Obrolan Ringan dengan Ichsanuddin Noorsy di Warkop Tebet
Siapapun — terlebih lagi jika ia sosok pemimpin, ketika enjoy the power merasuk dalam area kepemimpinan, maka gejala yang muncul ialah penurunan kepekaan pada dirinya, bahkan bisa musnah ‘jiwa kepekaan’ — padahal itu syarat multak kepemimpinan. Ini penyakit kekuasaan. “Menikmati kekuasaan yang dipercayakan kepadanya”. Kuasa apapun, seakan itu miliknya. Terlebih jika ia dikelilingi oleh lingkaran dalam yang juga enjoy the power. Klop.
Latarbelakang virus enjoy the power diidap seseorang, tatkala ia berangkat dari ambisi besar, perjuangan panjang, ‘berdarah-darah’ lagi menghalalkan segala cara untuk meraih tahkta yang diimpikan. Ketika kekuasaan sudah dalam genggaman, ia cenderung lalai bahwa amanah itu harus dipertanggung jawabkan baik secara mental dan moral di hadapan rakyat maupun secara keimanan di hadapan Yang Maha Kuasa. Sekali lagi, ia abai bahwa amanah itu rahmat Tuhan, bukan warisan, tidak pula capaian diri dan kelompoknya semata.
Di satu sisi, kecenderungan buruk yang kerap timbul pada kepemimpinan yang terjangkit virus ini, biasanya melakukan hal-hal negatif tanpa ia sadari, contohnya:
1. Tidak mampu mendengar realitas aspirasi di publik. Ia seperti asyik sendiri dengan ambisi, ‘onani’, mimpinya dan lainnya. Inilah fenomena religi yang disebut ‘tuli’;
2. Tidak mampu (melihat dan) merasakan denyut nadi di bawah yang seyogianya menjadi basis kebijakannya. Ini yang dikatakan ‘buta’;
3. Cepat naik darah jika terdadak oleh situasi, dan tidak boleh melihat kekeliruan bawahan dalam bekerja. Semua harus berjalan mulus dan lancar sesuai (persepsi) keinginannya;
4. Bukannya diaudit atau evaluasi kinerja, tetapi selalu mencari (alasan) kambing hitam bila programnya tidak maksimal atau gagal;
5. Jika virus enjoy the power menguat dalam qalbu, kerap menggeser peran dan status seorang pemimpin berubah menjadi penguasa. Hal ini ditandai dengan amanah yang dikhianati. Dan itulah benih awal dari otoritarianisme, dan lain-lain.
Namun, pada sisi lain — kepemimpinan enjoy the power ini, sering di lingkari oleh person yang militan tapi pragmatis. Lho? Dua diksi berlawanan, namun diucapkan dalam satu tarikan napas, contohnya, para pembantunya cenderung militan ketika berada di puncak piramida, tapi seketika berubah pragmatis —drastis— tatkala kekuasaan menurun. “Bermain dua kaki”. Publik sering menyebut dengan istilah penjilat atau kaum pengkhianat. Tidak semua sich, namun tak sedikit yang seperti itu.
Inilah obrolan singkat di warung kopi tentang virus enjoy the power pada kepemimpinan dimanapun, kapanpun, siapapun. Dan sebenarnya, ia hanyalah fenomena balas dendam sejarah atas keterpurukan di masa lalu.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments