Dari Globalisasi ke De-Globalisasi, Apa Langkah Strategis Indonesia dan Global South?

Bagikan artikel ini

Belakangan ini semakin banyak kalangan yang menelaah trend menuju Deglobalisasi setelah frase kata Globalisasi mulai marak sejak dekade awal 1990an seturut runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 dan runtuhnya Uni Soviet pada 1991. Sebuah riset yang dilakukan oleh The European Money and Finance Forum, sejak tahun 2024 Globalisasi dalam pengertian sebagai Integrasi Ekonomi Global semakin mulai menghadapi ancaman yang semakin besar.

Baca;

From Globalization to Deglobalization: An Unwelcome Transition

Salah satu indikasinya, ancaman muncul dari dalam bentuk ancaman fisik dan keamanan yang semakin meningkat terhadap perdagangan, tetapi juga dari berkurangnya keinginan politik untuk integrasi lebih lanjut di beberapa bagian dunia. setidaknya ditandai adanya semakin meningkatnya fragmentasi dan penataan ulang regional yang mulai terjadi dalam perdagangan barang, arus portofolio, dan investasi bilateral.

Komunitas ekonomi-perdagangan di Eropa juga mulai resah ketika tren deglobalisasi jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas ekonomi di zona euro.

Sebagai perbandingan baca artikel:

The De-Globalisation Era Is Well and Truly Upon Us

Belakangan ini semakin banyak kalangan yang menelaah trend menuju Deglobalisasi setelah frase kata Globalisasi mulai marak sejak dekade awal 1990an seturut runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 dan runtuhnya Uni Soviet pada 1991. Sebuah riset yang dilakukan oleh The European Money and Finance Forum, sejak tahun 2024 Globalisasi dalam pengertian sebagai Integrasi Ekonomi Global semakin mulai menghadapi ancaman yang semakin besar.

Salah satu indikasinya, ancaman muncul dari dalam bentuk ancaman fisik dan keamanan yang semakin meningkat terhadap perdagangan, tetapi juga dari berkurangnya keinginan politik untuk integrasi lebih lanjut di beberapa bagian dunia. setidaknya ditandai adanya semakin meningkatnya fragmentasi dan penataan ulang regional yang mulai terjadi dalam perdagangan barang, arus portofolio, dan investasi bilateral.

Komunitas ekonomi-perdagangan di Eropa juga mulai resah ketika tren deglobalisasi jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas ekonomi di zona euro.

Fragmentasi dan penataan di tataran regional akan berdampak buruk karena ditandai oleh beberapa hal sebagai berikut: menurunkan output, meningkatkan inflasi, dan membuat perekonomian lebih rentan terhadap guncangan domestik. Analisis ini melampaui perkembangan terkini dalam kebijakan perdagangan, terutama pemberlakuan tarif secara luas oleh AS, yang nampaknya meskipun bukan penyebab krisis global dan potensi De-Globalisasi, namun merupakan faktor percepatan menun krisis globalisasi, sehingga tren De-Globalisasi pada akhirnya tak akan terelakkan.

Ciri Umum Konstelasi Internasional Pasca Perang Dingin

Sejak berakhirnya Perang Dingin yang bertumpu pada polarisasi dua kutub (AS-Eropa Barat-Jepang) vs Cina-Rusia, muncullah Sistem Internasional Baru, yaitu Globalisasi.

Dalam Sistem Globalisasi, ada dua paradoks yang sialnya berjalan seiring padahal secara ekstrem berbeda tajam. Di satu sisi, memicu munculnya pengkutuban tunggal (Unipolaritas) yang dipimpin oleh Amerika Serikat sebagai konsekwensi strategis runtuhnya Uni Soviet pada 1991 yang sejak 1917 merupakan negara adikuasa tandingan terhadap hegemoni AS dan blok Barat.

Sehingga dalam Drama Pasca Perang Dingin ditandai oleh karakteristik konflik yang berbeda dibandingkan semasa Perang Dingin. Di satu sisi, muncul Sistem Internasional Baru yang bernama Globalisasi yang menuntut dan memaksa adanya penyeragaman dan homogenisasi di seluruh dunia (homogenisasi): Kapitalisme berbasis Konglomerasi Multinasional dan Sistem Ekonomi Neoliberalisme berbasis Pasar Bebas yang meniadakan dan mengabaikan peran negara.

