Motif Utama Israel: Mengubah Tatanan dan Kepemimpinan Nasional Republik Islam Iran 1979

Bagikan artikel ini

Dalam sebuah wawancara dengan situs The New Arab terbitan 12April 2026, seorang pakar hubungan internasional dan salah satu penulis buku bertajuk The Israel Lobby, John Mearsheimer, mengulas secara khusus hubungan antara AS dan Israel, tak lama berselang setelah kedua negara tersebut menyerang Iran pada akhir Februari 2026.

Mearsheimer berpandangan bahwa Perang AS-Israel vs Iran yang dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran itu, pada hakekatnya merupakan kekalahan strategis bagi Washington dan titik balik dalam bagaimana Amerika Serikat dipandang oleh sekutu maupun musuh. Menariknya lagi, Mearsheimer tanpa keraguan berkesimpulan bahwa Iran telah muncul sebagai pemenang yang jelas dalam perang tersebut, memaksa pemerintahan Donald Trump untuk akhirnya melakukan gencatan senjata dan negosiasi dengan Iran, yang sayangnya memasuki medan perundingan dari  posisi yang lemah.

Sampai di sini, analisis Mearsheimer sebenarnya sama sekali tidak ada yang baru. Karena memang seperti itulah watak AS yang terlalu percaya diri dan mudah meremehkan kekuatan musuh, padahal AS sama sekali tidak punya gambaran sama sekali mengenai karakteristik geografis Iran sebagai negara musuh yang ia perangi.

Namun ketika Mearsheimer mulai menyinggung peran Israel, terutama Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, analisisnya terkait Perang AS-Iran jadi menarik untuk kita eksplorasi lebih lanjut. Sebab Mearsheimer berpendapat bahwa perang tersebut tidak didorong oleh penguasaan minyak sebagai kebutuhan strategis tradisional AS di kawasan Timur Tengah yang mulai secara semakin intens sejak berakhirnya Perang II pada 1945, apalagi ketika mulai menggantikan posisis Inggris sebagai negara adikuasa dalam menguasai kawasan Timur Tengah.

John Mearsheimer adalah seorang ilmuwan politik dan pakar hubungan internasional Amerika [Getty]Mearsheimer berpandangan bahwa perang terhadap Iran sejatinya merupakan prioritas keamanan nasional Israel, dengan Benjamin Netanyahu memainkan peran penting dalam membujuk Washington untuk mengejar perubahan rezim di Teheran.

Oleh sebab dorongan utama menyerang Iran yang dilancarkan melalui serangan bersama AS-Israel oleh sebab pertimbangan strategis keamanan nasional Israel itulah, Mearsheimer menilai bahwa perang AS-Israel vs Iran tersebut merupakan kegagalan ketiga AS di kawasan itu setelah Irak dan Afghanistan, yang akan membuat intervensi militer Amerika di Timur Tengah di masa depan jauh lebih kecil kemungkinannya.

Sehubungan dengan pandangannya tersebut, Mearsheimer memperingatkan adanya beberapa tren di dalam negeri AS sendiri maupun dalam kaitan hubungan bilateral AS-Israel ke depan. Menurut Meirsheimer, meskipun kekuatan lobi pro-Israel akan tetap kuat dalam membentuk keputusan pemerintah, wacana publik AS saat ini sudah bergeser secara signifikan yang tandinya sangat mendukung Israel, sekarang malah berbalik melawan Israel, sebagaimana terindikasi kuat dengan menurunnya dukungan dan simpati warga AS  di berbagai demografi kunci atau beberapa negara bagian AS.

Baca :

John Mearsheimer to The New Arab: US-Israel post-war relation ‘poisoned’

Pergeseran wacana publik AS memang tidak secara langsung akan mengubah dukungan strategis Washington dalam membuat kebijakan luar negeri, eknonomi dan militer kepada Israel.

Namun Mearsheimer memprediksi bahwa ketegangan hubungan AS-Israel dalam waktu mendatang pun akan semakin meningkat. Sebab selain serangan AS ke Iran itu atas desakan Israel, adalah AS pula yang harus menanggung biaya politik atas perang yang bagaimanapun juga hampir semua kalangan beranggapan AS lah yang mengobarkan perang. Sehingga pada perkembangannya, AS bukan saja dengan Israel hubungan bilateralnya bakal semakin memburuk. Hubungan AS-NATO pun pada perkembangannya juga akan semakin memburuk dan semakin tegang.

Sementara perspektif negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Yordania) yang sejak tahun 1973 merupakan sekutu strategis AS, dalam situasi pasca serangan AS-Israel ke Iran, mulai meragukan keandalan dan kedigdayaan kekuatan militer AS untuk melindungi negara-negara Arab sekutu AS. Keraguan tersebut semakin menguat ketika tentara AS sama sekali tidak mampu mencegah serangan rudal Iran terhadap beberapa pangkalan militer AS yang terletak di negara-negara teluk tersebut.

Bahkan akibat serangan rudal Iran maupun penutupan Selat Hormuz, produksi minyak di negara-negara teluk tersebut praktis berhenti beroperasi. Alhasil, kapasitas produksi minyak negara-negara Arab tersebut berkurang drastis.

Memang tesis utama Mearsheimer yang dalam buku bertajuk The Israel Lobby dalam penyusunan buku itu didampingi oleh rekannya Stephen M. Walt, maupun dalam berbicara dengan berbagai situs berita, umumnya sama. Oleh sebab begitu kuatnya pengaruh Lobi Israel dalam penyusunan kebijakan luar negeri dan militer AS, pada perkembangannya malah merugikan kepentingan nasional AS itu sendiri.

Boleh jadi dalam mencapai tujuan serangan ke Iran, AS dan Israel punya sasaran strategis yang sama. Melemahkan Iran, atau membuat kekuatan politik dan militer Iran lumpuh. Namun dalam desain besarnya, tidak sama.

Bagi AS, Iran lemah cukup lah sudah. Tapi bagi Israel, menggulingkan kepemimpinan politik yang bertumpu pada skema Republik Islam Iran yang dimulai pada 1979, justru merupakan tujuan utama. Dengan itu, dalam Perang AS-Israel vs Iran itu, tujuan Iran adalah Regime Change. Jadi dalam pandangan Israel, perang terhadap Iran merupakan “perjuangan eksistensial.”

Mungkin pernyataan Mayor Jenderal (purnawirawan) Yaakov Amidror, mantan penasihat keamanan nasional Israel, bisa jadi rujukan autentik untuk menggambarkan motif sesungguhnya Israel dalam memerangi Iran. Menurut Mayjen Amidror, Bagi Israel, aksi militer yang dilancarkannya bersamaq AS lebih berkaitan dengan kekhawatiran atas ancaman terhadap eksistensinya sebagai negara bangsa. Adapun motivasi AS adalah untuk menguasai kawasan Timur Tengah seraya mempertahankan dirinya sebagai kekuatan hegemoni global. Yang mana Presiden Trump berupaya membangun Timur Tengah yang baru, seturut jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah berikut rencana 20 poinnya untuk merehabilitasi Gaza. Seraya memperluas Kesepakatan Abraham (Abraham Accord).

Baca:

Israel has long viewed war with Iran as an existential struggle, analysts say

Namun dalam pandangan Yaakov  Amidror, yang saat ini merupakan peneliti di Jewish Institute for National Security of America yang berbasis di AS, kedua tujuan strategis tersebut, tetap sama mensyaratkan adanya pemerintahan Iran baru yang pola sikap dan pola pemikirannya berbeda dengan yang masih berkuasa sekarang. Inilah perspektif geopolitik yang melatari persekutuan AS-Israel ketika memutuskan menyerang Iran pada akhir Februari 2026 lalu. Sebagai kerangka kerja bagi negara-negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Kalau kembali merujuk kembali pada analisis Mearsheimer di awal tulisan saya tadi, obsesi Israel untuk menggulingkan pemerintahan dan sistem kepemimpinan Revolusi Islam Iran yang dibentuk sejak 1979 sebagai pilar kekuasaannya, mungkin inilah yang pada perkembangannya lebih banyak merugikan kepentingan nasional AS. Makanya Mearsheimer mengistilahkan serangan AS-Israel ke Iran sejatinya merupakan kekalahan strategis Washington. Sebaliknya merupakan kemenangan bagi Iran.

Dalam berbagai studi literatur ihwal konsep Regime Change atau penggulingan kekuasaan pemerintahan suatu negara, bisa dilakukan melalui du acara. Pertama, melalui gerakan People Power yang dimotori oleh kelompok-kelompok oposisi yang terorganisir. Kedua, melalui serangan atau invasi militer berskala besar seperti yang dilakukan pemerintahan AS era George W. Bush ketika menginvasi Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003.

Model pendekatan People Power yang berbasis pada kekuatan oposisi yang terorganisir gagal terwujud, seperti pernah dicoba terhadap Iran beberapa bulan sebelum meletus Perang AS-Israel vs Iran, maka model pendekatan Hard Power lah yang dipilih sebagai opsi yang paling memungkinkan. Itulah yang akhirnya menjadi dasar kesepakatan AS-Israel menyerang Iran pada Februari 2026.

Inilah yang dalam ulasan dan analisis berbagai pakar, terkesan tidak masuk akal jika keputusan AS menyerang Iran didasari pertimbangan bahwa Iran merupakan ancaman nasional bagi Washington. Pakar militer Danny Citrinowicz, seorang peneliti senior tentang Iran di INSS, Iran bukanlah ancaman langsung bagi Amerika Serikat, karena masih bertahun-tahun lagi sebelum dapat memproduksi senjata nuklir.

Masalah jadi krusial dan berpotensi penuh komplikasi ketika dalam kenyataannya, Iran hingga kini masih belum dapat dilemahkan. Bahkan mampu memperlama durasi perang hingga kini. Bahkan meskipun sempat disela gencatan senjata dan perundingan yang dimediasi Pakistan sebulan yang lalu dan berakhir dengan kegagalan, namun daya tahan dan semangat Iran untuk meneruskan perang menghadapi AS dan Israel masih tetap seperti semula.

Jika ini yang jadi kerangka kebijakan untuk memerangi Iran maupun ketika maju ke meja perundingan, rasanya sulit untuk membuahkan penyelesaian damai. Baik penyelesaian damai Perang AS-Israel vs Iran, maupun penyelesaian konflik Palestina-Israel.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com