Belakangan ini santer orang-orang menyorot adat-istiadat dan pastinya juga masyarakat adat. Hanya saja ketika kita mengulas adat-istiadat atau masyarakat adat tidak dibingkai dalam perspektif pemberdayaan Kearifan Lokal/Kearifan Rakyat, maka adat istiadat hanya dipandang sebatas pelestarian sesuatu yang “kuno” dan”jamuran”,
Padahal, Kearifan Lokal lah ruhnya adat istiadat yang kemudian dilembagakan sebagai tradisi oleh masyarakatnya. Dengan itu, Kearifan Lokal punya makna strategis, yaitu pengetahuan yang dihayati oleh masyarakat daerah yang bersangkutan selama berabad-abad, hingga kini. Entah itu di ranah kesehatan/penyembuhan-pengobatan alternatif, beraneka-ragam jenis makanan kuliner nusantara yang pastinya berbasis pertanian, beragam corak pendidikan khas daerah, perdagangan, preindustrial lokal, sampai ke ragam orak organisasi dan sebagainya.
Jadi, adat-istiadat dan masyarakat adat bisa dibilang merupakan produk budaya yang lahir dari rahim kearifan lokal masing-masing daerah di bumi nusantara kita. Kuliner nusantara, sekadar ilustrasi. yang kita kenal sekarang ini, memang betul merupakan hasil kreasi masyarakat adat sejak dulu kala.
Bahan-bahan pokok seperti nasi, sayur mayur, buah-buahan, dan hasil ternak yang kemudian menjadi sajian masakan yang setiap hari kita makan adalah buah peran masyarakat adat dan menjalin hubungan erat dengan Kondisi Fisik Lingkungannya (Pertanian/Pedalaman, Pesisir/Maritim, dan Pegunungan).
Kalau anda bertandang ke kota Solo, Jawa Tengah, anda akan menikmati masakan khas Solo seperti Nasi Liwet, Nasi Tumpang yang boleh dibilang nasi pecel ala Solo, sejatinya anda tidak cuma menikmati hidangan kuliner khas Solo, melainkan juga anda sedang menjalin hubungan emosional dengan Solo sebagai kampung halaman anda.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4166002/original/049176000_1663743756-crunchy-g3d878b7c3_1920.jpg)
Empek-Empek Palembang
Dengan itu nasi liwet, nasi tumpang, salad Solo, bukan hanya sajian kulineran. Tapi sekaligus juga terkoneksi dengan budaya leluhur dari kakek-nenek atau kakek-nenek buyut kita. Begitu pula kalau anda ke Gresik atau Kediri, anda tidak hanya menikmati nasi krawu, tapi sejatinya terkoneksi dengan nenek-moyang atau leluhur keluarga kita.

Gudeg Solo.
Dari sketsa tadi, sontak muncul pikiran di benak, Kearifan Lokal berikut masyarakat yang masih mengapresiasi dan menghayati tradisi dan adat-istiadat, merupakan benteng pelestarian jatidiri bangsa. Setidaknya di ranah pertanian. Coba bayangkan, ketika masyarakat lokal dan adat-istiadat tiba-tiba terserap dalam proses pengkotaan, sehingga masyarakat desa yang seharusnya menjadi benteng Kearifan Lokal daerahnya tiba-tiba bergaya hidup kota besar dan modernisasi ala Barat? Apalagi ketika kemudian menjelma jadi masyarakat perkotaan yang bergaya hidup mewah dan hedon?
Pastinya budaya konsumerisme yang pelan tapi pasti melanda masyarakat kota dan desa, pada perkembangannya akan menjadi sasaran empuk pengguna produk-produk impor yang selain berorientasi hedonisme, juga memicu selera rendah sebagai pengguna produk impor yang nir-kualitas.
Kita sebagai masyarakat maupun sebagai entitas kebangsaan, merasa khawatir lambat-laun tidak menyadari bahwa di balik sebuah produk, bukan hanya sebagai kegiatan berproduksi. Melainkan juga terkandung gagasan kreatif dan inovatif di balik aktivitas produksi yang kemudian menjelma jadi barang dan jasa.
Sekadar contoh lain. Kelapa Sawit. Ini sebetulnya hanya bahan mentah salah satu kekayaan alam bangsa kita. Namun ketika itu menjelma jadi minyak goreng, sabun mandi dan sabun cuci, dan shampo untuk keramas rambut. Lantas menjelma jadi produksi. Masalah kita, hal itu bukan cuma produk impor yang kita beli sebagai industri rumah tangga. Tapi gara-gara apa-apa serba impor, maka kita saat ini sadar atau tidak telah dikondisikan sebagai masyarakat konsumtif alih-alih masyarakat berproduksi (producing society).
Gara-Gara arus globalisasi dan modernisasi yang menanamkan pola pikir apa-apa lebih baik impor alih-alih berproduksi sendiri, masyarakat kita baik yang di perkotaan maupun masyarakat desa yang mengalami pengkotaan, masyarakat adat dan pengusaha kelapa sawit, misalnya, malah terperangkap dalam perebutan lahan kelapa sawit, padahal seharusnya pengusaha-masyarakat lokal harus sama-sama berpikir bagaimana memberdayakan Kearifan Lokal daerahnya. Sehingga sumberdaya alam berbasis pertanian termasuk kelapa sawit, bukannya dipandang sebagai obyek eksploitasi para pengusaha yang berpikiran sempit sekadar sebagai pedagang ekstraksi yang cuma mikir bagaimana menggali, mengeruk, lantas jual.
Menurut saya hal ini terjadi karena masyarakat kota dibentuk sebagai masyarakat konsumtif, masyarakat desa tidak mengenali benteng budayanya yang paling kuat yaitu Kearifan Lokal dan Masyarakat Adat.