Relevansi G20 di Tengah Gejolak Geopolitik dan Deglobalisasi Perdagangan. (Foto: MNC Media)

Relevansi G20 di Tengah Gejolak Geopolitik dan Deglobalisasi Perdagangan. (Foto: MNC Media)Berarti, sejak berakhirnya Perang Dingin (1991), Globalisasi bukan saja harus kita pandang sebagai Sistem Internasional Baru pengganti Sistem Perang Dingin, melainkan juga sebagai  bingkai dalam menganalisis masalah-masalah internasional. Dengan itu, Globalisasi  sejatinya merupakan sebuah kendaraan besar bermuatan ideologi,  agenda, dan skema (rencana induk) untuk menciptakan pengkutuban tunggal di bawah kendali pengaruh AS dan Eropa Barat sebagai pemenang baru di era Pasca Perang Dingin.

Maka di sinilah perlunya kita hati-hati dengan istilah GLOBALISASI. Oleh sebab wataknya yang ditandai oleh frase kata “Tembook” dan “Dinding,” pada era Perang Dingin, di era Pasca Perang Dingin dalam wataknya yang ditandai oleh frase kata “Lintas Negara” dan “Borderless Nation atau tanpa batas-batas geografis antar-negara,” maka Globalisasi dapat kita gambarkan sebagai Jaringan (Web). Jadi kalau di era Perang Dingin dibangun oleh Dinding dan Tembok, di era Pasca Perang Dingin dicirikan oleh Integrasi dan Jaringan.

Dengan begitu, tampak jelas watak ideologis dan ambisi geopolitik dari kekautan-kekuatan global di balik frase kata Globalisasi tersebut: Memaksakan Integrasi negara-negara dan komunitas internasional dari seluruh dunia dalam bidang politik, keamanan nasional, perdagangan, kebudayaan, keuangan, lingkungan hidup, dan teknologi.

Deglobalisasi pada gambar bendera Tiongkok dan Amerika rendering 3d

Inilah benih-benih tumbuhnya Skema Penjajahan Gaya Baru dengan mendayagunakan sarana-sarana nir militer untuk mencapai tujuan strategisnya:  

Menginternasionalisasikan/mengekspor Sistem Ekonomi Neoliberalisme. Tren Global tersebut semakin menemukan formatnya yang paling canggih pada akhir 1970an dan awal 1980an, seturut terpilihnya Margareth Thatcher sebagai perdana menteri Inggris dan Presiden Ronald Reagan sebagai Presiden AS.

Apa Ide dan Kekuatan Yang Mengendalikan Globalisasi?

Membiarkan Kapitalisme Pasar Bebas menyebar secara bebas tanpa kendali dan berkuasa secara mondial bukan saja di bidang ekonomi-perdagangan melainkan juga mempengaruhi dimensi politik, keuangan, keamanan nasional, lingkungan hidup dan teknologi.  Inilah kondisi sosial geografis Pasca Perang Dingin yang harus kita jadikan rangka analisis awal dalam membaca konstelasi dan tren internasional. Di Lemhanas kerap disebut Panca Gatra (Ideologi, Politik-Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Pertahanan-Keamanan).

Wujud nyata dari Homogenisasi Global dalam bidang Politik Ekonomi adalah Konsensus Washington yang mengharuskan semua negara menganut model ekonomi Neoliberalisme yang disebut Structural Adjustment Program (SAP): Liberalisasi Sistem Keuangan, Perbankan dan Perdagangan; Privatisasi/Swastanisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pencabutan Subsidi dalam sektor-sektor yang pro rakyat seperti Pendidikan, Pelayanan Masyarakat/Public Service dan Kesehatan.

Dari sini tampak jelas bahwa tulang punggung dan pilar paling vital dari Sistem Globalisasi Ini adalah: Sistem Keuangan Internasional yang bertumpu pada mata uang dolar AS sebagai tolok-ukur di seluruh dunia. Selama Sistem Keuangan Internasional baik-baik dan sehat-sehat saja, aman. Namun begitu mengalami guncangan seperti yang terjadi seturut serangan AS-Israel ke Iran, maka tatanan internasional baru pasca Perang Dingin bisa terguncang juga.

