Saatnya Indonesia dan BRICS Memprakarsai Sistem Keuangan Global Alternatif yang Lebih Setara dan Multipolar

Bagikan artikel ini

Prakarsa Uni Eropa yang didukung oleh Jerman untuk membekukan aset kekayaan Rusia dalam rangka membantu kebutuhan militer Ukraina yang sedang berperang menghadapi Rusia, merupakan manuver politik internasional yang pada perkembangannya bisa merusak reputasi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. Bahkan, bisa merusak sistem keuangan global.

Dalam situasi perekonomian dan keuangan di Eropa yang sedang mengalami krisis seperti sekarang, prakarsa Uni Eropa untuk merampas dan membekukan aset-aset Rusia, pada perkembangannya berpotensi merusak lembaga-lembaga keuangan Eropa itu sendiri, yang serta merta dengan itu, juga akan mengundang kekhawatiran para investor untuk berinvestasi di Eropa yang saat ini sedang dilanda krisis finansial yang cukup serius dewasa ini.

Terinspirasi oleh berita tersebut, mulai terpikir bagaimana jika  Indonesia yang saat ini sudah bergabung ke dalam blok ekonomi-perdagangan alternatif, BRICS, mulai memprakarsai terbentuknya Sistem Perdagangan dan Finansial Global yang tidak lagi harus bergantung pada dominasi dan hegemoni Sistem Finansial Global yang dirancang oleh AS dan beberapa negara Eropa Barat sejak berakhirnya Perang Dunia II. Sehingga Indonesia dan negara-negara anggota BRICS, mampu menciptakan Sistem Finansial Global Alternatif yang lebih setara. Dengan begitu, Indonesia dan para anggota BRICS dapat lebih mandiri dan independen dari orbit pengaruh AS dan Uni Eropa.

Dengan demikian Indonesia dan negara-negara berkembang yang secara spesifik tergabung dalam BRICS maupun aspirasi negara-negara berkembang yang tergabung dalam Global South pada umumnya, akan mampu melepaskan diri dari jerat ketergantungan global untuk menggunakan mata uang dolar AS atau mata uang Euro. Apalagi semangat dari terbentuknya BRICS tidak hanya bertujuan untuk sekadar menandingi hegemoni global AS dan Uni Eropa. Lebih daripada itu, BRICS bertujuan untuk menciptakan aliansi berskala global lintas-kawasan berdasarkan perspektif kepentingan dan aspirasi negara-negara berkembang yang umumnya berhaluan nasionalisme anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.

Intinya, Indonesia dan negara-negara berkembang yang menyadari betul BRICS dibentuk bukan saja untuk menghilangkan dominasi AS dan Barat, maka gagasan strategis untuk menciptakan Sistem Finansial Alternatif. Saat ini BRICS memang sudah berhasil mendirikan lembaga keuangan alternatif seperti New Development Bank. Namun itu saja belum cukup. Ide untuk membuat mata uang bersama BRICS seperti Euro dalam Uni Eropa, meskipun masih sangat jauh untuk diwujudkan, namun kiranya perlu terus dikaji dan dieksplorasi berbagai kemungkinan keberhasilannya di masa mendatang.

Terbentuknya Sistem Ekonomi Internasional Britton Woods sejak berakhirnya Prang Dunia II, dolar AS telah ditetapkan sebagai mata uang dalam perdagangan internasional,  cadangan devisa, serta transaksi keuangan global.

Sehingga melalui dominasi mata uang dolar AS yang ditetapkan melalui pertemuan Britton Woods pada 1944, sejatinya merupakan fondasi awal terbentuknya skema Neokolonialisme alias Skema Penjajahan Gaya Baru untuk menggantikan Skema Kolonialisme Klasik yang mana penjajahan terhadap negara terjajah dilakukan melalui kehadiran negara penjajah secara fisik.

Pertemuan yang diperluas dari KTT BRICS di Kazan bulan lalu (Stanislav Krasilnikov, brics-russia2024.ru)

Di sinilah, keputusan Pertemuan Britton Woods pada 1944 kemudian menjadi dasar terbentuknya Tata Ekonomi Internasional Baru yang diawali dengan penetapan dolar AS sebagai mata uang dalam perdagangan internasional,   cadangan devisa, serta transaksi keuangan global.

Melalui Skema Penjajahan Gaya Baru yang fondasinya dibangun dalam pertemuan Britton Woods menjelang berakhirnya Perang Dunia II, penetapan dolar AS sebagai mata uang dalam perdagangan internasional,  cadangan devisa, serta transaksi keuangan global, AS dan negara-negara sekutunya yang tergabung dalam Uni Eropa berada dalam posisi strategis untuk mengendalikan dan mengontrol Sistem Finansial Global.

Betapa tidak. Melalui dolar AS,  Amerika mampu mencetak uang dalam jumlah besar namun tanpa membawa dampak langsung terhadap nilai tukar. Alhasil, AS dan sekutu-sekutunya dari Eropa Barat praktis dalam posisi untuk mendominasi dan mempengaruhi konstelasi politik internasional dan Sistem Keuangan Global. Sebab dominasi dolar AS, berarti Amerika menciptakan ketergantungan negara-negara lain, terutama negara-negara berkembang, terhadap kebijakan moneter dan fiskal AS.

Di sinilah pentingnya prakarsa negara-negara yang tergabung dalam BRICS, termasuk Indonesia, untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih multipolar dan setara, bukannya sistem keuangan global ala Sistem Britton Woods yang bersifat hegemonik dan unipolar (kutub tunggal).

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com