Kandungan minyak di laut Kaspia 32 miliar barel sebenarnya potensial menjadi Timur Tengah baru dalam telaah geopolitik negara-negara adikuasa.
Sehingga jadi papan catur geopolitik yang melibatkan Amerika, Rusia dan Cina. Inilah papan catur geopolitik tidak kasatmata yang luput dari lampu sorot media massa di tengah gemuruh saling berbalas rudal antara AS-Iran sejak.akhir minggu lalu.
Motivasi AS untuk melemahkan Cina lewat serangan ke Iran boleh jadi merupakan salah satu pertimbangan strategisnya.
Cuma ya itu tadi. Kalau dalam skema melumpuhkan Cina di wilayah perairan laut Trans-Kaspia menggunakan Iran sebagai kuda Troya, bisa terperosok dalam rawa rawa politik di Iran yang mereka tak kuasai betul setting sejarah dan geografis Iran.
Jika Iran mampu bertahan dan punya daya tahan menghadapi operasi udara maupun darat yang dilancarkan AS-Israel, segala kemungkinan tak terduga bisa terjadi.

Negara negara pesisir yang berada dalam lintasan wilayah Laut Trans-Kaspia seperti Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan dari kawasan Asia Tengah, Azerbaijan dari Kaukasus Selatan, sama tidak nyamannya dengan negara negara Dewan Kerja Sama Teluk (Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman dan Yordania) yang berada di kawasan Timur Tengah.
Dengan begitu regionalisasi kedua kawasan ini akan menciptakan instabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Apalagi ketika regionalisasi pergolakan dan kecamuk di Asia Tengah dan Timur Tengah pada gilirannya akan memicu perang saudara di internal kedua kawasan tersebut.
Azerbaijan misalnya, berbatasan dengan Iran utara dan Rusia Selatan. Provinsi Cina, Xinjiang, berbatasan langsung dengan sebelah Timur Laut Kaspia, dan berbatasan dengan beberapa negara Asia Tengah yang merupakan negara-negara pesisir di lintasan Laut Kaspia.
Dalam kofigurasi geografis ketika wilayah Laut Trans-Kaspia yang merupakan daerah jantung atau heartland yang menghubungkan Eropa dan Asia kemudian bergejolak dan berkecamuk, skenario AS untuk aksi destabilisasi terhadap Cina malah jadi bumerang.
Maka jika Iran mampu bertahan, meski tidak dalam posisi mengungguli Amerika, operasi politik militer Amerika-Israel akan mengalami komplikasi. Gerak maju terbendung, menarik mundur pasukan sama mustahilnya karena sama saja mengakui operasi gagal total. Skenario jalan buntu?
Pada akhirnya, tetap saja perundingan melalui sarana diplomasi menjadi sarana penyelesaian yang paling masuk akal.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)