Politik dan Gaya Pemberitaan Media-Media AS dan Inggris Bias Anti-Iran

Bagikan artikel ini
Apa kabar Indonesia? Sekarang mari kita telaah liputan-liputan media Barat sehubungan dengan Serangan yang dilancarkan AS-Israel ke Iran sejak akhir Februari lalu.
Ada ciri umum yang menarik, kalau saya cermati dari gaya pemberiaan hingga bagaimana narasinya disampaikan. Tampaknya selalu menggunakan kalimat pasif alih-alih aktif.
Di seluruh Barat, media korporat telah menggunakan taktik yang sama, yaitu menggunakan kalimat pasif dan tidak menyebutkan pelaku ketika menggambarkan agresi AS/Israel. Contoh sempurna dari hal ini adalah judul berita BBC, “Setidaknya 153 tewas setelah dilaporkan terjadi serangan di sekolah, kata Iran.
“Iran memilih kekacauan” demikian judul buletin New York Times, yang menggambarkan Republik Islam sebagai aktor utama.
Surat kabar Free Press malah menggunakan kalimat-kalimat yang lebih agresif lagi, seolah-olah sebuah pamflet untuk menggerakkan aksi massa. “Perang adalah kesempatan terbaik rakyat Iran untuk meraih perdamaian,” menggambarkan kejahatan AS/Israel sebagai tindakan belas kasihan terhadap penduduknya yang telah lama menderita.
Saya mengolah beberapa data penting dari artikel yang ditulis oleh Alan Macleod, jurnalis dan analis berita yang cukup kritis mengenai sepak-terjang media-media arus utama Barat yang cenderung pro Amerika-Israel dan memojokkan Iran: 
Dalam mewartakan para korban perang pun beberapa media Barat cenderung bias. Misalnya saja Washington Post, menulis (penekanan ditambahkan): “Israel mendesak evakuasi pinggiran kota Beirut selatan; Iran mengancam akan membalas dendam kepada AS atas kapal perangnya.” Sehingga muncul kesan di benak pembaca kalau Israel merupakan pihak yang berupaya dengan itikad baik untuk mengurangi korban sipil, sementara respons Iran terhadap serangan dan penenggelaman kapal mereka di perairan internasional digambarkan sebagai ancaman.
Taktik umum lain yang digunakan media untuk mendelegitimasi adalah dengan menyebut Iran sebagai “rezim” (misalnya, Bloomberg , Washington Post , Wall Street Journal , Financial Times , CNN , NBC News ).
Kata “rezim” mencerminkan politik keredaksian media-media korporat arus utama di Amerika untuk secara sengaja atau bisa juga mewakili alam bawah sadar pemihakah Barat kepada negara-negara non-Eropa untuk memojokkan pemerintah, dan mendorong pembaca untuk menentangnya. Frasa “rezim Israel” hampir tidak pernah digunakan, kecuali dalam kutipan dari pejabat Iran.
Stasiun televesi Amerika yang berhaluan liberal dan cenderung pro partai demokrat alih-alih partai republik, CNN, ternyata kalau urusan liputan perang, tetap saja ngepro AS dan sekutu-sekutunya.
Coba simak penarasiannya. Ketika sejumlah besar pasukan Israel menginvasi Lebanon selatan, beberapa media Barat berupaya mencari cara untuk menampilkan operasi tersebut sebagai sah, termasuk menggunakan frasa “menyeberang ke Lebanon” secara halus untuk menggambarkan invasi tersebut, atau bahkan menyalahkan Hizbullah atas kekerasan tersebut.
CNN, misalnya, menulis bahwa, “Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam perang melawan Iran.” Dalam bagian lain CNN menulis, “Hizbullah baru saja memulai kembali pertempuran yang ditunggu Israel untuk diakhiri.” Sehingga berita tersebut sengaja atau tak sengaja memutar-balikkan kenyataan siapa yang menyerang siapa.
Inggris yang secara tradisional dipandang lebih sopan dan elegan dibanding Amerika sebagai keponakannya di seberang Atlantik, media massa-nya pun tak kalah brutal dan bias.
Misalnya, Daily Telegraph dalam liputanya menulis: “Inggris mendukung perang melawan Iran,” seraya menayangkan gambar diaspora Iran yang bersorak gembira atas pemboman negara mereka.
Bagaimana dengan yang namanya self-censorship atau sensor diri dari medianya itu sendiri. Inggris ternyata juga tak kalah brutal dibanding Amerika.
Sebuah jajak pendapat YouGov yang diterbitkan pada hari yang sama menemukan bahwa hanya 28% warga Inggris yang mendukung tindakan AS/Israel, dengan 49% menyatakan penentangan mereka. Meskipun demikian, pembawa acara BBC Nick Robinson menyarankan , di siaran langsung, bahwa protes terhadap serangan AS/Israel harus dilarang di seluruh Inggris.
Waduh, kok bisa begitu ya? Dalam kasus BBC menurut Alan Macleod sepertinya hal itu sama sekali tidak mengejutkan. Dalam sebuah artikelnya yang juga menyorot perilaku dan sepak-terjang pelbagai media di Amerika dan Inggris, menulis:
“Mentalitas semacam ini seharusnya tidak mengejutkan, mengingat posisi yang dinyatakan oleh pimpinan BBC mengenai Israel. Editor Timur Tengah BBC, Raffi Berg , adalah mantan agen CIA dan kolaborator Mossad yang memiliki surat rekomendasi yang ditandatangani oleh Netanyahu di dinding kantornya. Wow. Beneran nih.
