Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
Dalam eskalasi perang Teluk 2026, Iran membaca realitas dengan dingin: bertarung lurus secara simetris melawan Amerika Serikat (AS), Israel dan sekutunya ialah permainan yang hampir pasti kalah. Nyaris “bunuh diri massal.” Anggaran militer AS berada di kisaran USD 850 – 900 miliar per tahun, terbesar di muka bumi, sedangkan anggaran pertahanan Iran hanya USD 20 – 25 miliar. Kesenjangan hampir 40 banding 1, hal ini membuat strategi konvensional tidak akan relevan. Kesenjangan lainnya, Amerika, Israel dan Sekutu (AMIS) memiliki nuklir. Iran belum terbukti mempunyai senjata nuklir. Tapi Iran mengumumkan bahwa tersedia 5000 rudal antar benua, dan siap menargetkan New York dan Washington.
Namun, Teheran tidak ingin adu kekuatan total. Bangsa Arya ini memainkan perang asimetris (asymmetric warfare) sebagai strategi. Secara taktis, ia memilih adu ketahanan daripada kekuatan. Adu ketahanan tidak hanya di satu arena, namun lima (arena) papan catur yang dijalankan secara bersamaan. Tiap-tiap papan memainkan logika berbeda, tapi tujuan sama: menguras tanpa harus menghancurkan. Ini yang kerap disebut dengan istilah attrition war alias perang atrisi. Lebih buruk lagi, menguras semangat dan daya tempur pasukan yang berwujud meragukan tujuan kebaikan dan kebenaran akan perang. Mereka teringat akan perang Vietnam, perang Afghanistan dan perang Irak.
Apa saja lima arena/papan catur tersebut?
Papan I: Proxy War — Biaya Kecil, Tekanan Besar
Iran jarang menyerang langsung ke target lawan kecuali diserang. Ia bermain lewat jaringan sekutu non-negara. Di Yaman, misalnya, kelompok Houthi mampu meluncurkan drone dengan biaya sekitar USD 20.000 – 50.000 per unit. Untuk menjatuhkannya, kapal perang AS bisa menghabiskan USD 1- 4 juta per rudal pencegat. Artinya, satu serangan sederhana bisa memaksa pengeluaran AS hingga 100 kali lipat.
Di Lebanon, Hizbullah diperkirakan memiliki lebih dari 100.000 – 150.000 roket dan misil. Tidak semuanya presisi tinggi, tetapi volumenya cukup untuk membanjiri sistem pertahanan seperti Iron Dome punya Israel, yang biaya intersepsinya sekitar USD 40.000 – 100.000 per roket.
Di Irak dan Suriah, serangan roket dan drone skala kecil terjadi berulang, terkadang hanya menimbulkan kerusakan terbatas, tetapi frekuensinya menciptakan tekanan konstan. Jika terjadi 2 – 3 insiden per minggu, dalam setahun bisa lebih dari 100 gangguan operasional.
Akumulasi kecil inilah yang mendominasi titik tekan strategi: bukan menghancurkan, tapi melelahkan. Lalu mereka berpikir besarnya biaya perang. Saat yang sama terpikir, siapa yang sesungguhnya menikmati biaya besar itu. Lalu beredar rumor bahwa Eric Trump dan Jared Kushner menikmati banyak keuntungan atas pengadaan alutsista.
Papan II: Senjata Murah, Dampak Eksponensial
Iran memaksimalkan rasio biaya vs dampak. Drone seperti Shahed harganya hanya puluhan ribu dolar, sementara sistem pertahanan udara canggih bernilai jutaan per tembakan. Dalam satu gelombang serangan berisi 20 drone, biaya produksi mungkin hanya USD 400.000. Tapi untuk menangkisnya bisa menghabiskan USD 40 – 80 juta.
Di perairan, speedboat bermuatan bahan peledak dengan nilai sekitar USD 200.000 – 500.000 berpotensi merusak kapal bernilai USD 1 – 2 miliar. Bahkan jika hanya menyebabkan kerusakan parsial, biaya perbaikan bisa mencapai ratusan juta dolar.
Di ranah siber, satu serangan yang berhasil bisa melumpuhkan fasilitas energi dengan kerugian USD 50 – 100 juta per hari. Biaya operasinya? Bisa jauh di bawah USD 1 juta. Ini bukan sekadar perang teknologi, tapi perang efisiensi ekstrem.
Di udara, F35, F15, B-52 AMIS yang harganya selangit dijatuhkan oleh rudal Iran yang biayanya murah.
Papan III: Lawfare — Menggerus Legitimasi
Iran aktif di jalur diplomasi dan hukum internasional. Setiap resolusi, gugatan, atau pernyataan publik dirancang untuk membangun narasi: bahwa mereka adalah pihak yang diserang, disanksi dan ditekan. Dalam forum global, dukungan dari puluhan negara berkembang bisa menciptakan tekanan politik yang tidak langsung, tetapi signifikan.
Dampaknya tidak terlihat dalam bentuk ledakan, tetapi turunnya dukungan internasional, contohnya, atau meningkatnya kritik terhadap kebijakan AS, ataupun tekanan politik domestik. Dalam konflik modern, kehilangan legitimasi nilainya sama dengan kehilangan medan tempur. Ejekan terbuka atau tertutup meluncur buat Trump, dan vonis pembunuh kemanusiaan dijatuhkan ke Netanyahu. Dua pemimpin yang kehilangan dukungan global basis moralitas.
