Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto
Ketegangan di kawasan Teluk Persia menempatkan Selat Hormuz sebagai panggung utama geopolitik global. Jalur laut sempit (choke point) ini merupakan lintasan kapal tanker dan salah satu arteri energi global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Setiap gangguan di sini hampir pasti memicu efek domino pada harga energi dan perekonomian global, inflasi berantai, hingga stabilitas ekonomi global dan lainnya. Ya, Iran telah memblokade Selat Hormuz sebagai bagian dari persenjataannya. “Senjata” ini ampuh menyentak perekonomian Arab Saudi, Bahrain, UEA, Qatar, dan Oman. Arab Saudi, misalnya, 80-90 persen ekspor minyaknya melalui selat ini. Demikian juga dengan ekspor LNG dari Qatar.
Dalam situasi memanas, pemerintahan Donald Trump berupaya meminta dukungan anggota NATO. Tujuannya untuk mendobrak blokade oleh Iran, memastikan jalur pelayaran aman dan tetap terbuka. Maka Washington pun meminta sekutu-sekutunya terlibat dalam upaya pengamanan jalur tersebut (baca artikel kami sebelumnya berjudul “Pendaratan Marinir dan Pasukan Amfibi ke Iran: Antara Kepanikan Politik Amerika dan Risiko Militer di Selat Hormuz”). Akan tetapi, Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol, dan Belanda menolak diajak terlibat perang. Risiko lebih besar dari manfaatnya. Mereka melihat, keterlibatan mereka akan memperluas perang. Padahal ini bukan perang mereka. Trump menyahuti, kita tidak membutuhkan pertolongan siapapun. Dan Trump tidak bisa mengelak tudingan negara bonekanya di Teluk bahwa kebijakan perang Gedung Putih adalah penyebab chaos -nya perekonomian mereka, cemasnya masyarakat dan pertumbuhan ekonomi global.
Respons penolakan itu justru memperlihatkan dinamika baru. Solidaritas sekutu NATO mencair. Mereka memilih berhati-hati, wait and see. Spanyol yang memulai ketegasan menolak. Tidak terbangun komitmen bersama pada rencana invasi militer yang menerjunkan marinir dan pasukan amfibi di kawasan Teluk. Sikap ini bukan semata soal solidaritas aliansi, melainkan refleksi dari sebuah manajemen risiko yang jauh lebih kompleks. Potensi eskalasi regional, misalnya, atau dampak ekonomi global, risiko militer yang tinggi, serta konsekuensi politik domestik. Hal terpenting, Trump tidak pernah membicarakan rencana serangannya ke Iran. Dan sebelumnya mereka juga merasa tidak dihargai dalam persoalan Greenland, Kanada, dan penyerahan masalah Ukraina kepada Eropa. Paul Krugman menulis, AS tidak dihargai. Tapi dari turbulensi ini, justru terlihat langkah cerdas-strategis Bangsa Arya (Iran) dalam permainan “catur geopolitik” di kawasan.
Selat Hormuz Menjadi Papan Tekan
Selama puluhan tahun, kekuatan Angkatan Laut Amerika dianggap superior dan menjadi jaminan utama keamanan jalur laut internasional. Faktanya: anggapan itu tidak berlaku bagi Selat Hormuz. Karakteristiknya alami lagi unik: perairannya sempit, lalu lintas padat, dan sebagian besar wilayah berada dalam jangkauan langsung sistem pertahanan pesisir Iran. Mata telanjang dapat mengindentifikasi tanker apa dan siapa yang sedang melintas. Kehadiran pasukan marinir dan amfibi dengan segenap alat tempurnya pun mudah diketahui.
