Saat saya lagi asyik-asyiknya membaca buku yang cukup provokatif: The Fort Bragg Cartel, sontak mendengar kemarin terbetik kabar Presiden Venezuela Nicholas Maduro ditangkap melalui “Operasi Absolute Resolve” yang dimotori oleh Pasukan Delta Force dan Badan Narkotika Nasional Amerika Serikat yang lebih dikenal dengtan sebutan Drugg Enforcement Agency (DEA).
Ironisnya, Seth Harp, dalam bukunya yang lagi saya baca bertajuk The Fort Bragg Cartel: Drug Trafficking and Murder in the Special Forces, justru menyingkap keterlibatan beberapa personil pasukan Delta Force maupun para petugas DEA dalam perdagangan Narkoba. Meskipun pusat saraf dari aktivitas perdagangan narkoba tersebut, justru diotaki oleh para perwira militer pasukan khusus Delta Force yang bertugas di Fort Bragg.

Melalui bukunya yang baru terbit sekitaran Januari dan Februari 2025 lalu, menyingkap indikasi persekongkolan beberapa oknum Badan Narkota Amerika Serikat (DEA) dan beberapa personil Delta Force dalam perdagangan narkotia. Caranya?
Lewat Investigasi Seth Harp, terungkap modus operandi standardnya. Yaitu memanfaatkan celah-celah yang umum dalam teknik dan metode kontra-narkotika untuk menjadi gembong narkoba di Pantai Timur (East Coast) , dimana oknum DEA dan Delta Force kelak mengembangkan hubungan kerja yang menguntungkan dengan tentara dan operator pasukan khusus (dan bahkan seorang mantan jihadis ISIS) yang memiliki kisah-kisah mengerikan tentang meninggalkan kehidupan kriminal—jalan yang mirip dengan salah satu oknum DEA, Freddie Wayne Huff II. yang semula dinas di ketentaraan lalu kemudian ditugaskan dalam divisi intelijen DEA yang menargetkan kartel narkoba Meksiko.

Mantan polisi negara bagian North Carolina dan agen satuan tugas DEA, Freddie Wayne Huff, dan Rahain Deriggs, seorang sersan di Korps Marinir, berpose dengan senjata militer yang dicuri dari Fort Bragg dan uang yang diperoleh dari perdagangan kokain dengan Los Zetas, sebuah kartel narkoba Meksiko.
Lantas, gimana ceritanya seorang Freddie Wayne Huff yang semula merupakan petugas dari angkatan bersenjata yang penuh dedikasi sontak beralih dalam aktivitas perdagangan narkoba. Rupanya logika lama masih berlaku. Kalau perwira pasukan khusus anti-teror macam Delta Force tugas utamanya dalam bidang kontra-terorisme, pastinya cukup mudah untuk mengetahui seluk-beluk metode aksi terorisme ketika memutuskan untuk beralih misi menjadi teroris bukan?
Buat bandingan silahkan baca:
The Rot at Fort Bragg
Tapi apa motif Freddie Huff sehingga tega-teganya beralih misi dari petugas pemberantasan narkoba kok malah aktif sebagai pengedar narkoba. Itu bermula pada 2009.
Setelah meniti karier sebagai penegak hukum di North Carolina selama tahun-tahun awal Perang Melawan Teror, Huff beralih dari petugas K9 pemburu narkoba menjadi petugas yang didelegasikan di DEA pada tahun 2009.
Tidak lama setelah bertugas di Pusat Intelijen El Paso, pusat intelijen utama DEA yang menargetkan kartel narkoba Meksiko, ia dihadapkan dengan kata-kata keras namun beracun dari seorang mentor yang sakit parah. “Apa yang kau pikir kau lakukan itu mulia,” kata veteran yang sekarat itu kepada anak buahnya yang masih muda. “Tapi mereka menginginkannya di sini. Kau hanyalah pion. Semua yang kau lakukan sia-sia.” Rupanya kata-kata beracun mentornya itu merasuk juga di benak Huff.
Hanya selang setahun, pada 2010, Huff Huff kembali ke North Carolina, bergabung kembali dengan unit K9, dan berhasil mengumpulkan jutaan dolar dari uang hasil sitaan ilegal untuk Departemen Kepolisian Lexington. Ia sangat mahir dalam bidangnya sehingga hasil sitaannya membantu mendanai fasilitas pelatihan baru departemen, meningkatkan armada kendaraan, dan memperluas persenjataan senapan serbu.
