Gebrakan Presiden AS Donald Trump dalam menetapkan kenaikan prosentase bea impor terhadap beberapa negara di Eropa, Asia, Afrika dan Timur-Tengah, Vietnam yang berada di kawasan Asia Tenggara pun juga tergabung dalam Perhimpunan Negara-Negara di Asia Tenggara (ASEAN), menarik jadi sorotan kita kali ini. Betapa tidak.
Sejak terbelah dua antara Utara dan Selatan di tahun 1954, Vietnam menganut dua haluan ideologi yang bertolak-belakang. Vietnam Utara menganut paham komunis dan Vietnam Selatan dikuasai lantaran mendapat dukungan Amerika Serikat dan blok Barat, menganut garis ideologi Kapitalisme-Liberal.
Terbelahnya Vietnam jadi Utara dan Selatan, akibat ulah AS-Prancis melalui Konferensi Jenewa di Swiss. Sebenarnya Ho Chi Minh sebagai pemimpin pergerakan pembebasan nasional Vietnam berhasil mengusir Prancis dari bumi Vietnam. Sayangnya, Paman Ho dan ahli strategi perangnya, Vo Nguyen Giap, hanya berhasil memenangkan pertempuran namun kalah dalam peperangan. Melalui Konferensi Jenewa, kaum nasionalis Vietnam hanya berhasil memperoleh wilayah Vietnam bagian Utara, adapun para pemimpin boneka AS memperoleh wilayah Vietnam bagian Selatan.
Alhasil, Vietnam Utara yang sejatinya merupakan representasi pergerakan pembebasan nasional yang dipimpin Ho Chi Minh dan Vo Nguyen Giap, dan Vietnman Selatan yang sejatinya merupakan pemerintahan boneka dari kaum neokolonialisme AS dan Prancis,terlibat perang saudara yang baru berakhir pada 1976, dengan kekalahan Vietnman Selatan dan terusirnya tentara AS dari Vietnam. Serentak dengan itu, Vietnam Utara yang berbasis di Hanoi dan Vietnam Selatan yang berpusat di Saigon, berhasil disatukan kembali. Setelah bersatu, ibukota Vietnam bernama Ho Chi Minh City. Penyatuan negara tersebut diberi nama Republik Sosialis Vietnam dibawah kekuasaan Partai Komunis Vietnam.
Penamaan Republik Sosialis Vietnam, meski di bawah kekuasaan Partai Komunis Vietnam, di sinilah unsur menariknya. Berarti, Vietnam dalam skema Ho Chi Minh sejatinya nasionalisme dan sosialisme dulu, baru komunis. Inilah soft power Vietnam yang sejak 1954 gagal dipahami Amerika maupun sekutu-sekutu baratnya seperti Prancis yang merupakan eks negara penjajah di Vietnam.
Dengan begitu, Vietnam secara de fakto baru merdeka benar-benar sebagai negara-bangsa ya baru pada 1976, ketika Ho Chi Minh berhasil menyatukan Vietnam Utara dan Selatan. Nah di sinilah segi paling unik dari Vietnam yang berhasil menggusur Prancis pada 1954 dan AS pada 1975. Visi nasional Vietnam yang sejatinya berhaluan Nasionalisme namun berwawasan internasionalisme, menyebabkan pemerintah Vietnham Pasca Penyatuan tidak menganut paham sosialisme ortodoks ala Cina dan Uni Soviet di era Perang Dingin.
Vietnam Pasca Penyatuan menjabarkan paham Sosialisme-nya dalam perspektif Kepentingan Nasional Vietnam. Sepanjang AS dan negara-negara industri maju Eropa Barat bersikap kooperatif terhadap kepentingan nasional dan tidak mengorbankan kesejahteraan masyarakat Vietnam, Vietnam tetap membuka diri terhadap kerja sama yang ditawarkan AS maupun negara-negara Eropa Barat dalam melalui investasi asing. Dengan kata lain, para pemegang kewenangan politik Republik Sosialis Vietnam bukan merupakan penghambat investasi dan penanaman modal asing.