Seturut dengan melemahnya negara sebagai aktor nasional maupun internasional di hadapan kekuatan swasta dan konglomerasi multinasional, negara dan individu bukan saja seimbang, bahkan pada perkembangannya sistem globalisasi mendorong konglomerasi multinasional menguasai negara. Korporasi bukan sekadar kelompok penekan terhadap negara, bahkan pada perkembangannya semakin menegara  baik di eksekutif, legislatif dan pelaksana yudikatif.

Begitulah. Serentak dengan berakhirnya Perang Dingin 1991, Sistem Internasional baru bernama Globalisasi, tembok dan dinding yang menyekat antar negara memang runtuh. Namun dari sini pula, integrasi dan homogenisasi Tatanan Dunia Baru Pasca Perang Dingin disatukan secara simultan melalui teknologi: Komputerisasi, Digitalisasi, miniaturisasi, komunikasi satelit serat optik dan tentu saja internet.

Inilah tren global yang di luar dugaan dan tak terbayangkan sebelumnya pada Pasca Perang Dingin: Individu sontak mampu tampil sebagai kekuatan di pentas dunia yang mampu mengimbangi dan mengungguli negara dan pasar. Individu sebagai kekuatan super yang mampu bertindak secara global tanpa wewenang dan perantaraan negara.

Alhasil, di era Pasca Perang DIngin, muncul hubungan timbal-balik dan saling bertaut yang cukup kompleks dan rumit: Negara benturan dengan Negara, Negara benturan dengan Pasar Utama, Pasar Utama benturan dengan Individu-Individu dengan kekuatan super.

Perang Hibrida, Konsekwensi Strategis Dari Sistem Globalisasi

Seperti saya singgung tadi, Sistem Globalisasi merupakan benih-benih tumbuhnya Skema Penjajahan Gaya Baru yang mendayagunakan sarana-sarana nonmiliter (Ideologi, Politik-Ekonomi, Sosial-Budaya, Pertahanan-Keamanan), namun jika kepepet dan terpojok, akan kembali menggunakan metode konvensional (invasi militer).

Dalam kasus Libya dan Suriah, ketika kekuatan global gagal menggulingkan penguasa yang dipandang melawan skema kapitalisme global gagal total melalui perang asimetris yang sejatinya bersifat non-kekerasan dan non-militer, kemudian dinaikkan skalanya menjadi perang saudara (civil war) yang mendayagunakan sarana-sarana militer. Maka dari Perang Asimetris yang non-militer, kemudian menjelma menjadi Perang Hibrida. Yaitu suatu kombinasi antara Perang Konvensional yang sejatinya Perang Fisik dan Perang Non-konvensional yang mendayagunakan sarana nonmiliter (tekanan ekonomi, sabotase ekonomi, Dis-informasi lewat perang siber, serta menciptakan zona abu-abu yang sulit dideteksi secara kasatmata.

Dalam kerangka Perang Hibrida yang mengombinasikan Perang Asimetris yang bersifat nirmiliter maupun perang konvensional yang mengandalkan pasukan militer, sebagai konsekwensi logis dari Skema Penjajahan Gaya Baru yang berkedok Sistem Globalisasi, aktor negara dan aktor non-negara didayagunakan secara simultan. Dengan tujuan strategis: Mengguncang Stabilitas Nasional negara-negara yang dipandang musuh oleh kekuatan global (baik negara, pasar utama maupun individu dengan kekautan super, dan menciptakan ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah atau otoritas negara dalam lingkup yang seluas-luasnya.

Melawan Sistem Globalisasi, Memanfaatkan Jaringan Sebagai Platform Untuk Menyusun Kekuatan Kontra Hegemoni:

  1. Pentingnya memandang dunia melalui multi-lensa untuk mengurai kerumitan benang kusut, dan memperoleh sudut pandang dan cara baru melihat masalah-masalah internasional yang berdampak secara langsung atau tidak langsung terhadap negara kita.
  1. Dengan cara menghubungkan titik-titik dan kepingan-kepingan informasi yang terpisah-pisah dalam isu politik, kebudayaan, perdagangan, keuangan, keamanan nasional, lingkungan hidup dan teknologi, dalam satu tarikan nafas. Untuk memperoleh gambaran baru dalam memahami konstelasi global.
  1. Untuk membangun kemampuan memandang dunia melalui pendekatan multi-lensa, maka kita perlu memahami salah satu karakteristik sekaligus cara kerja sistem globalisasi yang mengandalkan jaringan (web) yang digunakan kekuatan global untuk memaksakan integrasi dah penyeragaman global di seluruh dunia. Sehingga kita punya gambaran latarbelakang untuk menyusun kontra skema. Yaitu dengan cara merajut jaringan informan dan informasi yang luas, sehingga kemudian mampu mengetahui bagaimana menyusun kepingan-kepingan informasi maupun titik-titik isu yang terpisah-pisah, yang terkandung dalam penyebaran berita, menjadi sebuah gambaran baru untuk memahami situasi dan kondisi.

