(Konflik Pakistan – Taliban dalam Perspektif Geopolitik)
Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto
Tensi geopolitik global mendidih. Perdamaian subjektif dipaksakan dengan kekerasan. Beberapa putaran dialog gagal meredakan keadaan. Negara mana yang mau ditindas secara terbuka atau terselubung. Pasti jawabannya tidak ada. Tapi karena AS merasa tersudut dalam posisi menghegemoni dunia, kekerasan bicara. Peperangan pun meletus di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Serangan awal AS-Israel ke Teheran (28/02/2026) langsung dibayar kontan oleh Iran dengan melancarkan serangan balasan —tak terbendung— yang menargetkan fasilitas/pangkalan militer AS di Teluk dan Israel itu sendiri. Tak sampai sehari, target-target yang lumpuh telah terkonfirmasi:
- Palestina: Semua wilayah yang diduduki Israel
- Bahrain: Pangkalan Al-Jufair, Markas Besar Armada Kelima AS
- Qatar: Pangkalan Udara Al-Udeid
- Kuwait: Camp Arifjan, Pangkalan Udara Ahmad Al-Jaber, Pangkalan Udara Mubarak
- Uni Emirat Arab (UEA): Pangkalan Udara Al-Dhafra, Pelabuhan Jebel Ali, Pangkalan Udara Fujairah
- Arab Saudi: Pangkalan Udara Prince Sultan di Riyadh, Pangkalan Udara Tabuk, Pangkalan Khamis Mushait, Pangkalan barat di Jeddah
- Yordania: Pangkalan Udara Muwaffaq Salti
- Irak: Pangkalan AS di Erbil
- Dan lain-lain, karena saat tulisan ini diterbitkan – peperangan terus berlangsung. Tidak menutup kemungkinan terdapat korban lagi baik dari pihak Iran maupun AS-Israel.
Luar biasa. Serangan di atas merupakan balasan atas serangan AS dan Israel terhadap Iran. Beberapa negara di wilayah tersebut, termasuk Arab Saudi, UEA, dan Qatar — mengecam serangan dan menyatakan hak mereka untuk membela diri.
Menariknya, apa yang dikatakan Jenderal IRGC, Iran, Sardar Jabbari:
“Trump harus tahu bahwa hari ini kami menembakkan rudal-rudal lama dari gudang senjata, sebentar lagi kami akan memperlihatkan senjata-senjata yang belum pernah Anda lihat sebelumnya.”
Iran memang bangsa petarung, begitu sejarahnya.
Tak dapat dielak, konstelasi geopolitik di Timur Tengah sungguh mendidih, mengerikan, turbulent dan unpredictable. Oleh perancang kekuatan AS berbasis Military Financial Industrial Complex pada 2023, di panggung global hal itu disebut sebagai FLUX (Lihat artikel kami sebelumnya).
Namun uniknya, di belahan sebelahnya juga terjadi peperangan antara Pakistan melawan Taliban. Perang di antara perang —war between wars— termasuk peperangan (sebelumnya) antara Rusia versus Ukraina juga terus berlangsung. Maka Eisenhower benar, perang adalah bisnis besar. Keuntungannya diraih oleh industri militer dan industri keuangan. Henry Kissinger juga mengingatkan, siapa menguasai minyak, dia akan menguasai dunia. Siapa menguasai pangan, dia menguasai rakyat. Jelas tergambar, minyak, keuangan, militer dan pangan adalah alat mengontrol kondisi global.
Berbagai artikel kami sebelumnya mengurai tentang perang untuk damai, damai untuk perang dan perang untuk ekonomi dan ekonomi untuk perang. Dalam kenyataan, damai dan stablitas global tidak menghadirkan kesejahteraan bersama, dan tidak ada keadilan. Kekuatan nuklir dan militer menjadi ancaman bagi siapapun yang tidak patuh pada kehendak subjek kekerasan militer dan keuangan. Karenanya jika hari ini menganalisis konflik Pakistan versus Taliban, selain kurang menarik karena tertutup perang besar di Timur Tengah, juga ibarat membidik sasaran yang bergerak — presisi sulit dicapai. Kenapa? Sebab, pernyataan perang baru dideklarasikan oleh Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, pada Jumat, 27 Februari 2026, sehingga detail eskalasi konflik faktual belum sepenuhnya terbuka ke publik. Hal lain, Uni Eropa tidak bisa tidak harus mengikuti maunya AS dalam rangka meningkatkan belanja militer. Belanja ini berarti, perang harus diciptakan agar bisnis besar yang menggiurkan berkesinambungan.
Begitulah konflik Pakistan versus Taliban yang juga bermotif pecah belah adu domba negara Islam. Meski data-data masih terbatas, konflik ini sudah bisa dibaca melalui kacamata yang lebih dalam: geopolitik. Maka “apa yang terjadi”, patut dilengkapi dengan membedah sebab musabab-akibatnya dan siapa diuntungkan akibat konflik itu. Juga tidak mungkin berhenti pada kalkulasi materi belaka. Patut digali, nilai-nilai apa yang sedang ditegakkan secara berkelanjutan oleh kekuatan militer dan keuangan.
Geopolitik: dari Modus Ekspansi ke Pertarungan Sumber Daya
Geopolitik, menurut Karl Haushofer (1869-1946), adalah science of the state. Ilmu tentang negara dalam relasi kekuasaan. Awal kelahiran geopolitik hanya merangkum politik, geografi, ekonomi, sejarah, hingga strategi militer. Namun, kajian geopolitik sekarang makin berkembang senada dengan meluasnya pengaruh teknologi, AI, bahkan disiplin filsafat. Dalam soft power, geopolitik tampil dalam komedi, hiburan, musik, drama, film, pendidikan, kesehatan, media massa, standarisasi, dan kerjasama budaya dan, atau sosial. Lihat bagaimana soft power AS di banyak negara sehingga banyak kalangan terdidik, mahasiswa, pebisnis, tentara dan politisi serta polisi yang terkagum-kagum dengan kekuatan demokrasi liberal dan gemerlapnya keuangan bersama panggung hiburan.
Pendahulunya, Friedrich Ratzel (1844-1904), merumuskan konsep yang ekstrem: ” .. hanya bangsa unggul yang berhak bertahan dan melegitimasi hukum ekspansi.” Teori ini kemudian dimanfaatkan secara agresif oleh Adolf Hitler (1889-1945) dalam politik ekspansi Jerman secara militer atau hard power. Dengan perkembangan kecerdasan artifisial secara umum, hard power ini berkombinasi dengan soft power. Banyak orang tua sekarang baru sadar, kenapa anak remajanya masuk dalam arus budaya Korea Selatan yang dalam civility war dengan Indonesia. Seperti juga media arus utama Indonesia, baru menyadari betapa kekuatan militer dan kepentingan AS menggiring mereka masuk dalam suasana tertindas karena Agreement of Reciprocal Trade AS-Indonesia, 19 Februari 2026. Asosiasi Jurnalis Independen menyebut perjanjian dagang yang memuat tentang kedaulatan digital 5G dan 6G adalah lonceng kematian bagi industri pers di Indonesia. Belum lagi hal lain yang memuat 217 kewajiban Indonesia (Indonesia shall) dengan tarif ekspor ke AS 19 persen dibanding enam kewajiban Amerika (USA shall) dengan tarif ekspor ke Indonesia nol persen.
Begitulah wajah invasi pasca Perang Dunia II. Ekspansi negara kuat tak selalu berbentuk pendudukan militer secara langsung. Ia bertransformasi menjadi pengaruh ekonomi, investasi strategis, kontrol jalur energi, hingga perang proksi di luar wilayah para pihak yang bertikai. Lagi-lagi teori “7i” (tujuh i) mendapat bukti empiris.
Dalam konteks modern, konstelasi geopolitik kini identik dengan mencaplok geoekonomi. Dan geoekonomi kerap berupa emas, minyak dan gas bumi. Secara lebih rinci mineral strategis ialah emas, tembaga, perak, mineral rare earth, nikel, uranium, atau komoditas strategis lainnya seperti antimon. Mungkin juga geoekonomi berbentuk pengendalian jalur pelayaran serta logistik, pengendalian jalur penerbangan, batas tinggi dirgantara yang masih diperselisihkan, penguasaan pasar, ataupun ketahanan pangan dan air serta hajat hidup orang banyak lainnya. Nah, di sinilah konflik Pakistan – Taliban menemukan relevansinya: luluhkan peluang negara Islam bersatu. Patut dicatat, Geopolitc Monitor pada 28 Februari menurunkan berita itu dengan sebutan dua perang dalam sepekan.
Peta Konflik Internal di Pakistan
Di dalam negeri, Pakistan menghadapi ancaman dan gangguan dari dua aktor bersenjata. Aktor pertama yaitu Tehreek-i-Taliban Pakistan (selanjutnya ditulis TTP). Inilah yang kerap disebut “Taliban”-nya Pakistan. TTP ialah kelompok jihadist yang ingin mengubah sistem negara Pakistan dengan interpretasi syariat versi mereka. Ya. Mereka bukan Taliban Afghanistan, meski memiliki akar ideologis serupa. Niscaya terdapat loyalitas ideologi. Aktor kedua adalah Baloch Liberation Army (disingkat BLA) sebagai kelompok separatis nasionalis sekuler yang memperjuangkan kemerdekaan Balochistan dari Pakistan. Ideologi BLA berbasis etno-nasionalisme Baloch, bukan Islamisme.
Pertanyaannya, “Apakah keduanya (BLA dan TTP) itu satu blok?”
Jawabannya: tidak secara ideologis, hanya secara taktis. Beberapa laporan keamanan Pakistan menyebut adanya koordinasi teknis, seperti berbagi jalur penyelundupan senjata, atau memanfaatkan perbatasan Afghanistan-Pakistan sebagai tempat persembunyian, ataupun mengganggu militer Pakistan di berbagai front, dan lainnya.
Hubungan kedua aktor bersenjata sifatnya oportunistik. Tak permanen dan tidak ideologis. Di satu sisi, TTP pernah menyerang kelompok Baloch yang dianggap “tidak Islami”. Sebaliknya, BLA tidak menginginkan negara Islam, melainkan negara etnis Baloch merdeka. Sekali lagi, mereka bukan satu organisasi, melainkan dua agenda berbeda dengan musuh yang sama: Pakistan.
Sejak Taliban kembali berkuasa (2021) pasca-koalisi militer Barat pimpinan AS “cabut” dari Afghanistan, aktivitas TTP justru meningkat signifikan. Pakistan menuduh Taliban Afghanistan memberi ruang, bahkan mendukung dan melindungi TTP. Ia membantah tuduhan tersebut. Secara faktual, wilayah perbatasan yang sulit dikontrol telah menjadi zona abu-abu keamanan. Ini memperumit posisi Pakistan, terutama ketika stabilitas domestik berkaitan langsung dengan kepentingan ekonomi global. Kondisi ini diikuti juga dengan konflik perbatasan Pakistan dengan India.
Balochistan: China Menggelitik, Amerika Baru Melirik
Secara wilayah, Balochistan adalah provinsi terbesar Pakistan, tetapi secara demografi justru paling jarang penduduk serta tertinggal ekonominya. Wilayah ini mempunyai sumberdaya tambang dan kaya mineral strategis yang belum di ekstraktif kaum serakah nan menipu. Sumber daya utama Balochistan adalah tembaga, emas, perak, kromit, gas alam, batu bara, potensi energi surya dan perikanan laut dalam.
Projek Reko Diq diproyeksikan menjadi salah satu tambang tembaga terbesar dunia. Tembaga adalah komoditas vital untuk kabel listrik, motor kendaraan listrik, dan infrastruktur energi terbarukan. Dalam era transisi energi global, bersama nikel dan perak, tembaga adalah “minyak baru”. Mereka yang berburu kemenangan pada keunggulan kompetitif, tidak akan menyia-nyiakan tambang-tambang yang menggiurkan itu.
Pelabuhan Gwadar merupakan simpul strategis karena merupakan gerbang perairan menuju Samudra Hindia dan jalur energi ke Timur Tengah. Saat ini, pelabuhan itu dalam kontrol Cina. Investor paling dominan di Balochistan adalah Cina melalui projek China-Pakistan Economic Corridor. Investasi pertambangannya oleh Metallurgical Corporation of China di projek Saindak Copper-Gold. Ini bagian dari agenda ambisius China, yaitu Belt and Road Initiative (BRI).
Bagi China, Balochistan sebagai bagian program BRI, juga guna kepentingan energy security. China ingin mengamankan jalur pasokan energinya agar tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Malaka yang dikuasai AS walau dalam lingkup kedaulatan tiga negara.
Sementara di sisi lain, langkah AS dan Uni Emirat Arab (UEA) di Balochistan baru sebatas menunjukkan minat terhadap mineral strategis seperti antimon — material penting untuk industri pertahanan, elektronik, dan energi terbarukan. Tetapi, keterlibatan mereka belum sekuat dan sedalam China. Nah, di sinilah potensi friksi global mulai tercium. Sisi lain, AS juga berkeberatan Pakistan mendapat pasokan alat utama sistem pertahanan militer dari China, seperti J-15 yang berhasil men- jamming F-35 saat Pakistan konflik perbatasan dengan India.
Konflik Lokal, Bagian dari Rivalitas Global
Dalam tatanan global klasik dikenal kredo: “Conflict is protection oil flow and blockade someboy else oil flow”. Bahwa konflik sering kali tentang melindungi aliran energi sendiri dan menghambat aliran energi pihak lain. Kredo ini runtunan dari tesa yang dibangun Henry Kissinger.
Dalam kerangka ini, konflik Pakistan vs TTP minimal memiliki tiga makna. Ini merupakan upaya Islamabad menstabilkan wilayah strategis investasi, dan melindungi projek bernilai miliaran dollar. Juga menggambarkan kuatnya potensi persinggungan kepentingan para adidaya, khususnya antara AS-China. AS tidak mau bermain kasar dengan kekuatan militernya karena Pakistan sudah mempunyai hulu ledak nuklir.
Pertanyaannya, “Apakah konflik ini murni keamanan domestik, atau bagian dari pertarungan pengaruh yang lebih besar?”
Hingga detik ini, belum tergelar bukti langsung keterlibatan negara besar di balik TTP, BLA, ataupun otoritas militer Pakistan sendiri. Namun dalam dinamika global, aktor lokal sering menjadi proksi dalam konflik, sekadar proxy agents para adidaya. Itu sudah jamak dalam dunia geopolitik. Di era Indonesia surplus politisi defisit negerawan, agen proksi ini amat sangat banyak dan terstruktur secara fundamental dan fungsional.
Deklarasi Perang dan Siapa di Balik Layar
Ketika Khawaja Asif mendeklarasikan perang, secara substantif adalah perang melawan TTP —“Taliban”-nya Pakistan— bukannya terhadap pemerintahan Taliban di Afghanistan. Pesannya jelas. Stabilitas keamanan = stabilitas investasi. Stabilitas investasi = stabilitas ekonomi. Stabilitas ekonomi = stbilitas politik. Dan bagi area seperti Balochistan, makna stabilitas ialah kontrol atas tambang, tembaga dan emas; pelabuhan; jalur pelayaran; infrastruktur energi; bahkan masa depan transisi energi global. Jika kini Pakistan menyerang langsung Taliban Afghanistan, semata-mata dalam rangka menghancurkan “sumber”-nya —mereka (Taliban) satu ideologi— bukan sekadar menebas dahan atau ranting-rantingnya.
Selanjutnya guna menguak siapa di balik layar, maka wajib dijawab dahulu: siapa diuntungkan dari eskalasi konflik ini; siapa investor di belakang aktor; apakah ini murni konflik ideologi, atau perang ekonomi terselubung?
Jawabannya mungkin tidak sepenuhnya berada di Islamabad atau Kabul. Ia tergantung di langit-langit Balochistan, melayang di antara tambang, pelabuhan, dan jalur energi dunia. Dan untuk saat ini, satu hal pasti – bahwa konflik Pakistan versus Taliban bukan sekadar soal keamanan. Itu babak terbaru dari pertarungan geopolitik abad ke-21, karena sang tuan sedang sibuk di medan yang lebih besar (Timur Tengah).