Perang AS-Israel versus Iran: Menghentikan Gerak Laju Kebangkitan dan Kemajuan Ekonomi Asia

Bagikan artikel ini

Seperti artikel saya terdahulu, dampak perang AS-Israel versus Iran berpotensi melemahkan kebangkitan negara-negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Apalagi kalau mencermati sikap Presiden AS Donald Trump maupun Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu, di satu sisi, dan Iran di sisi yang lain, sama-sama bersikukuh untuk tetap memperpanjang durasi perang yang sudah dimulai pada akhir Februari 2026 lalu.

Terlebih lagi ketika faktor pemicu (triggering factor) meletusnya perang adalah menyusul gagalnya perundingan perdamaian tentang nuklir AS-Iran yang berlangsung di Oman, yang menurut kabar sebenarnya hampir berhasil.

Ditelaah dari sudut pandang kepentingan nasional negara-negara Asia, termasuk Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, hingga kini masih tetap teka-teki apa motif AS sesungguhnya dalam mengobarkan perang terhadap Iran. Apakah untuk menguasai cadangan energi Iran yang memang cukup besar? Menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran yang berdiri sejak 1979 menyusul runtuhnya Shah Iran berikut Dinasti Pahlevi? Atau semata-mata melayani ambisi geopolitik AS-Israel untuk memecah belah Iran sebagai sebuah negara-bangsa?

 

Winning an Unpopular War? The United States–Israel War Against Iran: Strategic Miscalculation, Escalation Dynamics, and a Lose–Lose Dilemma Image

Dokumen Foto Dari: https://smallwarsjournal.com/2026/04/03/winning-an-unpopular-war/

 

Dalam beberapa artikel terdahulu, saya selalu mengetengahkan salah satu dampak yang paling berbahaya menyusul meletusnya Perang AS-Israel terhadap Iran adalah hancurnya legitimasi dan legalitas Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Utamanya Pasal 2 ayat 4: Melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial negara lain. Selain itu dari sudut pandang hukum internasional, bukan saja telah melakukan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Melainkan juga telah melakukan tindak kejahatan perang, mengingat fakta bahwa serangan AS/Iran telah menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipi Iran, yang masuk kategori non-combatant dan bukan merupakan para pihak yang terlibat dalam peperangan.

Indonesia dan negara-negara mitra dari Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN, sudah harus melakukan semacam prakiraan keadaan terkait tren global terkait dampak jangka panjang dari perang AS-Israel versus Iran yang masih berlangsung saat ini.

Kajian strategis Dr. Dan Steinbock saya kira menarik dan penting untuk bahan kajian strategis keamanan maupun geopolitik. Misalnya, seiring dengan  masalah penutupan Selat Hormuz dan risiko tingkat tinggi di Laut Merah, siapa yang akan menjadi penerima manfaat utama dari krisis energi ini terkait pasokan penting ke Cina dan Asia?

Beberapa data saya olah sebagai bahan analisis dari artikel Dr. Dan Steinbock bertajuk : 

US/Israel’s Iran war undermines Asia’s rise and global prospects

Dr. Dan Steinbock berpandangan bahwa danya gangguan di Selat Hormuz, pihak yang paling diuntungkan dalam jangka pendek mungkin adalah para pengekspor energi — Rusia, AS, dan mungkin Turkmenistan, Kazakhstan, dan Australia — yang dapat melewati titik-titik rawan di Timur Tengah melalui jalur pipa atau rute maritim alternatif.

Namun Dan Steinbock juga meyakini bahwa dalam jangka panjang semua pihak yang berkepentingan pada akhirnya juga sama-sama rugi. Bahkan perang AS-Israel versus Iran pada perkembangannya jauh lebih buruk daripada perang Rusia-Ukraina maupun Gaza.

Efek domino dari perang AS-Israel versus Iran yang mungkin saat ini belum terbayangkan adalah, mengancam kemajuan perekonomian Cina saat ini. Sebagaimana kita ketahui, sejak dekae 1990an Cina sudah menunjukkan tanda-tanda bangkit dari keterpurukan akibat revolusi kebudayaan yang dilancarkan Mao Zhe dong pada dekade 1960an. Sejak memasuki dekade 2000an, Cina bahkan bukan saja berhasil bangkit dari keterpurukan, melainkan tampil sebagai negara adikuasa baru di kawasan Asia Pasifik, menyaingi AS dan Uni Eropa.

Sekarang akibat serangan AS-Israel ke Iran, lonjakan harga minyak akibat keputusan Iran menutup Selat Hormuz, 90 persen impor minyak mentah Cina dari Iran, bisa dipastikan akan mengganggu perekonomian nasional Cina. Belum lagi termasuk ketergantungan 50 persen total energinya dari Timur Tengah.

Dengan terganggunya jalur di Selat Hormuz, konflik tersebut memaksa biaya pengiriman menjadi lebih tinggi.

Untunglah Cina termasuk salah satu negara di Asia yang memandang penting studi strategis untuk mengantisipasi skenario terburuk. Sehingga krisis seperti yang melanda Iran saat ini sudah masuk dalam agenda kajian strategis Cina. Salah satu antisipasi yang dilakukan pemerintah Cina adalah mendayagunakan secara maksimal cadangan minyaknya yang cukup besar, serta mengalihkan sarana-sarana transportasi yang sebelumnya menggunakan bahan bakar minyak ke kendaraan-kendaraan listrik. Sehingga membantu melindungi perekonomian dari gangguan pasokan, akibat penutupan Selat Hormuz.

