Ratu Belanda

Bagikan artikel ini

Oleh: Onghokham
(FORUM KEADILAN, Nomor 11, Tahun IV, 11 September 1995)

Kolonialisme Belanda di Indonesia sebenarnya tak berlangsung 350 tahun. Itu hanya mitos. Orang Belanda datang di Indonesia 350 tahun yang lalu atau kini 400 tahun. Tapi mereka tak “datang, melihat, dan lalu menaklukkan”. Dominasi politik Belanda atas Indonesia adalah melalui proses berabad-abad.

Benar, kolonialisme, khususnya di Jawa, berlangsung lama. Namun, itu juga tak sampai 350 tahun. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dominasi kolonial itu berjalan dengan damai dan terjadi karena kontrak-kontrak diplomatik antara para raja di sini dan Belanda.

Dinasti Oranye telah memiliki kedudukan sebagai kepala negara Nederland sejak 400 tahun lalu, meski hanya kira-kira 150 tahun sebagai raja. Secara langsung keluarga Oranye mulai terlepas di bawah Pangeran Willem IV dan V (1750-1789) sebagai stadhouder (wali negara) yang juga dijadikan direktur VOC. Namun, kedua stadhouder ini tak banyak berpengaruh secara umum maupun khusus. Mereka juga terlalu disibukkan oleh Revolusi Prancis dan Eropa pada akhir abad ke-18.

Ratu Beatrix adalah keturunan langsung dari para stadhouder abad ke-18 ini. Mereka berasal dari garis keturunan keluarga Oranye di Friesland. Sedangkan garis keturunan dari dinasti Oranye di Holland telah putus karena yang terakhir dari garis ini, Raja Stadhouder Willem III, wafat tanpa keturunan.

Pada tahun 1789, Revolusi Prancis berekspansi ke Nederland dan keluarga Oranye lari ke Inggris. Nederland di bawah Louis Napoleon, adik kaisar Napoleon, dijadikan kerajaan dan kemudian dianeksasi ke dalam emporium Napoleon. Ketika Napoleon dikalahkan sekutu, keluarga Oranye dipulihkan kembali ke Nederland dengan kedudukan raja yang turun-temurun. Garis keturunan ini pun hampir tamat ketika ketiga putra Willem III wafat tanpa keturunan dalam usia relatif muda. Raja Willem dalam usia agak lanjut terpaksa menikah lagi dengan seorang putri Jerman, Emma, yang melahirkan Wilhelmina (1898-1948), yang kemudian menjadi ratu.

Raja pertama Nederland, Willem I (1815-1840), yang pertama dari dinasti Oranye, lebih langsung mempengaruhi sejarah Indonesia. Karena naluri bisnisnya yang tajam, raja Willem mendirikan NHM (Nederlandsche Handels Maatschappij). Perusahaan ini diberi monopoli atas hasil bumi kolonial. Pulau Jawa dijadikan perkebunan pemerintah kolonial yang disebut sistem Tanam Paksa (1830-1870).

Nederland memang lama sekali mendominasi apa yang disebut oleh para sejarawan “jabang bayi” kolonialisme, yakni Pulau Jawa. Nederland, tahun 1930-an, mengira bahwa kekuasaan atas Hindia Belanda masih bisa bertahan selama 300 tahun lagi.

Seperti dinyatakan oleh Gubernur Jenderal (GG) de Jonge (1933) dalam suatu wawancara dengan wartawan Inggris, bahwa kolonialisme Belanda masih akan berlangsung 200 tahun lagi (sesuai dengan mitos kehadirannya di sini) dan bila perlu dengan kelewang dan pentung. Statemen ini agak gegabah, sebab keadaan internasional ketika itu sudah mulai panas di Eropa, dan Asia memang akan mengakhiri kekuasaan Belanda.

Tahun 1930-an, Belanda menganggap kekuasaannya atas kepulauan Indonesia sebagai legitim. Banyak orang baik di Indonesia maupun dunia internasional menganggapnya demikian. Biarpun harus kita catat di sini, De Jonge mengatakan bahwa kekuasaan tersebut bila perlu dipertahankan dengan kekerasan.

Bagaimanapun juga, pada 1945 Belanda menganggap kekuasaannya atas Indonesia masih legitim dan diakui oleh dunia internasional (Sekutu). Entah, bagaimana konsep Indonesia.

Menurut konsep ini, diusirnya Belanda oleh Jepang serta dimasukkannya orang Belanda ke kamp konsentrasi Jepang (penjara) berarti sudah tamatlah Hindia Belanda dan segala legitimasinya. Ini sebenarnya terungkap dari penyambutan secara meriah tentara Jepang yang memasuki Indonesia.

Legitimasi kolonialisme Belanda sebagian terungkap dari tawaran GG Tjarda van Starkenborgh Stachouwer pada Ratu Wilhelmina untuk menetap di Hindia Belanda (Batavia) dan memindahkan pemerintahannya ke sini. Artinya, sebagian kerajaan Nederland di Timur Jauh (Asia-Hindia). Ratu Wilhelmina, nenek Ratu Beatrix, adalah ratu yang paling lama memerintah Belanda dan mungkin Hindia Belanda.

Tawaran GG Tjarda ini datang ketika Ratu terpaksa mengasingkan diri ke London karena tiba-tiba diserbu oleh Jerman-Nazi pada 10 Mei 1940 dan diduduki setelah beberapa hari perang. Tawaran GG Tjarda ditolak Ratu dengan alasan bahwa ia tak tahan iklim panas (tropis) dan itu sebabnya ia tidak pernah mengunjungi Hindia Belanda. Benarkah alasannya itu?

Alasan sebenarnya tentu adalah bahwa Ratu dan pemerintahnya tak dapat meninggalkan pusat perang terhadap Jerman. Kalau ia ke Hindia Belanda, pasti itu akan dilihat oleh Inggris sebagai tindakan mengada kan perdamaian, komporomi dengan Jerman, atau paling sedikit mengundang tuduhan “defaitisme” (sikap menyerah).

Selain itu, kemungkinan terlibatnya Hindia Belanda dalam peperangan dengan Jepang sudah dibayangkan. Hindia Belanda secara praktis tidak dalam keadaan siaga perang modern pada tahun 1940. Nederland tak pernah terlibat peperangan sejak Perang Napoleon, yakni 150 tahun yang lalu.

Maharatu mungkin juga telah memikirkan, andai perang terjadi dengan Jepang, pasti ada kemungkinan bahwa Ratu dan pemerintahannya harus melarikan diri dari pulau ke pulau, yang akan sangat memalukan dan menjatuhkan wibawa mahkota dan pemeritah Belanda. Dengan singkat usul GG Tjarda ditolak mutlak oleh Ratu.

Namun, dengan penolakan Ratu Wilhelmina untuk tinggal atau mengunjungi Indonesia, tak pernah ada kunjungan raja Belanda ke Hindia Belanda. Pada akhir abad yang lalu, memang ada seorang pangeran dinasti Oranye, putra Raja Willem III, yang mengunjungi Hindia Belanda. Tapi ada pula raja atau kepala negara yang berkunjung ke Hindia Belanda. Sering datang kunjungan kepala negara asing, para raja asing seperti Raja Chulalongkorn (Thailand), Raja Leopold dan permaisuri dari Belgia, Czarevitch Nikolas (kemudian Kaisar Nikolas II yang dibunuh dalam Revolusi Bolshevik 1919), dan lain-lain juga berkunjung ke Indonesia.

Dari dinasti keluarga Oranye, artinya, ratu yang pertama kali mengunjungi Indonesia adalah Ratu Juliana dan suaminya. Kunjungan itu sebenarnya sebagai balasan kunjungan resmi Presiden Soeharto ke Nederland. Kunjungan pertama Presiden Soeharto ke Nederland maupun Ratu Juliana ke sini merupakan pendobrakan pertama dari hubungan Indonesia-Belanda. Kini, Ratu Beatrix yang membuat terobosan di Jakarta.

Sumber: FORUM KEADILAN, Nomor 11,Tahun IV, 11 September 1995

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com