Dalam konteks ini, Teheran tidak perlu mengalahkan armada laut terbesar dunia. Ia cukup menciptakan ketidakpastian, perang panjang dan mahal. Alhasil, turbulensi terjadi dan semuanya terkena dampak. Inilah salah satu ciri perang atrisi (attrition warfare) yang dikembangkan oleh militer Iran. Perang seperti menguras sumber daya lawan hingga tak mampu meneruskan peperangan. Melalui kombinasi serangan drone, rudal pesisir, kapal cepat, kapal selam kecil, hingga ranjau laut, — Iran mengembangkan secara cerdas doktrin perang asimetris maritim. Strateginya sederhana namun efektif: memperbesar risiko operasi militer lawan hingga biaya politik dan ekonomi menjadi sangat mahal serta melelahkan. Dalam bahasa vulgarnya kira-kira begini, “Anda boleh menang, tapi Anda bakal bangkrut!” Tapi, serangan AS juga tidak berhenti. Pimpinan intelejen tewas dan instalasi gas terbesar di dunia milik Iran digempur. Sementara Israel menutup-nutupi kehancuran Tel Aviv dan simpang siur keberadaan Netanyahu.
Dari kemelut perang itu, maka setiap rencana operasi militer di kawasan tersebut selalu dihadapkan pada pertanyaan berulang dan berulang, “Apakah biaya dan risiko eskalasi akan sebanding dengan manfaat strategisnya?” Ini gugatan logis. Mereka juga tidak mau tercatat sebagai negara yang ikut melakukan kejahatan kemanusiaan dengan menyerang negara yang mempertahankan kedaulatannya. Sikap ini menunjukkan perbedaan moralitas global AS dengan mitranya di Eropa. Inilah yang kami sebut sejak awal hegemoni Barat luruh, legitimasinya retak.
Situasi psiko-sosial dan moral semacam itu menunjukkan AS masih kuat secara militer tapi erosi semangat berperang terus menjalar. Dirudalnya sekolahan Iran oleh AS yang menimbulkan korban direnggutnya 167 anak-anak jiwa, memantik simpati publik di saat masyarakat sipil Iran tidak gentar sama sekali dengan ancaman Trump. Dunia mencibir kepada Trump dan Netanyahu. Dalam dunia yang serba terbuka ini, terlintas di benak masyarakat dunia bagaimana kejam dan haus darahnya Trump dan Netanyahu. Ini bentuk kejahatan kemanusiaan yang prima.
Diplomasi Energi sebagai Senjata
Langkah yang lebih menarik muncul dari dimensi ekonomi. Dalam berbagai diskursus geopolitik, Iran beberapa kali memberi sinyal kemungkinan membuka kembali jalur pelayaran sempit itu. Mekanismenya berbeda dari praktik lama, yakni boleh melintas kecuali kapal-kapal AS dan sekutu. Opsi penggunaan mata uang Yuan pun disodorkan. Selain itu, negara yang menutup kedubes AS dan mengusir dubes AS akan diijinkan melewati Hormuz. Paduan ekonomi politik, perang diplomasi dan perang militer berpola menjadi satu. Jelas, Selat Hormuz itu sendiri sudah menjadi senjata (weaponization geography). Iran telah membuat serangan AS-Israel justru menjadi beban finansial, militer dan psikologis bagi AS sendiri. Publik domestik pun mengalami kelelahan karena ketegangan-ketegangan yang dibuat elit politik dan keuangan sejak awal abad ke-21 hingga kini. Mereka mengalami sindrom perang Irak dan Afghanistan yang tidak membawa manfaat bagi masyarakat. Iran mengoptimalkan kondisi AS yang demikian walau berdampak AS akan semakin sengit menunjukkan keangkuhannya. Namun, ini juga cara AS menunda keberlakukan mata uang BRICS. Dan andaikata strategi Eurasi berlangsung dengan local current transaction atau mata uang BRICS berlaku, maka 70 persen perekonomian dunia berada di tangan beberapa negara. Ini melepas penuh pemakaian dolar AS. Green back akan loyo. Swift code ditinggalkan.
