(Catatan pertunjukan sandiwara musikal Jemari, naskah karya Pascal Meliala & Palka Kojansow. Sutradara Dengar Palka Kojansow & Sutrdara Tuli Hasna Mufidah, dimainkan oleh Komunitas Fantasi Tuli dan Komunitas Cerita Beda Hak Sama (CBHS ) dalam rangka Hari Disabilitas Internasional).
Oleh Giri Basuki
Minggu, 07 Desember 2025. Pukul 14.45 Wib. Selasar Salihara di kawasan Pasar Minggu Jakarta Selatan.
Saya duduk sambil mengamati gelang kertas yang dipasangkan ditangan kanan oleh petugas tiketing pertunjukan. Gelang kertas itu tertulis deretan kode. Terbagi menjadi tiga bar. Bar pertama tertulis DAY5 yang berarti informasi mengenai hari pertunjukan. Bar kedua tertulis PLAY1 yang berarti pentas pertama yang berarti pula akan ada pentas kedua dihari yang sama.
Lalu pada bar ketiga tertulis CAT1. Apakah yang dimaksud category1? Seperti menghadiri konsermusik/tur dunia artis Internasional saja? Dalam konser Internasional, bar terakhir adalah kode keamanan yang hanya bisa dimengerti oleh petugas keamanan pertunjukan, dalam arti bukan keamanan teritori tempat venue acara berlangsung.
Team bentukan khusus manajemen, yang bertanggung jawab memastikan kelancaran di area interen konser. Seserius inikah manajemen menyiapkan pertunjukannya? Selasar Salihara sore itu dipenuhi oleh pengunjung seusia anak-anak saya-Gen Z. Satu atau dua pengunjung lainnya adalah generasi diatasnya-milenial yang sepertinya para mentor. Dan karena tidak satupun yang saya kenal, saya pun beranjak dari tempat duduk, menuju taman kecil disamping gedung teater.

Credit Foto: Rebecca Karta dan Ratih Fitri
Benar saja, disanalah rekan sesama undangan berkumpul menunggu pertunjukan di mulai. Tak selang berapa lama, para hadirin dipersilahkan memasuki ruang teater tempat pertunjukan akan berlangsung. Petugas mendampingi setiap hadirin sambil mengarahkan menuju tempat duduk. Dan CAT1 itu ternyata kode dari deret kursi dengan stiker warna merah. Kode CAT1 tak terprediksi.
Set panggung utama didominasi dinding besar sebagai pembatas interior sekaligus berfungsi sebagai screen besar yang akan berganti visualnya pada saat adegan berubah, berganti ruang dan waktunya-tehnik multimedia. Membaca teks di dinding set panggung utama ; “Jemari” yang merupakan judul dari sandiwara musikalnya. Dibawah kata ‘Jemari” tertulis; oleh Teman Tuli dan Teman Dengar. “Mak deg!” kembali sejenak pikiran dan hati bereaksi. Istilah Teman Tuli adalah pengganti dari penyandang disabilitas- tuli dan Istilah Teman Dengar adalah pengganti dari orang yang bisa mendengar. Sayapun seketika teringat penulis buku Teori Keadilan- John Rawls; bahwa prinsip sederhana yang mendasar dalam keadilan INDIVIDU itu; apabila keduanya sama-sama diuntungkan.
Prinsip lebih rumit dan politis adalah utilitarianisme. Tetapi saya tidak akan membahasnya di sini. Saya hanya mau mengomentari ketika Kata Teman Tuli dan Teman Dengar itu didekatkan, bukankah selintas kita merasakan akan hadirnya “rasa” keadilan itu? Sekaligus “rasa” kesetaraan? Yang menjadi isu popular di kalangan Gen Z”, terutama isu kesetaraan kesejahteraan? Sampai disini kita menjadi paham, kenapa mereka menolak istilah tuna rungu?
Saya ambilkan contoh lain supaya lebih terang, misalnya, kalau pengertian tunawisma merajuk pada orang miskin, bukankah ini berarti sama juga dengan menciptakan kelas-kelas dalam masyarakat? Lagu pembuka sandiwara musikal dengan aransemen yang apik, meng-cut pikiran saya yang sedang mengkristal.
Sesaat kemudian, muncul tokoh produser dengan ditemani asistennya datang mengunjungi rumah seorang maestro musik yang telah meninggal. Produser itu menemui pemilik rumah sekaligus studio; Ibu Lestari-Teman Dengar, dan anak perempuannya: Mentari-Teman Tuli. Produser itu berniat untuk mempromosikan karya- karya mendiang suaminya, sekaligus ingin menghidupkan kembali studio musiknya.
Tentu saja maksud kedatangannya disambut dengan rasa suka cita oleh tuan rumah. Kalau studio hidup, kita juga hidup. Sebalikya apabila studio mati, kita juga mati. Begitu penjelasan ibunya Mentari kepada Mentari. Produser semakin nyakin dengan rencananya yang bakalan sukses setelah mengetahui Mentari adalah Temen Tuli, dan mempunyai bakat dalam menari. Dan rencana konser musik nantinya produser meminta agar Mentari tampil menari bersama Teman Tul lainnya.
Tetapi Mentari tidak tertarik. Alasanya keinginan menarinya telah terkubur bersama jasad papanya. Mengetahui hal itu Produserpun meminta asistennnya Awan- Temen Dengar untuk membujuk Mentari agar mau terlibat dalam konser. Mentari akhirnya mau terlibat setelah mamanya turut andil memberikan pengertian.
Lalu Mentari menemui teman-teman sesama teman tuli, agar bersedia mendukung acara konser sebagai penari. Beberapa temen Mentari langsung menolak, karena pengalaman yang sudah-sudah keberadaan teman tuli selalu di dimanfaatkan untuk menjadi strategi promosi. Awan yang mendampingi Mentari langsung menjelaskan kalau hal itu itu tidak mungkin terjadi. Atas jaminan itu, teman-teman tuli Mentari akhirnya mau ikut bergabung mendukung acara konser. Perjanjian kontrak disepakati dan ditanda tangani. Latihan menari dimulai. Selama persiapan konser, perlahan hubungan Awan dan Mentari semakin akrab dan saling jatuh hati. Sampai pada akhirnya menjadi rumit setelah mengetahui materi promosi konser ternyata memang “menjual” empati untuk menarik simpati penonton.

Credit Foto: Rebecca Karta dan Ratih Fitri
Tiket konser ditampilkan dalam layar screen multimedia: Buy 1 get 1. Diikuti tagline yang senada. Apa yang di kwatirkan teman-teman tuli Mentari sejak awal menjadi kenyataan, keberadaan mereka ternyata dieksploitasi demi kepentingan komersial. Dan Awanmenjadi kebingungan, karena benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi.
Inilah konflik utama dalam sandiwara musikal Jemari, konflik yang dibangun oleh pemeran utama: Mentari dan Awan yang terjebak pada situasi penuh emosional kira-kira mirip dengan “ You Know I want you” atau sebaliknya “I know you want me”nya The Greatest Showman. Bedanya dalam The Greatest Showman dua-duanya diperankan oleh Teman Dengar (Normal), sementara dalam lakon Jemari ini, diperankan oleh Mentari -Temen Tuli dan Awan-Teman Dengar.