Perang AS-Israel versus Iran: Mengguncang Pasar Energi, Sistem Keuangan dan Keseimbangan Kekuatan Global

Bagikan artikel ini

Rule-based order atau Tatanan Internasional berbasis aturan sudah runtuh, seturut serangan AS-Israel ke Iran, yang dibentuk setelah Perang Dunia Kedua, dipertahankan oleh persekutuan Barat hingga Pasca Perang Dingin 1991,

Mengapa runtuh atau benih-benih menuju keruntuhan? Ketika kekuatan militer dan diplomasi sudah tidak nyambung lagi. Kalau tidak mau dikatakan, ketika kekuatan militer melecehkan diplomasi. Inilah prakondisi awal menuju runtuhnya Rule based order.

Ciri umum kedua dari prakondisi menuju kebangkrutan Tatanan Internasional berbasis aturan, ketika tujuan strategis perang sama sekali tidak jelas. Atau malah seringkali berubah-ubah. Misalnya, pemerintah AS awalnya mengatakan serangan militer ke Iran bertujuan menggulingkan kekuasaan atau Regime Change. Belakangan mengatakan, bukan untuk melengserkan kekuasaan, melainkan hanya memperlemah kekuatan militer Iran.

Pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan itu menggambarkan tujuan strategis di Washington tidak jelas. Terbukti, survei menunjukkan bahwa hanya sekitar 25 persen rakyat Amerika yang mendukung perang tersebut. Angka ini menggambarkan tingkat dukungan terendah untuk perang dalam sejarah modern Amerika.

 

president donald trump white house december 2020

Dokumentasi Foto Dari: Al Drago/Getty

 

Fakta-fakta baru yang terungkap melalui beberapa sumber di Washington sendiri, minggu pertama serangan AS-Israel biaya empat hari pertama serangan telah mencapai sekitar 11 miliar dolar.

Jumlah ini termasuk pengerahan lebih dari 12 kapal perang dan sekitar 100 pesawat yang dipindahkan ke Asia Barat dari pangkalan Amerika Serikat dan Eropa, serta 5,7 miliar dolar yang dihabiskan untuk rudal pencegat pertahanan udara dan 3,4 miliar dolar yang dihabiskan untuk bom dan amunisi lainnya. Angka-angka ini tidak termasuk biaya personel, biaya pelatihan, atau penggunaan aset strategis di wilayah tersebut.

Selain itu, biaya peralatan militer yang hilang atau rusak oleh Amerika Serikat selama minggu pertama perang diperkirakan mencapai sekitar 3 miliar dolar AS.

Kerugian ini termasuk kerusakan pada tiga radar pertahanan rudal AN/TPY-2 ( salah satunya dipastikan hancur total ), tiga hingga empat jet tempur F-15E Strike Eagle, empat UAV MQ-9 Reaper, dan radar peringatan dini AN/FPS-132 di Qatar.

Selain itu, dilaporkan bahwa banyak radome SATCOM ( Komunikasi Satelit ) dan SIGINT ( Intelijen Sinyal ) hancur selama serangan terhadap fasilitas AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.

Data-data tadi rasa-rasanya ini cukup akurat lantaran ditulis oleh seorang pensiunan perwira angkatan laut Turki, Laksamana Purnawirawan Cem Gürdeniz. Gurdeniz pernah Kepala Departemen Strategi dan kemudian kepala Divisi Perencanaan dan Kebijakan di Markas Besar Angkatan Laut Turki.

Namun tetap saja gambaran yang dipaparkan Laksamana Gurdeniz tadi, masih merupakan kerugian taktis. Masalah strategis yang sesungguhnya, menurut Gudeniz adalah soal kemampuan Amerika untuk memproduksi amunisi.

Menurut berbagai analisis, rudal pencegat dengan cepat dikonsumsi dalam operasi pertahanan udara AS terhadap Iran, dan semakin banyak diperdebatkan apakah persediaan yang ada akan cukup untuk perang yang berkepanjangan.