Sumber Foto: HERYUNANTO. https://www.kompas.id/artikel/bangkitnya-globalisasi-baruMomentum menuju De-Globalisasi sepertinya sudah tiba. Sebuah artikiel menarik ditulis oleh Shashank Pattekar, seorang bankir internsional. Menurutnya, sepanjang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, tren globalisasi secara luas dianggap sebagai keniscayaan ekonomi.

Barang, jasa, modal, dan tenaga kerja semuanya mengalir melintasi perbatasan dengan kebebasan yang mungkin belum pernah dicapai sebelumnya, memicu serangkaian perjanjian perdagangan dan investasi lintas batas, rantai pasokan yang rumit yang sering membentang di berbagai benua, dan tingkat mobilitas pekerjaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.  yang secara efektif memungkinkan ekonomi maju untuk menarik talenta global seperti belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga secara efektif  memungkinkan ekonomi maju untuk menarik talenta global seperti belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun dalam tulisan itu pula, Pattekar memandang  gambaran tersebut mulai memudar, dan konsep de-globalisasi kini mendominasi percakapan. Namun, apa yang tampaknya terjadi bukanlah pembalikan langsung dari tren globalisasi yang mendahuluinya; melainkan, transformasi yang sedang berlangsung ini adalah hasil dari perubahan prioritas nasional, di mana tujuan memaksimalkan efisiensi ekonomi telah digantikan oleh pertimbangan lain, seperti keamanan nasional, ketahanan, dan penataan ulang geopolitik.

Nah berarti, proses De-Globalisasi bukan anomali, melainkan inti soal itu sendiri. Pada 2026 saat ini, para pemimpin dunia mengakui bahwa sekarang dunia berada di tengah-tengah keretakan, tapi bukan transisi. demikian pernyataan Mark Carney, seperti dikutip Pattekar, pada Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang baru-baru ini diadakan di Davos, Swiss.

“Negara-negara besar telah mulai menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata, tarif sebagai pengaruh, infrastruktur keuangan sebagai paksaan, dan rantai pasokan sebagai kerentanan yang dapat dieksploitasi.” Perdana menteri Kanada itu juga mengatakan bahwa negaranya “termasuk yang pertama mendengar seruan untuk bangun” bahwa geografi dan aliansi historis tidak lagi menjamin keamanan atau kemakmuran.

Pandangan Mark Carney ada benarnya. Ketika Amerika Serikat menjadi kekuatan hegemoni global tanpa tandingan sejak berakhirnya Perang Dingin yang membawa konsekwensi kerja sama internasional bertumpu pada Unipolar/pengkutuban tunggal, namun pada perkembangannya AS tidak memperhitungkan bahwa pada perkembangannya Integrasi Ekonomi Global bukan ditentukan oleh logika pasar bebas atau pertimbangan logika ekonomi, melainkan pertimbangan dan masukan geopolitik lah  sebagai kekuatan sentral pengambilan keputusan ekonomi. Dengan itu, mengutamakan kepentingan nasional masing-masing negara di atas segalanya, termasuk pasar bebas itu sendiri.

Setidaknya hal itu terlihat melalui kebijakan sepihak Presiden Donald Trump menaikan bea tarif  25 persen untuk impor bukan saja terhadap negara yang dipandang rival seperti Cina dan Rusia, melainkan juga yang termasuk sekutu AS seperti mitra dagang dekat Kanada dan Meksiko, maupun Uni Eropa. Bersamaan dengan kenaikan besar-besaran bea masuk untuk produk-produk Cina, sebagian dimaksudkan untuk mendorong permintaan AS ke arah industri dalam negeri. Tetapi langkah-langkah tersebut juga jelas menandakan adanya pergeseran menuju kebijakan perdagangan proteksionis dan berorientasi keamanan, alih-alih liberalisasi pasar terbuka sesuai skema Neoliberalisme.