Alan Macleon dengan sangat meyakinkan malah lebih mempertajam lagi. ” aryawan BBC anonim yang berbicara kepada Drop Site News mengklaim bahwa “seluruh pekerjaan Berg adalah untuk meredam segala sesuatu yang terlalu kritis terhadap Israel.” Mereka selanjutnya menuduh bahwa ia memegang kekuasaan yang “luar biasa” di lembaga penyiaran negara Inggris tersebut, bahwa ada budaya “ketakutan ekstrem” di BBC tentang penerbitan apa pun yang kritis terhadap Israel, dan bahwa Berg sendiri memainkan peran kunci dalam mengubah liputan tersebut menjadi “propaganda Israel yang sistematis.” BBC telah membantah klaim-klaim ini.
Kembali menyorot politik dan gaya pemberitaan media-media Amerika, lagi-lagi harian terkemuka The New  York Times, lagi-lagi bisa jadi ilustrasi betapa biasnya pemberitaan di AS. Ketika meliput insiden paling mematikan di Minab, sebuah kota di provinsi Hormozgan, Iran.  Sebuah sekolah dasar menjadi sasaran serangan tersebut. Menurut pihak berwenang Iran, 165 orang tewas, sebagian besar adalah perempuan.
Namun, pembaca yang hanya mengandalkan liputan media Barat dapat dengan mudah melewatkan fakta mendasar: siapa yang melakukan serangan itu. Judul berita New York Times berbunyi: “Analisis menunjukkan Sekolah Terkena Serangan di Tengah Serangan AS terhadap Pangkalan Angkatan Laut Iran.”
Assal Rad, seorang peneliti dan anggota di Arab Center, mengatakan kepada Outlook bahwa judul berita tersebut “sama sekali menyembunyikan fakta bahwa 165 orang, sebagian besar anak-anak, tewas dalam serangan AS.” Judul tersebut menimbulkan keraguan melalui frasa “analisis menunjukkan.” Frasa “Sekolah terkena serangan” menggunakan kalimat pasif. Frasa “Di tengah serangan terhadap Pangkalan Angkatan Laut Iran ” dimaksudkan untuk membenarkan alasan serangan tersebut .
Menurut Assal Rad, Kalau New York Times mau obyektif dalam pemberitaannya, seharusnya judul beritanya:“AS Membom Sekolah Dasar Putri di Iran Menewaskan 175 Orang, Sebagian Besar Anak-Anak.” Begitulah seharuisnya berita yang sebenarnya, begitu penuturan Assal Rad.
Baca Juga: 
Tapi rupanya ulah New York Times tidak hanya sampai di situ saja. Ada yang lebih gawat lagi.  Sebuah memo New York Times tahun 2023 yang bocor mengungkapkan bahwa manajemen perusahaan secara eksplisit menginstruksikan wartawannya untuk tidak menggunakan kata-kata seperti “genosida,” “pembantaian,” dan “pembersihan etnis” ketika membahas tindakan Israel.
Para Staf redaksi Times harus menahan diri dari menggunakan kata-kata seperti “kamp pengungsi,” “wilayah pendudukan,” atau bahkan “Palestina” dalam pemberitaan mereka, sehingga hampir tidak mungkin untuk menyampaikan beberapa fakta paling mendasar kepada audiens mereka.
Kalau dipikir-pikir benar juga ya. Selama ini termasuk kita di Indonesia, selalu terpaku pada frase kata Gaza, meskipun kita mewartakannya secara penuh simpati dan bahkan pemihakan. Tapi tanpa sadar kita kena hipnotis, bahwa hakekat masalah sesungguhnya itu Palestina, bukan cuma Gaza atau Tepi Barat.
Cerita Alan Macleod rupanya masih bersambung. Setelah serangan 7 Oktober yang dilancarkan oleh Israel, CEO perusahaan, Mark Thompson, mengirimkan memo kepada seluruh staf yang menginstruksikan mereka untuk memastikan bahwa Hamas (dan bukan Israel) yang dianggap bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.
Bahwa mereka harus selalu menggunakan sebutan “dikendalikan Hamas” ketika meliput keterangan Kementerian Kesehatan Gaza mengenai angka kematian warga sipil mereka, dan melarang mereka untuk melaporkan sudut pandang Hamas, yang menurut direktur senior standar dan praktik berita kepada staf adalah “tidak layak diberitakan” dan sama dengan “retorika dan propaganda yang menghasut.”
Singkat cerita, dengan CNN, CBS News, dan TikTok yang dimiliki oleh aset CIA Larry Ellison, penyandang dana swasta terbesar IDF dan teman dekat Benjamin Netanyahu, sepertinya kita sudah saatnya menyusun Kontra Propaganda dan Kontra Pemberitaan yang jauh lebih faktual, seimbang, dan benar-benar mencerminkan situasi nyata yang memang benar benar begitulah nyatanya.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com