Ke Mana Trump Corollary Melaut dan Berlabuh?

Bagikan artikel ini

Obrolan Kecil tentang Geopolitik Kontemporer Menjelang Akhir 2025 Bersama Ichsanuddin Noorsy di Tebb-Six Coffee, Jak-Sel

Dalam lanskap perang asimetris (asymmetrical war) ataupun perang konvensional lazimnya, terdapat modus ajeg yang berpola: “Isu – Tema/Agenda – Skema” (ITS). Penjelasan singkatnya begini. Isu dilepas ke publik oleh subjek untuk mengawali operasi. Ini semacam pintu pembuka. Kemudian agenda digelindingkan. Selain untuk menguatkan isu, juga untuk melegitimasi operasi (militer dan non militer) nantinya. Setelah legitimasi operasi, skema ditancapkan. Tujuannya untuk mencaplok geoekonomi negara objek alias target. Itu poin-poin pokok ITS. Pola dimaksud, sebenarnya terjadi juga dalam peperangan konvensional. Misalnya, bombardir pesawat tempur di awal pertempuran guna mengacaukan situasi musuh (ini identik dengan isu dalam ITS). Selanjutnya serangan kavaleri — penebalan dari bombardir (ini agenda); dan terakhir pendudukan oleh infanteri (ini skema). Bahwa antara perang asimetris alias non militer dengan peperangan militer, secara hakiki polanya tidak berbeda yaitu: “Isu – Tema/Agenda – Skema,” hanya bentuknya tak sama.

Dalam konteks Trump Corollary, tuduhan imigran gelap dan narkoba oleh Amerika (AS) kepada Venezuela, kalau ditilik dari pola ITS tadi — ia sebatas isu semata. Itu pintu masuk. Hal ini mirip (bahkan perulangan) isu-isu terorisme dan ISIS yang dahulu pernah ditebar oleh AS di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, bahkan di pelbagai belahan bumi lain. Artinya, setelah isu disebar, selanjutnya akan ada “agenda” yang diluncurkan. Merujuk peristiwa di Afghanistan, Irak, Libya dan seterusnya, agenda lazim yang digunakan ialah serbuan militer serta pendudukan militer di (negara) target. Dan ujungnya —boleh ditebak— ialah penancapan “skema” kolonialisme. Yakni, mencaplok geoekonomi Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Tak boleh dipungkiri, the Power of Oil adalah doktrin (siapapun) Presiden AS. Entah Partai Demokrat, apalagi dari Partai Republik yang didukung banyak industri strategis. “Itu doktrin tersirat”. Tidak ada kawan dan lawan abadi melainkan kepentingan yang abadi. Kredo ini sudah banal di dunia (geo) politik. Dan makna kepentingan pada kredo ini, poin intinya ialah minyak, emas, dan gas bumi. Tapi tidak menutup kemungkinan mengincar komoditas dan tambang lainnya terutama mineral tanah jarang (rare eart). Misalnya, atau kobalt, nikel dan seterusnya —bahan baku industri masa depan— akibat faktor isu EBT (energi baru terbarukan) bergelora di panggung geopolitik global.

Dengan demikian, titik tuju Trump Corollary dipastikan akan fokus ke Venzuela karena faktor deposit minyak yang besar. (Silakan baca: Trump Corollary: Upaya Amerika Mempertahankan Hegemoni dan Indonesia Corollary). Lantas, agendanya pun bisa ditebak, selain pengerahan kekuatan militer, memanfaatkan geopolitical chokepoints, juga memainkan weaponization geography di selat-selat dan perairan sekitarnya. Dua taktis terakhir —chokepoints dan weaponization geography— merupakan core business (strategi unggulan) dalam doktrin Trump Corollary.

Nah, dari prakiraan di atas dapat dibaca, bahwa skenario kanalisasi terusan, razia, dan pencegatan-pencegatan oleh (militer) AS terhadap kapal-kapal tanker minyak milik Venezuela yang hilir mudik melalui perairan ke pelbagai negara adalah keniscayaan. Ini terutama pada domain area yang diklaim oleh Trump Corollary. Begitu skenario besar yang sebagian tertulis di Strategi Keamanan Nasional AS, November 2025.

Skenario lanjutan yang bisa ditebak. Nantinya akan ada false flag operation (operasi bendara palsu) melalui sosok yang memerankan seolah-olah musuh. Padahal kawan sendiri yang tengah memainkan peran agar AS memiliki legitimasi serta dalih —tanpa resolusi PBB— menyerbu secara militer dan terbuka ke Venezuela sebaimana ia dulu menyerang Irak (melalui isu senjata pemusnah massal) dan menyerbu Suriah (lewat isu ISIS) tanpa restu tertulis dari PBB.

Dulu, sosok itu diperankan oleh Osama bin Laden sebagai raja teroris global, atau semacam al Badagdi selaku tokoh sentral ISIS. Padahal, keduanya tengah memainkan “bendera palsu.” Berpura-pura sebagai lawan, padahal mereka adalah kawan yang ditanam. Ini sudah jamak di dunia intelijen. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, bahwa terorisme dan ISIS adalah ciptaan AS. Dan nantinya, di Venezuela — proxy agents dimaksud bekerja dalam koridor isu, baik isu selaku gembong imigran gelap misalnya, ataupun isu sebagai bandar kakap narkoba, dan lain-lain.

Inilah bacaan sekilas langkah Trump Corollary di panggung global dan ke mana ia melaut dan berlabuh. Tak ada maksud menggurui siapapun terutama para pihak yang berkompeten. Hanya sekadar sharing pemikiran tentang geopolitik kontemporer. Kritik dan saran kami terbuka guna memperbaiki catatan ini.

Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com