Bagi Indonesia dan negar-negara berkembang yang tergabung dalam Global South, saatnya untuk membaca momentum global tersebut secara tajam, untuk menyusun skema baru versi kepentingan nasonal negara-negara Selatan itu sendiri. Sebagaimana para Founding Fathers Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 secara jeli dan tepat sasaran membaca konstelasi global yang bertumpu pada polarisasi antara AS dan blok Barat versus blok Timur yang dimotori Uni Soviet dan Cina. Sehingga para pemrakarsa Konferens Asia-Afrika Bandung 1955 berhasil memajukan diri sebagai “Kekuatan Ketiga” yang juga harus diperhitungkan oleh dunia internasional.

Belakangan ini semakin banyak kalangan yang menelaah trend menuju Deglobalisasi setelah frase kata Globalisasi mulai marak sejak dekade awal 1990an seturut runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 dan runtuhnya Uni Soviet pada 1991. Sebuah riset yang dilakukan oleh The European Money and Finance Forum, sejak tahun 2024 Globalisasi dalam pengertian sebagai Integrasi Ekonomi Global semakin mulai menghadapi ancaman yang semakin besar.

Salah satu indikasinya, ancaman muncul dari dalam bentuk ancaman fisik dan keamanan yang semakin meningkat terhadap perdagangan, tetapi juga dari berkurangnya keinginan politik untuk integrasi lebih lanjut di beberapa bagian dunia. setidaknya ditandai adanya semakin meningkatnya fragmentasi dan penataan ulang regional yang mulai terjadi dalam perdagangan barang, arus portofolio, dan investasi bilateral.

Komunitas ekonomi-perdagangan di Eropa juga mulai resah ketika tren deglobalisasi jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas ekonomi di zona euro.

Fragmentasi dan penataan di tataran regional akan berdampak buruk karena ditandai oleh beberapa hal sebagai berikut: menurunkan output, meningkatkan inflasi, dan membuat perekonomian lebih rentan terhadap guncangan domestik. Analisis ini melampaui perkembangan terkini dalam kebijakan perdagangan, terutama pemberlakuan tarif secara luas oleh AS, yang nampaknya meskipun bukan penyebab krisis global dan potensi De-Globalisasi, namun merupakan faktor percepatan menun krisis globalisasi, sehingga tren De-Globalisasi pada akhirnya tak akan terelakkan.

Ciri Umum Konstelasi Internasional Pasca Perang Dingin

 Sejak berakhirnya Perang Dingin yang bertumpu pada polarisasi dua kutub (AS-Eropa Barat-Jepang) vs Cina-Rusia, muncullah Sistem Internasional Baru, yaitu Globalisasi.

Dalam Sistem Globalisasi, ada dua paradoks yang sialnya berjalan seiring padahal secara ekstrem berbeda tajam. Di satu sisi, memicu munculnya pengkutuban tunggal (Unipolaritas) yang dipimpin oleh Amerika Serikat sebagai konsekwensi strategis runtuhnya Uni Soviet pada 1991 yang sejak 1917 merupakan negara adikuasa tandingan terhadap hegemoni AS dan blok Barat.

Sehingga dalam Drama Pasca Perang Dingin ditandai oleh karakteristik konflik yang berbeda dibandingkan semasa Perang Dingin. Di satu sisi, muncul Sistem Internasional Baru yang bernama Globalisasi yang menuntut dan memaksa adanya penyeragaman dan homogenisasi di seluruh dunia (homogenisasi): Kapitalisme berbasis Konglomerasi Multinasional dan Sistem Ekonomi Neoliberalisme berbasis Pasar Bebas yang meniadakan dan mengabaikan peran negara.

Berarti, sejak berakhirnya Perang Dingin (1991), Globalisasi bukan saja harus kita pandang sebagai Sistem Internasional Baru pengganti Sistem Perang Dingin, melainkan juga sebagai  bingkai dalam menganalisis masalah-masalah internasional. Dengan itu, Globalisasi  sejatinya merupakan sebuah kendaraan besar bermuatan ideologi,  agenda, dan skema (rencana induk) untuk menciptakan pengkutuban tunggal di bawah kendali pengaruh AS dan Eropa Barat sebagai pemenang baru di era Pasca Perang Dingin.