Sehingga masyarakat kota maupun desa yang sudah mengalami proses pengkotaan, hanya berorientasi kepada hasil tanpa pernah menelusuri perjalanan bagaimana sumberdaya alam menjelma sebagai produk jadi.
Alhasil, masyarakat perkotaan makin meterialistik, masyarakat desa kehilangan penghayatan pengetahuan lokalnya yang sebetulnya melimpah. Karena kemudian adat-istiadat cenderung dilestarikan dan dimuseumkan, tapi tidak diberdayakan sebagai benteng sekaligus senjata geopolitik menangkal arus globalisasi dan modernisasi.
Di sinilah pentingnya bangsa dan masyarakat kita punya penghayatan geopolitik, khususnya dalam mengenali karakteristik geografisnya sebagai unsur terpenting geopolitik. Seperti kondisi fisik lingkungannya. Apakah berwatak pertanian pedalaman seperti di Jawa, daerah pesisir/maritim seperti di Sumatera dan Maluku Utara, dan Bugis. Atau daerah berwatak pegunungan. Sebab kondisi fisik lingkungan juga ikut membentuk watak kolektif masyarakatnya juga.
Dengan bingkai pandangan dan pikiran seperti itu, seharusnya sektor pertanian dan industri tidak boleh diplot untuk saling bermusuhan. Seakan pertanian itu karena berbasis daerah pedalaman dan pedesaan, berkonotosi terkebelakang, sedangkan industri karena diasosiasikan sebagai berbasis perkotaan, seakan-akan simbol modernisasi. Ini sangat keliru.

Ritual Tradisi Yang Masih relevan di zaman modern saat ini.
Seharusnya, seperti belajar dari keberhasilan Jepang dan Cina, pertanian dan industri bisa sama-sama maju karena Kearifan Lokal merupakan unsur proaktif dalam menjembatani sektor pertanian dan pedesaan.
Sehingga ketika desa maupun kota sama-sama maju baik pertaniannya, industrinya maupun ilmu-pengetahuan dan teknologinya, Jepang dan Cina berhasil menjadi negara modern tapi bukan jadi Barat, tapi karena meletakkan Kearifan Lokal sebagai sokoguru kemajuan bangsa. Sektor ekonomi kuat dan sektor ekonomi menengah dan kecil, saling mendukung atas peran kehadiran negara. Pertanian bukan cuma dipandang sebagai obyek komoditas melainkan juga budaya yang melekat dengan daerahnya.
Otomatis dengan itu pula, pelestarian alam menjadi komitmen bersama untuk menjaga linkungan hidup dan sistem ekologinya, menjadi tanggungjawab bersama semua pemangku kepentingan masyarakat daerah dan adat. Sehingga proyek pembangunan harus ramah lingkungan dan secara jangka panjang tidak akan merusak dan menghancurkan lingkungan lantaran lebih mengutamakan pertimbangan ekonomi dan bisnis.
Alhasil, selain tidak ada lagi gap antara masyarakat kota dan desa, juga tak ada lagi gap antara masyarakat sektor formal dan informal. Kalau sekarang, akibat arus deras globalisasi dan modernisasi yang tanpa difilter dulu oleh Kearifan Lokal, gap sektor formal dan informal juga melekat dengan perbedaan tingkat pendidikan.
Sektor formal saat ini umumnya banyak diisi oleh mereka para lulusan universitas dari kota-kota besar Pulau Jawa. Ketika sudah masuk ke kota apa mereka akan kembali ke desa? Pastinya mereka lebih memilih bergumul di sektor formal perkotaan. Mereka baru kembali kampung halamannya setelah pensiun.
Padahal sektor informal sudah terbukti punya kekuatan tak kasatmata sebagai benteng perekonomian nasional kita ketika bangsa dilanda krisis moneter pada 1997-1998. Warung-warung tegal, warung angkringan, dan warung-warung kaki lima pada umumnya, sektor informal inilah yang menyelematkan jutaan warga masyarakat ekonomi lemah sehingga tetap bisa makan dengah harga Rp 8 ribu sekali makan.
Ini semua bisa jadi begitu karena salah kaprah dalam cara pandang. Sektor formal identik dengan kota dan modernisasi. Informal identik golongan ekonomi lemah, tradisional dan terkebelakang. Senyatanya, modernisasi-tradisional, formal-informal, sejatinya tidak bergerak secara garis lurus atau linear. Modernisasi-tradisional, formal-informal, kota-desa, sejatinya dalam hubungan yang dialektis dan timbal-balik. Saling mengilhami dan menginspirasi satu-sama lain.
Orang-orang desa yang sekolah di kota, sudah seharusnya begitu lulus pulang kampung, dan memainkan peran memprakarsai gagasan-gagasan memodernisasikan sektor pertanian yang khas dengan daerahnya masing-masing. Bukannya malah larut dalam gaya hidup kota yang metrealistik dan saling jor-joran bergaya hidup kota besar yang serba konsumtif dan hedon.
Masa lalu generasimu tak akan pernah hilang sampai kapanpun selagi hatimu masih bersih. Ia akan tetap terus mengalir dalam darahmu. Ingat dulu kamu juga berasal dari manusia adat sebelum kamu jadi manusia kota.
Lantas apa yang kau banggakan dari kehidupan sikut menyikut yang tak sopan di perkotaan? Kalau anak daerah bisa bersaing dengan anak kota dengan cara baik apa salah? Terkadang yang salah adalah cara berpikir kita yang selalu menganggap kedaerahan itu identii dengan kehidupan yang terkebelakangan ketinggalan zaman.
Murniatun Margono, Direktur Kajian Hukum, Advokasi Hak-Hak Asasi Manusia dan Kesehatan Global.