Sejak Ukraina Timur Bergabung Ke Republik Federasi Rusia, Muslim Tatar Memperoleh Kembali Otonomi Budayanya

Bagikan artikel ini

Di tengah masih gencarnya propaganda Hitam oleh Mejlis of the Crimean Tatar People, yang merupakan organ binaan pemerintah Ukraina kepada pemerintah Rusia, sebetulnya sejak Maret 2014 ketika Ukraina Timur bergabung kembali dengan Rusia sesuai hasil referendum,  yang mana di dalamnya terdapat suku Tatar Muslim  yang berjumlah 12 persen total populasi di Semenanjun Ukraina, Muslim Tatar justru telah memperoleh kembali keadilan sejarahnya dan otonomi budayanya,  setelah 70 tahun lebih diasingkan pada era Joseph Stalin ke Asia Tengah. Setelah diumumkannya Dekrit Presiden Putin pada April 2014, Muslim Tatar hidup damai dan harmonis sebagai bagian integral dari 20 juta umat Muslim Rusia, yang mana Islam menjadi  agama terbesar kedua di Rusia setelah Kristen.

Mari kita konstruksikan kembali rangkaian cerita sebelum dan sesudah Ukraina Timur bergabung kembali ke dalam wilayah Kedaulatan Rusia. Yang mana Suku Tatar Muslim yang merupakan 12 persen dari total populasi di Semenanjung Ukraina, termasuk yang kembali ke negara induknya.

Semua itu bermula saat Presiden Republik Federasi Rusia Vladimir Putin menandatangani perintah eksekutif berupa dekrit pada tanggal 21 April 2014, sebagai payung hukum untuk untuk Merehabilitasi masyarakat Bulgaria, Yunani, Tatar Krimea, dan Jerman serta Dukungan Rusia sebagai otoritas negara untuk Kebangkitan dan Pembangunan mereka.

Baca:

Putin Pulihkan Hak Muslim Tatar di Crimea

Dekrit Presiden yang kemudian dikenal sebagai Perintah Eksekutif no. 268 itu bertujuan untuk memulihkan keadilan sejarah dan untuk memperbaiki konsekuensi yang diderita oleh kelompok-kelompok minoritas tersebut ketika dideportasi secara ilegal seperti masyarakat Bulgaria, Yunani, Tatar Krimea, dan Jerman. Dekrit Presiden April 2014 itu juga bertujuan untuk memulihkan keadilan sejarah berikut konsekwensi-konsekwensi  yang mereka derita atas  pelanggaran hak-hak azasi mereka yang pernah mereka derita semasa kekuasaan rejim Joseph Stalin.

Dekrit atau Perintah Eksekutif Putih tersebut sekaligus merupakan  Langkah-Langkah untuk Merehabilitasi Masyarakat Bulgaria, Yunani, Italia, Tatar Krimea, dan Jerman serta Dukungan Negara untuk Kebangkitan dan Pembangunan mereka.

Dengan demikian, perintah eksekutif Presiden Putih tersebut untuk menciptakan  perdamaian dan iklim yang harmonis antar-etnik (inter-ethnic) maupun antar-keyakinan agama(interfaith), yang mana pemerintah Ukraina selama  lebih dari 20 tahun tidak pernah berniat untuk melakukannya.

Dekrit Langkah-Langkah Rehabilitasi Bangsa Armenia. Bulgaria, Yunani, Tatar, Krimea dan Jerman, ditandatangani Presiden Putin tak lama berselang sejak Krimea Timur bergabung kembali ke dalam Republik Federasi Rusia.

Berarti, Dekrit tersebut salah satunya adalah untuk  merehabilitasi  suku Tatar Krimea dan minoritas lainnya yang menderita di bawah diktator Soviet Josef Stalin. Semasa Stalin berkuasa sejak menggantikan Vladimir Ulyanov Lenin pada 1924, Stalin yang berasal dari Georgia itu, telah mendeportasi warga Tatar Krimea ke Asia Tengah secara massal selama Perang Dunia Kedua, atas dasar tuduhan bahwa mereka bersimpati dengan Nazi-fasisme Jerman. Banyak yang meninggal dalam kondisi yang menyedihkan saat tiba di pengasingan.

