Serangan Berantai Ukraina Terhadap Kapal Tanker Armada Bayangan, Skema AS-Barat Lumpuhkan Rusia Lewat Modus “Pembajakan”

Bagikan artikel ini

Pada Desember 2025 yang baru lalu, ketegangan antara Amerika Serikat versus Republik Federasi Rusia, nampaknya semakin menajam dan memanas, meskipun masih bersifat tidak langsung. Ukraina, negara proksi AS dan Uni Eropa sejak 2014, dan saat ini memasuki tahun keempat terlibat konflik bersenjata dengan Rusia, pada 19 Desember lalu telah melancarkan serangan terhadap kapal armada bayangan (shadow tanker) di Laut Mediterania, yang menargetkan serangannya terhadap kapal tanker minyak mentah berbendera Oman, Qendil, dengan  menggunakan drone udara.

Menariknya, serangan tersebut terjadi di wilayah perairan yang netral dekat pantai Libya, yang jaraknya lebih dari 2000 kilomater (1.250 mil) dari Ukraina. Kapal tersebut – Qendil – dalam keadaan kosong ketika dihantam oleh drone di perairan netral tersebut.

Baca:

Ukraine strikes Russian ‘shadow fleet’ tanker in Mediterranean

Peristiwa tersebut semakin mengundang tanda-tanya ketika  Pejabat Ukraina, yang menolak disebutkan namanya, tidak mengatakan secara pasti di mana kapal tanker itu berada pada saat serangan atau kapan serangan itu terjadi.

Bukankah kejadian tersebut layak disebut sebagai operasi pembajakan dan perompakan? Kantor berita Reuters pun telah menginfirmasi berdasarkan amatan dari rekaman video bahwa kapal yang terlihat dalam video tersebut adalah Qendil dengan membandingkannya dengan citra arsip, tetapi tidak dapat memverifikasi waktu atau lokasinya.

Mediterranean Sea

Dengan kata lain, sebagai sebuah operasi militer, merupakan sesuatu yang aneh. Sumber-sumber di dinas keamanan negara Ukraina (SBU) tidak mempublikasikan detail spesifik serangan tersebut, termasuk dari mana drone udara itu diluncurkan. Dengan alasan yang lebih aneh lagi, yaitu untuk menghindari sanksi.

Namun kalau kita cermati kepingan informasi lainnya yang terpisah, sepertinya serangan terhadap kapal tanker Qendil tersebut, secara sengaja dialamatkan kepada Rusia. Betapa tidak. serangan itu terjadi di tengah meningkatnya sengketa maritim terkait “armada bayangan.” Serangan itu terjadi di lepas pantai Libya dan memiliki waktu yang sangat tepat: dilakukan pada hari yang sama dengan konferensi pers akhir tahun tahunan Presiden Rusia Vladimir Putin di mana ia berjanji untuk membalas dendam kepada Ukraina atas serangan baru-baru ini terhadap kapal tanker armada bayangan.

Yang dimaksud Presiden Putin tentu saja bukan dalam kaitannya dengan serangan Ukraina terhadap kapal Qendil, melainkan apa yang terjadi jauh-jauh hari sebelumnya,  sepanjang tahun 2024 dan 2025, yang mana Ukraina telah menyerang kilang minyak Rusia. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, kampanye tersebut jelas telah meluas, dengan setidaknya tiga serangan terhadap tiga kapal di Laut Hitam dengan menggunakan drone laut.

Bahkan kita cermati secara lebih mendalam, serangan Ukraina terhadap armada bayangan berupa kapal tanker, sudah dilakukan berkali-kali.  Pada November 2025  rone angkatan laut Ukraina Sea Baby menyerang dua kapal tanker, Kairos dan Virat (keduanya berbendera Gambia dan dikenai sanksi) di Laut Hitam, dekat Turki. Virat terkena dua kali. Pada saat itu, laporan menunjukkan bahwa kedua kapal tersebut kosong dan sedang dalam perjalanan untuk memuat minyak di pelabuhan Novorossiysk. Kedua kapal mengalami kerusakan parah.

Tampilan atas udara tinggi dari kapal tanker minyak mentah yang melaju dengan kecepatan - Bebas Royalti Kapal tanker minyak Foto Stok

Sulit disangkal bahwa motif di balik serangkaian serangan drone udara maupun laut Ukraina terhadap kapal-kapal tanker yang mereka persepsikan sebagai armada bayangan Rusia, sejatinya untuk melumpuhkan jalur ekspor minyak Rusia ke pelbagai negara. Sebagaimana diklaim Ukraina merupakan kapal-kapal yang digunakan membantu Rusia mengekspor sejumlah besar minyak di tengah sanksi yang ditetapkan AS dan Uni Eropa.

Dengan begitu, konflik Rusia-Ukraina, menjadi kedok yang sempurna untuk menggunakan Ukraina sebagai unsur garis depan melumpuhkan Rusia di Laut Mediterania dan Laut Hitam. Maka tak heran ketika menanggapi hal itu, dengan enteng Putin menilai serentetan serangan terhadap kapal-kapal tanker yang Ukraina klaim sebagai kapal-kapal tanker Rusia, sejatinya merupakan aksi pembajakn. Sekadar informasi, Kapal Qendil sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Ust Luga di Laut Baltik, Rusia, dari pelabuhan Sikka di India, menurut data MarineTraffic.

India saat ini merupakan konsumen utama minyak Rusia, meski belakangan ini menghadapi tekanan dari Presiden AS Donald Trump untuk membatasi pembelian minyak dari Rusia, yang pastinya AS berharap akan melemahkan kekuatan logistik tentara Rusia dalam konflik Rusia-Ukraina.

Berarti serangkaian serangan Ukraina terhadap beberapa kapal tanker yang diyakininya sebagai kapal Rusia, harus dibaca sebagai lanngkah Ukraina memperluas lingkup peperangannya dengan Rusia. Beberapa indikasi bisa terlihat melalui beberapa hal:

  1. Penggunaan sistem pesawat tanpa awak oleh Ukraina terhadap aset maritim yang terkait dengan jaringan ekspor minyak Rusia yang dikenai sanksi.
  2. Dari segi lokasi geografis, serangan yang dilancarkan Ukraina terhadap kapal tanker, Qendil, berlangsung lebih jauh di Laut Mediterania, menggunakan drone udara. Dalam serangan-serangan sebelumnya menggunakan drone laut.
  3. Dinas keamanan negara Ukraina (SBU) yang berada di balik serangkaian serangan tersebut sejak 2024-2025, telah melakukan serangan militer berskala canggih terbukti dengan penggunaan puluhan drone yang biasanya digunakan untuk operasi penghancuran   pesawat pembom strategis.

Penggunaan drone nampak jelas pada 10 Desember 2025, ketika drone Sea Baby dari dinas keamanan negara Ukraina (SBU) menyerang kapal tanker minyak mentah berbendera Serbia, Dashan, di Laut Hitam. Video serangan itu menunjukkan drone mendekati kapal, yang akhirnya terbakar.

Fakta penting yang juga layak dicatat adalah bahwa motif utama Ukraina sendiri dengan mudah terbaca, karena lucunya dinyatakan sendiri oleh pihak Ukraina.  Yaitu bertujuan untuk mengganggu logistik minyak Rusia, mengurangi kapasitas ekspor, sehingga memangkas anggaran pendapatan negara, dan melemahkan kekuatan logistik Rusia dalam konflik Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung sejak 2022 hingga kini. Atau dalam bahasa para pejabat Ukraina sendiri, secara gamblang mengatakan  bahwa tujuannya adalah untuk “mengurangi pendapatan dolar minyak bagi anggaran Rusia” dan menargetkan kapal-kapal yang menghindari sanksi.

Fakta tersebut pastinya juga Rusia dibaca sebagai bagian integral dari skema perang Ukraina terhadap Rusia. Maka masuk akal ketika Rusia membalas dengan serangan drone kamikaze Shahed terhadap sebuah kapal di pelabuhan Chornomorsk. Kapal yang diserang adalah kapal kargo roll-on, roll-off CENK-T milik Turki.

Melalui konstruksi cerita serangan berantai Ukraina terhadap kapal-kapal tanker yang ia yakini merupakan armada-armada bayangan Rusia, malah semakin memperkuat  indikasi bahwa serangan militer Ukraina terhadap beberapa kapal tanker yang mereka klaim sebagai armada bayaran Rusia, merupakan rangkaian operasi yang menginduk pada rencana strategis melemahkan perekonomian Rusia yang dilancarkan AS dan Uni Eropa, dan G-7.

Secara sistematis rencana strategis pelemahan Rusia sudah disusun fondasinya sejak Februari 2022, menyusul meletusnya konflik bersenjata Rusia-Ukraina. Kala itu, AS dengan berkoordinasi dengan Uni Eropa, G-7 dan sekutu-sekutu strategisnya seperti Australia, telah menerapkan beberapa langkah untuk mengurangi pendapatan minyak Rusia dengan secara aktif menekan harga efektif yang diterima Moskow untuk ekspornya.

Misalnya pada Desember 2022, AS berhasil menetapkan batas harga $60 per barel untuk minyak mentah Rusia yang diangkut melalui laut, yang kemudian diperluas ke produk-produk minyak bumi. Setelah itu, sekutu Amerika melarang perusahaan mereka menyediakan layanan maritim, seperti pengiriman, asuransi, keuangan, atau perantara, kecuali jika minyak tersebut dibeli dengan harga sama atau di bawah batas harga tersebut.

Hanya saja cara yang ditempuh AS, Uni Eropa dan G-7 ternyata tidak efektif. Rusia tidak kehilangan akal. dua ekonomi terbesar di Asia dan sekutu dekat Rusia—India dan Cina—dengan cepat menyalip Uni Eropa sebagai pengguna minyak utama Rusia.

Buktinya tahun pada 2025 lalu Chna membeli minyak mentah Rusia sebanyak 109 juta ton, jumlah yang memecahkan rekor, dan hampir mencapai 20% dari total impor energi. Sementara itu, India mengimpor 88 juta ton minyak Rusia.

Bisa dimengerti jika AS, terutama Presiden Donald Trump jadi merasa frustrasi, sehingga menggunakan cara-cara ala gangster dan gembong mafia. Termasuk salah satu modus operandinya ya dengan menyerang kapal-kapal tanker armada siluman tersebut.

Motif di balik rangkaian serangan kapal tanker, armada bayangan Rusia yang dilancarkan Ukraina tersebut, semakin terjelaskan dengan apa yang berlangsung di Jalur Maritim Karibia-Atlantik. Sebelum rebut-ribut penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu 3 Januari 2026 lalu, sasaran strategis di balik penangkapan Maduro adalah mencegah Cina dan Rusia untuk mengakses aset strategis utama di kawasan tersebut, seperti instalasi militer, pelabuhan, mineral penting, dan jaringan komunikasi siber.

Di balik penangkapan Maduro itu pula, sasaran AS adalah menguasai Infrastruktur Energi dan Jalur Maritim Karibia. Seperti Jalur-Jalur Laut,  pelabuhan, dan infrastruktur penting yang dalam perhitungan strategis militer AS, berpotensi diakses oleh Cina maupun Rusia.

Jalur Maritim Laut Karibia, secara tidak langsung juga berfungsi untuk melumpuhkan rute yang digunakan untuk pengiriman produk minyak bumi dari Iran ke Venezuela. Dengan demikian, ada benang merah yang sama dengan serangan berantai Ukraina terhadap kapal-kapal tankder, armada bayangan Rusia.

Misalnya, pada September 2025, pasukan AS mulai menargetkan kapal-kapal yang dituduh membawa narkoba dari Amerika Selatan ke AS. Sejak saat itu, telah terjadi 30 serangan terhadap kapal-kapal tersebut di Karibia dan Pasifik, menewaskan lebih dari 110 orang. Terlepas dari keberatan yang ada, Trump menyatakan “blokade angkatan laut total” terhadap semua kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang masuk dan keluar Venezuela.

Bukankah ini modus operandi yang punya kesamaan dengan serangan berantai Ukraina terhadap kapal-kapal tanker sepanjang 2024-2025? Hanya bedanya,  dalam kasus blokade keluar-masuk kapal-kapal minyak di Jalur Karibia-Atlantik, bertujuan memblokade pengiriman minyak Venezuela kepada Cina. Seperti halnya dalam kasus serangan Ukraina terhadap kapal tanker, bertujuan untuk menghalangi ekspor minyak Rusia ke India. Ada pola dalam modus operandi terkait Venezuela dan Jalur Maritim Karibia-Atlantik, maupun terkait serangan berantai Ukraina terhadap kapal-kapal tanker armada bayangan Rusia di Laut Mediterania, Laut Hitam dan Pantai Libya.

Di Jalur Maritim Karibia-Atlantik, bahkan beberapa bulan sebelum penangkapan Presiden Maduro, AS telah mengerahkan 15.000 tentara dan berbagai kapal induk, kapal perusak rudal, dan kapal serbu amfibi ke Karibia. Blokade tersebut merugikan Venezuela karena minyak merupakan sumber utama anggaran pendapatan negara.

Nampak jelas sudah, baik menghadapi Rusia, Cina atau Iran, AS berupaya melumpuhkan kekuatan negara-negara pesaingnya itu dengan menguasai jalur-jalur laut, pelabuhan, dan infrastruktur penting yang dalam perhitungan strategis militer AS, berpotensi diakses oleh Cina maupun Rusia.

Karena itu, serangan berantai Ukraina terhadap beberapa kapal tanker armada bayangan sepanjang 2024-2025 maupun manuver milier AS di Jalur Maritim Karibia-Atlantik, sejatinya dalam satu tarikan nafas. Melumpuhkan secara tidak langsung, kekuatan logistik dan infrastruktur energi-minyak Rusia, Cina, Venezuela dan Iran.

Pertanyaan pentingnya adalah, apakah hal ini akan menyebabkan keempat negara tersebut akan menyerah dan tunduk begitu saja terhadap tekanan dan ancaman AS? Sepertinya permainan masih panjang. Segala kemungkinan yang tak terduga bisa saja terjadi.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com