“Strategi Kamuflase Hijau” untuk Membajak Gerakan Peduli Lingkungan

Bagikan artikel ini

Semakin memanasnya isu eksploitasi sumberdaya alam seperti tambang-batubara dan kelapa sawit, sumber penyebab kerusakan dan bencana alam bukan tanggungjawwab negara-negara berkembang, melainkan ulah beberapa korporasi multinasional yang dilindungi oleh sistem perdagangan bebas dan deregulasi. Dalam Skema Neoliberalisme Ekonomi itu, kekuasaan dan peran negara disingkirkan dalam mengatur perilaku korporasi multinasional yang kerapkali melanggar kedaulatan nasional di negara mana perusahaan trans-nasional tersebut beroperasi.

Reputasi buruk Perusahaan-perusahaan Trans-National (PTN) dalam perusakan lingkungan hidup, sudah diprediksi dan jadi obyek kajian serius dari Jed Greer dan Kenny Bruno, dalam bukunya bertajuk Greenwash:  The Reality Behind Corporate Environmentalism, terbitan tahun 1996. Sebuah produsen agrokimia besar memperdagangkan suatu pestisida yang tinggi risiko bahayanya sehingga dilarang di banyak negara, namun produsen itu tetap bersikukuh bahwa ia sedang membantu memberi makan orang lapar.

Sebuah perusahaan petrokimia memakai limbah dari proses pencemaran lingkungan yang satu menjadi bahan baku untuk proses serupa yang lain, dan membanggakan diri bahwa ini sebuah prakarsa daur ulang yang penting.

Sebuah perusahaan kayu menebang pohon dari hutan tropis alami, menggantingnya dengan hutan buatan yang terdiri dari satu spesies asing dan menyebut proyek itu “pembangunan hutan berkelanjutan.”

Yang membuat gusar Jed Greer dan Kenny Bruno, justru perusahaan-peruhaan trans-nasional macam inilah yang dengan bantuan dari asosiasi bisnis berikut bagian humasnya, ikut memainkan peran menetapkan agenda untuk perundingan-perundingan tingkat dunia mengenai berbagai krisis lingkungan dan pembangunan.

Strategi PTN Inilah yang kemudian disebut Kamuflase Hijau, oleh para penulis buku itu. Strategi Kamfulasi Hijau untuk menyembunyikan ideologi lingkungan perusahaan-perusahaan Transnasional tersebut. Jadi melalui Strategi Kamuflase Hijau yang canggih, kedua penulis buku menyingkap bagaimana PTN memanipulasi asas cinta lingkungan (Environmentalism) dengan membelokkan makna yang hakiki dari yang dimaksud Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development).

Misalnya Dupont, berikut pabrik-pabrik klorofluorokarbon (CFC) lainnya telah menyangkal peran mereka dalam penipisan lapisan ozon selama lebih dari 14 tahun sejak para ilmuwan pertama kali menemukan hubungan antara CFC dan perusahaan molekul-molekul ozon.

Gambar 1. Greenwashing (Sumber: www.esciupfnews.com)Union Carbide (UC), perusahaan yang mengelola pabrik pestisida Bhopal India, berusaha menghindari tanggungjawab bag korban-korban jiwa yang tewas atau luka-luka akibat musibah perusahaan industri terparah dalam sejarah pada 1986 lalu. Ketika UC sepakat pada 1989 untuk membayar ganti rugi berupa santunan sebesar 470 juta dolar AS, pemerintah Indi9a membatalkan semua tuduhan kriminal terhadap perusahaan tersebut. Kesepakatan itu diselesaikan pada 1991, namun hingga 1993 kebanyakan korban yang masih hidup hanya menerima uang sedikit atau tidak sama sekali.

Saat ini, Union Carbide merupakan anak perusahaan penuh dari The Dow Chemical Company sejak 1991. Padahal seperti disinggung dalam buku tersebut, The Dow Chemical yang waktu itu masih bernama The Dow Chemical dan Shell Oil, telah terungkap telah melakukan muslihat hukum bertahun-tahun dalam suatu gugatan hukum terhadap mereka untuk pembuatan dan pemakaian DBCP, yaitu pestisida yang diduga menyebabkan kemandulan pada para buruh tani Costa Rica.