Maka di sinilah perlunya kita hati-hati dengan istilah GLOBALISASI. Oleh sebab wataknya yang ditandai oleh frase kata “Tembok” dan “Dinding,” pada era Perang Dingin, di era Pasca Perang Dingin dalam wataknya yang ditandai oleh frase kata “Lintas Negara” dan “Borderless Nation atau tanpa batas-batas geografis antar-negara,” maka Globalisasi dapat kita gambarkan sebagai Jaringan (Web). Jadi kalau di era Perang Dingin dibangun oleh Dinding dan Tembok, di era Pasca Perang Dingin dicirikan oleh Integrasi dan Jaringan.

Dengan begitu, tampak jelas watak ideologis dan ambisi geopolitik dari kekautan-kekuatan global di balik frase kata Globalisasi tersebut: Memaksakan Integrasi negara-negara dan komunitas internasional dari seluruh dunia dalam bidang politik, keamanan nasional, perdagangan, kebudayaan, keuangan, lingkungan hidup, dan teknologi.

Inilah benih-benih tumbuhnya Skema Penjajahan Gaya Baru dengan mendayagunakan sarana-sarana nir militer untuk mencapai tujuan strategisnya:  

Menginternasionalisasikan/mengekspor Sistem Ekonomi Neoliberalisme. Tren Global tersebut semakin menemukan formatnya yang paling canggih pada akhir 1970an dan awal 1980an, seturut terpilihnya Margareth Thatcher sebagai perdana menteri Inggris dan Presiden Ronald Reagan sebagai Presiden AS.

Apa Ide dan Kekuatan Yang Mengendalikan Globalisasi?

Membiarkan Kapitalisme Pasar Bebas menyebar secara bebas tanpa kendali dan berkuasa secara mondial bukan saja di bidang ekonomi-perdagangan melainkan juga mempengaruhi dimensi politik, keuangan, keamanan nasional, lingkungan hidup dan teknologi.  Inilah kondisi sosial geografis Pasca Perang Dingin yang harus kita jadikan rangka analisis awal dalam membaca konstelasi dan tren internasional. Di Lemhanas kerap disebut Panca Gatra (Ideologi, Politik-Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Pertahanan-Keamanan).

Wujud nyata dari Homogenisasi Global dalam bidang Politik Ekonomi adalah Konsensus Washington yang mengharuskan semua negara menganut model ekonomi Neoliberalisme yang disebut Structural Adjustment Program (SAP): Liberalisasi Sistem Keuangan, Perbankan dan Perdagangan; Privatisasi/Swastanisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pencabutan Subsidi dalam sektor-sektor yang pro rakyat seperti Pendidikan, Pelayanan Masyarakat/Public Service dan Kesehatan.

Dari sini tampak jelas bahwa tulang punggung dan pilar paling vital dari Sistem Globalisasi Ini adalah: Sistem Keuangan Internasional yang bertumpu pada mata uang dolar AS sebagai tolok-ukur di seluruh dunia. Selama Sistem Keuangan Internasional baik-baik dan sehat-sehat saja, aman. Namun begitu mengalami guncangan seperti yang terjadi seturut serangan AS-Israel ke Iran, maka tatanan internasional baru pasca Perang Dingin bisa terguncang juga.

Seturut dengan melemahnya negara sebagai aktor nasional maupun internasional di hadapan kekuatan swasta dan konglomerasi multinasional, negara dan individu bukan saja seimbang, bahkan pada perkembangannya sistem globalisasi mendorong konglomerasi multinasional menguasai negara. Korporasi bukan sekadar kelompok penekan terhadap negara, bahkan pada perkembangannya semakin menegara  baik di eksekutif, legislatif dan pelaksana yudikatif.

Begitulah. Serentak dengan berakhirnya Perang Dingin 1991, Sistem Internasional baru bernama Globalisasi, tembok dan dinding yang menyekat antar negara memang runtuh. Namun dari sini pula, integrasi dan homogenisasi Tatanan Dunia Baru Pasca Perang Dingin disatukan secara simultan melalui teknologi: Komputerisasi, Digitalisasi, miniaturisasi, komunikasi satelit serat optik dan tentu saja internet.

