Pemahaman dan Kepekaan Yang Berasal Dari Kesadaran, Tak Bisa Dimanipulasi

Bagikan artikel ini

Tanpa fiksi kita akan jadi kurang awas mengenai pentingnya kebebasan bagi hidup agar bisa dihidupi, dan neraka yang ditimbulkannya ketika kebebasan diinjak-injak oleh seorang tiran, sebuah ideologi, atau …

Biarkan orang-orang yang menyangsikan bahwa sastra bukan hanya menenggelamkan kita dalam mimpi akan keindahan dan kebahagiaan namun membuat kita waspada akan segala jenis penindasan, bertanya pada diri mereka sendiri.

Mengapa semua rejim yang bertekad mengontrol perilaku warganya dari lahir sampai mati begitu takut akan sastra sampai-sampai mereka membangun sistem sensor untuk menindasnya dan berjaga dengan penuh curiga pada penulis-penulis independen.

Mereka berbuat demikian karena tahu risikonya membiarkan imajinasi bebas berkelana dalam buku-buku, pemberontakan yang bisa disulut karya-karya fiksi ketika pembaca membandingkan kebebasan yang memungkinkannya dengan yang dipraktikkan, dengan kemuraman dan rasa takut menanti dalam dunia nyata.

Entah menghendakinya atau tidak, menyadarinya atau tidak, para pengarang—saat mengarang kisah-kisahnya—tengah menyebarkan ketidakpuasan, menunjukkan bahwa dunia ini buruk adanya dan kehidupan fantasi lebih kaya ketimbang kehidupan rutin kita sehari-hari.

Pemahaman ini, apabila berakar dalam kepekaan dan kesadaran, akan membuat warga makin sulit dimanipulasi, tak sudi menerima kebohongan para inkuisitor dan sipir yang ingin mereka percaya bahwa di balik jeruji, hidup akan lebih aman dan lebih baik.

Mario Vargas Llosa, sastrawan dan politisi asal Peru, Amerika Latin

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com