Kerjasama Strategis Bidang Energi Indonesia-Rusia Harus Lebih Ditingkatkan (Bagian II)

Bagikan artikel ini

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI).  

Dengan kata lain, dalam soal pembangunan reaktor nuklir maupun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), kemampuan teknologi Rusia sudah teruji dan terpercaya dibandingkan dengan mitranya Cina.


Sekadar ilustrasi pada 2015 lalu, Indonesia menaruh minat pada PLTN terapung Rusia. Ketika berlangsung International Forum Atomexpo VII.  Menurut Sergey Kiriyenko, Direktur Utama Rosatom, kepada para wartawan, Indonesia menaruh minat pada PLTN terapung tersebut mengingat kenyataan Indonesia merupakan negara kepulauan yang tentunya berbasis maritime.

 

l

Melihat Isi Perut Nuklir Rusia

Sehingga Rusia menanggapi dengan sangat antusias untuk membantu Indonesia melaksanakan pilot project tersebut. Dan bahkan siap untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait teknologi-teknologi canggih di bidang pembangunan reaktor dan stasiun nuklir.

Pembangkit energi terapung dapat digunakan di daerah-daerah terpencil di pinggir laut atau sungai-sungai besar. Teknologi ini menjadi sebuah daya tarik besar bagi negara-negara kepulauan. Selain itu, PLTN terapung ini merupakan objek pembangkit energi mandiri dengan fasilitas tempat tinggal dan infrastruktur yang lengkap. Pembangkit listrik ini dapat dihubungkan ke infrastruktur-infrastuktur di pinggir pantai atau bahkan dilabuhkan di dekat pusat kebutuhan energi listrik.

PLTN terapung mampu memberikan pasokan energi listrik tidak hanya di titik-titik penduduk dengan akses terbatas saja, tetapi juga pada objek-objek industri skala besar di setiap wilayah perairan, seperti platform kilang minyak lepas pantai. Selain itu, PLTN terapung pun dapat bekerja di titik-titik rawan gempa.

Kerjasama strategis Indonesia dan Rusia di bidang pembangunan reaktor nuklir kiranya cukup penting dalam rangka pengembangan teknologi Indonesia di bidang energi. Betapa tidak. Hingga saat ini Indonesia belum memiliki satu unit PLTN sekalipun, termasuk tidak ada kegiatan ekspor dan impor energi listrik di Indonesia.

Namun, isu pembuatan PLTN secara aktif telah dikaji oleh Pemerintah Indonesia sejak 1997. Pada 2006, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mendukung pengembangan energi nuklir di Indonesia.

Energi nuklir menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara berkembang berdasarkan sejumlah alasan yang objektif. Dengan dibangunnya PLTN, negara akan memperoleh sumber energi listrik secara independen, yang dapat memperkuat ketahanan energi negara. Sementara di bidang ekonomi, negara akan mendapatkan dorongan perkembangan yang sangat kuat, seperti tumbuhnya jumlah lapangan kerja di objek-objek pembangunan PLTN dan kemudian di PLTN yang telah berfungsi nantinya.

Dengan adanya PLTN, negara yang bersangkutan akan masuk ke dalam perkumpulan negara-negara dunia dengan teknologi paling mutakhir.

Dengan kata lain, hal ini akan memengaruhi status negara tersebut di dunia. Selain itu, PLTN sebagai sebuah objek pembangkit listrik yang bekerja secara stabil dapat membuat negara memperoleh penghasilan melalui ekspor energi listrik ke negara-negara tetangga. Maka itu, kebijakan strategis pemerintah Indonesia untuk memilih mitra strategis dalam kerjasama bidang energi khususnya energi nuklir, sangatlah penting dan vital.

Sebenarnya selain Rusia, Cina yang juga merupakan mitra strategis Rusia dalam skema Shanghai Cooperation Organization (SCO), juga merupakan mitra potensial Indonesia dalam bidang energi. Hanya sayangnya, dari berbagai informasi yang berhasil dihimpun tim riset Global Future Institute, Cina memang punya teknologi nuklir, namun belum punya pengalaman dan belum teruji. Sehingga sangat beresiko dan tidak bisa dijamin keselamatannya.

