Ketidakjelasan Tujuan Strategis Washington Di Balik Operasi Militer AS-Israel, Kegagalan Intelijen Ataukah Tabir Asap Menyamarkan Agenda Strategis Sesungguhnya?
Meskipun serangan AS-Israel berhasil menargetkan pemimpin tertinggi Iran dan beberapa pejabat tinggi Iran lainnya, namun perkembangan Pasca Gugurnya Ali Khamenei, malah memperlihatkan Gedung Putih Trump tak punya tujuan strategis dari perang yang dilancarkannya, maupun strategi keluar dari bencana ketika strateginya tak terkendali sesuai rencana awal.
Pertanyaan pentingnya, memang betul-betul tidak punya tujuan strategis maupun exit strategy, atau justru kekacauan dari situasi yang tercipta menyusul serangan udara itulah justru sasaran sesungguhnya. Menciptakan Vuca. Kecamuk kekacauan, Ketidakpastian, Situasi berkembang rumit dan kompleks, dan atmosfer penuh keraguan dan ambigu yang berkembang dalam kepemimpinan Iran di semua tingkatan.
Sebab kalau kita mengamati secara cermat dan membaca secara cermat, pemerintahan AS tidak memiliki kepastian tentang siapa figur yang secara realistis dapat mengambil alih kekuasaan di Iran dan mampu bekerja sama dengan Washington.
Untuk sebuah negara adikuasa seperti Amerika, menjadi teka-teki jika dalam estimasi intelijen strategisnya, tidak menguasai seluk-beluk pelbagai aspek geopolitik Iran. Dalam situs politico.com yang sebenarnya cenderung pro elemen liberal di Amerika, mengutip sumber anonim bahwa hingga kini Washington gagal mendeteksi kelompok terkoordinasi atau kelompok sempalan di dalam di tubuh pemerintahan Iran yang dipandang Amerika potensial sebagai pemerintahan baru yang akan mereka sambut, atau merupakan oposisi terorganisir yang nyata.
Analisis sumber anonim ini, sahih sejauh dalam mengamati fakta lapangan sebagaimana adanya. Memang tidak ada opisisi nyata apalagi punya basis kuat di akar rumput masyarakat Iran. Namun dalam telaah intelijen justru hal itu jadi tanda tanya besar. Apakah ini kegagalan operasi intelijen atau justru kegagalan itu untuk menyamarkan tujuan strategis sesungguhnya Washington.
Sebagai rujukan pembanding baca:
Iran is not Venezuela as much as Trump wants it to be
Lagi-lagi menurut situs politico.com, rump, dalam salah satu dari banyak wawancara telepon sejak operasi Iran dimulai, menyatakan kepada ABC News bahwa beberapa individu yang menurutnya dapat mengambil alih pemerintahan negara itu telah tewas dalam serangan rudal. “Bukan siapa pun yang kami pikirkan karena mereka semua sudah mati,” kata presiden. “Yang berada di posisi kedua atau ketiga pun sudah mati.”
Entah apa maksud yang ada di benak Trump ketika mengatakan itu, namun pernyataan Trump itu semakin mengundang teka-teki sekaligus keanehan. Tapi baiklah, mari kita petakan konstelasi internal di dalam Gedung Putih sendiri. Benarkah mereka satu suara dan memiliki pemikiran seragam dan cara pandang dalam berurusan dengan Iran?
Pemikiran dan pandangan versi Trump sendiri memang jelas sebagaimana ia sampaikan kepada kepada New York Times. “Apa yang kami lakukan di Venezuela, menurut saya, adalah skenario yang sempurna,” kata Trump. Menculik Nikolas Maduro, melalui operasi cepat, lantas menjalin hubungan kerja dengan wakil presiden Delcy Rodriguez.
Namun di sinilah komplikasi timbul, jika skenario Trump ini memang secara serius jadi acuan dan rujukan. Meski Venezuela dan Iran, pada tataran tertentu punya watak kekuasaan politik yang sentralistik atau terpusat, namun nuansa yang terbentuk melalui karakteristik geografis yang berbeda antara Venezuela dan Iran inilah yang gagal dibaca setting sejarah dan geografinya secara tepat dan cermat.
Jikapun Trump nelalui operasi intelijennya mampu melakukan penetrasi dan infiltrasi ke dalam lingkar inti kekuasaan Venezuela, lebih mudah menembus lapis inti kepemimpinan Venezuela untuk membelah kubu Maduro. Sebab di dalam lingkar inti presiden Maduro pun, Delcy Rodriguez sejatinya masih merupakan loyalis ideologis dan politis dari mendiang presiden Hugo Chavez. Sehingga dalam realitas lapangan, Trump dan Rodriguez bisa saja mencapai kesepakatan win win solution karena toh dengan Rodgriguez, menteri pertahanan Pedro Lopez dan menteri dalam negeri Cobello, diam diam senang juga dengan hilangnya Maduro dari lanskap politik Venezuela.
