Konflik Ukraina-Rusia Usai, Senjata-Senjata Ilegal dari Zona Perang Ukraina Memasuki “Pasar Gelap” Eropa?

Bagikan artikel ini

Sebuah organisasi non-pemerintah yang berbasis di Jenewa, Swiss, Global Initiative against Transnational Organized Crime (GITOC), telah memperingatkan kemungkinan meningkatnya arus pengiriman senjata ke Eropa menjelang berakhirnya konflik Ukraina-Rusia. Sehingga pada perkembangannya kemudian, meningkatnya arus pengiriman senjata secara ilegal ke Eropa akan meningkatkan eskalasi kekerasan di Eropa Barat.

Dengan itu berarti, seiring berakhirnya konflik Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung sejak tahun 2022, kejahatan terorganisir khususnya terkait penyelundupan senjata dan amunisi ke Eropa, akan semakin marak kembali.

Pada 20-21 Oktober 2025 lalu, GI-TOC menyelenggarakan konferensi di Brussels, Belgia,  untuk membahas tiga kemungkinan alur konflik Rusia-Ukraina dan dampaknya terhadap dinamika perdagangan senjata di Eropa.

Salah satu isu yang dibahas dan bahkan disimulasikan adalah, risiko maraknya pasar perdagangan senjata api secara ilegal di Eropa akibat konflik. Dasar pemikirannya, begitu konflik bersenjata Rusia-Ukraina mereda dan usai, namun ada sejumlah peralatan militer masih dalam keadaan utuh yang berada di zona konflik. Sehingga seturut meredanya konflik bersenjata di Ukraina, akan memicu gelombang penyelundupan senjata secara ilegal dari zona konflik ke kawasan Eropa.

Baca: Future trends in arms trafficking from the Ukraine conflict

Apalagi penelitian terbaru menunjukkan bahwa  kelompok kriminal saat ini sedang membangun pasar, rute, dan rantai pasokan perdagangan senjata yang lebih terorganisir, dan dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan kejadian pengalihan skala besar di masa lalu, seperti di Balkan dan Afghanistan.

Maka tak heran jika beberapa pakar dan pembuat kebijakan di negara-negara tetangga dan negara-negara Eropa lainnya terus menyatakan kekhawatiran mereka tentang ancaman pengalihan senjata ringan dan amunisi skala besar dari Ukraina. Seperti jenis senjata api ilegal baru, misalnya senjata api tanpa peluru yang dimodifikasi, senjata api yang diaktifkan kembali, dan senjata api cetak 3D. Kelompok-kelompok kriminal tersebut mampu berinovasi dengan cepat.

Konferensi Brussels tersebut menyoroti fakta bahwa banyak badan pembuat kebijakan di Eropa memiliki pemahaman yang mendalam dan berlapis tentang warisan konflik Balkan terhadap tren perdagangan senjata di Eropa.

Makanya, dalam upaya mengurangi atau mencegah adanya perdagangan ilegal, membutuhkan respons segera dalam jangka pendek dan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.

Menurut kajian beberapa pakar dari GI-TOC, Perdagangan Senjata Ilegal kemungkinan bersifat multifaset: perdagangan skala kecil ke kejahatan terorganisir Eropa, dan perdagangan volume yang lebih besar ditujukan ke wilayah lain (Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, Asia Tengah), bisa menjadi aktor-aktor konflik baru yang berlangsung di kawasan tersebut.

Singkat cerita, berakhirnya konflik bersenjata Rusia-Ukraina,  Transnational Organized Crime atau Kejahatan Terorganisir Lintas Negara, akan menata ulang lanskap atau lokus mereka beroperasi saat ini, ke wilayah di luar zona konflik Ukraina-Rusia, baik di Eropa maupun kawasan-kawasan lainnya.

Gambar pistol dan senapan dari OP Olympique

Siaran Pers yang dirilis UNODC (Kantor PBB Urusan Narkoba Kejahatan) pada 18 Juli 2025 lalu kiranya sangat penting mengingat lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dibentuk sejak 1997 lalu itu, menangani pelbagai ancaman narkoba, kejahatan terorganisir, korupsi, dan terorisme global. Dalam siaran persnya itu, UNODC menyatakan: “Perang tidak hanya menimbulkan penderitaan yang tak terhitung jumlahnya bagi rakyat Ukraina, tetapi juga memicu evolusi yang signifikan dalam kejahatan terorganisir – yang dapat berdampak besar pada perjalanan negara menuju pemulihan dan rekonstruksi,” kata Angela Me, Kepala Penelitian dan Analisis di UNODC.

Lebih lanjut Siaran Pers UNODC tersebut menyatakan, “meskipun tidak ada bukti yang menunjukkan perdagangan senjata skala besar di luar Ukraina, laporan ini menyoroti pentingnya pemantauan mengingat banyaknya senjata yang tersedia, serta keberadaan aktor kriminal yang berspesialisasi dalam perdagangan senjata.”

Melalui pernyataan tersebut tersirat UNODC memahami betul adanya peran yang intens dari kelompok-kelompok kejahatan terorganisir dalam perdagangan senjata ilegal.