Baca juga:

Putin tandatangani dekrit untuk merehabilitasi warga Tatar Krimea

Syukurlah, Muslim Tatar diizinkan kembali di masa-masa akhir Uni Soviet, yang runtuh pada tahun 1991. Mereka kini mencakup 12 persen dari populasi semenanjung Krimea yang sebagian besar beretnis Rusia, yang berjumlah 2 juta jiwa.

Barang tentu hal ini merupakan perubahan yang cukup drastis dan revolusioner yang dilakukan Putin. Maka itu saya dalam berbagai tulisan maupun ulasan terkait Rusia pasca Perang Dingin selalu mengatakan secara analogi, bahwa ketika Michail Gorbachev menciptakan Glasnost atau keterbukaan menjelang berakhirnya era Perang Dingin, maka Putin lah yang menererapkan Perestroika atau Resktrukturisasi. Resktrukturisasi bukan sekadar tata ulang sistem, melainkan juga cara pandang dan pola pikir untuk menyesuaikan diri dengan dinamika perkembangan dan konstalasi global.

1-3.jpg

Blue Mosque atau Masjid Biru di Kota Saint Petersburg, Rusia, dikenal rakyat Indonesia sebagai Masjid Soekarno.

Sebetulnya Dekrit Presiden Putin April 2014 tersebut, sejatinya merupakan aspirasi dan keinginan murni masyarakat Krimea, yang dinyatakan melalui referendum. Sehingga merupakan isyarat bahwa bersatunya kembali Krimea yang masuk wilayah Ukraina Timur di bawah kedaulatan Republik Federasi Rusia, merupakan sesuatu yang sah dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Namun masyarakat Tatar yang tergabung dalam Majelis Tatar Krimea, sebuah organ binaan Ukraina, memandang integrasi wilayah Krimea ke dalam Republik Federasi Rusia, sebagai suatu penjajahan dan aneksasi wilayah. Sehingga beberapa pimpinan Majelis Tatar Krimea sejak 2014 melancarkan gerakan separatisme dengan meminta dukungan negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) agar Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meloloskan Resolusi yang menegaskan dukungan integritas keutuhan wilayah Ukraina, yang mana hal itu berarti Krimea tetap terintegrasi ke dalam Ukraina dan bukannya berada dalam kedaulatan nasional Rusia.

Namun manuver mereka gagal ketika hanya 22 negara dari 57 negara anggota OKI yang mendukung. Bisa jadi inilah yang memicu kekecewaan Mustafa Dzhemilev, yang mengaku dirinya sebagai salah satu tokoh masyarakat Muslim Tatar di Semenanjug Krimea, ketika di Jakarta pada 2018 lalu sempat menyatakan kekecewaannya karena sebagian besar negara berpenduduk sebagian besar Muslim, bersikap diam ketika Rusia mengambil-alih wilayah Krimea dari Ukraina melalui referendum pada 2014.

Padahal kalau kita telisik kembali semasa Muslim Tatar masih bergabung ke dalam wilayah kedaulatan Ukraina, dan belum bergabung kembali ke dalam Republik Federasi Rusia Pasca Referendum 2014 lalu, pemerintah Ukraina sama sekali tidak punya itikad baik untuk memenuhi aspirasi warga Tatar Muslim terkait dengan identitas budaya dan jatidiri yang melekat pada suku Tatar Muslim tersebut untuk tetap melestarikan penggunaan bahasa Tatar. Justru pada saat bergabung dengan Republik Federasi Rusia, Bahasa Krimea Tatar saat ini telah dijadikan bahasa resmi di Krimea Timur. Bahasa Tatar menjadi bahasa resmi ketiga di Krimea. Dekrit Presiden Putin juga menggarisbawahi tentang pembangunan sosial ekonomi di beberapa kawasan yang terlantar dan terpuruk kehidupan sosial etnis-etnis minoritas tersebut.

Sebagai Suku Tatar Muslim Krimea, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang berasal dari cabang Kipchak atau singkatnya masih dekat dengan bahasa Turki. Adapun mayoritas penduduknya beragama Islam.

