelompok Freemason di Hindia Belanda itu sulit dicari kembarannya. Anggota Freemason banyak mendalami beragam hal okultisme (pengetahuan rahasia dan tersembunyi).

Bagi Ryzki, buku itu tidak sekadar langka. Ia melihat, nilainya justru ada dalam isi buku. Di tengah minimnya literatur serupa, itu membantu Ryzki menelurkan dua buku lainnya. Buku Okultisme di Bandoeng Doeloe: Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung terbit tahun 2014. Satu lagi, buku bertema sejarah Bandung akan terbit pertengahan tahun ini.

“Beberapa buku di perpustakaan ini juga ikut membantu merampungkan studi hingga penelitian ilmiah,” katanya.

Ryzki lantas mengambil buku Indische Taal, Land, en Volkenkunde tahun 1877. Sampulnya coklat terbungkus plastik. Tangan Ryzki hati-hati membuka lembar kertas tua mencari bab berjudul “De Kaart van Tjiela of Timbanganten“.

Penulisnya adalah Karel Frederik Holle (1829-1896), pionir penanam teh di Hindia Belanda. Dalam jurnal itu, Holle menyalin peta lawas yang digambar di atas kain, yang berasal dari akhir abad ke-16. Ada nama tempat, sungai, dan gunung, dalam bahasa Sunda. Jakarta disebut Nusa Kalapa dan di sebelah selatannya terletak kawasan Pajajaran, di antara Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane.

“Saat mendapatkannya dari pedagang buku di Jalan Dewi Sartika, Bandung, Ryzki tidak membayangkan dokumen itu akan menjadi bahan peneliti asal Jakarta tentang sejarah Pajajaran. Semoga buku ini bisa jadi jembatan masa lalu, kini, dan yang akan datang,” kata Ryzki.

Digitalisasi hingga Wisata

Semangat itu juga muncul dalam diskusi “Jiwa Muda Koleksi Tua” di Bandung, pertengahan Januari lalu. Ryzki menjadi pembicaranya, bersama kolektor buku lawas Bandung lainnya, Indra Prayana (39) dan Dede Brandalan Tjimanoek.

Indra berharap punya peran serupa. Lewat sekitar 500 buku yang dikumpulkan sejak 2005, ia tengah merawat harapan banyak orang agar isi dalam buku lawas itu abadi.

Dia mencontohkan kepercayaan kolektor sepuh asal Bandung, yang menghubunginya sekitar enam bulan lalu. Tak mengira, ia dipercaya menjaga sejarah lewat puluhan eksemplar majalah bertema fiqih Islam yang diterbitkan periode 1920-1934. Majalah seperti Al Moe’min terbitan Cianjur, Al Imtisal (Tasikmalaya), Al Moechtar (Tasikmalaya), hingga Al Mawa’idz (Tasikmalaya) diwariskan kepadanya untuk diteruskan ilmunya hingga kini.

“Rekan dari Perpustakaan Ajip Rosidi di Bandung, perpustakaan yang banyak mendalami masalah kesundaan, tertarik mendigitalisasi majalah ini. Saya dengan senang hati menyambutnya,” kata Indra saat ditemui di perpustakaan miliknya berukuran 4 meter x 6 meter persegi di kawasan Antapani, Bandung.

Deny Rahman (36), moderator diskusi sekaligus aktivis beragam kegiatan literasi di Bandung sejak 2001, sepakat dokumen dan buku lawas itu akan jauh lebih berguna jika banyak orang bisa belajar. Dia yakin, justru hal itulah yang diinginkan para penulis buku langka itu dulu. Isi dalam buku berguna untuk generasi selanjutnya.

“Saat diketahui banyak orang, efeknya bagi kegiatan literasi di Jabar sangat positif baik. Selain muncul penulis buku baru, komunitas jalan-jalan sejarah tumbuh subur,” tambah Deny.

Pada 17 Februari 2016, misalnya, Deny menjadi satu dari 30 orang yang menapaki jejak sejarah penanam teh asal Belanda, RE Kerkhoven, di Gambung, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung. Diinisiasi kelompok jalan-jalan sejarah, Balad Junghuhn dan Tjimahi Heritage, acara itu mengambil referensi dari buku Sang Juragan Teh karya Hella S Haasse.

Bagi Deny, perjalanan itu tidak hanya menemukan warisan kerja keras RE Kerkhoven membuka kebun teh yang melegenda. Lewat acara itu, dia tahu RE Kerkhoven punya kepedulian tinggi yang menghidupkan sekitar 2.000 warga Gambung hingga kini. Pembangunan penampungan air bersih, listrik, hingga warisan penanaman teh jadi buktinya.

Pada hari yang sama, komunitas jalan-jalan lainnya, mooibandoeng, yang diprakarsai Ridwan Hutagalung (45), juga menggelar perjalanan serupa ke Garut. Acara ini adalah rangkaian kegiatan “Mengenal Riwayat Preangerplanters” yang digelar bersama Komunitas Aleut.

Ridwan mengatakan, sekitar 30 peserta jalan-jalan diajak menjelajahi jejak sejarah di Rumah Bambu hingga Perkebunan Teh Cikajang yang dikelola KF Holle. Peta Sunda yang disalin Holle dalam bab “De Kaart van Tjiela of Timbanganten” juga kembali aktual dibicarakan dalam perjalanan itu.

“Nama mooibandoeng diambil dari majalah promosi wisata keluaran tahun 1930-an. Semangatnya ingin yang dijaga hingga saat ini. Kami ingin mempromosikan kawasan alternatif wisata di tanah Priangan,” kata Ridwan.

Ryzki yang juga hadir dalam perjalanan itu meyakini, lewat minat besar anak muda penikmat sejarah, banyak dokumen lawas akan tetap hidup menjadi energi. Bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan juga bekal untuk esok yang lebih baik.

“Kami yakin dalam kekinian terkandung masa lalu. Masa sekarang juga sedang termuat masa depan yang akan terjadi” kata Ryzki.

Sumber: Kompas, 7 Februari 2016

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com