Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto
Pengantar: Tatanan Liberal Retak — Dunia Kembali ke Politik Kekuatan
Munich Security Conference Jumat, 13-02-26 sebagai forum konsolidasi NATO. Di forum itu, Kanselir Jerman, Friedrich Merz membuat pernyataan tajam:
” … tatanan internasional berbasis aturan pasca-Perang Dingin telah runtuh.”
Di balik pernyataan tersebut, Jerman sebenarnya merasakan kekerasan kepemimpinan Amerika Serikat (AS) dan retaknya NATO serta meluruhnya ketahanan energi karena tidak lagi mendapatkan energi murah dari Rusia. Sementara sebagai bagian dari NATO, Jerman wajib mendukung perang Ukraina melawan Rusia. AS melarang Uni Eropa membeli energi dari Rusia. Ukraina sebagai proksi NATO pun membutuhkan dukungan Eropa. Benua Biru ini merasakan dampak negatif perang tersebut — sementara AS sendiri tergoncang akibat perang industri manufaktur, perang mata uang, perang teknologi, dan perang ekonomi. Satu-satunya keunggulan AS ialah kekuatan militer. Maka konferensi ini tegas dan jelas merupakan forum geopolitik Atlantik berbasis militer.
Perisitiwa itu memberi pesan tersirat, bahwa dunia kembali ke kredo geopolitik klasik: power politics. AS ditantang konsistensinya sebagai pemenang Perang Dunia II: “Polisi Dunia”. Rusia malah dituduh menjalankan revisionisme kekerasan. Dan Cina ditandai ingin membentuk arsitektur dunia versi sendiri. Memang Menhan Wang Yi menyatakan, Cina berkomitmen menjadi kekuatan perdamaian dan stabilitas global. Ia menegaskan, Cina dan Eropa adalah mitra —bukan saingan— serta berupaya mempromosikan pembangunan damai dan komunitas dengan masa depan bersama bagi kemanusiaan. Namun, ia juga mengingatkan Jepang yang menantang kedaulatan Cina.
Retaknya aliansi NATO mendorong diplomasi menjadi transaksional berbasis kepentingan nasional masing-masing. Norma global memudar. Dunia berubah menjadi arena perebutan pengaruh, energi, teknologi, sumber daya, dan peradaban. Perebutan ini merupakan perulangan tatanan usang: zero-sum game. Maka Sekjen NATO, Mark Rutte, meyakinkan aliansi bahwa NATO tetap tegak di atas kekuatan militer dan tidak terkalahkan. Hal itu karena Rusia berhasil merebut beberapa wilayah Ukraina. Situasi dan kondisi ini menunjukkan perpaduan perang militer dan perang non militer. Urusannya adalah harga diri dan kehormatan bangsa dan negara. Karenanya, Menlu AS Marco Rubio, lebih bicara perang peradaban. Ia dan nyaris semua pemimpin di dunia mempertaruhkan reputasi dan kredibilitas. Pertaruhan ini harus memenangkan peperangan ekonomi, peperangan chip, AI dan algoritma, perang narasi, perang informasi, serta perang sistem nilai. Menlu Rubio menyatakan, “Uni Eropa selalu relevan dengan AS. Nasib kita ditentukan oleh kita sendiri karena kita bersama-sama”. Ini pernyataan yang bermaksud menenangkan NATO. Dan sebelumnya, pada 2015, Mark Leonard sudah mengingatkan interconnectivity war, suatu peperangan yang merujuk pada migrasi dan demografi — melengkapi peperangan jenis lainnya.
Eropa Memilih Deterrence
Perang non militer yang terpadu dengan perang militer itu mewajibkan setiap pemimpin suatu negara melakukan kalkulasi kekuatan domestiknya secara sungguh-sungguh, karena menyangkut soal pertahanan, ketahanan dan keamanan utuh-menyeluruh suatu bangsa. Jerman meresponsnya dengan memperkuat militernya secara besar-besaran. Bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron, Berlin membahas penguatan pencegahan nuklir Eropa, konsolidasi NATO serta keberlangsungan dukungan bagi Ukraina. Pesan tersurat ini relatif tegas, “Jika aturan tidak lagi dihormati, maka kekuatan akan bicara.” Dan pesan ini sudah dilakukan AS dengan menyerang Iran, Nigeria, Venezuela, dan beberapa negara lain. Tapi, aturan itu didasarkan atas subjektivitas dirinya.
