Membaca (Pro Kontra) Isu Pemerkosaan Massal Pada Mei 1998 di Jakarta dari Perspektif Asymmetrical War

Bagikan artikel ini
Telaah Kecil Geopolitik
Dalam perang asimetris (nirmiliter) atau asymmetrical war, ada pola ajeg yang berlangsung senyap yaitu Isu – Tema/Agenda – Skema atau disingkat: ITS. Inilah pisau analis pada telaah singkat sesuai judul di atas.
Awalnya, Isu ditebar ke publik baik di tingkat lokal maupun di publik global, entah sebagai modus (test the water), ataupun isu sebagai pola (pintu pembuka). Misal, jika sebagai pola maka akan ditindaklanjuti dengan Agenda/Tema, kemudian lanjut ke Skema. Kalau isu sebagai modus, sifatnya hanya cek ombak. Sekadar melihat riak reaksi, besar-kecilnya respon publik. Tak lebih. Dan keduanya, entah isu sebagai pola atau isu sebagai modus, dikerjakan tanpa letusan peluru. Tanpa asap mesiu.
Kelaziman kronologi, bahwa usai Isu ditebar, maka Agenda/Tema akan didorong ke publik. Selain untuk penebalan isu, ataupun penguatan opini, memperluas persepsi publik, juga — yang utama untuk memanipulatif alam bawah sadar khalayak bahwa persoalan (isu) itu seakan ada dan nyata, seolah-olah berada (existence).
Skema-lah tujuan akhir dari asymmetrical war. Contoh. Merujuk judul — viral berita: “ada pemerkosaan massal pada rusuh massa di Jakarta dulu”. Nah, itu Agenda yang ditancapkan di publik pasca kerusuhan massa Mei 1998.
Lalu, apa isunya?
Setelah dikulik, ternyata isunya justru disebar jauh hari sebelum kerusuhan terjadi. Isu diskriminasi telah bergema di luar negeri (khususnya Amerika) melalui agitasi dan propaganda bahwa masih ada diskriminasi di tengah HAM yang mengglobal. Narasinya, bahwa ada perlakuan diskriminatif di Indonesia terhadap nonpribumi (nonpri). Itu gema isu di luar.
Lantas, apa skemanya?
Skema atau tujuannya ternyata ada dua, yakni:
Pertama, pencabutan istilah pribumi melalui UU. Apa boleh buat. Publik kini, dilarang secara formal menggunakan diksi: “pribumi dan nonpri”.
Sedangkan puncak Skema (tujuan) ialah poin kedua di bawah ini, yakni:
PENGHILANGAN KATA “ASLI” DALAM PASAL 6 UUD NRI 1945 PRODUK AMANDEMEN EMPAT KALI (1999-2002)
Retorika gelisahnya, “Suatu saat nanti, Indonesia bisa dipimpin warga negara keturunan Londo, peranakan Prancis, ataupun China?”
Inilah salah satu keberhasilan peperangan asimetris yang digelar oleh asing di republik tercinta ini. Tanpa asap mesiu. Dan hal tersebut terbilang sangat sukses, tatkala mayoritas anak bangsa justru menari-nari dalam gendang yang ditabuh oleh asing.
Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com