Namun demikian, pada umumnya dampak dari perang AS-Israel versus Iran akan melemahkan atau bahkan menghancurkan sektor-sektor strategis perekonomian nasional negara-negara di Asia, termasuk Indonesia. ektor mana di Asia yang lebih rapuh dan kemungkinan besar akan paling terpengaruh dalam hal pertumbuhan dan inflasi? Pertanyaan paling penting, dengan belajar dari pengalaman buruk Krisis Moneter 1997-1998, apakah fundamental ekonomi Cina, ASEAN, dan utamanya Indonesia, maupun negara-negara Asia pada umumnya, cukup tangguh menghadapi goncangan ekonomi global mendatang?

Dalam prediksi Dan Steinbock, Tahun 2026 akan menyaksikan peningkatan divergensi ekonomi di Asia. Ekonomi yang digerakkan oleh teknologi mungkin tetap tangguh. Ekonomi yang bergantung pada manufaktur tradisional menghadapi persaingan ketat dan tekanan kebijakan perdagangan. Sebaliknya, ekonomi yang bergantung pada komoditas dan impor minyak akan terpukul dari semua sisi.

Menurut saya analisis dan prognosis Dan Steinbock sangat masuk akal dan layak untuk menjadi bahan rujukan dalam penyusunan Risk Assessment Analysis maupun Early Warning Report.

Studi Dan Steinbock mengisyaratkan, ekonomi manufaktur maju yang mengandalkan ekspor seperti Taiwan, Singapura, Korea, dan Malaysia dapat tetap tangguh, didorong oleh permintaan terkait AI, elektronik canggih, maupun  Foreign Direct Investmen (FDI). Celakanya, beberapa negara Asia lainnya seperti Filipina, Thailand dan Indonesia, kinerja perekonomian nasional ketiga negara ASEAN tersebut akan memburuk.

Seperti kita ketahui, Filipina sangat mengandalkan impor minyak mentahnya dari negara-negara Teluk. Bahkan Filipina dampak buruknya sudah semakin terasa belakangan ini. Melonjaknya harga bahan bakar, dan pemadaman listrik, ketidakstabilan pasar dan melemahnya mata uang Peso, dan tekanan pada sektor pertanian.

Bukan itu saja. Pengangguran meningkat; pertumbuhan ekonomi akan semakin terhambat dengan melonjaknya harga pangan dan inflasi (hingga 3 hingga 6 persen dalam skenario terburuk). Kondisi seperti tergambar dalam kasus Filipina ini besar kemungkinan akan menimbulkan efek-berantai ke negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia.

Bagi negara-negara yang praktek korupsinya sudah melekat atau bahkan merupakan konsekwensi logis dari sistem politiknya yang koruptif di semua tingkatan seperti Indonesia, meremehkan dampak buruk dari Perang AS-Israel versus Iran, bisa sangat fatal akibatnya.

Di pasar valuta asing, kawasan Asia merupakan wilayah yang diprediksi akan paling terpukul, dan bahkan gejalanya sudah tampak kira-kira seminggu yang lalu. Menyusul penurunan secara tajam di Seoul, Korea Selatan, dan titik terendahnya di Jepang, Taiwan dan Thailand.

Mengapa bisa begitu. Dengan merujuk pada analisis Dan Steinbock, Dalam dua minggu terakhir, Indeks MSCI AC Asia Pasifik telah turun sebesar 8,6 persen. Itu 2,5 kali lebih besar daripada Indeks MSCI Dunia. Penurunan tajam ini terutama didorong oleh gabungan faktor-faktor seperti ketergantungan energi regional dan pembalikan momentum sektor teknologi yang tiba-tiba.

Penurunan tajam tersebut mungkin hal itu bisa terjelaskan melalui fakta bahwa lalu lintas pengiriman global melalui Teluk telah anjlok. Penutupan Selat Hormuz selama sebulan penuh akan menghabiskan persediaan “tepat waktu” untuk sektor elektronik dan otomotif di Asia dan Eropa.

Saat ini, minyak brent, yang merupakan salah satu jenis minyak mentah ringan dan manis (light sweet crude oil) yang merupakan acuan utama harga minyak global, harga Brent mencapai puncaknya di kisaran 120 dolar AS, jika mengacu pada harga pada awal Maret 2026 lalu. Yang pastinya harga bisa semakin melonjak lagi di bulan April sekarang ini.

Dalam prediksi Dan Steinbock,   Skenario harga minyak mentah Brent ditentukan oleh status Selat Hormuz. Bahkan skenario dasar pun saat ini berada di sekitar $95–$100 per barel. Gangguan yang berkepanjangan akan mengakibatkan harga Brent rata-rata mencapai $110–$140. Blokade yang berkelanjutan akan mendorong harga di atas $150.

Pertanyaan strategisnya, dengan menggunakan kerangka analisis Dan Steinbock terkait kenaikan harga minyak Brent sebesar 10%-15%, apa dampak gabungan dari instabilitas dan goncangan politik dan keamanan di Timur Tengah ini terhadap Asia?

Pertama, goncangan pasokan akan sangat merusak perekonomian negara-negara pengekspor minyak dan energi di Asia. Asia Tenggara mungkin merupakan kawasan yang paling terpukul. Dalam “guncangan ganda” geopolitik dan perdagangan, tekanan inflasi dan stagnasi pertumbuhan menghantam secara bersamaan dari dua arah yang berbeda. Semakin lama durasi krisis, semakin merusak dampak stagflasi tersebut.

Kedua, dan bagi Indonesia, efek domino ini masih belum terlihat secara kasatmata namun sungguh sangat mengkhawatirkan. Oleh sebab negara-negara berkembang di Asia umumnya menyumbang sekitar 60 persen dari pertumbuhan global, pa pun yang melemahkan ekspansi ekonomi mereka akan memperburuk prospek global yang sudah suram saat ini.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute.

 

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com