Baiklah, saya sampai pada hipotesa penggunaan hemisper sebagai alat klaim dari geopolitik AS di bawah administrasi Trump yang expansif dan polisional. Ini bukan soal narkotika, minyak atau masalah kapital investasi lainnya.
Tentu kita melihat langkah Trump yang beresiko untuk merusak kepercayaan mitra Baratnya ini mesti dialasi oleh beberapa pandangan.
Pertama, dengan mencaplok Venezuela, Trump menggunakan alasan Dokrin Manroe dan Roosevelt Collarary yaitu alasan kepentingan internal AS dari intervensi dan ancaman lawan-lawan yang dianggap potensial melemahkan AS. Ini dapat dijelaskan mengapa setelah kericuhan intervensi atas ke south sphere yaitu sebagian Venezuela, AS mengalihkan isu kepada niatnya untuk mengambil north sphere yaitu Greenland. Trump mengatakan bahwa ia tidak ingin Cina, dan Rusia sebagai tetangga atau paling tidak ia ingin berkata bahwa kami menganggap kedua negara tersebut sebagai musuh selamanya.
Bila perspektif hemisphere ini digunakan maka cara pandang kemitraan akan berubah drastris tergantung dari sudut kepentingan mana ia dilihat. Ini karena persoalan hemisphere adalah persoalan geografi dalam pengertian paling awal; pemetaan ruang hidup. Ruang hidup di sini bukanlah ruang hidup bersama, tetapi ruang hidup yang hanya untuk mencukupi satu nation yang bernama misalnya AS.
Kedua, perspektif hemisphere meniadakan doktrin-doktrin lain sebagaimana halnya dulu di Indonesia ada Dwifungsi ABRI. Yang isinya adalah bagaimana negara memberikan satu lengan baru kepada militer (security apparatus) yaitu kekuasaan sipil. Selanjutnya doktrin ini dikemas lagi dengan doktrin yang bersifat sosial-politik-keamanan, yang disingkat ipoleksosbudhankam.
Bila TNI bersikeras dengan doktrin NKRI Harga Mati, maka dalam kajian geografi hemisphere ini dengan sendirinya mengabaikan klaim-klaim harga mati. Kenyataannya memang ruang hemisphere kita berubah-ubah sesuai relasi kekuasaan yang bekerja di dalamnya. Kita sudah kehilangan Sipadan-Ligitan, dan Timor-timur. Ini adalah bukti bahwa doktrin lingkup wilayah negara adalah harga mati sepenuhnya hanya imajinasi ruang dalam pengertian Freideric .Jameson.
Ketiga, apa yang akan terjadi kemudian, Trump tidak akan menganggap wilayah-wilayah yang jauh dari wilayah teritorial AS akan dianggap penting lagi.
Artinya ia mungkin tidak akan menganggap penting lagi doktrin no safe harbours yang memungkinkan AS membangun pangkalan-pangkalan militernya di mana-mana tempat di dunia.
Ia mungkin akan keluar dari PBB atau NATO dan meninggalkan pangkalan-pangkalan militer mereka untuk diurus sendiri oleh negara bersangkutan. Trump hanya ingin orang membayar apa pun yang mereka peroleh dari AS dengan uang. Jika tidak maka mereka harus membiayai sendiri keberadaan pangkalan-pangkalan tadi.
Keempat, jika ini yang terjadi maka ada kemungkinan pangkalan AS yang sebagian besar ada di timur tengah dan eropa tidak akan menjadi perhatian penuh Trump. Bagi Trump, sekarang waktu masing-masing perkuat diri sendiri.
Bila hal ini terjadi kemungkinan terjadinya perang terbuka di eropa atau di timur tengah semakin tinggi. Hilangnya pemain inti membuat semua pemain ingin melakukan kaliberasi posisi geografi mereka. AS kemungkinan tetap akan bermain di belakang seperti mendukung Israel. Tetapi dengan perhitungan yang seperti ini maka Trump yang benar-benar akan menarik seluruh kekuatan AS ke dalam negeri akan kehilangan basis-basis mereka di negeri jauh.
Singkatnya AS akan kehilangan kunci sebagai pengatur permainan. Jika demikian maka akan terjadi perubahan dalam struktur politik-ekonomi dunia secara besar-besaran.
Kita tidak siap untuk yang ini.
Andi Hakim, Pemerhati Isu-Isu Internasional