City of London: Imperium Lama Pengendali Dunia (Bag-1)

Bagikan artikel ini

Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

Ia bukanlah London yang dikenal publik sebagai Ibukota Negara Inggris Raya. Bukan! Lupakan sejenak Istana Buckingham atau Gedung Parlemen. Jika ingin memahami bagaimana tali temali kekuasaan lama dengan kekuasaan modern bekerja, arahkan pandangan ke satu wilayah atau area kecil seluas 2,9 km di jantung London di tepi Sungai Thames, itulah: City of London.

Wilayah ini lebih tua dari negara Inggris modern itu sendiri. Di sini Londinium —nama latin kuno untuk kota London— tempat bangsa Romawi berdiri hampir dua milenium lalu. Batasnya nyaris tak berubah sejak abad pertengahan. Pemerintahannya pun nyaris tidak berbeda, karena punya otoritas sendiri. City of London Corporation dipimpin oleh Lord Mayor of London, jabatan yang umurnya melampaui banyak konstitusi di dunia. Ia memiliki kepolisian dan tradisi sendiri. Dalam sistem pemilihan, dunia usaha punya suara formal. Sudah tentu, bagi sebagian orang, ini anomali demokrasi. Namun bagi sebagian yang lain, ia warisan sejarah yang bertahan karena struktural fundamental dan struktural fungsional. Dulu, bahkan hingga kini, korporasi berpengaruh terhadap gereja dan negara.

Di Sini, Uang Tak Pernah Tidur

Secara struktural fundamental, City of London (selanjutnya disingkat CoL) adalah pemilik, perancang, dan imperium lama dunia keuangan yang mengintervensi gereja dan pemerintahan. Elit-elit CoL berperan mengatur perbankan dunia, trust fund, perusahaan cangkang utama, dan menentukan esensi ketentuan hukum global. Beroperasinya lewat individu berpengaruh yang berada di institusi strategis. CoL juga menentukan ritme Cayman Island, Jersey, Guernsey, dan British Virgin Island. Sejalan dengan terkuaknya Dokumen Epstein — atmosfer CoL, aktor-aktor elit finansial, aristokrat, atau perantara kekuasaan global tercatat dalam jaringan Epstein.

Delapan puluh tahun lalu, seiring dengan kemenangan AS pada Perang Dunia II, CoL sebagai imperium lama “dipaksa” menyerahkan sebagian kuasa pada imperium baru: “Washington”. Landasannya adalah kesepakatan Bretton Woods I, tahun 1944. Tapi, praktiknya berbagi peranan strategis antara CoL dan Washington terutama ketika bertalian dengan Deklarasi Balfour 1917 dan pendirian Israel di Palestina pada 1948. Hal ini, karena pemain intinya sama. Oleh sebab itu, melihat CoL dan Washington (dengan sebagian operasionalisasi keuangan di New York), wajib mempertimbangkan keberadaan Tel Aviv. Jika perspektifnya demikian, setuju atau tidak, menerima atau menolak, suka atau tidak suka — kita harus menggali peranan penting keluarga Rothchilds pada Bank of England dan keluarga Rockefeller pada Federal Reserve.

Biasanya, kaum akademisi yang berkiblat Barat serta merta menuding kajian seperti ini sebagai pemikiran konspirasi. Vonis seperti ini sebenarnya dalam rangka menutup sejarah dan realitas kekuasaan financial-military industrial complex di panggung global. Bahkan menutup jejaring NGO internasional (WEF, NED, beberapa yayasan filantropi) ke NGO nasional, termasuk ke tokoh-tokoh media massa, agama, tentara dan polisi. Juga menutup penilaian tentang individu-individu yang duduk di jabatan strategis pada lembaga multilateral seperti BIS, Bank Dunia, IMF, WTO, WHO, WFP, dan sejenisnya. Itulah struktural fungsioalnya. Jejaring tersebut memastikan bahwa individu yang ditempatkan pada lembaga strategis bergengsi melaksanakan kebijakan strategis imperium lama, imperium baru, dan desain Tel Aviv.