Begitulah. Melalui kasus mantan tentara Freddie Huff inilah, Seth Harp menyingkap bagaimana para personil tentara memanfaatkan celah-celah yang umum dalam teknik dan metode kontra-narkotika untuk menjadi gembong narkoba di Pantai Timur, di mana ia mengembangkan hubungan kerja yang menguntungkan dengan tentara dan operator pasukan khusus (dan bahkan seorang mantan jihadis ISIS) yang memiliki kisah-kisah mengerikan tentang meninggalkan kehidupan kriminal—jalan yang mirip dengan Huff yang membawa mereka dari angkatan bersenjata ke perdagangan narkoba.

Ilustrasi Delta Force. Foto: AFP/LIU JIN
Namun temuan investigatif Seth Harp paling penting, apalagi kalau mau kita kaitkan dengan penangkapan Presiden Maduro saat ini adalah fakta bahwa Pusat Operasi mereka adalah pangkalan militer di Fayetteville, Carolina Utara, yang disebut Fort Bragg, tempat sebagian besar perekrutan, pengadaan, dan penjualan kartel tersebut berlangsung. Ini merupakan pusat pendidikan militer yang cukup penting di AS. Beberapa jenderal TNI kita pun sejak era 1950 hingga sekarang banyak yang dididik di Fort Bragg. Tentu saja ini jadi suatu temuan mengejutkan. Bagaimana ceritanya pusat pendidikan dan pelatihan para perwira militer bisa jadi basis perekrutan, pengadaan dan penjualan narkoba?
Nah dalam konteks ini, pemicu awalnya bagi Seth Harp sang penulis, mungkin bersifat pribadi memang awalnya. Pembunuhan terhadap kawan akrabnya, Mark Leshikar, seorang anggota Pasukan Khusus Delta Force, oleh operator Delta Force William “Billy” Lavigne.
Jadi di sinilah bermula dorongan untuk menyelidiki Fort Bragg, yang kebetulan baik Mark Leshikar sebagai korban maupun William Lavigne sebagai pembunuh, sama-sama ditempatkan sebagai perajurit. Langkah awal Seth Harp adalah menyelidi Struktur komando di Fort Bragg. Seperti apa jaringan luas unit-unit pendukungnya, pasukan tempur, dan pasukan khusus yang membentuk “pusat saraf kekuatan tak kasatmata” dari imperium negara Paman Sam itu.
Misalnya Pasukan Ranger Angkatan Darat dan Pasukan Khusus, Komando Operasi Khusus Gabungan, hingga Delta Force. Nah, dari plot cerita yang diketengahkan Seth Harp ihwal struktur komando Fort Bragg, sang penulis buku sampai pada kesimpulan yang cukup mengagetkan.
Dalam penuturan Seth Harp dalam buku setebal 300 halaman itu, Ia berpendapat bahwa perdagangan narkoba telah menjadi inti dari kebijakan luar negeri AS pascaperang, khususnya ketika AS bekerja sama dengan panglima perang lokal dan regional yang juga berperan sebagai gembong narkoba (atau sebaliknya). Afghanistan meningkatkan tren ini ke tingkat yang sama sekali baru, di mana negara boneka yang didukung AS di Kabul menjadi kartel heroin terkemuka di dunia.
Meskipun selama bertahun-tahun, pejabat AS dan jurnalis yang naif nan dangkal menggambarkan para pemberontak sebagai “teroris narkoba,” sebenarnya pasukan koalisi sendiri dan agen-agen proksi Afghanistan merekalah yang memicu industri tersebut dan kekerasan tanpa hukum yang tumbuh darinya.
Dan karena Pasukan Khusus Green Berets dan pembunuh Delta Force dari Fort Bragg telah memainkan peran utama dalam memperkuat protektorat Afghanistan, efek bumerang dari tindakan mereka sangat terasa di Fayetteville.
Harp sama sekali tidak sedang berfantasi atau bikin berita hoax. Dalam bukunya Harp menggambarkan daftar pelaku yang mengerikan. Ada seorang sersan kepala yang bekerja sampingan sebagai pengedar kokain dan heroin dan, setelah menjalani hukuman 13 bulan di penjara militer, kembali bertugas aktif di Bragg. Konselor karier tertinggi di Bragg, seorang sersan mayor, adalah seorang kurir narkoba dan anggota geng. Waduh, ngeri kali.
