“System 1 bekerja otomatis. Tapi System 2 perlu diundang.” — Lisa Urlbauer, Head of Journalism, Bonn Institute
Kita hidup dalam ekosistem media yang cepat, penuh tekanan, dan sangat responsif terhadap algoritma. Di tengah banjir notifikasi dan klik, ruang untuk bertanya perlahan menghilang. Redaksi sibuk mengejar waktu, dan pertanyaan yang seharusnya menjadi landasan etika dan intelektual jurnalisme, hanya menjadi formalitas. Tapi apa jadinya jika kita menjadikan bertanya sebagai praktik radikal?
Dalam workshop yang digelar oleh Bonn Institute di DW Global Media Forum 2025, dua fasilitator utamanya, Ellen Heinrichs dan Lisa Urlbauer, menantang para jurnalis untuk menghidupkan kembali seni bertanya. Bukan sekadar bertanya kepada narasumber, tapi juga kepada diri sendiri dan satu sama lain di ruang redaksi.
Pertanyaan yang Mengaktifkan System 2
Dalam psikologi kognitif, otak manusia bekerja dalam dua sistem:
System 1: cepat, otomatis, impulsif
System 2: lambat, reflektif, analitis
Dalam jurnalisme, System 1 sangat aktif: saat mengejar tenggat, saat memilih kutipan, saat mengemas judul. Tapi System 2? Ia tertinggal, kecuali kita sengaja mengundangnya.
Lisa mengatakan, “Jurnalisme yang membangun tidak akan lahir dari reflek semata. Ia perlu jeda, perlu pertanyaan, perlu niat untuk berpikir ulang.”
Lima Pertanyaan Kritis Sebelum Menyusun Narasi
1. Apa bukti yang menantang sudut pandang saya?
Jangan hanya mencari apa yang menguatkan cerita. Tantang kerangka berpikir Anda sendiri. Bias konfirmasi terlalu licin untuk disadari jika tidak dicari secara sengaja.
2. Siapa yang belum saya dengar suaranya?
Dalam setiap konflik, selalu ada pihak yang dibungkam atau tidak terlihat. Pertanyaan ini menggeser fokus dari yang dominan ke yang tersembunyi.
3. Bagaimana jika asumsi saya keliru?
Asumsi adalah fondasi narasi. Menggoyangnya mungkin mengguncang cerita, tapi juga membuka ruang untuk cerita yang lebih utuh.
4. Apa interpretasi yang paling empatik terhadap tindakan atau keyakinan pihak lain?
Ini bukan tentang membenarkan, tapi memahami. Dalam dunia yang terpolarisasi, empati bukan kelembekan—ia adalah alat dekonstruksi.
5. Apakah cerita ini memperkuat atau melemahkan dialog dalam masyarakat?
Jurnalisme konstruktif tidak hanya menginformasikan, tapi juga menghubungkan. Pertanyaan ini mengembalikan jurnalis pada peran sosialnya.
Dari Ruang Redaksi ke Ruang Refleksi
Ellen Heinrichs menegaskan pentingnya menjadikan pertanyaan-pertanyaan ini bagian dari ritual redaksional. Bukan hanya untuk jurnalis individu, tetapi untuk tim secara kolektif.
“Jika Anda memimpin redaksi, luangkan waktu untuk bertanya. Tinjau ulang cerita yang Anda pilih. Siapa yang disorot, siapa yang dihilangkan? Adakah sudut yang terlalu sempit? Adakah framing yang terlalu kaku?”
Bertanya Bukan Tanda Lemah
Dalam dunia media yang kian kompetitif, jurnalisme sering dipaksa untuk tampil percaya diri, tegas, dan cepat. Namun, kekuatan sejati justru lahir dari keberanian untuk meragukan, menggali, dan menunda penilaian.
Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, jurnalisme tidak lagi sekadar mencerminkan dunia, tapi juga membentuknya ulang, lebih adil, lebih empatik, dan lebih manusiawi.
Ismail Fahmi