Ketakutan yang Diproduksi Media Lebih Mematikan dari Covid-19

Bagikan artikel ini

Hampir setiap hari, gelombang arus pemberitaan yang begitu deras terkait virus corona (Covid-19) yang menjadi headline oleh media-media arus utama sejatinya telah menciptakan ketakutan dan kepanikan yang jauh lebih merusak dan seakan lebih menjadi mesin pembunuh daripada virus itu sendiri. Headline memang sangat penting untuk dijadikan strategi marketing (pemasaran) dalam sebuah bisnis. Masalahnya adalah adakah bisnis terselubung di balik semua pemberitaan Covid-19 yang begitu gencar tersebut?

Berikut adalah sejumlah fakta yang perlu kita camkan bersama:

Fakta 1. Seperti dilaporkan oleh seorang dokter setelah meneliti data di Italia, bahwa 80% dari korban yang meninggal ternyata mempunyai dua atau lebih penyakit kronis dan 90% dari yang meninggal berumur lebih dari 70 tahun. Selain itu, ‘Kurang dari 1% dari orang yang meninggal adalah tergolong sehat’ yaitu ‘orang tanpa penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya’. Mengingat Italia utara memiliki salah satu populasi tertua dan kualitas udara terburuk di Eropa, yang telah menyebabkan peningkatan jumlah penyakit pernapasan dan kematian di masa lalu, ini tidak diragukan lagi adalah faktor yang membantu menjelaskan krisis kesehatan di wilayah tersebut saat ini.

Jelas respons yang sama sekali tidak memadai terhadap krisis yang sesungguhnya, juga respons yang didorong oleh kepanikan terhadap virus corona. Hal ini, diakui atau tidak, telah mengakibatkan kepanikan atau ketakutan manusia. Dikhawatirkan, kepanikan global tersebut sengaja diciptakan kepentingan elite kapitalis dengan memanfaatkan organisasi dunia seperti WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), juga pemerintah, tenaga medis, dan media perusahaan, yang tidak kesulitan memanipulasi ketakutan ini untuk melayani kepentingan elite. Semoga saja tidak.

Fakta 2. Kematian di AS akibat influenza dari 1950 hingga 2017 berkisar antara 13,5 hingga 53,7 per 100.000 (sumber statista.com).

Fakta 3. Kematian di AS (informasi update kemarin, 24 April 2020) akibat Covid-19 adalah 14,9 per 100.000 (sumber worldmeters.info). Dan yang perlu menjadi sorotan kia sebenarnya bahwa jumlah ini termasuk kematian yang “kemungkinan” akibat Covid-19 serta kematian yang terkonfirmasi akibat Covid-19.

Jadi, jumlah ini, kematian per kapita di AS akibat Covid-19 lebih rendah daripada kematian per kapita akibat flu di hampir setiap tahun dari 1950 hingga 2017. Jumlah kematian tertinggi akibat flu per kapita terjadi pada tahun 1960. Kematian tahun itu mencapai 53,7 per 100.000, lebih dari tiga kali lebih tinggi dari kematian akibat Covid-19. Inilah faktanya. Silakan pembaca yang budiman melakukan pengecekan sendiri, atas fakta di atas. Secara kebetulan, tingkat kematian per kapita dari yang diberitakan oleh media “histeris” dan suka menyebutnya sebagai, “pandemi global” hanya 2,4 per 100.000. (Silahkan klik data ini)

Model terbaru Satuan Tugas Virus Corona Gedung Putih memprediksikan bahwa kematian akibat Covid-19 bisa mencapai 60.000. Saat ini tercatat di angka 49.000. Bahkan jika [perkiraan]angka itu [yang dimanipulasi]adalah dua kali lipat menjadi 98.000, itu masih akan jauh lebih rendah daripada semua kematian akibat flu per kapita dari tahun 1950 hingga 1998.

Jadi, bertolak dari fakta-fakta ini, mengapa media-media arus utama begitu gencar menyebarkan ketakutan dan kepanikan ke belbagai penjuru dunia? Pelaporan histeris mereka yang tanpa henti, telah menimbulkan tsunami ketakutan dan kepanikan yang menciptakan efek domino, di mana longsoran kepanikan telah mematikan ratusan ribu usaha atau bisnis, memorak-porandakan perekonomian di banyak negara, termasuk di Indonesia. Belum lagi dengan penutupan lembaga-lembaga pendidikan kita mulai dari TK sampai perguruan tinggi, termasuk juga penutupan tempat ibadah. juga, betapa banyak warga kita yang kehilangan mata pencaharian atau pekerjaannya akibat harus menerima PHK dan pelbagai alasan yang tidak memungkinkan mereka untuk kembali bekerja sebagaimana hari-hari biasanya. Memang, dampak ini juga mengakibatkan jutaan warga dunia kehilangan pekerjaan, termasuk di AS sendiri yang dilaporkan sekitar 22 juta orang kehilangan pekerjaan mereka.

Sekali lagi yang perlu dicermati, awal persebaran virus corona ini sudah menimbulkan pro dan kontra dari sejumlah negara, terutama dua negara adidaya AS dan China yang sama-sama menuding telah menciptakan virus tersebut. Namun, senjata ampuh untuk memutus rantai persebaran Covid-19 yang dipakai oleh ‘bandar’ penjual ketakutan adalah istilah social distancing (jarak sosial), yang sejatinya berimplikasi praktis pada pelemahan sebuah negara. Dan ini, diakui atau tidak, sudah kita rasakan.

Indonesia dan banyak negara lain, dalam sejarah, tidak pernah mengambil kebijakan lockdown (kuncian) di masa lalu untuk memerangi virus, meskipun tingkat kematiannya jauh lebih tinggi daripada yang diakibatkan oleh Covid-19 seperti sekarang ini. Secara langsung atau tidak langsung, persebaran Covid-19 telah memberikan teror psikologis yang begitu medalam kepada semua warga bangsa di dunia.

Ada negara-negara lain yang tidak mematikan ekonomi mereka sebagai cara untuk melawan Covid-19, misalnya Swedia. Negara ini belum menutup ekonomi mereka dan bahkan lebih baik daripada negara-negara lain di Eropa yang telah menempatkan pembatasan ketat pada warga mereka, yang secara langsung juga berimplikasi pada pelumpuhan ekonomi mereka.

Andaikan kita memberlakukan social distancing setiap kali virus muncul di masa lalu, negara kita Indonesia, mungkin tidak akan sampai pada tahap negara berkembang seperti saat ini. Justru masalahnya sekarang adalah, kebijakan pemerintah–yang paling mutakhir terkait penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)–telah mendapatkan tanggapan yang beragam bahkan bertolak belakang antara satu dengan yang lain. Ambiguitas kebijakan pemerintah terkait penanganan Covid-19 ini sangat menyulitkan dalam hal kontrol atau pengawasan, juga penegakan aturan di lapangan. Apalagi di beberapa kementerian terdapat ada banyak pengecualian pembatasan.

Ya, penjual ketakutan sudah mengatakan bahwa virus corona akan kembali musim dingin ini. Jika ya, apakah kita akan merespons dengan cara yang sama, – “berlindung di tempat”, yang dalam istilah kita, stay at home, work from home, dan memberlakukan (quasi) lockdown? Jika kita terus melakukan ini, negara kita bukan malah semakin berkembang, apalagi maju. Semoga pemerintahan bisa mempertimbangkan strategi dan kebijakan yang diambil oleh sebagian negara yang tidak begitu larut dalam “operasi” Covid-19, yang dinyatakan sebagai pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sudarto Murtaufiq, peneliti senior Global Future Institute

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com