Papan IV: Selat Hormuz – Daya Ungkit Global
Selat Hormuz hanya selebar sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya, tetapi dilalui hampir 20 persen pasokan minyak dunia — sekitar 17 – 20 juta barel per hari. Jika terjadi gangguan serius, harga minyak bisa melonjak dari misalnya USD 80 per barel menjadi di atas USD 120, bahkan lebih dalam skenario ekstrem. Kenaikan USD 40 per barel saja bisa mendorong inflasi global naik beberapa persen, berdampak langsung pada biaya hidup di pelbagai belahan dunia.
Iran tidak perlu benar-benar menutup selat tersebut. Cukup melalui ancaman saja sudah cukup menciptakan volatilitas pasar bernilai ratusan miliar dolar. Hasilnya, dunia menuding problem ketidakpastian global dan menurunnya perekonomian disebabkan oleh Trump dan Netanyahu. Sebagai penyebab, dua manusia ini kesulitan memutuskan hal yang terbaik bagi masyarakat AS dan warga Israel. Menepuk air di dulang, memercik ke muka sendiri.
Papan V: Ekonomi Bayangan — Bertahan di Bawah Tekanan
Meski disanksi, Iran tetap mampu mengekspor minyak secara tidak resmi. Produksi minyaknya berkisar 2,5 hingga 3 juta barel per hari, dan sebagian besar tetap menemukan pasar dengan diskon 20 – 30 persen. Dengan harga rata-rata USD 60 – 70 per barel, pendapatan tahunan bisa tetap mencapai USD 40 – 60 miliar. Iran tetap mampu memberikan jaminan pasokan kendati mata rantai pasokan terganggu.
Mereka juga mengoperasikan ratusan tanker dalam “shadow fleet”, mematikan transponder, berpindah muatan di laut, dan menggunakan jalur pembayaran non-dolar. Sulit dilacak oleh AS. Sanksi memang tidak nol efek — tapi juga tak mematikan. Iran tetap bernapas, cukup untuk melanjutkan permainan panjang. Karena itu AMIS menyasar ke industri minyak Iran.
Benang Merah: Menguras, Bukan Menghancurkan
Jika dijumlahkan, strategi ini menciptakan tekanan multidimensi: biaya pertahanan lawan bisa membengkak puluhan hingga ratusan juta dolar per bulan. Ada yang menghitung bahwa AMIS mengeluarkan biaya perang perhari sekitar USD 1,8 hingga 2 miliar per hari. Sulit diingkari bahwa gangguan operasional pun terjadi ratusan kali dalam setahun disebabkan perang siber pun terjadi. Lalu risiko ekonomi global menggantung hingga triliunan dolar, dan tekanan politik domestik perlahan meningkat dan meningkat.
Nah, melalui kelima papan catur asimetris di atas, Iran memang tidak mencari kemenangan spektakuler. Ia menciptakan situasi di mana setiap hari ada biaya, setiap minggu ada gangguan, dan setiap bulan ada akumulasi kelelahan bagi lawannya. Iran merendah tapi menunjukkan sikap tangguh, teguh, dan teduh. Lihat gagalnya pertemuan kedua di Islamabad. Di sana Iran menunjukkan bahwa penentu negosiasi gencatan bukan AMIS dan Pakistan, tapi Iran. Dunia mendapat pembelajar mahal bahkan sangat mahal. Pengabaian pembelajaran ini adalah kebodohan. Maka China, Korea Utara dan Rusia mempelajari perang ini pada setiap sisi dan dimensi. Ini menunjukkan, hegemoni AS memang akan beralih. Pola multipolar baru akan menemukan bentuknya bahwa dunia tidak bisa didikte dengan kekerasan militer keuangan dan teknologi yang berujung pada penindasan dan penghinaan nilai-nilai kemanusiaan.
Penutup: “Menarik Diri dari Peperangan”
Inilah wajah perang modern. Bukan lagi soal siapa yang paling kuat memukul, tetapi siapa yang paling lama mampu bertahan sambil membuat lawannya terus berdarah — sedikit demi sedikit.
Tak bisa dipungkiri, Bangsa Arya tengah memainkan strategi “seribu sayatan”. Setiap luka kecil mungkin tidak mematikan, tetapi jika terjadi terus-menerus, pedihnya gak ketulungan, bahkan raksasa pun bisa goyah lalu tumbang.
Maka, saat biaya perang tak lagi bisa dijustifikasi oleh hasil, manakala publik domestik mulai mempertanyakan bahkan mendesak ke mana uang pajak mereka mengalir. Di situlah permainan berubah arah. Bukan karena satu kemenangan besar. Amerika nantinya cenderung memilih menarik diri dari peperangan sebagaimana pernah ia lakukan dalam Perang Vietnam (1965 – 1975), perang Irak, dan Perang Afghanistan (2001 – 2021). Siapa mempermalukan suatu bangsa, dia akan dipermalukan. Siapa menghina, dia akan dihina. Siapa menyerang, maka akan diserang. Siapa menindas, ia akan ditindas. Dunia pasti tegak dalam keseimbangan.