Tak mengherankan jika selama 1970an dan 1980an mulai tumbuh gerakan-gerakan masyarakat sebagai reaksi terhadap kerusakan lingkungan di banyak negara, seperti mimbar-mimbar lingkungan seperti partai politik hijau dan semacamnya di Eropa, yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain di luar kawasan Eropa, termasuk Indonesia. Maka PTN lah yang kemudian jadi sasaran utama sebagai pihak yang paling bertanggungjawab oleh para aktivis gerakan sadar lingkungan.

Apalagi ketika berhasil ditemukan fakta bahwa lubang ozon dan matinya beberapa danau dan laut, lenyapnya hutam-hutan, berubahnya iklim bumi, dan hadirnya tempat-tempat pembuangan sampah beracun yang tersebar dimana, ternyata penyebabkany tiada alin adalah ulah PTN  dan para managernya yang hanya menomorsatukan laba atau keuntungan.

Menyadari bahaya akibat semakin menguatnya gerakan sadar lingkungan dan gelombang aksi protes para aktivis lingkungan terhadap PTN, maka para CEO PTN mulai menerapkan strategi merangkul para aktivis gerakan lingkungan sebagai strategi tandingan, namun secara teknis mengkooptasi pengertian istilah lingkungan maupun dalam agenda.

Adapun konsep yang sedari awal para CE PTN bajak adalah pengertian Pembangunan Berkelanjutan. Misalnya: “Pertumbuhan Ekonomi melalui perdagangan bebas yang diatur dan kesempatan masuk pasar yang adil bagi semuanya adalah prasyarat mendasar untuk pembangunan berkelanjutan dan untuk kemakmuaran berkesinambungan bagi bangsa-bangsa yang lebih terindustrialisasi.”

Terkesan ideal bukan? Padahal kenyatannya, perdagangan bebas tanpa batas dan pertumbuhan berbais investasi yang amat disukai PTN merupakan jenis pengembangan serupa yang telah menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap tanah dan sumberdaya alam, pencemaran udara, air, dan tanah, penipisan ozon, pemanasan global dan tercecernya sampah beracun.

Tampak jelas dari cerita ini, PTN memanipulasi frase kata “pertumbuhan” dan “perdagangan bebas” sebagai metode untuk menyembunyikan motif utamanya yaitu membelokkan agenda-agenda strategis para aktivis gerakan lingkungan.

Siapa kekauta di belakangan penyusunan Strategi Kamuflase Hijau? Ternyata mengerikan juga komponen-komponen pendukungnya seperti bank penbangunan multilateral seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank, badan batuan bilateral, organisasi perdagangan bebas dan dukungan beberapa negara besar. Namun PTN tetaplah aktor utama dalam ekonomi dunia.

Melalui PTN itulah, dalam kerja sama bisis seperti usaha patungan dan secara intens terlibat dalam internasionalisasi pasar-pasar keuangan, maupun liberalisasi investasi dan kebijakan-kebijakan swastanisasi yang kemudian diluncurkan oleh pemerintah-pemerintah yang terlibat kerja sama dengan PTN.

Tak heran jika pada dekade awal 1990an seturut runtuhnya tembok Berlin pada 1989 dan bubarnya Uni Soviet pada 1991, banyak PTN-PTN berskala besar ikut serta mendukung gerakan-gerakan mendorong perubahan-perubahan politik di Eropah Timur, Eropa Tengah dan negara-negara pecahan Uni Soviet baik di Asia Tengah maupun Kaukasus.

Inilah yang menjelaskan mengapa PTN sejak dekade 1990an hinga kini semakin kuat pengaruh politiknya baik di Amerika Serikat maupun negara-negara lain. Bahkan para eksekutif tertinggi PTN digambarkan sebagai aktor-aktor “nirnegara,” yang bersedia dan dan semakin mampu memindah-mindahkan operasi mereka dalam rangka mencari biaya yang lebih murah. Inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya aktivitas bisnis lintas negara dalam skala yang meluas dan massif. Sebaliknya pada saat yang sama kekuasaan dan peran negara berikut sarana-sarana teknis birokrasinya, untuk mengatur perilaku PTN yang melanggar kedaulatan nasional suatu negara dimana PTN itu beroperasi, semakin menyusut.

