Pertemuan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Nara mungkin akan diingat publik global sebagai suatu oase dalam tatatan global yang semakin eskalatif. Pertemuan yang menarik dalam bingkai K-pop diplomacy—dua pemimpin negara duduk santai, bermain drum, dan membawakan lagu K-pop setelah agenda geopolitik yang berat.
Ketika citra geopolitik global yang semakin menampilkan rivalitas, logika eskalasi yang terus di produksi, simbol-simbol non-verbal menjadi medium komunikasi strategis yang kini semakin penting, ketika bahasa kebijakan semakin kaku, keras dan berisiko eskalatif, negara memilih berbicara lewat gestur, estetika, dan budaya populer.
Dalam kajian komunikasi strategis, simbol politik dapat di baca dari apa yang dikomunikasikan, kepada siapa, dan dalam konteks struktural apa. K-pop Diplomacy di Nara terjadi setelah pembahasan isu-isu berat: senjata nuklir, mineral kritis, keamanan ekonomi, serta koordinasi keamanan regional. Artinya, simbol ini tidak berdiri di ruang hampa, tetapi beroperasi di atas fondasi realitas geopolitik yang kian memanas.
Namun justru di situlah pesan strategisnya bekerja. Menarik untuk dicermati ketika lagu Dynamite milik BTS dan lagu Golden – K-pop Demon Hunters dipilih menjadi instrumen lagu yang digunakan. Bukan kebetulan, bukan pula sekadar simbol keakraban budaya. Namun merupakan simbol komunikasi berlapis yang hendak disampaikan kepada audiens domestik, regional maupun global.
Dynamite adalah lagu ikon soft power global milik Korea. K-pop paling global yang pernah diproduksi Korea Selatan. Berbahasa Inggris, dikonsumsi luas di Barat, dan dilekatkan dengan narasi joy, optimism, lightness. Dalam lanskap politik internasional yang hari ini semakin ditandai oleh tensi, rivalitas, maskulinitas, dan logika eskalasi, pilihan ini justru menyimpang secara sadar dari bahasa dominasi yang lazim digunakan Major Powers, kekuatan adidaya.
Lirik utamanya— Cause I’m in the stars tonight / So watch me bring the fire—sering dibaca sebagai ekspresi euforia pop. Namun dalam konteks pertemuan ini, ia dapat dimaknai sebagai ajakan untuk hadir dan memengaruhi tatanan global dengan cara yang berbeda. Fire di sini bukan metafora kekuatan koersif, melainkan energi hidup, kreativitas, dan visibilitas. Daya pengaruh tanpa pemaksaan. Kehadiran tanpa intimidasi.
Ini penting, karena tatanan global hari ini bergerak ke arah yang semakin menyerupai hukum rimba internasional. Blok-blok kekuatan menguat, diplomasi keras dinormalisasi, dan bahasa keamanan global semakin maskulin: deterrence, tekanan, sanksi, dan eskalasi. Dalam konteks itu, memilih lagu Dynamite adalah makna simbolik feminitas, ajakan untuk memandu dan merespon tatanan global bukan melalui konfrontasi, tetapi dengan cara joy, optimism & lightness.
Feminitas yang ditampilkan di sini bukan soal gender biologis, melainkan orientasi politik: relasional, non-zero-sum, berbasis empati, dan menolak glorifikasi konflik. Joy dan optimism bukan pelarian dari realitas, melainkan strategi normatif untuk tidak sepenuhnya terseret ke dalam spiral ketegangan global.
Hal tersebut terkonfirmasi melalui pernyataan Presiden Lee dalam pidato pembukaannya selama pertemuan puncak tersebut. “Seiring dengan semakin bergejolaknya lanskap global, hubungan Korea Selatan-Jepang menjadi lebih vital daripada di titik mana pun dalam sejarah,”
Menyadari hambatan dan tantangan yang dihadapi kedua negara secara bersama-sama, Lee menekankan pentingnya “membangun masa depan yang lebih baik bergandengan tangan” dengan memupuk kekuatan dan meminimalkan gesekan.
“Saya berharap Perdana Menteri dan saya dapat bergandengan tangan, dan rakyat Korea Selatan dan Jepang dapat menyatukan upaya mereka, sehingga kita dapat berjalan bersama menuju masa depan baru bagi kedua negara kita,” kata Lee, Presiden Korea.
Jepang dan Korea Selatan tidak sedang mengklaim diri sebagai kekuatan moral baru, tetapi menyisipkan narasi tandingan bahwa stabilitas juga bisa dibangun lewat kehadiran yang ringan, terbuka, dan tidak mengancam.
