Efek domino dari keputusan pemerintah Republik Islam Iran menutup Selat Hormuz, bukan saja berdampak pada penurunan drastis pasokan produksi minyak dan gas di pasar global, bahkan sekarang mulai membawa dampak buruk dalam penurunan secara drastis dalam bidang produksi pangan.
Saat ini saja, ekspor pupuk di pasar global berkurang hingga mencapai 30 persen. Sekadar informasi, Selat Hormuz merupakan salah satu titik rawan maritim terpenting di dunia, yang dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui jalur laut dan sejumlah besar gas alam cair serta pupuk.
Dengan begitu, penutupan Selat Hormuz membawa dampak buruk bukan saja dalam bidang minyak dan gas, melainkan juga berpotensi mengguncang pasokan pangan global. Dampak yang ditimbulkannya saat ini meluas jauh melampaui kawasan tersebut Timur Tengah dan Teluk Persia, tapi juga memengaruhi pasar energi, transportasi maritim, dan rantai pasokan global.
BACA:
Strait of Hormuz crisis: Fertilizer scarcity will affect next harvests and food supplies, FAO warns
Tidak salah jika Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Qu Dongyu, menyatakan bahwa gangguan di Selat Hormuz bukan saja berdampak terhadap konstelasi geopolitik, tapi juga memengaruhi produksi pangan, perdagangan, input pertanian, dan akses terhadap pangan di seluruh dunia.
Bahkan yang lebih parah lagi, juga dapat berdampak buruk dalam bidang pembangunan nasional negara-negara di pelbagai kawasan dunia, terutama negara-negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi dan bahan pangan dari negara-negara lain.
Betapa tidak. Kenaikan biaya energi, pupuk, dan transportasi – termasuk tarif pengiriman, harga bahan bakar kapal, dan premi asuransi – pada perkembangannya menyebabkan harga pangan melonjak naik sehingga biaya hidup semakin melonjak naik pula, terutama bagi lapisan masyarakat yang masih miskin atau masyarakat yang rentan kelaparan.

SUMBER FOTO: https://witnessradio.org/wars-are-disrupting-food-systems-and-ending-world-hunger-requires-urgent-global-action-experts-say/amp/Ketika harga minyak naik, harga pangan seringkali juga naik. Ketika harga bensin naik, harga pupuk seringkali juga naik. Alhasil, kondisi akibat penutupan Selat Hormuz, pada gilirannya juga mengguncang sistem pangan dunia. Fakta bahwa yang memperinatkan hal itu adalah Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), tampaknya krisis energi dan pangan dunia sudah di ambang pintu.
Sebab secara lugas Direktur Jenderal FAO telah memperingatkan bahwa saat ini hampir semua negara di dunia dapat merasakan konsekuensi akibat dari penuruan produksi dan pasokan minyak, gas dan pangan, karena ujung-ujungnya nanti akan mengurangi ketersediaan bahan-bahan pangan, sehingga harga pangan dan energi pun melonjak secara drastis.
Blokade dan penutupan Selat Hormuz telah menghentikan pengiriman penting minyak, gas alam, belerang, dan hingga 30% pupuk yang diperdagangkan secara global. Parahnya lagi, harga pupuk dan energi saat ini pun telah melonjak drastis, menunda jutaan ton input pertanian penting dan mengancam siklus penanaman mendatang. Sebab kelangkaan pupuk secara otomatis akan memengaruhi panen dan pasokan pangan berikutnya.
BACA JUGA:
Strait of Hormuz disruptions: Implications for global trade and development
Apa artinya ini bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang masih mengandalkan impor energi dan pangan? Negara-negara yang bergantung pada impor di seluruh Asia, Afrika, dan Timur Tengah saat ini menghadapi risiko serius terhadap produksi pangan lokal dan pasokan bahan pokok negara-negara berkembang yang masih menggantungkan diri pada impor dari negara-negara lain.
Singkat cerita, Ketahanan Pangan Negara-Negara Berkembang yang masih mengandalkan Impor berada dalam bahaya. kelangkaan pupuk global yang disebabkan oleh gangguan di Selat Hormuz akan menyebabkan penurunan hasil panen dan pengetatan pasokan pangan pada paruh kedua tahun 2026 dan hingga tahun 2027.
Maka itu sangat masuk akal dan tepat ketika FAO menganjurkan semua negara menjalin kerja sama dan koordinasi untuk mengupayakan langkah-langkah strategis memfasilitasi jalur perdagangan alternatif, menghindari pembatasan ekspor, mendukung akses petani terhadap input pertanian, dan melindungi rantai pasokan kemanusiaan.
Adapun untuk jangka menengah perlu penguatan koordinasi regional, diversifikasi sumber pupuk dan energi, serta dukungan yang tepat sasaran untuk perekonomian yang paling rentan.
Dalam jangka panjang, perlu perlunya transformasi struktural untuk mengurangi ketergantungan pada jalur pasokan yang terkonsentrasi dan input berbasis bahan bakar fosil, termasuk melalui investasi dalam pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, solusi pupuk inovatif, serta sistem penyimpanan dan logistik yang lebih kuat.
Bagi Iran, Selat Hormuz memang strategis ditilik dari sudut pandang geopolitik dan kepentingan nasionalnya dalam menghadapi serangan AS. Namun segi lain yang perlu jadi sorotan adalah fakta bahwa Selat Hormuz dalam kondisi global yang normal mengangkut sebagian besar minyak, gas alam cair, belerang, dan pupuk yang diperdagangkan secara global. Gangguan terhadap arus maritim melalui koridor tersebut, pastinya telah memperketat pasar pupuk dan meningkatkan biaya energi, dengan konsekuensi yang berpotensi serius bagi produksi pertanian dan harga pangan dunia.
Perang AS vs Iran yang disulut Presiden Donald Trump sejak Februari 2026, telah mengguncang cara pangan diproduksi, diperdagangkan, dan diakses. Meningkatnya biaya energi, gangguan pasokan pupuk, dan ancaman terhadap jalur perdagangan mengungkap kerapuhan sistem pangan global, meningkatkan biaya produksi, dan membuat jutaan orang rentan terhadap kelaparan.
Krisis Energi dan Pangan juga telah mempertunjukkan kaitan erat antara ketahanan energi, perdagangan global, dan sistem pangan. Bahkan ketika gangguan tersebut semula hanya mengguncang beberapa negara di sebuah kawasan, katakanlah Timur Tengah, namun pada perkembangannya membawa dampak kenaikan harga pangan dan berkurangnya ketersediaan pangan di pasar global.
Indonesia, seperti juga negara-negara berkembang, memang pantas untuk khawatir. Sebab selain energi, Perang di kawasan Timur Tengah juga mengganggu komoditas non-minyak utama – seperti metanol, aluminium, sulfur, dan grafit – yang berdampak pada manufaktur global dan transisi energi hijau. Gangguan terhadap kebutuhan industri penting ini dengan cepat mengubah rantai pasokan global – mulai dari pupuk untuk panen di masa depan hingga mineral yang mendorong industri teknologi tinggi.
Berikut sembilan sektor yang menjadi pusat perubahan ini: Pupuk (urea dan amonia), Belerang, Metanol, Bahan baku grafit, Alumunium, Helium, Glikol (MEG), Bijih Besi/pelet baja, dan Infrastruktur Hidrogen Hijau.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)