Inilah tren global yang di luar dugaan dan tak terbayangkan sebelumnya pada Pasca Perang Dingin: Individu sontak mampu tampil sebagai kekuatan di pentas dunia yang mampu mengimbangi dan mengungguli negara dan pasar. Individu sebagai kekuatan super yang mampu bertindak secara global tanpa wewenang dan perantaraan negara.

Alhasil, di era Pasca Perang DIngin, muncul hubungan timbal-balik dan saling bertaut yang cukup kompleks dan rumit: Negara benturan dengan Negara, Negara benturan dengan Pasar Utama, Pasar Utama benturan dengan Individu-Individu dengan kekuatan super.

Perang Hibrida, Konsekwensi Strategis Dari Sistem Globalisasi

Seperti saya singgung tadi, Sistem Globalisasi merupakan benih-benih tumbuhnya Skema Penjajahan Gaya Baru yang mendayagunakan sarana-sarana nonmiliter (Ideologi, Politik-Ekonomi, Sosial-Budaya, Pertahanan-Keamanan), namun jika kepepet dan terpojok, akan kembali menggunakan metode konvensional (invasi militer).

Dalam kasus Libya dan Suriah, ketika kekuatan global gagal menggulingkan penguasa yang dipandang melawan skema kapitalisme global gagal total melalui perang asimetris yang sejatinya bersifat non-kekerasan dan non-militer, kemudian dinaikkan skalanya menjadi perang saudara (civil war) yang mendayagunakan sarana-sarana militer. Maka dari Perang Asimetris yang non-militer, kemudian menjelma menjadi Perang Hibrida. Yaitu suatu kombinasi antara Perang Konvensional yang sejatinya Perang Fisik dan Perang Non-konvensional yang mendayagunakan sarana nonmiliter (tekanan ekonomi, sabotase ekonomi, Dis-informasi lewat perang siber, serta menciptakan zona abu-abu yang sulit dideteksi secara kasatmata.

Dalam kerangka Perang Hibrida yang mengombinasikan Perang Asimetris yang bersifat nirmiliter maupun perang konvensional yang mengandalkan pasukan militer, sebagai konsekwensi logis dari Skema Penjajahan Gaya Baru yang berkedok Sistem Globalisasi, aktor negara dan aktor non-negara didayagunakan secara simultan. Dengan tujuan strategis: Mengguncang Stabilitas Nasional negara-negara yang dipandang musuh oleh kekuatan global (baik negara, pasar utama maupun individu dengan kekautan super, dan menciptakan ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah atau otoritas negara dalam lingkup yang seluas-luasnya.

Melawan Sistem Globalisasi, Memanfaatkan Jaringan Sebagai Platform Untuk Menyusun Kekuatan Kontra Hegemoni

  1. Pentingnya memandang dunia melalui multi-lensa untuk mengurai kerumitan benang kusut, dan memperoleh sudut pandang dan cara baru melihat masalah-masalah internasional yang berdampak secara langsung atau tidak langsung terhadap negara kita.
  1. Dengan cara menghubungkan titik-titik dan kepingan-kepingan informasi yang terpisah-pisah dalam isu politik, kebudayaan, perdagangan, keuangan, keamanan nasional, lingkungan hidup dan teknologi, dalam satu tarikan nafas. Untuk memperoleh gambaran baru dalam memahami konstelasi global.
  1. Untuk membangun kemampuan memandang dunia melalui pendekatan multi-lensa, maka kita perlu memahami salah satu karakteristik sekaligus cara kerja sistem globalisasi yang mengandalkan jaringan (web) yang digunakan kekuatan global untuk memaksakan integrasi dah penyeragaman global di seluruh dunia. Sehingga kita punya gambaran latarbelakang untuk menyusun kontra skema. Yaitu dengan cara merajut jaringan informan dan informasi yang luas, sehingga kemudian mampu mengetahui bagaimana menyusun kepingan-kepingan informasi maupun titik-titik isu yang terpisah-pisah, yang terkandung dalam penyebaran berita, menjadi sebuah gambaran baru untuk memahami situasi dan kondisi.

Momentum menuju De-Globalisasi sepertinya sudah tiba. Sebuah artikiel menarik ditulis oleh Shashank Pattekar, seorang bankir internsional. Menurutnya, sepanjang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, tren globalisasi secara luas dianggap sebagai keniscayaan ekonomi.

Barang, jasa, modal, dan tenaga kerja semuanya mengalir melintasi perbatasan dengan kebebasan yang mungkin belum pernah dicapai sebelumnya, memicu serangkaian perjanjian perdagangan dan investasi lintas batas, rantai pasokan yang rumit yang sering membentang di berbagai benua, dan tingkat mobilitas pekerjaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.  yang secara efektif memungkinkan ekonomi maju untuk menarik talenta global seperti belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga secara efektif  memungkinkan ekonomi maju untuk menarik talenta global seperti belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun dalam tulisan itu pula, Pattekar memandang  gambaran tersebut mulai memudar, dan konsep de-globalisasi kini mendominasi percakapan. Namun, apa yang tampaknya terjadi bukanlah pembalikan langsung dari tren globalisasi yang mendahuluinya; melainkan, transformasi yang sedang berlangsung ini adalah hasil dari perubahan prioritas nasional, di mana tujuan memaksimalkan efisiensi ekonomi telah digantikan oleh pertimbangan lain, seperti keamanan nasional, ketahanan, dan penataan ulang geopolitik.

Nah berarti, proses De-Globalisasi bukan anomali, melainkan inti soal itu sendiri. Pada 2026 saat ini, para pemimpin dunia mengakui bahwa sekarang dunia berada di tengah-tengah keretakan, tapi bukan transisi. demikian pernyataan Mark Carney, seperti dikutip Pattekar, pada Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang baru-baru ini diadakan di Davos, Swiss.

“Negara-negara besar telah mulai menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata, tarif sebagai pengaruh, infrastruktur keuangan sebagai paksaan, dan rantai pasokan sebagai kerentanan yang dapat dieksploitasi.” Perdana menteri Kanada itu juga mengatakan bahwa negaranya “termasuk yang pertama mendengar seruan untuk bangun” bahwa geografi dan aliansi historis tidak lagi menjamin keamanan atau kemakmuran.

Pandangan Mark Carney ada benarnya. Ketika Amerika Serikat menjadi kekuatan hegemoni global tanpa tandingan sejak berakhirnya Perang Dingin yang membawa konsekwensi kerja sama internasional bertumpu pada Unipolar/pengkutuban tunggal, namun pada perkembangannya AS tidak memperhitungkan bahwa pada perkembangannya Integrasi Ekonomi Global bukan ditentukan oleh logika pasar bebas atau pertimbangan logika ekonomi, melainkan pertimbangan dan masukan geopolitik lah  sebagai kekuatan sentral pengambilan keputusan ekonomi. Dengan itu, mengutamakan kepentingan nasional masing-masing negara di atas segalanya, termasuk pasar bebas itu sendiri.

Setidaknya hal itu terlihat melalui kebijakan sepihak Presiden Donald Trump menaikan bea tarif  25 persen untuk impor bukan saja terhadap negara yang dipandang rival seperti Cina dan Rusia, melainkan juga yang termasuk sekutu AS seperti mitra dagang dekat Kanada dan Meksiko, maupun Uni Eropa. Bersamaan dengan kenaikan besar-besaran bea masuk untuk produk-produk Cina, sebagian dimaksudkan untuk mendorong permintaan AS ke arah industri dalam negeri. Tetapi langkah-langkah tersebut juga jelas menandakan adanya pergeseran menuju kebijakan perdagangan proteksionis dan berorientasi keamanan, alih-alih liberalisasi pasar terbuka sesuai skema Neoliberalisme.

Bagi Indonesia dan negar-negara berkembang yang tergabung dalam Global South, saatnya untuk membaca momentum global tersebut secara tajam, untuk menyusun skema baru versi kepentingan nasonal negara-negara Selatan itu sendiri. Sebagaimana para Founding Fathers Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 secara jeli dan tepat sasaran membaca konstelasi global yang bertumpu pada polarisasi antara AS dan blok Barat versus blok Timur yang dimotori Uni Soviet dan Cina. Sehingga para pemrakarsa Konferens Asia-Afrika Bandung 1955 berhasil memajukan diri sebagai “Kekuatan Ketiga” yang juga harus diperhitungkan oleh dunia internasional.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com