Jika lagu Dynamite adalah pesan simbol ke eksternal, lagu Golden pesan simbolik pengakuan internal yang lebih dalam. membawa tema yang berbeda: bukan euforia kolektif, melainkan perjuangan batin, ambiguitas moral, dan transformasi diri.
Dalam narasi Demon Hunters, Golden merepresentasikan karakter yang berada di antara dua dunia—terang dan gelap, kekuatan dan kerentanan, tugas dan identitas personal. Ini penting, karena secara simbolik sangat paralel dengan posisi Jepang dan Korea Selatan saat ini di panggung global sebagai middle powers yang hidup di antara kekuatan besar.
Mereka: terikat aliansi dengan AS, terpapar tekanan Cina, berada di kawasan yang semakin dimiliterisasi. lagu ini mengirim pesan lanjutan: upaya Jepang–Korea bukan mengarah aliansi agresif, melainkan respon rasional untuk memilih harmoni terhadap dunia yang semakin kompetitif dan tidak pasti.
Di sinilah kedalaman semiotiknya tercermin. Setelah dunia diajak masuk lewat Dynamite— joy, optimism, lightness —pesan kedua disisipkan: dunia ini juga gelap, penuh konflik, dan dihadapkan pada pilihan dilematis. Namun justru di tengah ketidakpastian itu, kedua negara memilih untuk stay golden: menjaga martabat politik dan stabilitas kawasan.
Jepang dan Korea Selatan sadar mereka hidup di era “demon”—era kompetisi kekuatan Major powers, tekanan aliansi, dan fragmentasi tatanan dunia—tetapi mereka menolak menjadi monster itu sendiri.
Dalam lanskap Indo-Pasifik yang makin dimiliterisasi—ada AUKUS, ketegangan Taiwan, konflik Laut Cina Selatan—narasi ini penting. Jepang dan Korea Selatan tidak sedang menawarkan tatanan alternatif, tetapi mengirim sinyal bahwa mereka juga tidak sepenuhnya nyaman dengan arah dunia yang dipaksa kembali ke hukum rimba internasional.
Paralel pesan simboliknya ke publik domestik maupun elit regional tampak jelas, pertemuan ini sebagai bentuk deklaratif upaya rekonsiliasi sekaligus normalisasi hubungan kedua megara, mengingat trauma sejarah tahun 1910-1945, pendekatan K-pop Diplomacy dan budaya pop dipakai untuk meredam trauma sejarah. Musik pop membantu karena ia hidup di luar sejarah, di luar trauma, di luar narasi nasionalis lama.
Inilah public psychological conditioning, publik dilatih untuk melihat Jepang–Korea sebagai relasi normal, bukan relasi problematis, dirancang untuk mengikis beban sejarah, menegaskan kesetaraan simbolik, dan membangun fondasi psikologis bagi kerja sama strategis yang sudah ada, adapun di tingkat elite, ini adalah elite alignment signalling: “hubungan ini sudah dapat legitimasi politik tertinggi.”
Pada akhirnya, Jam session ini adalah ritual simbolik, permainan drum di Nara bukan sekadar penutup seremoni, melainkan gestur korektif. Sebuah ajakan sekaligus pengingat halus bahwa di tengah eskalasi global, tidak semua relasi harus disusun dengan logika eskalatif. Ada ruang bagi irama, keterhubungan, dan kesadaran kolektif.
Pelajaran Strategis untuk Indonesia
Ada tiga pelajaran penting bagi Indonesia:
Simbol adalah instrumen strategis, bukan kosmetik. Dalam dunia yang semakin eskalatif, cara kita tampil dan berbicara sama pentingnya dengan kebijakan itu sendiri.
Bagi Indonesia sebagai middle power, tantangannya bukan memilih antara netralitas normatif atau keterikatan aliansi yang kaku. Tantangannya adalah mengelola layered signalling: menyampaikan pesan yang berbeda kepada audiens yang berbeda—domestik, regional, dan global—secara konsisten dan terukur. Ini bukan soal ambiguitas, melainkan pengaturan ritme komunikasi agar kepentingan nasional tetap terbaca tanpa memicu reaksi berlebihan.
Budaya bisa menjadi bahasa strategis. Musik, seni, dan narasi populer bekerja di ranah psikologis dan simbolik yang tidak dapat dijangkau oleh diplomasi konvensional. Ia membentuk persepsi, menormalkan hubungan, dan memperluas ruang manuver negara tanpa harus mengubah posisi resmi. Bagi Indonesia, yang memiliki modal kultural dan politik luar negeri yang bebas dan aktif, ini adalah aset strategis yang dapat dioperasionalkan secara lebih sadar dan konsisten.
Ridho Rizkia Putra