Situasi yang muncul, khususnya mengenai rudal pencegat SM-2, SM-3, dan SM-6 yang digunakan dalam sistem Patriot PAC-3, THAAD, dan Aegis, menunjukkan bahwa peperangan modern bukan hanya kontes teknologi tetapi juga kontes persediaan dan kapasitas produksi. Begitu menurut analisis Laksamana Gurdeniz.

Saya Sangat terbantu oleh data-data valid yang disampaikan Laksamana Cem  Gudeniz dalam artikel yang ia tulis bertajuk: 

The Iran War and the Breaking Point of the Global Order

Selain itu Cem Gurdeniz berkeyakinan bahwa persediaan amunisi serangan presisi jarak jauh Amerika Serikat mendekati tingkat kritis. Amunisi utama yang digunakan Amerika Serikat terhadap Iran adalah rudal jelajah Tomahawk, yang diluncurkan dari kapal perang dan kapal selam dengan jangkauan sekitar 900 mil laut, dan rudal jelajah gabungan udara-ke-darat JASSM, yang diluncurkan dari pesawat terbang dengan jangkauan sekitar 600 mil laut.

Menurut sumber terbuka, persediaan Tomahawk yang dapat digunakan oleh AS mungkin telah menurun menjadi sekitar 2.000–2.500 rudal. Persediaan JASSM diperkirakan sekitar 3.000. Singkatnya, AS mungkin memiliki sekitar 5.000 rudal jelajah jarak jauh yang tersisa.

Apakah benar gambaran faktual Gurdeniz mengenai persediaan amunisi AS memang benar-benar akurat, memang masih harus didukung serangkaian riset yang lebih mendalam. Namun setidaknya, Gurdeniz sudah memberikan sebuah informasi yang lebih berimbang di tengah propaganda media Barat yang seakan-akan hingga hari ini AS-Israel masih dalam posisi unggul terhadap Iran.

Selain itu, fakta penting yang tak boleh dikesampingkan, bahwa Turki hingga kini masih bergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meskipun hubungannya dengan AS maupun Barat belakangan ini cenderung pasang naik pasang surut ibarat cuaca kadang panas terik matahari kadang mendung lalu turun hujan lebat. Dengan begitu, data-data yang disampaikan Laksamana Gurderniz sampai tingkat tertentu lumayan masuk akal juga.

Yang mungkin Gurdeniz tidak paparkan, entah tidak tahu atau memang sengaja ia tutup-tutupi, strategi dan kemampuan AS untuk mengatasi kelemahan kemampuan persediaan yang dalam keadaan kritis. Logikanya, kalau Guerdeniz saja yang pensiunan perwira militer tahu, masa iya sih hal itu tidak disadari oleh para pemimpin militer Amerika.

Namun ada sebuah informasi penting yang disampaikan Gurdeniz yang mungkin bisa jadi bahan untuk memprediksi kemampuan tentara AS jika tentara Iran dalam beberapa bulan ke depan masih mampu bertahan. Yaitu kemungin angkatan udara AS beralih ke bom luncur JDAM ( Joint Direct Attack Munition ) yang lebih murah daripada rudal jelajah yang mahal dan terbatas.

Namun, untuk menggunakan bom ini, pesawat harus mendekati target hingga jarak sekitar 30–40 mil laut, yang secara signifikan meningkatkan risiko yang dihadapi oleh pilot. Namun jika informasi ini valid, angkatan udara Iran kiranya harus mengantisipasi skenario terburuk tersebut dengan meningkatkan kemampuan Sistem Pertahanan Anti-Rudalnya.

Sekian dulu soal kemampuan persediaan amunisi Amerika. Strategi militer Iran kiranya tak kalah menarik kita sorot.

