Komodifikasi Sastra

Bagikan artikel ini

Kunst ist die gesellschaftlich avancierte Erkenntnis, die weder dem Betrieb noch der Kulturindustrie sich fügt.”

“Seni adalah pengetahuan canggih secara sosial, yang tidak tunduk pada kaidah bisnis atau industri budaya.” — Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969), Ästhetische Theorie (1970).

Ketika mahzab kritik Frankfürht lagi menguasai filsafat pengetahuan di Jerman, salah satu tokohnya, Theodor Adorno, cukup vokal dan diincar Nazi hingga membikin ia hengkang ke Amerika pada 1930.

Eksil intelektual ini tak bikin surut kiprahnya untuk tiba pada kritik sastra dan seni seperti yang ditulis, awalnya, Dialektik der Aufklärung(1944) bersama rekannya, Max Horkheimer, di Institut Riset Sosial universitas Columbia, dan hingga wafatnya, Ästhetische Theorie (1970) paling berpengaruh pada kritik sastra dan seni.

Mari masuk ke kritik sastra Adorno ihwal komodifikasi.

Mengacu teori kritisnya, Theodor Adorno mengkritik komodifikasi sastra sebagai bagian dari industri budaya (Kulturindustri) dan budaya massa (Massenkultur) yang lebih luas.

Salah satu kritiknya, komodifikasi telah menggiring iiklim sastra dan seni ke dalam kubangan barang dagangan yang diproduksi masal demi memenuhi kebutuhan pasar.

Dalam pandangan Adorno. komodifikasi sastra dan seni lainnya pada umumnya beralih jadi alat pengendalian industri budaya demi mempertahankan status quo ke seluruh produk estetika.

Dengan mengubah karya sastra sebagai produk barang dengan menempel status dan merek di dalamnya, industri budaya dapat mengontrol apa yang dibaca dan dipikirkan oleh selera masyarakat.

Tentunya, hal ini menyebabkan karya sastra, khususnya, kehilangan otonominya dan menjadi alat untuk mempertahankan kuasa dan dominasi dalam mengontrol selera dan estetika massa.

Bagi Adorno, komodifikasi sastra dan seni telah menafikan seluruh fondasi estetika sebagai dasar filsafat nilai yang kelak berujung pada tats etik dan spiritualitas yang dikandungnya.

Apa jadinya, ketila produk karya sastra, misalnya, digiring untuk memenuhi kebutuhan pasar?

Apakah nilai estetika yang terkait dengan kebenaran, keindahan, kritik sosial — etik dan religius menurut Kierkegaard — hanya soal sekunder?

Sebagai ganti, buntutnya karya sastra dinilai berdasarkan nilai jualnya dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan konsumen.

Lantas apa yang mendera komodifikasi sastra? Ketika sastra puisi — meski bisa dialihwahana pada musik dan film — memaksa penulis masuk dalam industri budaya, akibatnya langsung terasa hingga produk „baru“ puisi esai sekalipun dimasifikasi dengan kemampuan modal dan sains.

Belum lagi disrupsi AI? Sebagai kreator, penulis, apa yang dipasok industri budaya sangat mengabaikan apa yang dipikul, para penulis dan pembaca kelak, sebagai pemikiran kritis.

Lagi-lagi kritik Adorno, dengan produk komodifikasi sastra, sama persis barang klontong dan glondongan, justru sangat mengancam otonomi produk estetika dan kebebasan berpikir sekaligus.

Kontrol atas produk masif sebagaimana dihasilkan dari kritik sastra marxisme, telak menghantam seluruh bunker dan etalase instalisi sastra dan seni.

Betapapun kritik ini mau mengukuhkan kembali otonomi dan wibawa sastra dan seni, produk komodifikasi apapun telah dirampas dan dikendalikan dengan semena-semena di tangan ruh kapitalisme.

Dan kita, dengan dan tanpa AI sekalipun, komodifikasi sastra — serta harapannya pada Satupena maupun ternaknya, KEAI — ibarat burung bul-bul Attar yang coba memercik tetes air dari ujung paruhnya untuk memadamkan kobaran api Nimrod pada tubuh Ibrahim.

Jauh sebelumnya, dari seorang pioner kedokteran Yunani kuno, Hippokrates, optimisme ini tetap berkobar:

Ho bios brachys, he de techne makre.“

Tiba di Romawi Latin: Ars longa, vita brevis.

Hemat Hippokrates, mungkin juga sebagai kondekuensi sumpah dalam ars, seni penyembuhan atau kedokteran, dikatakan:

Latin:
Juro per Apollinem medicum, et Aesculapium, et Hygieiam, et Panaceiam, et deos omnes et deas, testes faciens, me posse et velle.“

Inggris:
I am still improving my command of other languages, and I may make errors while attempting them.

ReO Fiksiwan

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com