Seruan Trump Kepada Pentagon Bukti Nyata AS Masih Tetap Mempertahankan Postur Senjata Nuklir Yang Agresif dan Ekspansif

Bagikan artikel ini

Dalam tulisan saya terdahulu, terungkap kekhawatiran AS dan Uni Eropa terhadap persekutuan yang semakin solid antara Cina-Rusia di matra laut, nampaknya merupakan latarbelakang yang menjelaskan adanya tudingan Uni Eropa ihwal kapal selam siluman Rusia yang kerap melintasi perairan Eropa. Namun pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Oktober 2025 lalu, kekhawatiran AS terhadap superioritas militer Cina-Rusia di bidang militer dan pertahanan, sepertinya hanya untuk dalih pembenaran bagi AS untuk meningkatkan program pengembangan senjata-senjata strategisnya. Termasuk dalam persenjataan nuklirnya.

Dalam tulisannya di Media Sosial, Trump menyerukan para pemimpin militer AS di Pentagon agar melanjutkan kembali uji coba senjata nuklir untuk dapat mengimbangi negara-negara adikuasa lainnya seperti Rusia dan Cina. Beberapa sebelum tulisannya bergulir di Sosial Media, Trump mengecam Rusia atas uji coba rudal bertenaga nuklir. Meskipun Rusia kemudian membantah bahwa uji coba sama sekali tak ada muatan nuklirnya, namun intinya AS dan negara-negara sekutunya dari Barat terbukti sedang sensitif dan reaktif menanggapi semakin menguatnya kedigdayaan kekuatan militer Rusia dan Cina saat ini.

Kekhawatiran AS tersebut nampak jelas ketika Trump melontarkan seruan segera mengadakan kembali uji coba senjata nuklir sesaat sebelum bertemu dengan Presiden Republik Rakyat Cina Xi Jinping di Korea Selatan. Bahkan dalam tulisannya itu Trump secara eksplisit menyebut AS punya senjata nuklir terbesar di dunia, disusul Rusia di urutan kedua dan Cina di urutan ketiga. Tak pelak lagi, seruan Trump kepada Pentagon untuk mengadakan uji senjata nuklir didorong oleh kekhawatiran semakin seimbangnya perbadingan kekuatan militer di antara ketiga negara adikuasa tersebut. Namun benarkah hal itu semata-mata didorong oleh persaingan global antara AS versus Cina-Rusia utamanya di bidang militer-pertahanan? Sepertinya hal itu baru setengah dari cerita.

Getty Images A US nuclear missile, seen inside a silo

Sumber: Situs Berita BBC

Berdasarkan penyelisikan penulis, ada indikasi kuat bahwa seruan Trump agar saat ini Pentagon segera uji coba nuklir,  sebuah memo yang dikeluarkan Pentagon bertajuk Pentagon Memo Raises Possibility of Nuclear Testing, yang dirilis pada Desember 2002, sebenarnya sudah direncanakan sejak awal tahun 2000an. Jadi besar kemungkinan Pentagon sudah menjalankan apa yang diserukan Trump setidaknya sejak 20 tahun yang lalu.

Baca:

Pentagon Memo Raises Possibility of Nuclear Testing

Dalam rekomendasinya yang dikeluarkan pada 15 November 2002, para pejabat tinggi Pentagon merekomendasikan agar AS mempertimbangkan program pengujian nuklir berdaya ledak rendah (a low-yield nuclear testing) untuk membantu mempertahankan persediaan senjata nuklir.

Memo Pentagon ini memang dirilis saat Presiden George W. Bush menjabat sebagai presiden dan menduduki tahta Gedung Putih. Namun terlepas dari hal itu, dalam memorandum yang disampaikan oleh Edward Aldridge, Wakil Menteri Pertahanan Bidang Akuisisi, Teknologi, dan Logistik, dalam pertimbangannya menegaskan kekhawatirannya tentang kemampuan Program Pengelolaan Cadangan (Stockpile Stewardship Program) untuk memastikan tingkat keamanan dan kinerja persenjataan nuklir yang tinggi. Adapun Program Pengelolaan Cadangan menggabungkan pengujian subkritis dengan pemodelan komputer berdasarkan data dari uji coba senjata nuklir sebelumnya untuk memverifikasi keamanan dan keandalan persenjataan nuklir.

A mushroom cloud from a nuclear weapons test in a desert.

SUMBER: (AP: US Atomic Energy Commission)Maka sehubungan dengan itu Edward Aldridge menyarankan agar laboratorium mempertimbangkan kembali nilai program pengujian dengan daya ledak rendah untuk menilai keamanan dan keandalan persenjataan tersebut.

Berarti, apa yang diserukan secara retoris oleh Trump melalui Media Sosial, masuk akal jika program uji senjata nuklir sudah dilakukan oleh Pentagon jauh-jauh hari sebelum Trump melontarkan seruannya kepada Pentagon. Sebab terungkap lewat artikel yang ditulis oleh Christine Kucia, ide pemerintah AS untuk mengadakan uji coba senjata nuklirnya kembali sudah dimulai sejak Januari 2001 pada masa pemerintahan George W. Bush. Hanya saja waktu itu masih berada di bawah permukaan, meskipun ketika itu pihak Gedung Putih sudah mengindikasikan tidak akan meminta Senat untuk mempertimbangkan kembali ratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Komprehensif (Comprehensive Test Ban Treaty).