Ini masalah krusial bahkan bagi Indonesia hingga kini. Bahwa bagi PTN yang namanya perdagangan bebas itu adalah mengurangi pengekangan-pengekangan atau gerak dan kemampuan mereka untuk memaksimalkan perolehan keuntungan. Deregulasi perdagangan sebagai pelurunya perdagangan bebas, ditujukan untuk mengahapus tapal batas negara-negara sejauh hal itu berkaitan dengan kehidupan ekonomi.

 

Aksi Hari Bumi 2007 yang digelar oleh Walhi (Foto: Dalam buku berjudul Menjadi Environmentalis Itu Gampang)

https://benua.id/membaca-menjadi-environmentalis-itu-gampang/

Skema neoliberalisme ekonomi yang digelar karpet merahnya melalui deregulasi perdagangan itu tafi,  sudah barang tentu juga disadari betul bahanya oleh para aktivis gerakan lingkungan dan komunitas peduli lingkungan pada umumnya. Melalui NAFTA dan GATT, sekarang berganti nama jadi WTO, perjanjian-perjanjian yang dibuatnya malah membuka banyak kesempatan untuk menjegal aspirasi negara-negara berkembang untuk melindungi lingkungannya.

Pemerintah Amerika Serikat bahkan menggunakan forum NAFTA dan WTO mendesak Kanada untuk menghapuas perlindungan ikan salem Pasifik, menurunkan standar-standar pestisida, dan menghapus subsidi-subsidi penghijauan.

Kembali ke strategi kamuflasi Hijau PTN untuk mengelabui para aktivis gerakan lingkungan dan komunitas peduli lingkungan, ada baiknya menyorot salah satu taktik yang PTN mainkan, untuk meyakinkan publik bahwa PTN berkomitmen pada perjuangan pelestarian lingkungan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah Restrukturisasi Perusahaan yang mencakup soal-soal lingkungan, misalnya dengan mengangkat pejabat-pejabat lingkungan pada tingkat tinggi, atau dibentuk departemen lingkungan dalam perusahaan.

Kedua, mengadakan progam-program lingkungan perusahaan seperti mengurangi limbah dan mengendalikan produk. Menanggapi kecemasan-kecemasan masyarakat mengenai lingkungan. Bahkan kadang-kadang tanggapan itu dilakukan ketika diminta oleh undang-undang.

Namun itu semua tidak mengubah keadaan. Beberapa ciri dasar perusahaan tetap tidak berubah. Perusahaan tetap kedap perubahan. Dalih umum yang mereka ketengahkan adalah: “Bahwa perusahaan tidak dibuat untuk mengatasi penyakit sosial dan lingkungan, tetapi  berbisnis untuk membuat produk-produk dan menjual jasa-jasa di manapun mereka dapat meraup uang.”

 

https://mongabay.co.id/2017/06/06/sikapi-gugatan-asosiasi-bisnis-begini-upaya-mereka-jaga-uu-lingkungan/

Dengan pengertian lain, kamuflasi hijau perusahaan hanyalah muslihat kehumasan. Kebenaran di balik kamuflase hijau itu adalah, bahwa pada tingkat perorangan dan perusahaan, penekanan ideologi perusahaan pada deregulasi dan sistem pasar bebas hampir selalu dimenangkan di atas pertimbangan-pertimbangan lingkungan jika keduanya saling berhadapan.

Saya kira, memang inilah intisari dan pesan sentral buku yang meskipun terbit pada 1996, namun masih tetap relevan hingga sekarang. Bahkan lebih penting daripada yang para penulisnya bayangkan saat ini buku ini diterbitkan.

Kekuatan-kekuatan multinasional di balik penyusunan Strategi Kamuflase Hijau sebagai strategi tandingan menghadapi gelombang gerakan sadar lingkungan, yaitu beberapa perusahaan induk PTN seperti: Royal Dutch Shell. Mobil Corporation, Dow Chemical Company, Dupont De Nemours & Company, Monsanto Corporation, Norsk Hydro A.S, General Motors Corporation, International Paper Company, Kelompok Mitsubishi, Westinghouse Electric Corporation, dan masih banyak lagi.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com