Merespon aturan berbasis kekuatan militer dan konsolidasi NATO di Munich, Moskow membalas tegas dan jelas. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menuduh bahwa Eropa tengah bergerak menuju “Reich Keempat”. Yakni berdirinya kembali entitas politik Nazi guna melanjutkan kejayaan masa lalu Jerman. Tuduhan ini merujuk memori historis Reich Ketiga di era Adolf Hitler dan Nazi. Apa boleh buat, ini perang narasi. Retorika semakin meningkat, sementara kepercayaan kian runtuh. Bahasa diplomasi pun bergeser menjadi diplomasi deterrence (pencegahan/jera). Artinya, Rusia membaca pesan tersebut bahwa NATO tidak boleh kalah dalam perang Ukraina-Rusia. Akan tetapi, Rusia juga menangkap makna bahwa kerekatan NATO telah retak dari dalam. Kasus Kanada, Greenland, tidak pedulinya AS atas vonis ICJ terhadap Israel, dan tekanan AS tentang belanja militer tiap anggota NATO sebesar 3,5-5 persen terhadap PDB-nya. Rusia memahami bahwa NATO cemas. Agaknya, sistem dunia sedang mencari aktor baru dengan nilai-nilai universal bagi kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan global.
Konflik Iran-AS: Geopolitik Miskin Komitmen
Perundingan kedua Iran-AS di Swiss menjadi cermin dunia tanpa aturan (bersama). AS menuntut Iran membatasi pengayaan nuklir Iran, menghentikan dukungan terhadap para proksi, batasi rudal balistik dan seterusnya. Teheran menolak pelucutan penuh dan hanya bersedia kompromi terbatas jika syarat sanksi dicabut. Iran bernyali, diplomatis dan siap menghadapi model konfrontasi apapun. Ia tidak berdiri sendiri. Ada Rusia dan Cina di belakangnya. Kendati potensi perang besar kemungkinan kecil terjadi, tetapi eskalasi selalu mungkin terjadi. Analisis FLUX mengajarkan: situasi bisa berubah cepat, cair, tak terpetakan (merambah kemana-mana) serta sulit diprediksi. Ya, dunia kini tidak lagi ditopang kesepakatan universal, melainkan oleh kekuatan. Karena itu, baik AS maupun Iran nyaris miskin komitmen bersama. Keduanya berjalan sesuai dengan agenda masing-masing. Iran belajar dari pengalaman bahwa AS berwatak munafik dan berperilaku multiple suitable standard. Iran sadar, tidak ada yang dapat membela martabat bangsanya selain dirinya sendiri. Sementara AS mengambil posisi sebagai negara yang bisa menekan sekehendak hati.
Kondisi Iran-AS itu memberi pelajaran bagi Moskow yang tidak mau masuk dalam desain Washington untuk perdamaian dengan Ukraina. Cina pun senada dengan dua negara tersebut yang berkarakter alot tapi lentur. Tiga negara ini saling memberi pesan pembelajaran serta mendorong moralitas, kejuangan dan daya pandang Teheran menghadapi Washington. Khamenei membaca, secara sistematik struktural — Barat pun menghadapi problematik domestik yang tidak mudah diselesaikan disebabkan perilaku Israel. Artinya, musuh Barat memahami bahwa NATO di bawah kepemimpin AS sedang goyah, hegemoni meluruh, dan moralitas global ambruk karena perilaku AS yang menopang Israel tanpa batas. Justru sikap AS terhadap Israel tersebut makin meneguhkan Iran. Tentu dengan mudah Iran menyatakan bahwa AS mendukung eksistensi kejahatan kemanusiaan dan genosida — serta penindasan.
Lalu, Indonesia Di Mana?
Jika membaca buku-buku Masyarakat ASEAN, Bangsa Terbelah dan Prahara Bangsa (Ichsanuddin Noorsy, 2015, 2019, dan 2024), geopolitik yang amburadul itu sudah terbaca dengan baik. Bahkan sejak jargon Judeo-Christianity dan supremasi kulit putih mengemuka pada 2017, kekerasan panggung global makin brutal. Build Back Better World dan MAGA tidak memulihkan posisi AS menjadi lebih baik. Nah, dalam situasi dan kondisi seperti ini sebenarnya posisi Indonesia menjadi sangat strategis, bahkan tergolong unik.
Kenapa demikian?
(Bersambung ke Bag-2)