Ngobrol Bareng Ichsanuddin Noorsy dan Arief Sulistyanto tentang Spiritual Geopolitik di Zhaid123 Coffee, Candi Baru, Semarang
Dalam sejarah geopolitik purba, monopoli adalah kejahatan paling tua di muka bumi. Ia lahir dari kerakusan, bertumbuh lewat kuasa, dan bertahan melalui legitimasi. Dalam istilah sederhana: serakahnomic.
Pada fase ideologi modern, monopoli berubah wajah. Kapitalisme memonopoli modal finansial, terutama uang dan mata uang global. Sosialisme dan komunisme memonopoli massa, menjadikan rakyat sebagai alat produksi sekaligus legitimasi kekuasaan. Keduanya bertolak dari pijakan yang sama: materialisme.
Ketika dua kekuatan itu bersenyawa (one country and two system) —sebagaimana terlihat pada Cina— hasilnya jauh lebih dahsyat. Massa berada dalam kendali, modal berada dalam genggaman. Ke dalam diterapkan disiplin komunal, ke luar dijalankan ekspansi kapital. Dunia pun dikendalikan. Singapura menjalankan pola serupa, dengan kemasan dan nama berbeda. Efektif. Namun, tetap materialistik.
Sebelum dan sesudah Perang Dingin (Cold War), ideologi-ideologi itu dibenturkan melalui apa yang disebut invisible hands. Dunia diyakinkan bahwa pasar (bebas) akan mengatur dirinya sendiri. Kenyataannya, tangan itu tak pernah benar-benar ada. Yang bekerja hanyalah hegemoni berbasis legitimasi palsu. Ketika kebohongan itu runtuh, ideologi materialisme pun mengalami krisis multidimensi.
Pelarian berikutnya adalah teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Di era AI dan Industri 5.0, bentuk monopoli paling berbahaya bukan lagi sekadar modal atau massa, melainkan monopoli persepsi. TIK membangun ilusi kolektif: citra yang menyerupai realitas, fantasi yang terasa faktual. Robot, otomatisasi, dan digitalisasi membuat yang semu bercampur dengan yang hakiki.
Dampaknya fatal: monopoli kebenaran yang semu.
Algoritma menentukan siapa berbicara dan siapa dibungkam. Yang sejalan akan “distabilkan”, yang melawan akan “dihapus”. Manusia direduksi menjadi data. Nilai digantikan metrik. Martabat ditakar oleh klik dan engagement.
Maraknya industri AI —ChatGPT, Meta AI, Gemini dan lain-lain— bukan sekadar alat. Ia adalah “pasukan baru” dalam perang opini global, lomba menggiring manusia menuju monokultur: satu persepsi, satu kebenaran, satu tafsir hidup. Di baliknya — berdiri segelintir pemilik modal yang menentukan arah, batas, dan makna kebenaran.
Inilah tatanan terbaru dunia materialis untuk melawan Tuhan.
Ironisnya, perlawanan itu menunggangi hukum-hukum Tuhan sendiri. Mereka menggunakan frekwensi ciptaan Tuhan. Sudah pasti ia rapuh, tidak teguh, dan tak pernah teduh. Bangunan peradaban semacam ini mustahil melahirkan ketenteraman sejati.
Negara yang menjadikan materialisme sebagai fondasi, lalu melengkapinya dengan perangkat TIK, akan gagal membebaskan rakyatnya dari ketertindasan, kebodohan, kemiskinan, ketimpangan, dan kehinaan. Teknologi tanpa etika hanya mempercepat kejatuhan. Kekuasaan tanpa iman hanya menyempurnakan kezaliman.
Dan kebenaran —betapapun ia coba dimonopoli— pada akhirnya selalu kembali kepada pemiliknya. Kebenaran tak bisa dikalahkan, ia hanya bisa disingkirkan. Itupun sejenak.
Terima kasih.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)