Melalui jalinan cerita yang dirajut Seth Harp ini, wajar kalau ia kemudian berspekulasi. Jangan-jangan Harp menyebutkan bahwa seorang mantan tentara pasukan khusus bernama Darren Griffin terus menggunakan dan menjual narkoba sambil menghasilkan $350.000 dari jebakan FBI terhadap Muslim yang malang. Dan semua korupsi ini, yang begitu endemik di kota-kota pangkalan militer, telah berkembang dan meluas.
Menarik menyimak kutipan langsung Seth Harp menyusul keputusan Presiden Joe Biden menarik mundur pasukan AS dari Afghanistan pada 2021 lalu. Harp menulis:
“Negara klien Afghanistan tersebut berfungsi sebagai kartel narkoba terbesar di dunia, bertanggung jawab atas produksi setidaknya empat perlima dan bahkan mungkin sembilan persepuluh dari seluruh heroin yang dikonsumsi selama epidemi opioid global. Menghadapi kehancuran total akibat kemajuan Taliban, protektorat NATO yang terkenal kejam itu, yang juga sangat terlibat dalam perdagangan seks anak dan sangat dibenci oleh rakyat Afghanistan, hancur berkeping-keping dan tercerai-berai.”
Namun pada 2023, Taliban yang saat tentara AS menginvasi Afghanistan dituding terlibat perdagangan narkoba, berhasil memimpin, menurut seorang ahli, “upaya pemberantasan narkotika paling sukses dalam sejarah manusia.” Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk orang Amerika yang pulang. Sebaliknya, mereka membawa kembali kartel tersebut—dan ketidakpuasan yang membara terhadap kehidupan mereka sendiri yang semakin hancur akibat perang yang mereka sendiri tidak tahu apa tujuan strategisnya itu.
Yang jelas, perdagangan narkoba di kalangan militer telah berkembang pesat di seluruh negeri, Fort Bragg menjadi yang terdepan. Harp mencatat bahwa ada 105 kematian di pangkalan tersebut antara tahun 2020 dan 2021 saja, dibandingkan dengan hanya empat kematian di luar negeri selama periode yang sama.
Sebagian besar adalah bunuh diri atau overdosis. Sebagian besar overdosis tersebut melibatkan fentanil, dan menurut Harp, kematian lainnya termasuk sejumlah besar pembunuhan yang belum terpecahkan di antara para tentara—penembakan, pemenggalan kepala, dan pembunuhan-bunuh diri, di antara tindakan mengerikan lainnya—meskipun baik dia maupun jurnalis lain tampaknya belum dapat melacak angka pastinya.
Seth Harp menceritakan kesaksian banyak istri yang bersikeras bahwa suami mereka tidak memiliki kebiasaan narkoba sampai mereka ditempatkan di Fayetteville, dan bahwa dinas militer telah menghancurkan begitu banyak anggotanya sendiri.
Cerita Seth Harp belum selesai sampai di situ. Setelah Pasukan Khusus Green Berets dan Delta Force kembali dari penugasan pertama mereka di Afghanistan pada tahun 2002, empat istri tentara di Bragg dibunuh dalam waktu enam minggu, tiga di antaranya oleh operator khusus yang dikerahkan kembali. Pejabat pemerintah melancarkan kampanye disinformasi yang menyalahkan pembunuhan tersebut pada obat antimalaria Mefloquine, tetapi untuk penjelasan yang lebih meyakinkan, Harp mengutip antropolog Catherine Lutz dalam Homefront , studinya tahun 2002 tentang Fayetteville. Lutz menyebut kota itu sebagai “tempat pembuangan masalah abad perang dan kekaisaran Amerika, di mana luka perang telah menembus paling dalam dan paling terlihat.” Seperti yang dijelaskan Harp, luka-luka ini termasuk
Tingkat kemiskinan, ketidaksetaraan, tunawisma, rasisme, polusi, prostitusi, dan kekerasan berbasis gender yang tinggi, serta penggunaan narkoba yang meluas, yang oleh banyak narasumber Lutz, yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, disalahkan pada “tentara atau veteran yang membawa kembali pengetahuan dan kontak perdagangan narkoba dari penugasan mereka di Asia dan Amerika Latin.”
Setelah membaca buku Seth Harp ini, yang kebetulan bersamaan dengan penangkapan Presiden Maduro, saya punya sudut pandang baru dalam menyimak perkembangan Venezuela Pasca Penangkapan Maduro.
“Operasi Absolute Resolve” ternyata juga dimotori oleh Pasukan Delta Force dan DEA. Maling Teriak Maling?
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments