Serangan AS-Israel ke Iran: Mengguncang Stabilitas Pasar Energi Dunia dan Destabilisasi Perekonomian Nasional Negara-Negara Berkembang

Bagikan artikel ini

Perang AS-Iran yang sudah berlangsung sejak 28 Februari 2026 lalu, benar-benar mngguncang stabilitas di kawasan Timur Tengah. Serangan Udara gabungan AS-Israel ke Iran, menewwaskan Ali Khamenei berikut sejumlah anggota senior kepemimpinan Iran.

Meskipun kesinambungan kepemimpinan Iran saat ini berhasil terkonsolidasi kembali, namun situasi di Timur Tengah sudah tidak seperti dulu lagi. Bahkan bukan saja di Timur Tengah, melainkan juga meluas ke Afrika Utara atau yang kerap disebut negara-negara Mahgribi, pastilah merupakan aktor-aktor internasional yang paling terdampak langsung menyusul perang terbuka AS-Israel versus Iran.

Pertemuan 27 menteri luar negeri Uni Eropa pada Minggu 1 Maret 2026, ternyata tidak ada hasil yang konklusif, selain malah bertanya bagaimana mencapai de-eskalasi konflik antara AS-Israel versus Iran, sementara Iran karena merasa menjadi obyek serangan militer, bukan saja melancarkan serangan balasan, bahkan berpotensi menyeret negara-negara tetangga ke dalam Perang Regional yang berskala lebih besar di Timur Tengah.

Rudal dan drone benar-benar berterbangan ke segala arah, bahkan menuju Siprus, negara anggota Uni Eropa. Sebaliknya, AS dan Iran pun belum ada tanda-tanda bermaksud mengurangi tempo serangannya ke Iran. Masalah jadi makin krusial ketika Iran semakin ditekan, Iran akan bukan saja bertekad terus berperang, bahkan meningkatkan eskalasi serangan militernya baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.

Aerial view of a densely populated city in Lebanon with a large plume of dark smoke rising from an explosion in the distance, with the sea visible on the horizon.

UNHCR Asap mengepul setelah serangan udara di Beirut, Lebanon.Memahami skenario terburuk yang akan terjadi di Timur Tengah,  bagaimana dampaknya di bidang energi minyak dan gas? Ditutupnya Selat Hormuz, resiko yang sudah kelihatan secara kasatmata dan jadi pengetahuan umum adalah di bidang minyak. Lebih dari 20% dari total ekspor minyak dan gas akan mengalami destabilisasi. Yang sudah pasti akan harga minyak akan meroket pada skala 150-200 dolar AS per barel. Dan jangan lupa, premi asuransi pun akan melonjak dengan cepat.

Baca: War in the Middle East: What implications for the EU and the world?

Namun taruhan yang juga berpotensi high risk atau beresiko tinggi adalah di bidang pertanian. Pupuk dan banyak produk pertanian strategis lainnya seperti gandum, kentang, dan bahan-bahan mentah pangan strategis lainnya juga terpengaruh, ketika barang-barang tersebut yang melewati Selat Hormuz terhambat pengirimannya dari kawasan Timur Tengah ke Eropa, maupun dari Timur Tengah ke Afrika dan Asia.

Kalau mempelajari skenario terburuk yang mungkin bakal terjadi, krisis yang kemudian mengalami komplikasi seperti di Afghanistan 2001, Irak 2003, dan Libya menyusul tumbangnya Moamar Gaddafi 2011, situasi di Iran yang berpotensi meluas menjadi perang regional di Timur Tengah dalam skala besar, nampaknya mirip seperti Libya saat Gaddafi jatuh pada 2011.

Bahkan saat ini pun   Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab pun termasuk yang paling parah terkena dampak langsung perang AS-Israel ke Iran, tetapi Arab Saudi dan Oman juga menjadi sasaran serangan rudal Iran yang cukup mengkhawatirkan.

Di Irak, malah tak kalah mengkhawatirkan, karena adanya dukungan dari beberapa kelompok bersenjata yang mendukung Iran. Salah satu milisi tersebut, Saraya Awliya Al-Dam , mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap pangkalan AS di Erbil, dengan ledakan dilaporkan terjadi di dekat bandara. Meskipun pengaruh Iran di Irak telah melemah dalam banyak hal, pengaruh tersebut tetap signifikan, dengan beberapa faksi yang didukung Iran beroperasi di dalam negeri. Bisa dipastikan, eskalasi konflik bersenjata yang semakin meningkat dalam mendukung serangan balasan Iran, menciptakan situasi yang tidak stabil bukan saja di internal Irak, melainkan juga meluas ke negara-negar lain di Timur Tengah.

Di Lebanon, kontak senjata antara Israel dan Hizbullah terus berlangsung. Sehingga dalam situasi yang rawan pasca serangan AS-Israel ke Iran, pada perkembangannya dengan mudah bisa meningkatkan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Apalagi Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pada hari Senin 2 Maret lalu,  bahwa pemimpin Hizbullah Naim Kassem sekarang menjadi  target selanjutnya yang akan dihabisi.

Makna dan konksewensi strategis dari Operasi Epic Fury masih banyak kalangan yang belum memahami implikasinya. Bahwa operasi militer tersebut mencerminkan banyak  ciri kebijakan luar negeri dan militer Trump 2.0. Pesan sentral lewat operasi Epic Fury ini adalah, Trump memandang seluruh dunia, bukan hanya Amerika, sebagai lingkup pengaruh AS.

Namun Operasi Epic Fury bukannya tanpa resiko. Jika perang memakan waktu berkepanjangan, pada gilirannya akan akan semakin memperparah pasokan amunisi dan pertahanan udara AS yang sudah menipis – seperti yang telah  diperingatkan oleh para pemimpin militer. Selain itu juga, bisa berakibat berkurangnya alokasi bantuan dana kepada Ukraina dalam menghadapi Rusia.

Situasi Timur Tengah Menggoncang Pasar Energi  

Harga energi melonjak akibat gangguan pasokan minyak dan gas di Teluk Persia menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran. Itu sudah pasti. Namun bagaimana skenario yang kiranya dapat kita bayangkan berikut resikonya?

  1. Untuk pasar minyak, kita telah melihat harga Brent diperdagangkan di atas US$85/bbl baru-baru ini dengan pasokan minyak sebanyak 20 juta b/d (14 juta b/d minyak mentah dan 6 juta b/d produk olahan) berisiko karena penyumbatan Selat Hormuz yang sedang berlangsung. Gangguan terhadap arus pasokan berpotensi mengubah prospek pasar minyak secara drastis.
  2. Arab Saudi dan UEA memiliki kemampuan untuk mengalihkan hingga 5 juta barel per hari melalui jalur pipa untuk menghindari Selat Hormuz, tetapi hal ini masih menyisakan 15 juta barel per hari pasokan minyak yang berisiko.
  3. Pasar gas alam Eropa dan pasar LNG spot Asia bahkan menunjukkan penguatan yang lebih besar daripada pasar minyak, dengan TTF naik hingga 70% setelah eskalasi. Gangguan di Selat Hormuz membuat 20% perdagangan LNG global berisiko, dengan ekspor dari pemasok terbesar kedua, Qatar, terhenti. Meskipun sebagian besar LNG Teluk Persia masuk ke Asia, gangguan tersebut menyebabkan pembeli Asia beralih ke pasar spot, meningkatkan persaingan untuk pasokan antara Asia dan Eropa.
  4. Dari ketiga kemungkinan skenario tersebut tadi, diperkiran akan timbul gangguan selama empat minggu pertama sejak serangan, terhadap aliran minyak dan LNG – dua minggu gangguan penuh dan kemudian dua minggu gangguan 50%. Skenario ini tidak serta merta berarti bahwa kita akan memperkirakan berakhirnya konflik sepenuhnya dalam jangka waktu ini, tetapi jika serangan AS dan Israel mengurangi kemampuan Iran untuk menyerang kapal dan/atau memberlakukan penutupan Selat Hormuz, kita dapat melihat aliran mulai normal kembali.
  5. Kemungkinan skenario paling ekstrem, kita akan menghadapi gangguan total pada aliran minyak dan LNG selama periode tiga bulan depan. Hal ini kemungkinan akan menyebabkan harga minyak melonjak ke rekor tertinggi sepanjang kuartal kedua, sementara harga gas Eropa dapat melonjak hingga EUR80-100/MWh dalam beberapa bulan mendatang.

Harga rata-rata bensin nasional mencapai $3,41 per galon ($0,9 per liter) pada hari Sabtu, menurut American Automobile Association (AAA), naik $0,43 selama seminggu terakhir. Goldman Sachs memperingatkan harga minyak bisa melonjak di atas $100 per barel jika gangguan pengiriman terus berlanjut.

BACA:

Middle East escalation rattles energy markets

Aanalis JP Morgan awal pekan ini, sebagaimana dilansir  kantor berita Reuters, melihat Pasar bergeser dari penetapan harga risiko geopolitik murni ke upaya mengatasi gangguan operasional yang nyata, karena penutupan kilang dan kendala ekspor mulai mengganggu pengolahan minyak mentah dan aliran pasokan regional.

Masuk akal, karena begitu perang meletus, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam global terhenti, karena Teheran menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz yang vital antara pantainya dan Oman, serta menyerang infrastruktur energi di seluruh wilayah tersebut.

Sekadar gambaran sederhananya, dengan keputusan Iran menutup Selat Hormuz yang hampir total berarti produsen minyak utama di kawasan itu – Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait – harus menangguhkan pengiriman hingga 140 juta barel minyak – setara dengan sekitar 1,4 hari permintaan global – ke kilang-kilang global.

Menurut Bank Dunia, lebih dari 80 persen perdagangan global dilakukan melalui jalur laut, yang berarti gangguan di jalur air dapat meningkatkan biaya pengiriman dan menunda pengiriman barang.

Hal ini berarti bencana besar dari segi perekonomian bagi negara-negara berkembang, apalagi yang masih menggantungkan diri pada impor minyak dari negara-negara dari kawasan Teluk. Negara-negara kecil yang bergantung pada perdagangan maritim “berisiko terseret ke dalam ketidakpastian ekonomi yang lebih dalam karena guncangan eksternal tak hanya sebatas menyebar ke Timur Tengah, melainkan juga ke seluruh wilayah Afrika dan Asia.

 

A thick plume of smoke rises from an oil storage facility hit by a U.S.-Israeli strike late Saturday in Tehran, Iran, Sunday, March 8, 2026.

Kepulan asap tebal membubung dari fasilitas penyimpanan minyak yang terkena serangan AS-Israel pada Sabtu malam di Teheran, Iran, Minggu, 8 Maret 2026.

Serangan balasan Iran ke beberapa negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, Emirat Arab, Yordania, Bahrain dan Oman,  yang menyasar beberapa kilang minyak dan infrastruktur energi, pada perkembangannya akan menghentikan untuk sementara proses produksi minyak di negara-negara pengekspor minyak tersebut.

Dua hal yang nampaknya paling menakutkan bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Pertama, melonjaknya harga minyak dan gas. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang semula diprediksi meningkat, dikhawatirkan akan semakin merosot.

Adapun Cina, negara adikuasa pesaing AS, membeli sekitar 90 persen dari ekspor Iran sebesar 1,5 juta barel per hari. Gangguan pasokan besar apa pun dapat menaikkan biaya energi global dan menyebabkan harga bensin yang lebih tinggi bagi warga Amerika—dinamika yang sebagian besar dihindari setelah AS mengambil alih pengiriman minyak mentah di VeIran adalah produsen minyak yang lebih besar daripada Venezuela, sehingga konsekuensi dari gangguan tersebut bisa lebih besar,” kata Samantha Gross, direktur Inisiatif Keamanan Energi dan Iklim di lembaga think tank Brookings Institute yang berbasis di Washington, DC.nezuela.

Fernando Ferreira, direktur Layanan Risiko Geopolitik di perusahaan konsultan Rapidan Energy Group, mengatakan Iran dapat menggunakan ranjau atau serangan pesawat tak berawak untuk mengganggu lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz, atau menggunakan proksinya untuk menargetkan infrastruktur minyak dan gas di negara-negara sekutu AS di dekatnya, seperti yang mereka lakukan pada tahun 2019 dengan serangan pesawat tak berawak terhadap dua kilang minyak Arab Saudi .

Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan ini, berbagi ladang gas utama dengan Iran yang merupakan pemasok utama untuk pasar gas alam cair global.

Kesimpulan singkatnya, Dengan seperlima pasokan dunia terperangkap di Teluk Persia, yang sangat bergantung pada kapal untuk memindahkannya melalui satu-satunya jalan keluar — Selat Hormuz yang sempit — dan menuju Teluk Oman, ada kesepakatan umum bahwa perang yang berkepanjangan dapat menjadi bencana bagi ekonomi global.

Kalau begitu, perang sama sekali tidak menguntungkan bagi semua pihak. Baik yang memulai serangan seperti AS dan Israel, apalagi Iran sebagai negara yang jadi obyek serangan. Maupun dampak secara langsung atau tidak langsung bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com