Geopolitik salah satu segi terpentingnyq adalah sebagai tempat atau ruang geografis yang secara tak kasatmata. Kerap menguarkan udara intelektual dan spiritual yang khas sesuai karakteristik geografisnya sehingga sewaktu-waktu bisa menyebabkan ledakan politik yang tak terduga melalui pemikiran atau gagasan seseorang.
Dengan itu pula ruang geografis-politis berupa kota kerap membentuk kesadaran dan wawasan khas para tokoh pergerakan kemerdekaan nasional. Salah satunya, Bapak bangsa Filipina. Sewaktu Jose Rizal kuliah di Madrid, meski menyadari negerinya sedang dijajah Spanyol, namun Rizal menganggap semenanjung Spanyol itu tetap aja hebat dan mentereng. Sehingga selama di Madrid Rizal sama sekali tidak memperoleh pencerahan kecuali berhasil menggondol gelar doktor filsafat dan sastra pada 1885.
Namun begitu liburan ke Paris pada 1883, dua tahun sebelum lulus kuliah, barulah ia menyadari betapa terbelakangnya Spanyol sebagai kekuatan imperial di bidang ekonomi, keilmuan, industri, pendidikan, kebudayaan dan politik. Yang serentak dengan itu pula, menyadari bahwa keterbelakangan Spanyol selaku penjajah membentuk pula corak kolonialismenya di bumi Filipina. Kolonialisme buah persekutuan busuk kaum-kaum borjuis kapitalis, kaum feodal aristokrasi, militer dan elit agama konservatif nan reaksioner.
Sepertinya bukan kebetulan kalau Rizal bukan satu satunya yang tercerahkan secara intelektual dan kemudian membuat sejarah ketika bermukim di Paris. Seperti Simon Bolivar, Bapak bangsa Venezuela yang kelak menginspirasi Hugo Chavez ketika terpilih sebagai presiden pada 1998. Ho Chi Minh pemimpin pergerakan kemerdekaan Vietnam. Dan yang tak kalah spektakuler, Deng Xiaoping, Bapak modernisasi Cina yang kisah suksesnya masih berlanjut di era Xi Jinping sekarang.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)