Ngobrol dengan Ichsanuddin Noorsy tentang Titik Kritis Geopolitik dan Senja Hegemoni Amerika di Tebb-Six Coffee, Cab. Gd Serpong
Dinamika geopolitik global hari-hari ini bergerak semakin gaduh, cepat, ke segala arah dan sulit diprediksi (unpredictable). Salah satu pemicunya ialah kepemimpinan Donald Trump yang terang-terangan menafikan hukum internasional dan tatanan berbasis hukum, digantikan oleh kehendak sepihak kekuasaan. Para analis hubungan internasional menyebutnya, rule-based order yang berintikan syahwat kuasa kekuatan Trump.
Pernyataan Trump, “I don’t need international law, only my own mind can stop me” bukan sekadar retorika. Itu cermin perubahan besar dalam cara Amerika Serikat (AS) melihat dunia. Fenomena ini dapat disebut sebagai Trump Corollary. Sebuah pola respons geopolitik agresif yang lahir dari kekalahan konflik ekonomi global. Kekalahan ini menggelar watak personalnya. Trump bukan penyebab utama kekacauan global, melainkan gejala dari berakhirnya hegemoni Amerika. Ia menggantikan hegemoni menjadi dominasi.
Transisi Tatanan Global
Setidaknya ada tiga perubahan besar yang membentuk lanskap geopolitik kontemporer. Yaitu:
Pertama, pergeseran esensi geopolitik dari “follow the oil” menuju “follow the rare earth elements (REE)”. Isu transisi energi, misalnya, atau teknologi hijau, kecerdasan buatan, dan persenjataan presisi menjadikan REE sebagai komoditas strategis di abad ke-21 ini. Maka negara yang menguasai sumber, rantai pasok, dan teknologi pengolahan akan menentukan arah kekuatan global ke depan. Trump bahkan ingin menahan laju persaingan REE (mineral tanah jarang) dengan minyak fosil.
Kedua, tersudutnya Rezim Petrodolar yang sejak 1974 menjadi pilar utama dominasi ekonomi AS. Menguatnya proses dedolarisasi —yang didorong BRICS dan Global South— secara perlahan menggerogoti hak-hak super istimewa AS dalam sistem keuangan internasional.
Ketiga, berakhirnya pola unipolar menuju multipolar, bahkan bipolar. Hegemoni tunggal AS tidak lagi diterima sebagai keniscayaan. Sedang kekuatan baru —Cina, Rusia, dan jejaring non-Barat— semakin percaya diri membangun poros tersendiri.
Improvisasi Kekuasaan: dari Hegemoni ke Dominasi
Ketiga faktor di atas membidani tahapan yang disebut “titik kritis geopolitik”. Di mana tatanan lama melemah, tapi tatanan baru belum mapan, bahkan masih mencari bentuk. Dunia memasuki masa yang dinamai improvisasi kekuasaan. Di sanalah hegemoni berubah menjadi dominasi.
Greenland, Iran, atau Kanada?
Dalam konteks inilah muncul pertanyaan strategis, “Mana yang akan diprioritaskan AS — menganeksasi Greenland, melumpuhkan Iran, atau mencaplok Kanada terlebih dulu?”
Kanada adalah negara yang lebih dulu bereaksi menolak. Dan itu memantik dukungan Inggris dan enam anggota NATO lain. Seketika syahwat kuasa Trump pun surut. Lalu ke Greenland yang melambangkan investasi masa depan. Pulau es ini menyimpan cadangan REE yang sangat besar, sekaligus memiliki nilai strategis ekonomi dan militer —jalur pelayaran baru— di Kawasan Arktik. Namun, aneksasi Greenland secara terbuka justru berisiko makin melemahkan legitimasi AS sendiri. Penolakan keras dari sekutu NATO —termasuk Denmark, Inggris, Prancis, dan Jerman dan lain-lain— menunjukkan bahwa langkah tersebut akan memukul fondasi aliansi Barat yang selama ini menjadi pilar hegemoni AS. Menganeksasi Greenland sama dengan bubarnya NATO. Artinya, Greenland memang penting, tetapi secara geopolitik — tidak mendesak. Juga terlalu mahal jika ditempuh melalui aneksasi terang-terangan. Sebaliknya, Iran adalah investasi geopolitik masa kini. Dalam logika klasik Deep Stoat —follow the oil— Iran tetap menjadi simpul strategis utama. Negara ini merupakan aktor kunci di Asia Barat, penghubung geopolitik Cina-Rusia, pemain sentral di BRICS, sekaligus ancaman eksistensial bagi Israel.
Dan terpenting, Iran adalah penjaga Selat Hormuz, ini chokepoint energi terpenting dunia. Penutupan Hormuz bisa melambungkan harga minyak global, mengguncang ekonomi dunia, memicu inflasi sistemik, dan berpotensi menyeret banyak negara ke dalam konflik terbuka. Inilah kartu truf Iran yang membuat AS selalu berhitung ekstra hati-hati. Melumpuhkan Iran bukanlah opsi mudah. Perang terbuka akan menjadi konflik jangka panjang dengan biaya ekonomi, pengerahan militer, risiko (geo) politik yang tak terukur, dan tak ada jaminan kemenangan.
Kegalauan Amerika
Di sini tampak jelas kegalauan strategis AS. Timbul spill over. Di satu sisi, memilih Greenland berisiko merusak aliansi tradisionalnya; pada sisi lain, memprioritaskan Iran identik membuka “kotak pandora” konflik global. Nah, Trump Corollary lahir dari dilema ini.
Tatkala kapasitas ekonomi dan legitimasi moral hegemoni jatuh ke titik nadir, kekuasaan cenderung tampil lebih kasar, lebih impulsif, dan lebih unilateral. Maka arogansi bukan tanda kekuatan, melainkan indikasi kelelahan imperium. Tampaknya, AS kini berhadapan dengan realitas pahit. Tampak masih kuat, namun terlihat lelah, tak mampu lagi membiayai dominasi global seperti sebelumnya. Maka ia pun keluar dari 66 organisasi internasional yang sebelumnya didukungnya.
Senja Hegemoni
Di kalangan intelektual AS, hegemoni mereka memang di ambang senja. Kegaduhan geopolitik hari-hari ini pada dasarnya adalah potret transisi sejarah. Dunia tengah mencari keseimbangan baru — baik secara ekonomi, politik, maupun keamanan. Pola lama justru menciptakan ketidakseimbangan struktural yang kini meletus dalam bentuk konflik, krisis, dan instabilitas global. Jika tujuan AS hanya menunda keruntuhan hegemoninya, maka memilih salah satu antara Greenland atau Iran mungkin masih relevan. Namun, bila AS memaksakan keduanya secara simultan —meski dengan intensitas berbeda— justru akan mempercepat runtuhnya hegemoni itu sendiri. Invasi ke Irak, membom Nigeria dan negara lain adalah bukti runtuhnya legitimasi internasional. Dan AS secara sadar menggantinya menjadi dominasi militer.
Sejarah mengajarkan, tidak semua imperium runtuh karena kalah perang, melainkan gagal beradaptasi dengan perubahan zaman. Dan dalam pusaran perubahan ini, kita bukanlah aktor utama. Kita adalah saksi dari pergeseran lempeng sejarah. Dan semua transisi besar, hasil akhirnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh kehendak manusia, melainkan justru oleh hukum perubahan itu sendiri.
Tulisan ini bukan kebenaran, juga tak ada maksud untuk pembenaran — setidaknya sebagai bekal kecil guna mencermati kegaduhan geopolitik, yang salah satunya akibat Trump Corollary. Bagi penyanjung dan pejuang sistem dan model ekonomi politik AS di Indonesia, AS justru telah mempermalukan mereka.
Demikianlah adanya. Terima kasih.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)