Di sini tergelar. Elit-elit CoL beroperasi dalam lintas AS, UK, Israel, dan Offshore Caribbean. Maka dokumen Epstein mengabarkan bahwa Jeffrey Epstein adalah simpul geopolitik yang menjadi perantara berbagai jaringan, penghubung uang dengan seks dan intelijen. Saat CoL disebut dalam dokumen itu, yang terjadi adalah terbuktinya jaringan kental AS sebagai imperium finansial baru dengan CoL selaku imperium finansial lama. Nah, Epstein berada di titik temu keduanya, yakni uang AS, struktur Inggris, dan intelijen lintas negara.

Jelas, CoL bukan kota biasa. Area itu merupakan salah satu simpul utama sistem keuangan global. Pasar valuta asing London adalah yang terbesar di dunia. Bank investasi, firma hukum internasional, perusahaan asuransi raksasa, dan pengelola dana triliunan dolar berkantor di Square Mile, sebutan lain City of London (CoL).

Penduduk tetap di sana hanya sekitar 10.000 orang. Namun, setiap hari sekitar lima ratusan ribu profesional keluar masuk ke kawasan ini untuk mengelola arus modal global. Keputusan yang diambil di sini dapat berdampak luas pada nilai mata uang di Asia, misalnya, atau harga komoditas di Afrika, ataupun suku bunga di Amerika Latin dan lain-lain. Tidak ada pidato dramatis. Tak ada kampanye terbuka. Tak pula pencitraan. Hanya angka, grafik, dan tanda tangan digital. Inilah bentuk kekuasaan abad ke-21: “senyap, mendikte, teknokratis, dan mengglobal”.

Saking senyapnya, nama Lord Mandelson yang mencuat dalam dokumen Epstein membuat heboh Partai Buruh dan Kabinet Keir Starmer. Mantan Duta Besar Inggris untuk AS itu dicopot karena namanya dianggap merusak citra moralitas Inggris. Apalagi tercium bau penyalahgunaan kewenangan sehingga polisi melakukan penyidikan dan Mandelson pun mundur dari Partai Buruh. PM Inggris Starmer minta maaf atas kasus ini. Tapi, gaya formalitas Inggris ini tidak hadir di pasar modal New York yang kini mulai ikut dikendalikan kecerdasan buatan. Sementara nama Pangeran Andrew justru menjadi pintu penutup agar perhatian publik tidak berlanjut ke Kerajaan Inggris.

“Negara dalam Negara” dan Ruang Abu-Abu

Istilah itu kerap beredar. CoL memang memiliki otonomi administratif kuno dan sistem pemilihan yang memberi ruang bagi korporasi. Ia juga menjadi rumah bagi institusi seperti Bank of England dan pusat pasar keuangan internasional. Tetapi, secara hukum CoL tetap bagian dari Inggris. Tak ada kedaulatan tersembunyi. Tidak ada paspor sendiri. Tak ada tentara bayangan. Yang ada adalah konsentrasi kepentingan ekonomi dalam ruang yang relatif kecil. Lalu, di situlah beragam persepsi kekuasaan, keuangan, agenda dan rencana operasi strategis: lahir dan beredar. Kemapanan sistem berjalan, struktur bekerja sesuai desain, individu berperan, dan tujuan harus tercapai.

Sebagai pusat keuangan global, London —termasuk CoL— tak lepas dari skandal lazimnya seperti manipulasi suku bunga, pelanggaran aturan anti-pencucian uang, hingga denda miliaran dolar terhadap bank internasional. Isu-isu ini tidak unik bagi London. Karena New York dan pusat finansial lain pun mengalami hal serupa. Namun, kompleksitas sistem keuangan global memang menciptakan ruang abu-abu. Struktur perusahaan, lintas yurisdiksi, jaringan offshore, dan instrumen keuangan rumit membuat pengawasan publik tak pernah sederhana.

Lagi-lagi digugat, apakah ini konspirasi? Tak ada bukti terorganisasi seperti itu. Apakah ini sistem yang sulit dipahami dan karenanya mudah dicurigai?

Yuk, kita telisik lebih lanjut.

(Bersambung ke Bag-2)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com