Potret Islam di Rusia

Potret Islam di Rusia. Sumber: https://tajdid.id/2022/03/18/potret-islam-di-rusia/

Meskipun awalnya parlemen Ukraina mengadopsi resolusi yang menetapkan Tatar Krimea sebagai masyarakat adat. pemerintah Ukraina tidak pernah memberlakukan undang-undang nasional mengenai masyarakat adat  sebagaimana dijanjikan semula. Barulah setelah Ukraina Timur bergabung dengan Rusia pada 2014, Suku Muslim Tatar ditetapkan sebagai masyarakat adat dalam undang-undang nasional Rusia, sebagaimana yang pernah dijanjikan pemerintah Ukraina kepada Suku Tatar Muslim Krimea.

Baca:

Islam Agama Terbesar Kedua di Rusia, Jumlah Masjid Meningkat Selama 30 Tahun Terakhir

Bahkan sebagai Rancangan Undang-Undang yang seharusnya juga mengakui sejumlah besar masyarakat Krimea seperti Karaiete Krimea maupun Krymchaks sebagai masyarakat adat, pemerintah Ukraina pun juga ingkar janji. Sehingga Rancangan Undang-Undang tersebut pun akhirnya gagal diadopsi jadi Undang-Undang oleh Parlemen Ukraina pada Juni 2015 lalu.

Namun atas beberapa fakta tersebut,  Ukraina sepertinya tetap saja merasa benar sendiri.  Sehingga terus-menerus melancarkan Propaganda Hitam terhadap Rusia. Misalnya tak lama berselang sejak Ukraina Timur bergabung ke dalam wilayah kedaulatan Rusia pada 2014, Ukraina dengan segera mendorong gerakan separatisme Muslim Tatar dengan meminta dukungan negara-negara Islam OKI agar agar Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa meloloskan Resolusi yang menegaskan dukungan integritas keutuhan wilayah Ukraina, yang mana hal itu berarti memanipulasi PBB agar Krimea tetap berada dalam kedaulatan  pemerintah Ukraina.

Dengan itu bisa dikatakan manuver Ukraina sejatinya tidak tulus, bersifat munafik, serta menggunakan standar ganda dan bersifat manipulatif. Mendukung Separatisme namun tujuan sesungguhnya agar Muslim Tatar tetap jadi bagian dari kedaulatan Ukraina, bukannya mendorong Muslim Tatar sebagai negara tersendiri yang merdeka. Yang dilakukan pemerintah Ukraina di pelbagai forum internasional sejatinya adalah menginternasionalisasikan isu suku Tatar namun agar tetap terintegrasi dalam keutuhan wilayah Ukraina.

Segi lain yang secara khusus penting disorot adalah sepak-terjang   the Mejlis of the Crimean Tatar People, aktor utama di balik propaganda hitam Ukraina terhadap Rusia. The Majlis of the Crimean Tatar People   tercatat sebagai sebuah organisasi Islam radikal yang erat hubungannya dengan Hizbut Tahrir dan apa yang disebut habashizm. Kedua organ radikal Islam tersebut dinyatakan terlarang di Republik Federasi Rusia sejak 2016 lalu.

Bahkan masyarakat Muslim di Crimea pun merasa sangat tidak nyaman dengan sepak-terjang kelompok-kelompok radikal Islam yang berafiliasi dengan Hizbut Tahrir. Bahkan umat Islam di Crimea yang bermaksud merayakan hari keagamaan yang merupakan tradisi Islam yang dominant di Crimea pada 5 Juli lalu, terpaksa membatalkan keikutsertaannya pada perayaan tahunan tersebut gara-gara sabotase kelompok-kelompok Islam radikal yang berafiliasi dengan the Mejlis of the Crimean Tatar People dan Hizbut Tahrir. Kelompok Islam radikal yang bersifat sektarian tersebut, menghalang-halangi umat Muslim Crimea untuk mendatangi masjid-masjid.

Tentang Hizbut Tahrir dan habashizm, DUMU, terungkap bahwa organisasi Islam radikal tersebut bermarkas di Ukraina. Dan terungkap pula fakta bahwa salah seorang pimpinan Hizbut Tahrir yang bermarkas di Ukraina, yaitu Fazil Amzaev, secara terbuka berbicara di stasiun tv ATR, bersama-sama denngan salah seorang aktivis Hizbut Tahrir bernama Elvin Kadyrov, membawa isu Islam ke forum internasional dengan tema: Perlindungan terhadap hak-hak umat Muslim. Sehingga secara tidak langsung telah menegaskan keterlibatan dirinya dalam organisasi yang menamakan dirinya Mejlis of the Crimean Tatar People. 