 

Misalnya kerjasama Cina dengan perusahaan Amerika Serikat yaitu Westing House dalam hal transfer of technology yang kemudian dikembangkan dalam pembangunan reaktor nuklir Sian Man, ternyata bermasalah. Begitu juga dengan pembangunan reaktor nuklir Hualun-1 buatan Cina, reaktor nuklir tersebut sudah ditawarkan ke negara-negara lain padahal belum dilakukan uji coba. Sehingga prospeknya sangat beresiko. 

 

Pengalaman tragis bocornya reaktor nuklir Fukushima di Jepang beberapa tahun lalu, kiranya menyadarkan kita bahwa keselamatan lebih penting daripada sekadar ambisi untuk membangun reaktor nuklir namun sangat rentan dari segi keamanan dan keselamatan.

 

Dengan begitu, kerjasama strategis bidang energi utamanya di bidang nuklir dengan Rusia, kiranya merupakan pilihan yang tepat dan masuk akal. Salah satu di antaranya, reaktor nuklir Leningrad-2 yang diresmikan Maret lalu di St Perterburg, bisa jadi bahan pertimbangan para stakeholder kebijakan energi nasional. Sebab menurut penilaian beberapa pakar, dari segi kualitas lebih canggih dari segi teknologi, aman, dan tidak berdampak buruk pada lingkungan hidup.

Selain itu, Rosatom dalam keteranganya beberapa waktu lalu  VVER-1200 memiliki tiga keunggulan utama: sangat efisien, tahan lama (mampu beroperasi hingga 60 tahun), dan aman. Novovoronezh NPP Unit 6 dan 7 (VVER-1200) merupakan PLTN komersial pertama di dunia yang memakai air sebagai moderator dan pendingin reaktor. VVER ialah singkatan dari vodo-vodyanoi energetichesky reaktor (Rusia).Secara harfiah jika diartikan ialah reaktor dengan air sebagai pendingin dan moderator.

Di Rusia, selain Novovoronezh Unit 6 dan 7, proyek serupa sedang dikerjakan di Leningrad (2 unit) dan Baltic (2 unit).Dua lainnya dalam tahap desain, yakni PLTN Kursk (4 unit) dan Smolensk (2 unit). Semuanya berkapasitas 2.400 Mw.

Satu lagi proyek PLTN dengan teknologi terbaru yang sedang dikerjakan Rosatom, yakni BN-800 di Beloyarsk. BN-800 memakai MOX (bahan campuran uranium dan plutonium) sebagai sumber energi. Oksidasi kedua zat itu menghasilkan energi panas yang lebih dahsyat daripada uranium. Proyek itu sudah mulai dikerjakan sejak 2015.

Sepertinya, menjalin kemitraan strategis bidang energi nuklir dengan Rusia lebih menjanjikan dan berprospek dibandingkan dengan Cina.

Diolah Dari Berbagai Sumber:

 

https://theglobal-review.com/nilai-strategis-kerjasama-indonesia-rusia-bidang-energi-dari-perspektif-kepentingan-nasional/

 

Republika Online http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/15/06/25/nqi5tt-rusia-kerja-sama-pltn-dengan-indonesia

Russia Beyond The Headlines http://indonesia.rbth.com/economics/2015/06/15/indonesia_akan_kembangkan_penggunaan_energi_nuklir_secara_damai_ber_28261.html

http://indonesia.rbth.com/news/2015/06/11/rusia_dan_indonesia_bekerja_sama_bangun_reaktor_nuklir_eksperimental_28223.html

Detikcom http://finance.detik.com/read/2015/06/16/120652/2943564/1034/batan-rusia-hingga-china-ingin-bangun-pltn-di-ri

Badan Intelijen Negara http://www.bin.go.id/wawasan/detil/146/3/16/10/2012/pembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir-di-indonesia#sthash.Y42FP3PY.dpuf

http://www.mediaindonesia.com/read/detail/50694-melihat-isi-perut-nuklir-rusia

 

 

 

 

 

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com