Selain secara langsung menargetkan Israel dalam perang yang dilancarkannya dalam skala besar, Iran juga menerapkan strategi yang ditujukan pada infrastruktur militer dan ekonomi Amerika di kawasan tersebut. Pangkalan-pangkalan Amerika, fasilitas energi, dan infrastruktur logistik di negara-negara Teluk menjadi pusat serangan ini. Serangan Iran terhadap target energi dan ekonomi telah dengan cepat meningkatkan dimensi geoekonomi perang tersebut.

Sebagai misal sebelum serangan, harga minyak sekitar 73 dolar AS. Seminggu kemudian melonjak menjadi 93 dolar AS. Pada akhir minggu pertama perang, harga minyak mencapai $120. Menurut prediksi beberapa ahli, jika situasi ini berlanjut, harga minyak mungkin akan naik jauh di atas 150 dolar AS, menurut beberapa skenario.

Yang tak boleh dianggap sepele, penghentian ekspor LNG Qatar menyusul serangan rudal terhadap fasilitas produksinya memiliki efek yang tidak kalah mengkhawatirkan. Hilangnya pasokan energi Qatar, yang sangat diandalkan Eropa, ditambah dengan hilangnya gas Rusia, menciptakan situasi yang sangat gawat.

Krisis di pasar energi ini juga dapat memberikan tekanan besar pada sistem keuangan global. Dana investasi yang mengelola aset sekitar 220 triliun dolar AS beroperasi dalam sistem keuangan global. Jika sebagian kecil saja dari dana ini beralih ke pasar energi, hal itu dapat menyebabkan kenaikan harga minyak yang sangat tajam.

Menurut Organisasi Maritim Internasional, sekitar 20.000 pelaut saat ini terjebak di Selat Hormuz. Jumlah kapal kontainer yang terpaksa mengubah rute atau menunggu di wilayah tersebut telah mencapai 170. Gangguan lalu lintas di Selat Hormuz secara langsung memengaruhi lalu lintas kontainer mingguan sebesar 650.000 TEU di Teluk. Perusahaan pelayaran kontainer terbesar di dunia—MSC, Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd—telah menangguhkan semua operasi di Selat Hormuz.

Berarti, bukan saja pasar energi dunia, namun rantai pasokan global juga mengalami guncangan.

 

Kita Sedang Menciptakan Dunia Baru (Seniman: Paul Nash)

Kondisi geografis Iran sendiri kiranya perlu jadi telaah strategis yang penting. Iran saat ini berpenduduk 90 juta jiwa, Masih kalah jauh dibanding Indonesia memang. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari medan pegunungan. Bukan berita gembira buat sebuah negara yang bermaksud melancarkan Operasi Darat ke Iran.

Jadi masuk akal juga jika beberapa pakar pertahanan-militer berpandangan bahwa jika durasi perang berkepanjangan, Iran seperti halnya ketika Vietnam Utara menghadapi tentara Amerika pada 1970an dulu, lebih siap daripada Amerika.

Efek domino yang menyertai durasi perang berkepanjangan itu, kawasan Timur Tengah tidak lagi dipandang punya nilai strategis dari segi geopolitik.

Negara-negara Teluk (Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman dan Yordania ) telah lama dianggap sebagai area aman untuk investasi. Namun, jika sampai muncul persepsi bahwa Amerika tidak mampu lagi melindungi negara-negara ini, modal yang selama ini mengalir ke kawasan Teluk, para pelaku bisnis mulai memandang Timur Tengah sebagai kawasan berisiko tinggi alih-alih sebagai aset . Pada saat yang sama, negara-negara Asia mungkin mulai mencari sumber keamanan energi alternatif.

Bagi Eropa juga sama. Krisis energi menciptakan risiko yang sangat serius bagi Eropa. Keputusan Uni Eropa untuk memberlakukan sanksi ekonomi dan isolasi kepada Rusia, dalam konstelasi yang runyam kayak sekarang, bisa-bisa malah jadi bumerang.

Dengan kata lain, Eropa telah menciptakan krisis energinya sendiri dengan menjauhkan diri dari sumber energi Rusia. Kebijakan menutup pembangkit listrik tenaga nuklir dan beralih ke impor LNG yang mahal telah membuat ekonomi Eropa jauh lebih rapuh. Perang Iran dapat semakin mempercepat kerapuhan perekonomian Eropa yang sebenarnya sedang tidak sehat-sehat saja.

Apa jadinya kalau Eropa yang saat ini sedang resesi sontak beralih jadi depresi ekonomi? Pastinya, seperti Depresi Besar Amerika pada 1930, akan mengalami hiper-inflasi. Yang miskin makin miskin, tapi yang kaya pun bisa tiba-tiba jatuh miskin.

Sekarang saya baru mulai paham, mengapa Rusia dan Cina sama sekali tidak reaktif menanggapi serangan AS-Israel ke Iran. Selain tidak mau masuk jebakan Washington untuk terperosok dalam Perang Proksi seperti di Vietnam, Kamboja, Laos, Afghanistan maupun di Afrika dan Amerka Latin sepanjang Perang Dingin 1950-1991, Rusia dan Cina pun sudah punya gambaran masa depannya.

Hubungan kerja sama Cina-Rusia makin solid. Blok perdagangan BRICS. Jepang dan Korea Selatan akan mengurangi ketergantungan ketersediaan minyaknya di kawasan Asia Barat dan Timur Tengah. Tren global baru yang muncul seturut perang AS-Israel ke Iran, Cina-Rusia dan BRICS akan semakin menguat sebagai suatu aliansi ekonomi-perdangan, bahkan berpotensi meluaskan lingkup aliansinya ke bidang politik dan pertahanan.

Melalui rajutan cerita tadi, muncul sebuah pertanyaan strategis. Fakta bahwa yang semula diharapkan sebagai Operasi Jangka Pendek, namun pada praktiknya menjelma jadi perang berkepanjagan, apakah ini merupakan kesalahan strategis AS atau seolah-olah kesalahan strategis untuk menyamarkan tujuan strategisnya?

Benarkah Trump dan menteri pertahanan Pete Hegseth tidak mengansipasi skenario terburuk bahwa Iran ran telah lama mempersiapkan perang gesekan, dan mendayagunakan Selat Hormuz sebagai titik pusat strateginya?

Skenario terburuk lainnya yang perlu dicermati adalah ketika negara-negara Eropa Barat yang tergabung dalam NATO mulai melibatkan diri ke kancah peperangan yang sudah dimulai AS dan Israel, besar kemungkinan akan masuk melalui Azerbaijan menjadi target antara, mengingat lokasi geografisnya yang berbatasan lansung dengan Iran bagian utara. Maupun melalui Turki.

Yang harus diwaspadai jika NATO mulai campurtangan, Iran harus mewaspadai Operasi Bendera Palsu/False Flag Operation yang mereka lancarkan untuk memecah-belah negara-negara Teluk, seperti nampak dalam kasus tertangkapnya agen Mossad Israel oleh aparat keamanan Qatar.

Dengan begitu, Perang AS-Israel versus Iran tidak bisa lagi dibaca sekadar sebagai perang regional. Ini adalah perang yang menandai titik-balik sejarah, yaitu runtuhnya Tatanan Internasional berbasis aturan yang dirancang sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Titik balik ini ditandai dengan terguncangnya Pasar Energi, Sistem Keuangan, dan Keseimbangan kekuatan global. Apa katalisator/faktor percepatan yang akan menjadi prolog runtuhnya Tatanan Internasional berbasis Neoliberalisme itu? Anarki Internasional sebagai struktur dasarnya, kepentingan bangsa sebagai kompasnya, dan kekuasaan sebagai prinsip pengorganisasian bersama. Pertanyaan pentingya, siapa yang akan membentuk Tatanan Internasional Baru sebagai hasil dari dekonstruksi tatanan internasional lama yang sedang berlangsung saat ini?

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com