SUMBER FOTO: https://www.inanews.co.id/2025/10/investor-pilih-vietnam-ketimbang-indonesia-mengapa/Dengan syarat, Vietnam negara penghasil kopi terbesar di dunia, pemerintah siap membuka diri bagi pemilik modal asing untuk berinvestasi di Vietnam,dan bahkan membuka diri untuk para investor asing membuka pabrik kopi robusta di Vietnam. Tentu saja production sharing atau bagi hasil antara investor asing dan pemerintah Vietnam harus adil dan saling menguntungkan, dan tidak eksploitatif. Sehingga di mata para pebisnis Vietnam maupun pemerintah biaya operasional mampu ditekan sehingga dapat menghasilkan pendapatan yang maksimal dan juga keberlanjutan usaha yang cukup lama. Vietnam menjadi pilihan para investor asing dibandingkan Indonesia saat ini.
Aturan main dan regulasi yang jelas tersebut, Vietnam merupakan negara favorit bagi para investor asing dibandingkan Indonesia yang saat ini regulasi dan aturan mainnya seringkali berubah-ubah sesuai siapa yang sedang menduduki jabaran pemerintahan dan birokrasi.
Dalam hal Vietnam, sekadar ilustrasi, 2013, Samsung membuat pabrik besar di Vietnam dan hingga saat ini telah memproduksi sebanyak 50% ponsel produksi dunia. Strategi pemindahan pabrik dari China disebabkan oleh upah buruh yang meningkat tajam. Kesempatan ini membuat Vietnam membangun komplek bisnis dan pelabuhan untuk memudahkan proses ekspor barang.
Siasat Samsung ini diikuti perusahaan lain yang juga hengkang dari China imbas dari perang dagang Amerika Serikat dan China untuk menghindari tarif tinggi barang impor ke Amerika. Perusahaan tersebut antara lain Apple, ASUS, Google, Nike, dan Adidas. Sepanjang lima tahun terakhir perusahaan besar LEGO, Google, Intel, Foxcon, Luxshare dan sebagian perusahaan otomotif dan tekstil Jepang berbondong-bondong membuka pabrik di Vietnam.
Apa sebenarnya yang menyebabkan Vietnam ramah investasi asing? Salah satunya adalah kelonggaran pajak. Diskon pajak penghasilan perusahaan diberikan bahkan ada yang dibebaskan untuk sektor dan lokasi tertentu hingga 4-15 tahun. Pembebasan pajak impor mesin, bahan baku, dan peralatan modal menjadi benefit yang ditawarkan Vietnam terhadap investor asing.
Perizinan satu pintu yang cepat dan Zona Ekonomi Khusus dengan harga sewa murah dan fasilitas siap pakai di beberapa kawasan tentunya mempermudah pemodal asing ditambah biaya tenaga kerja yang murah yang dapat menekan biaya operasional demi mendapat keuntungan yang lebih banyak.
Vietnam sekarang bagaikan kota industri dengan stabilitas politik yang baik, tidak berisiko dengan minim konflik internal, disukai pebisnis berbagai negara baik dari dunia barat maupun timur. Pebisnis akan selalu mencari celah investasi yang menguntungkan tanpa perlu menerka-nerka apa idealisme negara tujuan.
Konsep untung-resiko menjadi bagian paling utama. Sektor formal berkembang pesat di Vietnam, senada dengan jumlah lapangan pekerjaan yang terbuka lebar. Bagai matahari terbit di ufuk barat, Vietnam sedang merangkai kehidupan warga negaranya untuk bisa hidup lebih layak.
Namun, kejayaan Industri bisa runtuh seketika ketika muncul gejolak masyarakat yang tidak terserap sektor formal membara. Kemungkinan fasilitas-fasilitas yang sudah dinikmati investor bertahun-tahun hilang dan juga regulasi terkait dengan buruh terutama soal upah harus diperhatikan secara khusus. Namun bagi pebisnis tidak akan pernah hilang akal. Jika hal tersebut terjadi ia akan mencari tempat lain yang menguntungkan bisnisnya. Idealismenya masih sama sampai mati Untung-Risiko.
Dengan itu, reaktualisasi Sosialisme Pasca Penyatuan Vietnam, investasi asing bukannya sebagai sarana kolonialisme terselubung dan penindasan terhadap kaum ekonomi lemah, melainkan jadi sarana kebangkitan nasional dan peningkatan martabat manusia.
Murniatun Margono, Direktur Kajian Hukum, Advokasi Hak-Hak Asasi Manusia dan Kesehatan Global