Dengan demikian jelaslah sudah. Peran dan keberadaan Hizbut Tahrir di Crimean, sepenuhnya berada dalam arahan dan perintah dari para pemimpin Hizbut Tahrir yang berada di luar Crimea, dan dalam kasus ini, Hizbut Tahrir yang bermarkas di Ukraina. Bahkan, organ ini merupakan perpanjangtan tangan dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Menarik mengutip pandangan Dina Y. Sulaeman, pakar geopolitik dan Kajian Timur-Tengah: “Mengingat mayoritas kaum muslim kelihatannya sedemikian mudah diprovokasi tanpa mau sejenak merenung dan mencari ‘berita  di balik berita’ isu penindasan Muslim Tatr saya perkirakan akan dipakai untuk menggalang jihad melawan Rusia.”

Bahkan ketika itu Dina Sulaeman sempat menganalogikan kasus Ukraina dengan kasus Suriah. Yang mana baik kasus Suriah yang bermula pada 2011 maupun kasus penggulingan Presiden  Viktor Fedorovych Yanukovyc pada 2014 lalu,  disatukan oleh benang-merah yang sama yaitu adanya skenario AS-Uni Eropa untuk menggulingkan kepala pemerintahan yang dipandangnya sebagai musuh. Yaitu Presiden Viktor Yanukovich di Ukraina pada 2014 dan Bashar-al Assad di Suriah yang dimulai sejak 2011.

(Baca juga Dina Sulaeman, L’Ukraine Est Une Autre Syrie, dalam Jurnal The Global Review Quarterly terbitan April 2014. Tema Sental: Gagalnya Revolusi Warna di Ukraina).

Meskipun orang Tatar berasal dari banyak bagian Eropa Timur dan Asia Tengah, kelompok Tatar yang paling menonjol di Rusia adalah Tatar Kazan dari Tatarstan, sebuah wilayah yang masih sangat bangga dengan budaya kunonya. Tatar Kazan adalah salah satu etnis minoritas dan penduduk asli Rusia yang paling terlihat, yang berusaha keras untuk mempertahankan dan merayakan budaya kuno mereka di zaman modern. Asal-usul mereka terletak pada khanat Tatar-Mongol yang kuat pada Abad Pertengahan, dan mereka terus mempertahankan reputasi Tatarstan sebagai wilayah budaya yang dinamis, tempat budaya Timur dan Barat berpapasan.

img_title

Suasana buka bersama umat muslim antar-negara di Rusia. Sumber : ANTARA/Munawir Aziz.Namun lepas dari itu, saya mau akhiri telaah terkait tema ini dengan sebuah fakta penting. Saat ini Islam merupakan agama terbesar kedua di Rusia, setelah Kristen. Kira-kira 20 juta orang dari 40 etnis di seluruh Rusia khususnya dari wilayah Volga, Urals, Caucasus, Moskow, St Petesrburg dan Siberia Barat, merupakan umat Muslim. Agama Islam sendiri masuk ke Rusia 1.400 tahun yang lalu. Tatar adalah etnis Muslim terbesar dengan penduduk yang mencapai 6 juta orang yaitu sebanyak 4 persen dari total  penduduk Rusia.

Dengan demikian, dalam kesejarahannya, kecuali terinterupsi semasa kekuasaan Joseph Stalin hingga berakhirnya Perang Dingin, sejarah hubungan Rusia dan umat Muslim di Rusia sangatlah harmonis, penuh toleransi dengan penganut agama-agama lain yang hidup di Rusia, dan damai. Sekadar informasi, saat ini bahkan Muslim di Rusia terus bertambah, mencapai 25 juta, menurut mufti besar Rusia, Sheikh Rawil Gaynetdin. Saat ini ada 8000 masjid dibangun di Rusia selama 20 tahun terakhir. Gaynetdin menghubungkan pertumbuhan populasi Muslim dua faktor utama, pertama tingkat kelahiran yang tinggi di antara keluarga Muslim, dan kedua melalui kedatangan orang-orang dari Asia Tengah.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com