Strategi semacam ini berimplikasi tidak hanya soal konflik regional. Ia berpotensi menyentuh struktur sistem keuangan global yang selama puluhan tahun didominasi dolar AS. Tak boleh dipungkiri, ini adalah bagian dedolarisasi, strategi yang tengah dijalankan oleh BRICS. Maka banyak kalangan analisis melihat, salah satu tujuan AS menyerang Venezuela dan Iran adalah menurunkan daya tawar China dan memaksa China menerima kemauan AS. China bukan saja menolak, bahkan menganggap tekanan Washington merupakan tantangan non-militer. Sikap AS terhadap China memang berpengaruh. Buktinya pertumbuhan ekonomi China turun menjadi berkisar 4,5 persen. Namun, Beijing tetap tegak menolak setiap dikte Washington. Sementara paksaan AS pada Rusia dalam perang Rusia-Ukraina ditolak Putin. Dunia memang sedang memperoleh bukti empiris dari perilaku ekonomi politik AS dan Israel yang multiple suitable standard. Sejarah membuktikan, betapa sulitnya memegang komitmen mereka.
Jadi, selain soal minyak, perang AS di bawah Panglima Perang Trump juga tentang upaya meningkatkan dan memperluas daya tawar AS untuk mengembalikan kedigdayaan dolar AS. Energi, teknologi dan industri militer menjadi sarananya. Strategi AS dari memainkan persepsi manusia untuk percaya pada dolar AS terus berlanjut ke sektor-sektor riel hingga ke pembentukan narasi. Jika ini berhasil, AS akan kembali dipercaya. Karena narasi membentuk persepsi. Dan persepsi yang kokoh berbuah kepercayaan. Begitulah sirkulasi sederhana perang militer ke perang non-militer lalu kembali lagi ke perang militer. Siklus Glory (perang), Gold (dagang), Gospel (narasi-persepsi-kepercayaan-keyakinan) memang berulang. Ini bukti empiris bahwa perang saat ini adalah perang peradaban.
Dilema Pentagon
Bagi Pentagon, situasi perang seperti sekarang ini telah menciptakan dilema strategis. AS memang tetap memiliki kekuatan militer yang besar di kawasan Teluk, termasuk armada yang beroperasi di Teluk Persia. Namun, untuk operasi militer di Selat Hormuz bukan sekadar soal superioritas teknologi, terdapat variabel lain tak kalah penting yang mutlak harus dikalkulasi secara cermat. Setiap langkah agresif berisiko memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah — kawasan yang sarat ketegangan geopolitik. Risiko yang sulit dikalkulasi ini sekaligus menunjukkan rendahnya tingkat kepastian iklim ekopol. Ini identik dengan gelapnya kehidupan karena manusia telah memilih jalan yang sesat lagi menipu.
Di sisi lain, apabila tekanan terhadap Iran tidak menghasilkan perubahan nyata di lapangan, maka kredibilitas strategi dan superioritas superpower ikut dipertaruhkan. Iran sendiri siap menabur ranjat laut dan kekuatan militernya. Agaknya, 5000 marinir dan pasukan amfibi AS akan berhadapan dengan bukan cuma perang persenjataan dengan segala strategi militer, juga akan muncul strategi lain. Padahal perang membutuhkan ketangguhan pemimpin, kekuatan militer, dan dukungan masyarakat dengan narasi yang membangkitkan semangat juang.
Permainan Catur Belum Usai
Di titik inilah, ketegangan di Selat Hormuz tampak lebih menyerupai permainan catur geopolitik tingkat tinggi daripada konfrontasi militer langsung. Setiap langkah dihitung bukan hanya dari aspek militer, tetapi juga dampaknya terhadap ekonomi global, stabilitas energi, dan keseimbangan kekuatan internasional. Bagi mereka yang membebaskan diri dari nafsu serakah, jujur, dan rendah hati, serta memiliki keyakinan bahwa di atas manusia ada kekuasaan yang mengatasi jauh lebih tinggi, jalan kehidupan tetap memberikan titik terang dan melapangkan.
Maka keimanan dan kohesi masyarakat Iran membuka jalan. Bangsa Arya ini memanfaatkan geografi sebagai leverage strategis. Sedangkan AS berusaha menjaga reputasi militernya dan menunjukan kemampuannya mengamankan jalur sempit Hormuz. Sementara negara-negara lain —termasuk sekutu Amerika— memilih menunggu sambil menghitung konsekuensi dari setiap kemungkinan eskalasi. Dengan kata lain, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya Selat Hormuz. Ini pertarungan siapa yang mampu mengendalikan ritme nada konflik, dan siapa yang terpaksa mengikuti permainan lawannya. Inilah perang asimetris, induk dari pertempuran atrisi. Tujuannya menguras tenaga, persediaan, dan kemampuan perang sehingga secara perlahan lawan mundur, sebagaimana peristiwa mundurnya AS di Afghanistan dan Irak.
Biasanya perang seperi ini memakan tempo agak lama. Strategi perang atrisi akan menekan moral publik, mengganggu stabilitas politik, dan kapasitas ekonomi lawan hingga jenuh berperang. Kalau pun perang militernya berlangsung lama, maka biasanya disertai dengan perang non-militer. Ini soal duit rakyat yang digunakan untuk industri militer, perang, dan membunuh dengan alasan subjektif.
Kini, perang asimetris itu masih berlangsung. Dan seperti dalam permainan catur, satu langkah kecil di papan sempit bisa menentukan arah seluruh pertandingan.
Penutup: Siapa Menulis Aturan Baru
Apa yang tengah berlangsung di Selat Hormuz bukan sekadar ketegangan militer regional. Ia mencerminkan pergeseran yang lebih kompleks dalam tata kekuatan global. Dalam lanskap geopolitik abad ke-21, superioritas militer tidak otomatis menjamin kemampuan mengendalikan dinamika konflik, terlebih ketika ia berhadapan dengan strategi asimetris yang memanfaatkan geografi, ekonomi energi, dan manajemen risiko.
Bagi Iran, mendayagunakan Selat Hormuz adalah bentuk leverage geopolitik yang nilainya melampaui ukuran kekuatan militernya sendiri. Sementara bagi Amerika, kawasan ini menjadi ujian terhadap reputasi dan kredibilitas lama sebagai penjamin keamanan jalur perdagangan global, sebuah peran yang selama beberapa dekade menjadi fondasi pengaruh globalnya.
Namun, sejarah geopolitik mengajarkan satu hal penting: kekuatan besar yang kerap tidak terkalahkan secara langsung di medan perang, ia dipaksa menghadapi biaya strategis yang terus meningkat hingga keunggulan militernya kehilangan efektivitas. Dalam konteks inilah, permainan catur di Teluk Persia menjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar demonstrasi kekuatan angkatan laut.
Bila ketegangan ini terus berlanjut, dunia mungkin sedang menyaksikan bukan hanya konflik regional, melainkan proses negosiasi diam-diam tentang tatanan kekuatan global yang baru — di mana jalur energi, mata uang perdagangan, dan aliansi strategis menjadi bidak-bidak utama di atas papan geopolitik. Pergeseran bidak-bidak itu menandakan tata dunia lama sudah pudar dan Trump adalah representasi tekad penuh semangat melanjutkan tata global berbasis materialisme-munafik, keserakahan, dan keangkuhan. Trump dan kalangan kecil AS masih berpikir bahwa AS masih tetap prima, tentu karena mereka merasa bahwa perdamaian dapat dipaksa melalui kekuatan militer dan keuangan. Padahal narasi moralnya tidak lagi dipercaya, dan sekutunya memperhitungkan nihilnya nilai-nilai kemanusiaan dan manfaatnya berperang sambil berusaha menyelamatkan bangsanya sendiri. Publik global juga menolak dan tidak bersedia menanggung kerugian akibat perang di saat yang menangguk keuntungan hanya segelintir elit global.
Maka, pertanyaan paling mendasar bukan lagi siapa yang mampu membuka atau menutup Selat Hormuz, tetapi siapa yang sebenarnya sedang menulis aturan permainan baru dalam geopolitik dan masyarakat menerimanya. Siapa yang mampu membangun kohesi ekonomi-politik global yang memberi jalan bagi benderangnya kehidupan yang sejahtera, damai, dan adil bagi sesama manusia.