Membaca 2026: “Perilaku Geopolitik Penguasa Tanpa Moral”

Bagikan artikel ini

Ngobrol Bersama Ichsanuddin Noorsy tentang Kepemimpinan dan Masa Depan Geopolitik di Tebb-Six Coffee, Jak-Sel

“Invasi” Amerika (AS) ke Venezuela pada 3 Januari 2026 adalah realitas geopolitik tentang ketidakpastian struktural yang tengah disuguhkan sang superpower kepada dunia. Diculiknya Nicolas Maduro seperti juga ditangkapnya Moamer Khadafi dan Saddam Hosein model baru, menunjukkan siapa berani melawan AS, bencana sosial politik ekonomi pasti mendera.

Jelas DK PBB gagal menyanksi AS, walau publik global bereaksi sangat keras. Dan agaknya, tatanan lama yang berbasis hukum telah menjadi puing-puing masa lalu. Tapi tatanan baru belum sepenuhnya melembaga. Resolusi belum terjadi sehingga struktur baru masih dicari. Sepertinya, tahun 2026 ini, kita hidup di antara keduanya. Itulah: “geopolitik tanpa etika.” Liar dan buas.

Tatanan global bergeser, namun arahnya tidak jelas. Merujuk fenomena FLUX (fasting, liquid, unchartered, experiment) pascagelombang VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), maka inilah yang dinamai unchartered dalam FLUX. “Tak terpetakan. Menjalar kemana-mana.” Jika perilaku geopolitik global dulu ialah sistem yang berdasar hukum, kini cenderung sebagai arena improvisasi kekuasaan. Bahkan pameran kekuasaan dengan persenjataan. Semaunya sendiri berbasis ego dan kepentingan masing-masing entitas.

Munculnya Cina sebagai kekuatan baru yang mampu mengimbangi kekuatan Paman Sam, semakin menambah polarisasi politik dan ketegangan demokrasi. Di satu sisi, meskipun AS sudah telihat lelah di senja hegemoninya, tapi toch belum tergantikan oleh aktor manapun karena faktor situasional. Dolar AS, teknologi tinggi, dan militer menjadi sarana mendukung sikap sesuka-sukanya. Sisi lain, narasi optimistisnya terus mengaum. “America First; Make America Great Again alias MAGA” merupakan bukti kuatnya optimisme tersebut. Suatu optimisme bahwa tatanan dunia tetap dalam genggaman Amerika. Sekali lagi, AS masih menjadi aktor kunci.

“Ambisi besar, tapi belum utuh berdaya”. Itulah ilustrasi atas geliat Cina di panggung global. Kontrol politik yang ketat ala PKC dan ekonomi yang cenderung melambat di internal negeri bisa menciptakan risiko (negatif) yang bersifat kompleks dan strategis. Projek ambisius OBOR atau Belt and Road Initiative (BRI) memang relatif menjajikan Cina mengganti AS sebagai superpower. Tapi enggan untuk berkonflik langsung secara militer. Tanpa kesiapan yang benar-benar matang —ibarat bunga— Cina memang tidak rontok. Juga tidak mau layu sebelum berbuah total. Tapi Cina memperoleh pelajaran dari Crimea yang diambil Rusia dan Venezuela yang diinvasi AS. Maka tidak salah jika Cina mengambil kembali Taiwan, sebagai saudara yang telah lama pergi.

Sedangkan Rusia terjebak dalam simbol-simbol struktural yang dibuatnya sendiri. Lambang elang menengok ke kanan karena secara ras ia bagian dari Barat, menengok ke kiri sebab (geo) posisinya berada di Timur. Perang militer dan ekspansi ialah agenda lama yang mulai menggelincir ke masa lalu, digantikan model perang non militer yang terstruktur, sistematis dan masif. Celakanya, Beruang Merah justru terjebak pada peperangan (militer) jangka panjang yang tak kunjung usai dan tidak mampu dihentikannya karena faktor kondisional. Inilah jebakan struktural yang berpotensi menggerogoti negara. Terutama melemahkan kapasitas ekonomi, legitimasi, dan masa depan generasinya. Tapi Kremlin sadar, sepanjang serangannya tidak merugikan laboratorium biologi AS di Ukraina, Rusia cuma akan berhadapan dengan AS secara diplomatis. Tidak secara militer.

Apakah peperangan antara Israel – Palestina itu konflik abadi? Yang jelas, konflik itu merambah ke mana-mana atas nama solidaritas dan kemanusiaan. Hingga hari ini, timbul fragmentasi kekuasaan baik skala kecil, menengah, maupun skala global karena ketiadaan aktor dan kepemimpinan yang mampu merajut perdamaian di Timur Tengah. Tidak ada solusi yang bersifat instan. Dan konflik di manapun akan selalu menciptakan dan meninggalkan luka-luka sosial.