Di Iran, sekali lagi, kalau skenario Trump ini memang betul-betul secara serius dimainkan sebagai dasar penyusunan rencana induk Amerika-Israel, bisa-bisa Trump malah terperosok dalam rawa-rawa politik yang mereka tidak pahami sepenuhnya.
Seperti saya singgung sebelumnya, Sistem Wilayatul Faqih yang menyebabkan Ulama merupakan aktor kunci dalam keseimbangan tiga pilar kekuasaan Iran yang bertumpu pada ulama-politisi-militer, merupakan rintangan utama Amerika-Israel untuk cipta kondisi kekuasaan baru Iran.
Kombinasi antara ulama sebagai representasi Islam yang secara tradisional sudah mengakar setidaknya sejak Republik Islam Iran terbentuk pada 1979, para politisi yang memasuki lanskap politik Iran lewat pemilihan umum, dan militer, sepertinya terlalu rumit untuk ditembus oleh Washington melalui metode penetrasi dan infiltasi sepeti halnya yang dilakukan Gedung Putih terhadap Venezuela.
Pertanyaan pentingnya lagi-lagi, benarkah konfigurasi tiga pilar kekuasaan Iran tersebut memang luput dari analisis strategis Gedung Putih Trump? Sebab meskipun terjadi kekosongan kekuasaan pasca gugurnya Ali Khamenei, namun Washington dan Tel Aviv ternyata tetap saja tidak bisa menciptakan operasi penggalangan merekrut beberapa sosok pemimpin Iran yang kiranya bisa dipersuasi untuk mengisi posisi-posisi lowong tersebut sesuai skema geopolitik Iran.
Inilah mengapa diawal tadi saya memandang Trump tidak punya tujuan strategis bahkan tak punya strategi meloloskan diri dari situasi ketika operasi militer dan politik AS menemui komplikasi yang mengarah pada kegagalan atau melenceng dari skenario. Sebab terlalu absudr jika dikatakan sendiri oleh Trump bahwa bahw tujuan serangan ke Iran itu adalah menghancurkan kemampuan rudal Iran, memusnahkan Angkatan Laut Iran, dan memastikan Iran tidak akan pernah bisa memperoleh senjata nuklir. Ini lebi merupakan retorika dan propaganda perang alih-alih gambaran kenyataan sebenarnya.
Karena menurut sumber anonim yang dikutip politico.com, kemampuan keamanan dan paramiliter Iran, untuk saat ini, sebagian besar masih utuh, sehingga pemerintah Iran yang bertumpu pada pasukan garda nasional (ICRGC), dengan mudah bisa mengendalikan keadaan seperti waktu meredam gelombang demonstrasi di Teheran baru-baru ini.
Amos Hochstein, mantan penasihat senior Presiden Joe Biden, menarik dikutip pernyataannya: “Kita masih belum tahu apakah perang ini akan berakhir dengan rezim yang masih utuh atau tidak, dan keruntuhan rezim serta perubahan rezim adalah dua hal yang berbeda.”
Lebih lanjut Amos Hochstein mengatakan, “Keruntuhan rezim dapat menyebabkan kekacauan dan munculnya banyak pusat kekuasaan yang saling bersaing. Secara pribadi, saya tidak tahu ke mana arahnya. Masalahnya adalah, saya rasa tidak ada yang tahu. Dan tanpa pasukan di darat, sangat sulit untuk menciptakan perubahan rezim dari udara.”
Ini misteri dari keputusan strategis Gedung Putih yang hingga kini belum banyak diinvestigasi atau diulas oleh media-media kritis di Amerika maupun negeri kita sendiri. Lebih aneh lagi ketika Menteri Luar Negeri Marco Rubio dalam sebuah sidang pada akhir Januari mengatakan bahwa “tidak ada yang tahu siapa yang akan mengambil alih” di Iran jika pemimpin tertinggi dicopot, mengakui bahwa meskipun pemerintah akan berupaya menuju “transisi serupa” dengan yang terjadi di Venezuela, situasi Iran “akan lebih kompleks.”
Kalau sudah tahu akan jadi rumit seperti ini, mengapa opsi serangan AS-Israel ke Iran tetap dilakukan? Apalagi sebuah jajak pendapat CNN terbaru menunjukkan bahwa 59 persen warga Amerika menentang operasi di Iran dan 60 persen tidak percaya Trump memiliki rencana yang jelas untuk menangani situasi di sana. Dan bukan hanya Demokrat yang secara terbuka mengkritik alasan pemerintah untuk operasi tersebut dan mempertanyakan tujuan akhirnya. Dan apalagi, hasil akhirnya, pastinya.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)