Membaca Geopolitik Kontemporer para Adidaya di Indonesia dari Perspektif Teori Ruang

Bagikan artikel ini

Akhir Abad XIX, berkembang pemikiran (geopolitik) yang mengatakan bahwa manusia butuh negara dan negara butuh ruang hidup (living space atau lebensraum). Karl Haushofer (1869 -1946) justru menekankan: “Bahwa ruang merupakan inti geopolitik.”

Menurut Frederic Ratzel (1844-1904), bahwa bangsa-bangsa di dunia mencoba tumbuh dan berkembang dalam upaya mempertahankan hidupnya. Dan hanya bangsa yang unggul yang dapat bertahan hidup dan langgeng serta membenarkan (melegitimasi) hukum ekspansi.
Dalam konteks kajian ini, RRC/Cina misalnya, mempunyai masalah akut soal kependudukan. Pertumbuhan penduduk yang relatif cepat, maka kebutuhan akan ruang hidup warganya menjadi sangat urgen, baik untuk kepentingan pribadi/keluarga, suku, bangsa bahkan kepentingan negara.
Dan agaknya, ekspansi ekonomi Cina ke Indonesia terutama sejak Orde Baru tak cukup untuk “melayani hasrat” kebutuhan ruang hidup Cina, oleh karena Pak Harto membatasi ruang gerak hanya di bidang ekonomi saja. Tatkala Pak Harto jatuh dan era reformasi bergulir, hasrat Cina terakomodir untuk meluaskan ruang hidupnya melalui jalur politik. Kenapa?
Geopolitik mengajarkan, bahwa dinamika organisme negara memenuhi kebutuhan (ruang) hidup mutlak harus dilandasi oleh 3 (tiga) kekuatan antara lain: kekuatan politik, dan/atau ekonomi, dan/atau kekuatan militer. Dalam praktik geopolitik, bisa saja cuma satu kekuatan (ekonomi) sebagaimana Cina di zaman Orde Baru; atau bisa dua kekuatan seperti Jepang memainkan faktor ekonomi plus sedikit aspek politik, dll. Dan tidak boleh disangkal bahwa Amerika (AS) malah memainkan ketiga-tiganya yaitu kekuatan ekonomi, politik dan kekuatan militer.
Rudolf Kjellen (1864-1922) menyimpulkan bahwa negara besar dengan kekuatan besar selalu cenderung ekspansif secara spasial. Kalau kini AS malang-melintang selaku “Polisi Dunia” —wajar saja— sebab ruang (hidup) kepentingannya telah mendunia, dan didukung oleh kekuatan riil baik ekonomi, politik maupun kekuatan militer dimana mampu hadir dan bisa digelar setiap saat. Itulah sekilas implementasi teori (geopolitik) ruang hidup menurut pemikiran Ratzel, Kjellen dan Haushofer.
Selanjutnya, manakala teori-teori tadi diabstraksikan dan diproyeksikan pada pertarungan politik di Jakara baik dulu, kemarin, kini ataupun kedepan, maka muncul hipotesa bahwa selain Indonesia cq Jakarta merupakan ajang proxy war —medan tempur— dan/atau perebutan hegemoni antara Cina melawan AS, juga sangat kuat diduga bahwa kegaduhan politik tersebut merupakan upaya Cina dalam rangka memenuhi kebutuhan ruang hidupnya via jalur politik. Inilah skema asing yang tengah berlangsung di Bumi Pertiwi.
Pertanyaannya, “Kegaduhan politik di internal negeri sekarang ini, apakah merupakan strategi kontra terhadap skema asing, atau justru larut dalam skema mereka?”
Silahkan saudara-saudara mencermati!
Penulis : M. Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com