Baca:

The trade in illegal firearms and explosives

Kekhawatiran semacam ini sebetulanya cukup beralasan. Bahkan sejak tahun 2022, saat konflik bersenjata Ukraina-Rusia masih pada fase-fase awal, Uni Eropa sendiri sangat khawatir mengenai kemungkinan penyelundupan senjata dari Ukraina. Yang menjadi inti kekhwatiran mereka adalah terhadap kemungkinan penyelundupan senjata, yang sebagian besar dipasok oleh anggota NATO, keluar dari Ukraina dan berakhir di tangan geng kriminal. Sehingga muncul kekhawatiran bahwa penyelundupan senjata tersebut akan memicu meningkatnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh jaringan kriminal di negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa.

Sumber utama senjata ilegal adalah:

  • pengaktifan kembali senjata yang telah dinetralisir;
  • Pencurian dan perampokan;
  • penggelapan senjata legal;
  • penjualan senjata legal di pasar ilegal, termasuk Darknet;
  • pengaktifan kembali senjata api militer atau kepolisian yang telah dinonaktifkan;

Perdagangan senjata hampir secara eksklusif merupakan sumber pendapatan tambahan dan bukan sumber pendapatan utama bagi sejumlah kecil kelompok kriminal terorganisir yang terlibat. Sebagian besar kelompok memasuki bisnis perdagangan senjata melalui aktivitas kriminal lainnya, yang mungkin menawarkan kontak, pengetahuan tentang rute yang ada, dan infrastruktur yang terkait dengan penyelundupan senjata.

Menurut laporan para pakar GI-TOC, perdagangan senjata ilegal tersebut pengirimannya menggunakan kapal kontainer menuju Turki, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Adapun di Eropa, kedatangan jenis senjata-senjata berskala berat ke tangan para kelompok kriminal, akan mengubah secara revolusioner dunia kejahatan Transnasional terorganisir.

Boleh jadi, kekhawatiran bakal adanya pengiriman senjata secara ilegal dari zona konflik Ukraina-Rusia ke Eropa, sebenarnya hal itu buah dari perilaku negara-negara Eropa ketika memasok bantuan senjata ke Ukraina lewat  pembelian senjata dari “pasar gelap/black market.”  Pasokan senjata canggih Barat ke Ukraina masuk ke pasar gelap dan kemudian jatuh ke tangan kelompok ekstremis dan kriminal di Timur Tengah, Afrika Tengah, dan Asia.

Negara-negara yang tergabung dalam NATO secara total telah mengirimkan setidaknya 700 sistem artileri, 80.000 sistem rudal, 800.000 peluru artileri, dan 90 juta butir amunisi.

Masalah krusialnya adalah, ketika senjata-senjata canggih itu masuk ke pasar gelap, muatan militer NATO tersebut beralih ke tangan teroris, ekstremis, dan kelompok kriminal di Timur Tengah, Afrika tengah, dan Asia Tenggara.

Illegal weapons smuggling will 'feed into violence in the criminal networks in European Union' <a target="_blank">(Photo: Maja Zlatevska, Dnevnik)</a>

Pertanyaan pentingnya adalah, bagaimana penyelundupan senjata ke Eropa itu dilakukan? Salah satu rute utama sebelum senjata-senjata itu pasar gelap di Eropa adalah lewat Jalur Polandia Selatan. Juga melibatkan infrastruktur transit menuju Romania, Polandia, dan Slovakia. Adapun Moldova merupakan pusat pemberangkatan pengiriman senjata ilegal. Bahkan saat ini termasuk Finlandia. Namun pusat penghubung penyelundupan senjata diantur di Balkan.

Jalur laut juga digunakan untuk penyelundupan senjata. Dari Pelabuhan Odesa di Ukraina, menuju Bulgaria, Turki, Montenegro, negara-negara di kawasan Afrika, lalu Timur Tengah.

Jual-beli senjata-senjata buatan Barat memang merupakan bisnis yang menggiurkan sampai sekarang yang omzetnya mencapai miliaran dolar AS setiap bulannya. Sementara anak-anak muda yang ikut berperang tewas mengenaskan, para broker senjata dari kelompok-kelompok kejahatan terorganisir yang mengendalikan proses jual-beli senjata ilegal tersebut, malah semakin kaya raya. Kelompok-kelompok kriminal terorganisir yang berlingkup lintas negara itu, juga melibatkan para pejabat pemerintah yang bersedia kerja sama dengan dunia kejahatan karena bersedia disuap. Kolaborasi antara Struktur kejahatan, para pejabat yang kena suap dan sindikat internasional yang diikat oleh keuntungan menggiurkan dari jual-beli senjata ilegal.

Antara Januari-April 2025 lalu, 2100 unit senjata, terutama senjata ringan dan sistem rudal anti-tank, berhasil disita oleh badan penegak hukum Ukraina, ketika senjata-senjata itu mencoba diselundupkan secara ilegal dari Ukraina ke negara-negara Eropa.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com