Pada 2002 pemerintah AS malah semakin terang-terangan dengan mengisyaratkan imulainya kembali uji coba nuklir dalam Tinjauan Postur Nuklir pada Januari 2002. Satu segi lain yang tak kalah penting terungkap dari memorandum Pentagon yang kemudian bocor ke publik: “Meskipun Amerika Serikat melakukan segala upaya untuk mempertahankan cadangan tanpa pengujian tambahan, hal ini tidak mungkin dilakukan dalam waktu yang tidak terbatas.” Berarti, seperti juga analisis dari Christine Kucia, studi lanjutan yang dilakukan oleh Badan Keamanan Nuklir Nasional (NSA), menyatakan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat kehilangan keahlian penting karena jumlah personel laboratorium dengan pengalaman uji coba nuklir semakin berkurang.

Lepas dari itu, ada fakta cukup menarik yang dilansir oleh situs berita BBC London. Untuk saat ini, AS punya hulu ledak nuklir   sekitar 5.177. Rusia punya hulu ledak nuklir total sekitar 5.459 hulu ledak nuklir. Data yang dilansir situs berita BBC tersebut mengutip dari Federasi Ilmuwan Amerika (FAS).

Baca:

Trump directs nuclear weapons testing to resume for first time in over 30 years

Lembaga ACA, Asosiasi Pengendalian Senjata, p persediaan senjata nuklir Amerika Serikat berada di angka sekitar 5.225 hulu ledak, sementara Rusia memiliki sekitar 5.580. punya perkiraan berbeda yang cukup menarik. Menurut ACA,  persediaan senjata nuklir Amerika Serikat berada di angka sekitar 5.225 hulu ledak, sementara Rusia memiliki sekitar 5.580.

Adapun Cina, mengutip laporan dari FAS, Cina sebagai kekuatan nuklir terkuat ketiga di dunia, saat ini memiliki sekitar 600 hulu ledak, Prancis memiliki 290, Inggris 225, India 180, Pakistan 170, Israel 90, dan Korea Utara 50.

Proyeksi yang dibuat oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) sebagai lembaga pemikir AS, entah hal itu merupakan hasil studi yang memang benar-benar valid atau sekadar propaganda untuk pembenaran bagi pemerintah AS agar meningkatkan kembali program uji senjata nuklirnya lagi, Cina telah melipatgandakan persenjataan nuklirnya dalam lima tahun terakhir dan diperkirakan akan melampaui 1.000 senjata pada tahun 2030.

Sekadar informasi, AS pertama kali memasuki era nuklir dengan uji coba bom atom pertama Trinity pada bulan Juli 1945 di gurun Alamogordo, New Mexico. Sejak itu, praktis sebagai salah satu negara pemenang dalam Perang Dunia II, AS menjadi satu-satunya negara di dunia yang menggunakan senjata nuklir dalam Perang Dunia II. Pada Agustus 1945, angkatan udara AS menjatuhkan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaski. Sehingga kekaisaran Jepang terpaksa secara resmin menyatakan menyerah kepada tentara sekutu.

Sekitar 140.000 orang tewas di Hiroshima dan 74.000 di Nagasaki, dengan banyak kematian terjadi akibat efek ledakan langsung, luka bakar, dan kemudian akibat penyakit radiasi. Adapun terakhir kali AS melakukan uji coba senjata nuklirnya adalah pada 23 September 1992. Yang mana Uji coba tersebut dilakukan di fasilitas bawah tanah di negara bagian Nevada, Amerika Serikat bagian barat.

Proyek tersebut, dengan nama sandi Divider, merupakan uji coba senjata nuklir ke-1.054 yang dilakukan oleh AS, menurut Laboratorium Nasional Los Alamos, yang memainkan peran utama dalam membantu mengembangkan bom atom pertama di dunia.

Lantas, bagaimana mengaitkan seruan Trump terhadap Pentagon dengan kenyataan sesungguhnya yang berlangsung di Pentagon? Yang jelas, hingga sekarang Situs Uji Nevada, 65 mil (105 km) di utara Las Vegas, masih dioperasikan oleh pemerintah AS.

Dengan begitu, seperti dinyatakan oleh Museum Nasional Ilmu Pengetahuan dan Sejarah Nuklir yang merupakan afiliasi dari Smithsonian Institution, Situs Uji Nevada, 65 mil (105 km) di utara Las Vegas itu, Jika dianggap perlu, situs tersebut dapat kembali diizinkan untuk uji coba senjata nuklir.

Dengan kata lain, terlepas apakah selama ini Pentagon sudah mengembangkan program uji coba senjata nuklirnya sejak 2001-2002 atau baru akan dilakukan seiring dengan seruan Presiden Trump kepada Pentagon baru-baru ini, keberadaan dan kesiapsiagaan Situs Uji Nevada di Utara Las Vegas itu dioperasikan, merupakan bukti nyata jika pemerintah AS masih berupaya untuk tetap meningkatkan postur senjata nuklirnya secara agresif dan ekspansif.

Meskipun Daryl G. Kimball, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengendalian Senjata (ACA)  mengatakan bahwa Trump tidak memiliki ustifikasi teknis, militer, maupun politik untuk melanjutkan uji coba peledakan nuklir untuk pertama kalinya sejak 1992, namun fakta yang terungkap dari Memo Pentagon yang dirilis November 2002 tersebut mengindikasikan bahwa Program Pengembangan Senjata Nuklir AS tersebut masih tetap berlangsung meskipun luput dari penglihatan dan pengamatan publik dalam negeri AS maupun komunitas internasional.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com