Sebuah pratinjau pertunjukan oleh Giri Basuki
Hari itu, Nada, cucu pertama Presiden ulang tahun ke-3.
Terlihat Sang Presiden sedang menata kado di atas rak, di atas meja, di atas kursi juga menumpuk dan beberapa kado-kado yang masih terhampar dilantai.
Ruangan itu dipenuhi kado hadiah ulang tahun dan masih terkesan semrawut. Tak terlihat satu kadopun yang terkesan mahal, semuanya mainan anak-anak kampung.
Perayaan ulang tahun Nada sengaja dirayakan dirumah, dengan dekorasi alakadarnya, bahkan untuk menyewa badut penghibur anak-anak, Sang Presidenpun menolak, memilih untuk memerankan sendiri sebagai badut.
Dengan membelakangi penonton, sambil menendangkan seriosa sekenanya, tak sengaja kaki Sang Presiden menginjak buaya mainan anak-anak yang berbunyi seperti rengekan bayi. “ Oooweeekk!” Seketika Sang Presiden kaget dan keluar kebiasaan latahnya. “ Korban… eh, korban….!” dan refleks gerakan kaki yang mencoba menghindar tapi malah menginjak mainan buaya yang lebih besar. “Oooweeekkk’ “ keluar lagi latahnya:’ Korban juga..aduh…apa sih ini? (Mengambil mainan yang terinjak itu,memperhatikan).
“ Ah, asem, bikin kaget saja kamu. Dasar Buaya. Buaya kok bunyinya seperti bayi. Untung tidak ada wartawan. Kalau ada mereka, saya pasti jadi bahan olok-olok. “ Presiden kok latah!”
WARNA DAN INTENSITAS CAHAYA LAMPU PANGGUNG BERUBAH. Monolog Megalomania berdurasi 45-50 menit dimulai.

————
Itulah penggalan adegan pembuka monolog Megolamania yang ditulis sekaligus dimainkan oleh Budi Ros. Ide penulisannya muncul pada tahun 2006, lalu ditulis ulang tahun 2020. Dan anehnya, setelah membaca naskahnya langsung terasa begitu relevan/kontektual sebagai sebuah potret zaman. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Barangkali salah satu jawabannya bisa kita bersandar pada argumentasi populer bahwa problem manusia dari zaman baheula hingga kini adalah sama, yang berubah hanya bajunya. Apabila kita mau mencari referensi yang sedikit mengakademis, dan berkaitan dengan tema naskah, saya kira bisa kita temukan pada buku Filosofi Teras (Hendry Manampiring). Saya kutipkan pada halaman xxii;
“Saya percaya banyak orang diluar sana yang hidup dengan kekwatiran. Mungkin tidak sampai depresi klinis, tetapi tetap saja kecemasan dan kekwatiran sehari-hari cukup merugikan”, juga pada halaman 122; “We suffer more in imagination than reality-Seneca (Letters). Kita menderita lebih di imajinasi kita daripada kenyataan.
Naskah ini mengeksplorasi kehidupan seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental, tercakup didalamnya: masalah pelarian dari kenyataan, kecemasan sosial, halusinasi hebat, depresi mayor dan gangguan psikologis lainnya. Dari sudut pandang lain, kita diingatkan juga akan The glass Menagerie–nya Tennessee Williams, Rumah Sakit Jiwa/RSJ nya N. Riantiarno, Nex to Normal drama musikalnya, Brian Yorkey & Tom Kitt,. Sedangkan pada naskah film kita menjumpainya pada film A Beautiful Mind (2001), Silver Linings Playbook (2012), Joker (2019) dan lain-lain.
Monolog dalam pengertian dunia teater, kita mengenalnya sebagai:
1. Bagian dari naskah, dimana seorang aktor berhenti berdialog dengan pemain lain dan berbicara dengan intonasi kuat kepada diri sendiri atau langsung kepada penonton,
2. Sebagai Pertunjukan Penuh. Sebuah pertunjukan drama utuh dimana seluruh cerita hanya dimainkan dan dibawakan oleh satu orang aktor saja dari awal hingga akhir.