Mulailah dari diri sendiri, keluarga, saudara terdekat, sahabat dan seterusnya. Ketidakpastian global memunculkan kredo baru, bahwa dunia tidak lagi mengejar pertumbuhan ekonomi sebagai parameter keberhasilan. Kenapa demikian? Sebab, isu tentang inflasi tinggi, utang, demografi, dan fragmentasi perdagangan menjadikan ketahanan (dan kedaulatan) pangan dan energi serta keunggulan teknologi– sebagai tujuan utama.

Sementara nilai neoliberalisme bersama teori dan jargon-jargonnya dianggap gagal membangun peradaban yang berkeadilan. Ini bukan soal benar-salah, dan tidak berarti sosialisme, atau isme – isme lainnya menjadi alternatif pilihan, bukan! Tetapi, ini fenomena merupakan koreksi terhadap sistem pasar bebas yang rapuh dalam menghadapi krisis. Setiap negara bangsa memiliki pola dan pakem dalam mengelola (dan memelihara) kelangsungan hidupnya. Ke depan, bukan lagi soal slogan-slogan ideologis, melainkan kapasitas dan integritas birokrasi yang jujur, adil dan amanah dalam mengelola pasar masing-masing terutama pasar di dalam negeri sebagai prioritas, sebelum melangkah ke pasar global. Itulah ruh Pasal 33 ayat 1, 2 dan 3 pada UUD 1945 warisan Pendiri Bangsa.

Secara fisik, Artificial Intellegent (AI) memang relatif transformatif, namun tidak linier. Kerap terjadi spill over, bahkan di beberapa bidang justru kontra produktif. Contohnya, produktivitas meningkat pada satu sisi, namun tenaga kerja melemah di sisi lain – terjadi PHK. Lalu, pengangguran meningkat, atau ketimpangan melebar, daya beli menurun, dan lain-lain. Dunia kerja terbelah dalam dua kluster, antara kluster yang diperkuat oleh teknologi dan mereka yang terpinggirkan akibat kemajuan teknologi. Tantangan sekaligus jawabannya bagi pemerintahan manapun ialah mendidik dan melatih warganya agar mampu beradaptasi secara cepat, tepat dan benar.

Sejalan perubahan geopolitik yang tak terpetakan (unchartered), bahwa sistem lama seperti demokrasi, HAM, dan kebebasan pasar bukan lagi nilai yang bersifat universal. Banyak sistem nilai lain yang eksis dan berdampingan dengan nilai-nilai tadi, namun dipenuhi atmosfer ketegangan. Ini kondisi geopolitik yang harus dikelola secara cermat, bijak dan cerdas, bukan disangkal dengan narasi propaganda dan ilusi stabilitas. Xi Jinping, Putin, dan Trump tidak mengisi tampuk kekuasaannya dengan retorika. Tapi dengan tindakan nyata yang berani bersinggungan dengan bahaya.

Krisis, bahkan anomali, kini dianggap sebagai kondisi awal akibat perang, pandemik, gangguan rantai pasok, berbagai bencana alam dan seterusnya. Maka entitas ataupun organisme yang mampu bertahan ialah mereka yang bisa beradaptasi. Bukan sekadar bereaksi. Di sini dibutuhkan kepemimpinan yang amanah, dewasa, bijak, visioner dan bermoral. Kepemimpinan yang dapat membawa organisasi dan rakyatnya menembus badai ketidakpastian dan gelombang kekalutan kohesi kemanusiaan.

Dalam kondisi dunia yang tengah “diterjang badai”, baik badai alamiah berupa galodo, longsor, gempa, banjir, puting beliung maupun “badai” non alam seperti krisis ekonomi, budaya, sosial-politik – maka harkat dan martabat yang dulu diremehkan sekarang justru diperlukan untuk bertahan hidup. Karena hakiki martabat ialah kebijaksanaan, harga diri, kerendahan hati dan daya tahan terhadap goncangan.

Dan gelombang FLUX menuntut jernihnya hati, beningnya pikir dan ketajaman akal serta luasnya wawasan di tengah ketidakpastian, propaganda, dan klaim-klaim palsu. Kenapa? Sebab, masa depan tidak akan ramah lagi pada hal-hal naif. Sebaliknya, ia memberi ruang bagi mereka yang memahami realitas secara jujur lalu bertindak dengan sabar, bijak, pasrah tetapi cerdas.

Pemimpin yang melulu beretorika namun gamang menyelesaikan masalah moral, mental, dan intelektual diri dan lingkungan utamanya, dia akan terjerembab dalam duka nestapa berkuasa.

Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com