Foto Karya Zulfan
Sepanjang sepengetahuan saya, yang pernah bertumbuh bersama dalam keluarga besar Teater Koma, Budi Ros memulai bergabung dengan Teater Koma dalam pentas lakon Opera Kecoa 1985. Dan catatan selanjutnya, Budi ros tidak pernah absen dalam pentas panggung naskah baru Teater Koma yang berdurasi panjang, dan sering ketiban rejeki untuk peran yang mengusung dialog-dialog panjang. Sedangkan kariernya mementaskan karya monolog sebagai Pertunjukan Penuh, ini kali debut keduanya. Pentas perdananya Budi Ros membawakan naskah berjudul: Doktor oh Doktor. Karya N. Riantiarno yang disutradara Ohan Adiputra.
Selain dunia teater jejak ekspresi kesenian Budi Ros bisa kita temukan pada dunia layar lebar.
Berikut ini filmografinya; Merah Putih 3 (Hati Merdeka) 2011, Paranoia 2021, Penyalin Cahaya 2021, The Big Four 2022, Ratu Adil 2024, Home Sweet Alone 2024 (Aktor Pendukung terbaik, festival film wartawan Indonesia), Air Mata Mualaf 2024, Pabrik Gula 2024 dan lain-lain.
Penghargaan penulisan naskah drama: Naskah Drama Festival Topeng Dewan Kesenian Jakarta 2005. Aku Versus Ayahku Dewan Kesenian Surabaya 2004, Naskah monolog Lugu Kayu Bakar mendapatkan penghargaan dalam rangka anti budaya korupsi Yogyakarta. Naskah drama Minyak Wangi Orang Mati mendapat penghargaan dari komunitas Salihara.
Kesungguhan bagi Budi Ros bukanlah sekedar angan-angan kosong, melainkan komitmen tanpa kompromi untuk membayar harga yang dibutuhkan. Ini adalah bahan bakar yang mendorong seseorang untuk terus melangkah, bahkan Ketika lelah datang menyapa.
Panggung monolog Megalomania nantinya dirancang dengan menempatkan set property/set dekor sebagai dekorasi panggung dengan menyertakan teknik multimedia guna menajamkan pesan yang akan disampaikan. Aktornya dilengkapi handproperty sebagai alat yang bisa digunakan untuk mendukung karakter.

Foto Karya Zulfan
Sebagai contoh mengenai pentingnya handproperty bagi seseorang aktor/aktris saya akan membawa imajinasi pembaca untuk masuk pada adegan monolog (berupa syair lagu yang didialogkan), dalam sebuah film drama musical Mamamia. Pada Scene The Winner Takes All. Dimana pada puncak adegan Meryl Streep memainkan selendang warna merah, dengan menguwel-uwelnya, lalu sambil berlari, selendang itu dimainkan seperti mengibarkan sebuah bendera bersamaan ketika emosi edegan bergerak memuncak. Sementara lawan bicaranya Pierce Brosnan adalah kontras dari ekspresi sebaliknya, (tanpa handproperty) yang sejak dari awal hanya merespon dengan sedikit gerakan yang diperlukan, selektif, cermat, sangat hati-hati dengan takaran yang pas agar tidak mengganggu lawan beraktingnya yang sedang menjadi fokus cerita. Pencapaian Pierce Brosnan ini seketika mengingatkan saya pada sosok Slamet Rahardjo dan Dedi Mizwar. Buat saya, kedua aktor kawakan kita ini selalu bisa memukau ketika tampil “bermonolog” tanpa handproperty. Hanya memainkan gesture kedua tangan, atau dengan body language-nya yang terkontrol serta tidak berlebihan. Kemampuan seperti ini dalam bermonolog hanya bisa tercipta, bukan saja karena bakat, tapi juga oleh karena jam terbang tinggi dan pengalaman pentas yang panjang.
Daya tarik monolog Megalomania lainnya menurut saya-terutama dari sudut seorang pemeran adalah selain karena naskahnya yang mengeksplorasi isu kesehatan mental, juga seumpama bisa “menaklukan “ naskah monolog dengan baik, hal ini merupakan sebuah tantangan dan impian paripurna bagi seorang aktor. Apalagi jika monolog itu sebuah naskah berdurasi panjang? Wah wah…terbayang sudah proses capek nya ketika latihan, ini berarti juga dibutuhkan adanya kemampuan daya ingat yang kuat untuk menghafal berlembar-lembar teks-teksnya. (Pada titik pijak ini saja, saya pernah mendengar cerita mengenai adanya seorang aktor yang terpaksa harus menolak atau “menyerah” sewaktu diminta memainkan sebuah monolog, dikarenakan oleh kemampuan daya ingatnya yang terbatas).
Selanjutnya memainkan sebuah monolog otomatis juga menuntut kondisi stamina tubuh yang prima, hal ini diperlukan untuk menjaga konsistensi volume suara/vocal dalam upaya membangun serta menjaga emosi agar sampai pada puncak emosi yang dikehendaki.
Seperti tulisan dibawah ini, sebuah notasi bagi pemain dalam naskah monolog Megalomania di babak akhir;
Sang Presiden itu histeris…bercampur aduk antara rasa takut, marah, kecewa dan entah apalagi, tumpah tindih dengan bunyi sirine yang semakin keras..bersaman massa diluar yang mulai bergerak….chaos…
Lalu…. Ah, kiranya akan lebih bijak apabila tulisan pratinjau/preview pementasan monolog Megalomania ini saya cukupkan sampai disini saja dan untuk mengetahui adegan selanjutnya silahkan para pembaca yang budiman sudilah kiranya menyaksikan sendiri lakon pentasnya yang akan di gelar minggu depan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Pasar Baru Jakarta, 16-17 Juli 2026 setiap pukul 20.00 W.I.B.
Semoga bisa bermanfaat. Sekian, terima kasih. Salam budaya.
Depok 10 Juli 2026